Jumat, 31 Desember 2010

Sabtu, 1 Januari 2011-Hari Raya SP Maria Bunda Allah (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk. 2:16-21

Sabtu, 1 Januari 2011
Hari Raya SP Maria Bunda Allah (P)
Hari Perdamaian Dunia;
st. Al Makios

Bacaan I: Bil. 6:22-27
Mazmur : 67:2-3,5,6,8; R:2a
Bacaan II : Gal 4:4-7
Bacaan Injil : Luk. 2:16-21



Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala sesuatunya itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat. Semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan. Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum ia dikandung ibu-Nya.


Renungan

Di sebuah kampung ada seorang bapak pedagang keliling nasi sate dan gulai yang selalu mangkal di ujung gang. Banyak prang membeli gulai di situ kalau sedang tidak punya lauk. Yang menarik, sudah dua puluh tahu berjalan, pedagang itu masih tetap setia berjualan di tempat yang sama. Kabarnya, anak-anaknya sudah menjadi sarjana. Bapak itu menjadi berkat, tidak saja bagi keluarganya, tetapi juga bagi orang-orang yang dilayaninya.

Kehadiran Yesus menjadi berkat bagi semua. Allah menjadi manusia dan tinggal diantara kita. Rasanya inilah dasar keberadaan kita, yaitu menjadi berkat bagi orang lain. Kehadiran sendiri sudah menjadi tanda berkat, apalagi disertai perbuatan baik. Dalam tradisi Yahudi, berkat itu perlu dinyatakan atau diungkapkan dengan kata-kata: "Tuhan memberkati dan melindungi engkau..." (Bil. 6:24)

Maria menjadi berkat bagi kita. Ini tidak diragukan lagi. Sangat menarik meneladan sikap dan tindakan Maria. Ia tidak saja menyediakan rahimnya bagi kehadiran Sang Penebus, tetapi juga hadir menemani Yesus dan "Menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." (Luk 2:19). Berhadapan dengan hidup, tidak cukup hanya melakukan yang rutin, tetapi perlu hadir sepenuhnya dengan merenung, mengagumi, bersyukur, dan terpesona pada-Nya. Di awal tahun yang baru ini, marilah kita mengukuhkan diri kita sebagai pembawa berkat bagi sesama.


Doa

Bunda Maria, Jadikanlah hatiku seperti hatimu agar akupun menjadi saluran berkat bagi setiap makhluk. Amin

sumber:Ziarah Batin 2010

Kamis, 30 Desember 2010

Jumat, 31 Desember 2010 (ZIARAH BATIN)-Bacaan Injil : Yoh 1:1-18

Jumat, 31 Desember 2010
Hari ke-7 Oktaf Natal
Sta. Melania; St. Silvester I, Paus

Bacaan I : 1Yoh 2:18-21
Mazmur : 96:1-2.11-12.13; R:11a
Bacaan Injil : Yoh 1:1-18

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang ke­pada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: ”Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Renungan

Manusia rela mengorbankan banyak hal untuk meraih pegangan hidup agar perjuangannya menjadi pasti. Kristus mewahyukan diri-Nya kepada kita, menawarkan diri-Nya agar dijadikan pegangan hidup kita. Hanya Yesuslah pegangan hidup yang dapat diandalkan. Dia adalah cahaya dalam kegelapan. Dalam nama-Nya, kita semua menerima kasih karunia yang melimpah.

Tidak jarang kita melupakan Dia sebagai pegangan hidup kita. Tidak sedikit yang percaya akan harta kekayaan sebagai pegangan hidupnya. Ada yang hanya mengejar harga diri dan kedudukan, seakan-akan itulah yang menjamin ketenteraman hidup.

Marilah kita bertanya pada diri kita di hari terakhir tahun 2010 ini: ”Siapa atau apa yang menjadi pegangan hidupku sepanjang tahun ini? Apakah Tuhan yang menjadi andalanku?” Kalau bukan Tuhan yang menjadi pegangan hidup kita sepanjang tahun ini, maka itulah alasannya mengapa hidup kita hanya begini-begini saja! Selamat memasuki tahun yang baru. Tuhan memberkati.

Doa
Ya Tuhan, Engkaulah yang seharusnya menjadi pegangan hidupku. Kalau pun aku tidak selalu berpegang pada-Mu, aku mohon ya Tuhan, peganglah aku senantiasa. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010



Rabu, 29 Desember 2010

Kamis, 30 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 2:36-40

Kamis, 30 Desember 2010
Hari ke-6 Oktaf Natal
St. Sabinus

Bacaan I : 1Yoh 2:12-17
Mazmur : 96: 7-8a.8b-9.10; R: 11a
Bacaan Injil : Luk 2:36-40



Di Yerusalem ada yang bernama Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.



Renungan

Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Dia menerima berbagai ritus yang berlaku untuk anak-anak Yahudi. Yusuf dan Maria tidak membiarkan peristiwa yang mengesankan itu berlalu, melainkan memaknainya. Dalam kebersamaan dengan kedua orangtua-Nya Yesus bertumbuh: ”Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya”
(Luk 2:40).

Kita orang Kristiani sudah dikuduskan melalui pembaptisan. Raga kita bertumbuh dan menjadi kokoh dan kuat bersamaan dengan berjalannya waktu. Namun, bagaimana dengan rohani kita? Apakah hikmat kita bertambah?
Kasih karunia Allah menjamin kita agar bertambah dalam hikmat. Kalau hikmat kita tetap kecil-kerdil, berarti ada yang salah dalam diri kita. Hikmat kita tidak bertambah karena kita menutup mata hati kita akan sentuhan kasih karunia Allah. Kita terlalu sibuk dengan berbagai hal yang fana dan sekunder sehingga melalaikan yang utama. Waktu berlalu, kasih karunia Tuhan menjadi sia-sia dan kita pun tetap hidup dalam kepapaan rohani.

Doa

Ya Tuhan, janganlah Engkau lelah untuk mencurahkan kasih karunia-Mu kepadaku agar aku senantiasa bertumbuh dalam hikmat-Mu. Amin. 

sumber:Ziarah Batin 2010

Selasa, 28 Desember 2010

Rabu, 29 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 2:22-35

Rabu, 29 Desember 2010 Hari ke-5 Oktaf Natal
St. Tomas Becket dr Canterbury; St. Kaspar Del Bufalo
Bacaan I: 1Yoh 2:3-11
Mazmur : 96:1-2a.2b-3.5b-6; R:11a
Bacaan Injil : Luk 2:22-35


Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: ”Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”



Renungan

Simeon adalah seorang tua yang saleh. Perjumpaannya dengan kanak-kanak Yesus merupakan puncak dari pengalaman imannya. Bagi Simeon, berjumpa dengan Yesus adalah segalanya. Memiliki Yesus berarti kepenuhan hidup. Tidak ada lagi yang perlu dikejar atau diperjuangkan dalam hidupnya. Mati adalah pilihan hidup yang sempurna, demi persatuan kekal dengan Tuhan yang adalah keselamatan yang sesungguhnya.

Kita harus belajar dari perjuangan hidup Simeon. Memiliki banyak hal, mencapai tingkat kedewasaan insani yang tertinggi, dan mencapai puncak karier tertentu, semua itu bukanlah apa-apa bagi kita kalau kita belum memiliki Allah. Marilah kita memberikan diri kita kepada Allah agar Dialah yang menjadi segalanya dalam hidup kita. Kalau kita sudah bersatu dengan Allah, mati pun menjadi sebuah peristiwa yang pantas kita syukuri dan kita hadapi dengan cinta.

Doa: Ya Tuhan, bangkitkanlah dalam diriku kerinduan untuk senantiasa mencari Engkau. Nyatakanlah kuasa-Mu yang menyelamatkanku, kapan pun sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

sumber:ZIARAH BATIN 2010 

Senin, 27 Desember 2010

Selasa, 28 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 2:13-18

Selasa, 28 Desember 2010
Pesta Kanak-Kanak Suci

Bacaan I: 1Yoh 1:5–2:2
Mazmur : 124:2-3.4-5.7b-8; R:7a
Bacaan Injil : Mat 2:13-18

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku ber­fir­man kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirman­kan Tuhan oleh nabi: ”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diper­dayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: ”Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”



Renungan

Kehadiran seorang pembawa damai kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang yang congkak dan arogan. Kedatangan Yesus, Sang Raja Damai, menyebabkan kekacauan besar dalam diri Herodes. Anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban kekejamannya hanya karena ingin memastikan bahwa Yesus termasuk di antara anak-anak tersebut.

Perjalanan sejarah bangsa manusia pada setiap zaman diwarnai dengan korban dari pihak orang kecil dan tak berdaya, bahkan orang tak berdosa juga, seperti kanak-kanak suci itu. Kita bisa saja mengklaim diri bahwa kita lebih baik dari Herodes yang bejat itu. Benarkah demikian?

Kalau kita selalu memprioritaskan diri kita sambil mengorbankan sesama di sekitar kita, apakah kita lebih baik daripada Herodes? Kalau kita selalu mencari kambing hitam dalam kehidupan, menimpakan kesalahan kepada anggota keluarga atau kerabat kita yang lemah dan tak berdaya, apakah kita masih lebih baik daripada Herodes? Kalau kita menelantarkan orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita, apakah kita belum pantas untuk menyejajarkan diri kita dengan Herodes?

Doa: Ya Tuhan, kekanglah sikapku yang serakah dan arogan ini, agar aku dapat mem­perlakukan sesamaku dengan sepantasnya. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Minggu, 26 Desember 2010

Senin, 27 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Yoh 20:2-8

Senin, 27 Desember 2010
Pesta St. Yohanes Rasul dan Pengarang Injil
Bacaan I: 1Yoh 1:1-4
Mazmur : 97:1-2.5-6.11-12 Ref: 12a
Bacaan Injil : Yoh 20:2-8


Maria Magdalena berlari-lari men­dapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: ”Tuhan telah diambil orang dari kubur­nya dan kami tidak tahu di mana Ia diletak­kan.”Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.


Renungan

Merasa dikasihi merupakan suatu pengalaman yang penting dan mendasar dalam kehidupan seseorang. Rasa itu bisa memacu seseorang untuk melakukan yang terbaik bagi orang yang mencintainya. Yohanes—Rasul dan Penginjil—mengalami dirinya dikasihi oleh Tuhan Yesus. Karena itu, apa pun yang berkaitan dengan Yesus pasti dilakukannya. Dia tidak gentar akan bahaya yang mungkin saja menimpa dirinya, asalkan dia bisa menjadi saksi mata dari setiap peristiwa penting yang dialami oleh Yesus. Bahkan, kesaksian-kesaksian akan hidup Yesus dikumpulkannya sehingga menjadi Injil suci yang memberi inspirasi bagi semua orang yang mencari Allah dalam nama Yesus dan percaya kepada-Nya.


Kita pun mempunyai pengalaman pribadi dengan Tuhan. Kalau kita mengalami bahwa Tuhan selalu mengasihi kita, maka kita pasti rela melakukan apa pun untuk Tuhan. Kiranya kita belum menyadari secara sungguh-sungguh bahwa kita dicintai oleh Tuhan dengan kasih yang kekal, maka kita bisa mudah menyerah apabila menghadapi pilihan hidup yang berisiko bagi kita. Kalau kita kurang mengalami kasih Tuhan, maka tidaklah mudah bagi kita untuk mengasihi sesama kita.
Yohanes telah mengalami kasih Tuhan dan membagikan kasih itu kepada sesama. Marilah kita mencontoh hidupnya yang dikasihi Tuhan dengan kasih yang kekal dan mengasihi sesama dengan kasih yang total.


Doa: Ya Tuhan, kasihilah aku dengan kasih-Mu yang sempurna. Bantulah aku untuk mengasihi Engkau dan mengasihi sesamaku dengan kasih-Mu sendiri. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Sabtu, 25 Desember 2010

Minggu, 26 Desember 2010-Pesta Keluarga Kudus Nazaret (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 2:13-15.19-23

Minggu, 26 Desember 2010
Pesta Keluarga Kudus Nazaret

Pesta St. Stefanus, Mrt Pertama
Bacaan I: Sir 3:2-6.12-14
Mazmur : 128:1-2.3.4-5
Bacaan II : Kol 3:12-21
Bacaan Injil : Mat 2:13-15.19-23


Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.



Renungan

Merayakan Pesta Keluarga Kudus berarti merayakan kemenangan kasih. Yesus, Maria, dan Yusuf mengalami hidup yang sulit. Mereka hidup berpindah-pindah bukan atas kehendak mereka, melainkan akibat tekanan hidup yang tidak menguntungkan.


Kondisi hidup yang demikian justru menjadi medan persemaian kasih yang istimewa. Mereka kekurangan dalam banyak hal, tetapi mereka berkelimpahan kasih. Kasih itulah yang menyebabkan mereka bertahan dalam aneka kesulitan.
Pesta ini pun memberi kesaksian bahwa mendengarkan Sabda Tuhan adalah hal yang penting, dalam perjalanan hidup manusia. Yesus, Maria, dan Yusuf selamat dalam pengungsian mereka karena mereka memberikan diri mereka untuk mendengarkan Sabda Tuhan.

Marilah kita mencermati kehidupan keluarga kita dalam perspektif keluarga kudus di Nazaret ini. Adakah kasih selalu menjadi hal yang utama dan tidak tergantikan dalam kehidupan keluarga-keluarga kita? Kita mungkin mengalami kesulitan yang lebih ringan daripada yang dialami oleh Keluarga Kudus, namun apakah kita lebih mudah menghayati kasih dan saling menguatkan dalam kasih dibandingkan dengan pengalaman mereka itu? Apakah keluarga kita masih mengandalkan Sabda Tuhan sebagai pedoman dalam perjalanannya? Apakah kita masih menyempatkan diri untuk mendengarkan Sabda-Nya?

Marilah mempersenjatai kehidupan keluarga kita dengan kasih dalam terang Sabda Tuhan agar kuduslah hidup keluarga kita.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah keluargaku untuk saling mengasihi, biarlah Sabda-Mu menjadi pedoman bagi kehidupanku sekeluarga. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Jumat, 24 Desember 2010

Sabtu, 25 Desember 2010-HARI RAYA NATAL(ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Malam: Luk 2:1-14/Fajar: Luk 2:15-20

Sabtu, 25 Desember 2010
HARI RAYA NATAL

Bacaan I: Malam: Yes 9:1-6/Fajar: Yes 62:11-12
Mazmur : Malam: Mzm 96:1-2a.2b-3.11-12.13;
R: Luk 2:11/Fajar: Mzm 97: 1.6.11-12
Bacaan II: Malam: Tit 2:11-14/Fajar: Tit 3:4-7
Bacaan Injil : Malam: Luk 2:1-14/Fajar: Luk 2:15-20


Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluar­kan suatu perintah, menyuruh men­daftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, – karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud – supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Renungan

Kalau ada di antara kita yang kurang merasakan kegembiraan dalam hidupnya sepanjang tahun, maka pada hari ini seharusnya dia mengalami kegembiraan itu selimpah-limpahnya. Kegembiraan itu bukan sekadar karena suasana Natal lahiriah yang dikemas di mana-mana. Orang pantas bergembira karena warta gembira Natal: Sang Sabda menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Kehadiran Yesus menunjukkan bahwa tidak ada lagi pembatas antara Yang Ilahi dan yang insani antara Tuhan dan manusia; tidak ada lagi pembatas antarmanusia karena semua adalah saudara.

Terkadang orang Kristiani pun tidak bisa menikmati Natal dengan sepantasnya. Kita semua dipanggil untuk menyapa mereka yang tidak bisa menikmati kegembiraan Tuhan ini. Hari ini kita harus merangkul mereka, membagi kegembiraan kita dengan mereka, dan menawarkan diri kita sebagai saluran kegembiraan dari Tuhan bagi mereka. Dengan Natal, Tuhan mencari dan menemukan manusia agar manusia saling menemukan, saling berbagi kegembiraan, tanpa melihat perbedaan apa pun. Kita harus mencari dan menemukan sesama kita agar bisa menemukan diri kita sendiri dan menemukan Tuhan kita. Selamat Natal.


Doa: Ya Tuhan, Engkau mencintaiku dengan menjadi saudara bagiku. Bantulah aku untuk menemukan Engkau dalam diri sesamaku agar aku dan sesamaku dapat berjuang bersama untuk menjadi putra-putri-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Kamis, 23 Desember 2010

Jumat, 24 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 1:67-79

Jumat, 24 Desember 2010
Adam dan Hawa, Manusia Pertama
Bacaan I: 2Sam 7:1-5.8b-12.16
Mazmur : 89:2-3.4-5.27.29; R:2a
Bacaan Injil : Luk 1:67-79


Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: ”Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk ke­selamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, — seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus — untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

Renungan

Zakharia mengumandangkan pengalaman imannya yang sangat mengagumkan bahwa Allah telah mengunjungi kita laksana fajar cemerlang. Selalu demikianlah kasih Tuhan: menyapa dan memanggil kita, mendahului kita. Tuhan turun tangan sebelum dosa membinasakan kita, sebelum egoisme dan keserakahan membabi buta dalam kehidupan kita. Tuhan mengunjungi kita laksana fajar cemerlang, sebelum kerapuhan menguasai kita dan kita tak berdaya menyebut nama-Nya, serta tidak berdaya dalam mencintai sesama dan diri kita sendiri.

Pengalaman hidup rohani kita terkadang ironis. Tuhan selalu bergegas laksana fajar cemerlang untuk menyelamatkan kita, tetapi kita justru mengulur-ulur waktu untuk diselamatkan Tuhan. Kita sudah diberi aneka karunia untuk hidup dalam kasih-Nya dan memaklumkan kebaikan-Nya, namun kita cenderung berlambat-lambat menghayati kasih-Nya dan membagikan-Nya kepada orang lain. Tuhan datang dalam diri Kristus yang mencintai kita, sampai kapan kita tetap hidup biasa-biasa saja di hadapan tuntutan rahmat yang seagung itu?

Doa: Ya Tuhan, Engkau datang mengunjungi aku laksana fajar cemerlang. Ajarilah aku untuk mencari dan menemukan Dikau sedini mungkin. Amin.

sumber:ziarah Batin 2010

Rabu, 22 Desember 2010

Kamis, 23 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 1:57-66

Kamis, 23 Desember 2010
St. Yohanes dr Kety; St. Servulus
Bacaan I: Mal 3:1-4; 4:5-6
Mazmur : 25:4-5b.8-9.10.14 R: Luk 21:28
Bacaan Injil : Luk 1:57-66


Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun me­lahirkan seorang anak laki-laki. Ke­tika tetangga-tetangganya serta sanak sau­dara­nya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: ”Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya: ”Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan ter­­lepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: ”Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Renungan

Kelahiran Yohanes dengan berbagai peristiwa hidup yang dialaminya merupakan suatu rangkaian panjang dari kasih Tuhan, bukan saja bagi Zakharia dan Elisabet, melainkan semua bangsa manusia. Yohanes berarti Tuhan Penyayang. Nama itu diberikan Tuhan dan sekaligus menjadi semangat yang menjiwainya. Yohanes memaklumkan kasih Tuhan yang agung kepada umat manusia. Pentinglah bagi manusia yang dikasihi Allah untuk bertobat agar mereka bisa mengenyam kasih-Nya dengan leluasa.

Kita masing-masing mempunyai nama. Tidak semua orang tahu arti namanya sendiri. Namun sebagai orang yang dibaptis, kita mempunyai satu nama yang berlaku umum: ”Kristiani,” yakni nama yang dikenakan kepada semua pengikut Kristus. Sadarkah kita akan identitas kita sebagai pengikut Kristus? Apa saja yang sudah atau sedang kita persiapkan untuk menyambut kelahiran Kristus? Apakah kita bisa membagikan kasih Allah kepada sesama kita? Apakah pertobatan kita telah mencapai level yang membesarkan hati kita?

Ada salah satu moto yang penting dalam hidup: ”Jadilah dirimu sendiri”. Marilah kita berjuang selalu untuk menjadikan diri kita yang Kristiani ini menjadi insan yang siap sedia berbenah diri untuk membagikan kasih Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes, nama yang penuh makna karena memaklumkan kasih Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, sadarkanlah aku selalu akan identitasku sebagai anak-Mu dan pengikut Kristus Putra-Mu. Bantulah aku menjadi putra-putri-Mu yang setia. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Selasa, 21 Desember 2010

Rabu, 22 Desember 2010(ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 1:46-56

Rabu, 22 Desember 2010
St. Teodoros; St. Yosef Moscati
Bacaan I: 1Sam 1:24-28
Mazmur : 1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd; R:1a
Bacaan Injil : Luk 1:46-56

Lalu kata Maria: ”Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesung­guhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.



Renungan

Dalam Madah Pujian Maria, kita menemukan beberapa prinsip hidup yang bersahaja. Kerendahan hati manusia merupakan sikap yang sangat dihargai Tuhan, sedangkan kecongkakan tidak ada faedahnya. Mengagungkan diri sendiri itu tidak berguna karena Tuhan hanya meninggikan orang yang rendah hati. Kebahagiaan yang dibangun atas dasar harta kekayaan adalah hampa karena Tuhan bisa mengambil itu kapan pun sesuai kehendak-Nya. Apa kiranya hal yang demikian terasa dalam hidup kita?

Hari ini merupakan saat yang tepat untuk memerangi berbagai ”penyakit rohani” yang mengganggu kebersahajaan hidup kita. Mari kita perangi kecongkakan, kesombongan, dan ketamakan. Bukalah hati kita bagi Kristus yang akan datang dalam kesederhanaan palungan dan hidup dalam kesederhanaan serta menjadi sahabat bagi orang-orang yang sederhana. Dengan demikian nama Tuhan selalu dimuliakan dalam hidup kita.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk selalu rendah hati. Bantulah aku untuk memerangi kesombongan, kecongkakan, dan ketamakan yang berkembang subur dalam diriku agar nama-Mu semakin dimuliakan dalam hidupku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Senin, 20 Desember 2010

Selasa, 21 Desember 2010 (Ziarah Batin 2010)-Bacaan Injil : Luk 1:39-45

Selasa, 21 Desember 2010
St. Petrus Kanisius
Bacaan I : Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a
Mazmur : 33:2-3.11-12.20-21; R:1a.3a
Bacaan Injil : Luk 1:39-45


Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegu­nung­an menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ”Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”


Renungan
Roh Tuhan menggerakkan hidup manusia. Roh itu mempertemukan Maria dengan Elisabet. Pertemuan kedua insan yang terberkati itu merupakan pertemuan yang membahagiakan, yang memengaruhi seluruh hidup mereka berdua. Mereka percaya kepada Dia yang empunya Roh itu.

Kita pun menerima Roh Tuhan atau rahmat-rahmat-Nya setiap saat. Marilah kita bergegas membagikan kegembiraan atau rahmat Tuhan itu kepada sesama, dan berjuanglah terus untuk membagikan rahmat itu. Jangan sampai rahmat yang diberikan Tuhan itu menjadi tidak berkembang justru ketika berada di tangan kita. Kita mempunyai tanggung jawab sebagai saluran rahmat atau pembagi Roh Tuhan kepada sesama kita, seperti yang dialami oleh Elisabet dan Maria.

Marilah kita menghadirkan diri kita sebagai orang yang menerima Roh Tuhan atau rahmat-Nya. Kalau semangat ini yang menjiwai kita, maka perjumpaan kita dengan sesama menjadi perjumpaan yang membahagiakan dan selalu didambakan serta diupayakan oleh kita sendiri dan oleh siapa pun.

Doa
Ya Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa membawa Roh-Mu dalam hidupku, dan membagikan rahmat-rahmat-Mu kepada siapa pun, yang aku jumpai. Amin.

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Minggu, 19 Desember 2010

Senin, 20 Desember 2010(ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 1:26-38

Senin, 20 Desember 2010
St. Filigon
Bacaan I : Yes 7:10-14
Mazmur : 24:1-2.3-4b.5-6; R:lh.7c.10b
Bacaan Injil : Luk 1:26-38


Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


Renungan

Tuhan memilih Maria dan menyertai dia dalam seluruh hidupnya. Dia tidak pernah membiarkan Maria sendirian dalam mengarungi hidupnya. Kehadiran-Nya dalam peristiwa-peristiwa hidup Maria menyebabkan Maria tidak takut menjalani panggilannya sebagai hamba Tuhan, sejak ia mengandung Yesus sampai peristiwa Yesus disalib. Kepercayaan Maria akan kasih karunia Allah menyebabkan dia dapat ambil bagian secara utuh dalam aneka peristiwa keselamatan yang diperankan oleh Yesus Putranya.

Tuhan memilih kita masing-masing untuk aneka tugas panggilan yang dipercayakan-Nya kepada kita. Dia memilih kita karena Dia mengasihi kita. Terkadang tugas panggilan itu terasa berat dan kita merasa tidak mampu menjalankannya. Kita kekurangan nyali untuk beriman. Iman yang kita punyai tidak berkembang dari waktu ke waktu sehingga kecemasan-kecemasan awal yang menyertai ketika kita mulai beriman kepada Tuhan menjadi kecemasan yang menetap.

Marilah kita memohon kepada Tuhan dengan perantaraan Maria Bunda Yesus agar kita semakin berpasrah diri kepada Dia yang memanggil dan memilih kita untuk beriman kepada-Nya. Kita telah beroleh kasih karunia Allah, maka marilah kita menyerahkan diri kita kepada-Nya.

Doa:
Ya Tuhan, tambahkanlah imanku kepada-Mu agar aku dapat beriman seperti Maria, bundaku. Amin. 

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Jumat, 17 Desember 2010

Sabtu, 18 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 1:18-24

Sabtu, 18 Desember 2010
Sta. Makrina Muda
Bacaan I : Yer 23:5-8
Mazmur : 72:1-2.12-13.18-19; R:7
Bacaan Injil : Mat 1:18-24

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.

Renungan

Terkadang kita mengalami kegentaran hati, kebimbangan, atau keragu-raguan dalam memutuskan atau menentukan pilihan hidup kita; apalagi kalau keputusan atau pilihan itu sifatnya sangat menentukan. Berbagai aspek dipertimbangkan, cara-cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal pun dimanfaatkan semuanya, termasuk meminta masukan dari pihak lain, dan/atau memohonkan kekuatan dari Tuhan.

Marilah kita belajar dari Yusuf, suami Maria. Keputusan yang diambil oleh Yusuf tidak menodai kenyataan dirinya yang telah dikenal sebagai orang yang tulus hati. Kita pun berusaha agar keputusan yang diambil tetap sejalan dengan kebaikan atau kebijaksanaan yang telah membentuk kepribadian kita seperti sekarang ini.

Yusuf berani mengubah sikap dan keputusannya setelah mempertimbangkan dengan saksama dan mendapat pertimbangan baru. Kita pun harus berani mengubah keputusan dan berubah sikap kalau ternyata kita mendapatkan pertimbangan baru yang lebih baik, meskipun mungkin dengan pengorbanan yang lebih besar dan menempuh jalan yang lebih panjang dan berliku.

Kita berhasil mencontoh Yusuf kalau kita senantiasa memprioritaskan hal-hal yang baik dan terpuji. Juga mendengarkan masukan lain dari orang yang benar, yang kita yakini bahwa dalam diri mereka itulah Tuhan hadir untuk membantu kita dalam menggapai kebenaran.

Doa

Ya Tuhan, bantulah aku, anak-anak-Mu, untuk senantiasa mendengarkan amanat kasih dan kebenaran-Mu, meskipun yang memberatkanku. Amin. 

sumber:Ziarah Batin 2010

Kamis, 16 Desember 2010

Jumat, 17 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 1:1-17

Jumat, 17 Desember 2010
St. Lazarus, St. Olympias
Bacaan I: Kej 49:2.8-10
Mazmur : 72:1-2.3-4b.7-8.17; R:7
Bacaan Injil : Mat 1:1-17

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.


Renungan

Yesus Putra Allah itu manusia seperti kita juga, Dia keluarga Daud. Dalam keluarga itu ada tokoh-tokoh besar dan terpandang, ada nama-nama yang biasa-biasa saja, ada pula nama perempuan-perempuan asing, bahkan ada sejumlah orang yang dikenal karena kedosaannya. Silsilah keluarga-Nya disebutkan dengan amat teliti.

Untuk sil-silah keluarga kita masing-masing, janganlah kita hanya membanggakan figur-figur tertentu saja, atau mengingat orang-orang yang paling berjasa saja. Ingatlah juga anggota keluarga kita yang biasa-biasa saja, atau yang mungkin memiliki sejarah hidup kurang terpuji dan bahkan dilecehkan. Mereka semua ada jasanya sampai kita menjadi orang seperti sekarang ini.

Dalam rangka ”persiapan dekat” untuk menyambut kelahiran Yesus, marilah kita berdoa bagi anggota keluarga kita yang telah meninggalkan dunia ini. Kita juga harus meningkatkan kualitas hidup keluarga kita dengan memupuk sikap saling menghormati dan rasa memiliki, agar keluarga kita masing-masing bertumbuh menjadi keluarga yang besar karena perhatian dan kasih yang menjiwainya.

Doa:

Ya Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa mengasihi setiap keluargaku, entah mereka yang terpandang, mereka yang biasa-biasa saja, ataupun mereka yang kecil dan tersingkirkan. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Rabu, 15 Desember 2010

Kamis, 16 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 7:24-3

Kamis, 16 Desember 2010
St. Sturminus, Sta. Teofanu;
B. Maria dr Malaikat

Bacaan I: Yes 54:1-10
Mazmur : 30:2.4-6.11-12a.13b; R:2a
Bacaan Injil : Luk 7:24-30

Setelah suruhan Yohanes itu pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: ”Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja.Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.” Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.


Renungan

Yesus berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes Pembaptis. Dia memberikan pembelaan habis-habisan tentang Sang Pembuka Jalan. Yohaneslah yang terbesar dari semua manusia, hidup dan pewartaannya melebihi seorang nabi. Pewartaan Yohanes pun efektif mempertobatkan orang-orang yang mau diselamatkan oleh Tuhan.

Betapa penting memberikan penghargaan atau apresiasi kepada sesama terhadap apa yang sudah dilakukannya. Apresiasi itu bukan hanya demi suatu kesaksian kebenaran, melainkan juga pengakuan akan sebuah pengorbanan dan cinta serta pelayanan. Apresiasi itu memungkinkan orang untuk semakin melakukan hal terbaik yang masih bisa diperbuatnya. Bagi pemberi apresiasi, hal itu berguna sebagai ungkapan kejujuran, kerendahan hati, dan keberanian yang mementingkan kebenaran. Mementingkan kebenaran berarti menjunjung tinggi orang yang melakukannya.


Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk menghargai karya kasih dan pelayanan dari sesamaku. Bantulah aku dan sesamaku untuk saling menguatkan di jalan kebenaran. Amin.

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Selasa, 14 Desember 2010

Rabu, 15 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 7: 19-23

Rabu, 15 Desember 2010
Sta. Kristiana
Bacaan I : Yes 45: 6b-8.18.21b-25
Mazmur : 85: 9ab-10.11-12.13-14; R: Yes 45:8
Bacaan Injil : Luk 7: 19-23


Yohanes memanggil dua orang dari antara murid-muridnya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata:”Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkau­kah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: ”Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

Renungan

Betapa sulitnya menemukan orang yang setia, apalagi seorang pembawa berita yang setia. Untunglah ada dua orang murid Yohanes yang ditugasi untuk bertanya kepada Yesus dan bertanya sesuai dengan perintah yang mereka peroleh dari Yohanes, gurunya. Para murid Yohanes hanya mengatakan tentang apa yang seharusnya mereka katakan. Mereka tidak menambahkan tentang hal-hal yang baik, meskipun mungkin itu bisa menambah popularitas mereka. Mereka tidak mengurangi hal-hal yang jelek, meskipun mungkin itu akan mengurangi beban kerasulan mereka. Mereka hanyalah penyampai pesan yang setia, apa adanya.

Pembawa pesan yang setia tidak mengambil pesan itu untuk dirinya sendiri, atau menjadikan dirinya sendiri seakan-akan adalah pesan itu. Apalagi kalau pesan itu adalah Kabar Gembira tentang keselamatan yang dibutuhkan oleh semua orang dan berguna bagi keselamatan semua orang. Kenyataan yang kita hadapi pada masa sekarang ini sangat menantang kita untuk menjadi pembawa pesan yang setia. Kita berada dalam masa ketika rumor, gosip, provokasi, dan pemberitaan media massa yang seakan-akan tanpa saringan untuk berita yang baik dan benar. Kita harus berjuang menjadi pembawa berita yang setia agar nama Tuhan semakin dimuliakan, dan semua orang yang mencari Dia akhirnya menemukan-Nya sebagai sosok yang adalah segalanya dalam kehidupan kita.


Doa:
Ya Tuhan, bantulah aku untuk menjadi pemberita Injil-Mu yang setia dan siap sedia menanggung konsekuensi dari pesan yang telah aku beritakan. Amin.

sumber :ZIARAH BATIN 2010

Senin, 13 Desember 2010

Selasa, 14 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 21: 28-32

Selasa, 14 Desember 2010  
Pw St. Yohanes dr Salib; St. Venantius Fortunatus; St. Spiridion
Bacaan I: Zef 3: 1-2.9-13
Mazmur : 34: 2-3.6-7.17-18.19.23; R: 7a
Bacaan Injil : Mat 21: 28-32

”Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: ”Yang terakhir.”Kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”


Renungan

Yesus mengecam para imam kepala dan pemuka bangsa Yahudi karena mereka tidak mau menerima Yohanes Pembaptis dan warta pertobatan yang dimaklumkannya. Apa yang mereka lakukan itu adalah kelanjutan dari pola hidup mereka yang lebih memperhatikan hal-hal yang lahiriah, tanpa suatu kedalaman hidup dan pegangan akan nilai yang prinsipil dari hidup sebagai anak-anak Allah. Mereka ternyata ingin bertobat setelah mendapatkan warta tentang pertobatan.

Janganlah kita serta-merta mengadili diri kita sebagai yang lebih baik daripada ahli Taurat dan orang Farisi, karena dalam diri kita hidup juga perilaku anak sulung dan anak bungsu sekaligus. Kita sebagai orang Kristiani yang sudah berjanji untuk menjadi anak-anak Allah yang selalu berkenan kepada Bapa kita. Kita telah menyatakan kesanggupan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, berapa kali kita jatuh dalam kesalahan dan dosa? Bukankah itu adalah bagian dari perilaku anak sulung yang tampaknya mematuhi perintah ayahnya, namun ternyata adalah seorang pembangkang? Bukankah kita sama dengan ahli Taurat dan orang Farisi yang dikecam oleh Yesus? Kita juga bisa seperti anak bungsu yang melakukan kehendak bapanya, walaupun sebelumnya kita menolak untuk melakukannya?

Kalau kita melakukan ”penolakan dalam kata” di hadapan orang lain—kemudian kita melakukannya—maka ”penolakan dalam kata” itu bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk melakukan hal buruk yang telah ada di benaknya, atau untuk tidak melakukan hal baik yang sebenarnya mau dilakukannya. Marilah kita lanjutkan perjuangan kita untuk menjadi anak Allah, meneguhkan niat kita, memperkuat komitmen kita, dan menghasilkan buah yang baik untuk hidup kita bersama dengan semua orang yang berkehendak baik.

Doa: Ya Tuhan, bantulah aku untuk senantiasa mencari dan melaksanakan kehendak-Mu yang menyelamatkanku. Amin.

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Minggu, 12 Desember 2010

Senin, 13 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)

Senin, 13 Desember 2010
Pw Sta. Lusia; Sta. Odilla
Bacaan I : Bil 24: 2-7.15-17a
Mazmur : 25: 4bc-5ab.6-7c.8-9; R: 4b
Bacaan Injil : Mat 21: 23-27

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?” Mereka memper­bincangkannya di antara mereka, dan berkata: ”Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.” Lalu mereka menjawab Yesus: ”Kami tidak tahu.” Dan Yesus pun berkata kepada mereka: ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Renungan

”Kami tidak tahu,” inilah jawaban dari imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi kepada Yesus, setelah mereka berunding. Sesungguhnya mereka tahu tentang jawaban yang sebenarnya. Mereka menjawab ”tidak tahu” untuk menghindari tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa saja jatuh dalam pilihan sikap yang sama dengan para imam kepala dan pemuka Yahudi.

Kita bisa saja berkata ”tidak tahu” hanya untuk mencuci tangan dari berbagai tanggung jawab. Kita berkata ”tidak tahu” hanya untuk suatu alibi. Namun, percayalah bahwa mengatakan ”tidak tahu” tentang sesuatu yang diketahui, apalagi berkaitan dengan suatu perkara besar, akan menciptakan suatu ketidaknyamanan batin dan ketidakleluasaan mengekspresikan diri karena disiksa rasa bersalah.

Ada dua nilai yang dikorbankan, yakni menyembunyikan kebenaran dan membiarkan kebenaran berlalu tanpa memengaruhi orang yang berhak memilikinya. Dengan demikian, kita mencelakakan diri sendiri dan merintangi orang lain untuk masuk dalam kebenaran.

Masa Adven adalah saat yang tepat untuk membongkar cara pikir dan cara hidup yang mapan, tetapi salah. Mari kita perangi aneka kepentingan diri yang bisa mencelakakan diri kita sendiri dan mencelakakan orang lain juga. Marilah kita selalu membuka hati kepada Yesus dan kebenaran-Nya.

Doa:Ya Tuhan, ajarilah aku untuk membangun hidup yang jujur, dan beranikanlah aku untuk mengatakan yang benar.

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Jumat, 10 Desember 2010

Sabtu, 11 Desember 2010(ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 17:10-13

Sabtu, 11 Desember 2010  
St. Damasus I, Paus
Bacaan I: Sir 48:1-4.9-11
Mazmur : 80:2ac.3b.15-16.18-19; R:4
Bacaan Injil : Mat 17:10-13

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: ”Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Renungan

Betapa kejam manusia yang tidak mau hidup dalam lingkaran rahmat Tuhan. Mereka memperlakukan orang yang diutus Tuhan untuk memaklumkan kabar gembira tentang kasih dan kebenaran-Nya dengan semena-mena. Orang-orang Israel telah menutup telinga mereka terhadap pemakluman kenabian yang dikumandangkan oleh Elia. Mereka melenyapkan Yohanes Pembaptis yang telah lantang memaklumkan pertobatan. Pada akhirnya, mereka pun memperlakukan Yesus bagaikan tokoh yang gagal total, dengan menyalibkan Dia di luar kota.

Tidak sedikit orang benar yang mendapat perlakuan tidak sepantasnya dari orang lain. Terkadang pengorbanan hidup mereka tidak berdampak apa pun bagi kehidupan orang-orang bejat di sekitarnya. Kondisi kehidupan yang memprihatinkan karena dosa seakan-akan menjadi pengalaman yang rutin dan kerap diterima saja. Berbagai upaya pemulihan seakan habis ditelan kebejatan hidup.

Masa Adven adalah saat yang tepat untuk memerangi arogansi dan kedegilan hati manusia. Marilah kita perangi berbagai keinginan hidup yang tidak teratur dan pola hidup yang tidak terpuji, yang semata-mata berpusat pada kehendak kita masing-masing, dan yang merusak orang lain serta merugikan Tuhan sendiri. Marilah kita menata suatu orientasi hidup yang berpusat pada Kristus sendiri, agar pengurbanan-Nya di kayu salib tidak menjadi sia-sia.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk memerangi kesombongan diriku sendiri agar aku dapat menerima Engkau dan semua orang yang telah Engkau pilih untuk mempermaklumkan nama-Mu. Amin.

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Kamis, 09 Desember 2010

Jumat, 10 Desember 2010(ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 11:16-19

Jumat, 10 Desember 2010  
Pw SP Maria dr Loreto; St. Miltiades; B. Marc Antonius Durando
Bacaan I: Yes 48:17-19
Mazmur : 1:1-2.3.4.6; R: Yoh 8:12
Bacaan Injil : Mat 11:16-19

”Dengan apakah akan Kuumpamakan ang­kat­an ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

Renungan

Manusia selalu mengingini banyak hal. Tuntutannya beraneka ragam sesuai dengan rasa dan kepentingan yang sedang dominan dalam dirinya pada saat itu. Bisa terjadi bahwa manusia menghalalkan cara tertentu untuk mencapai kepentingannya. Dia tidak ragu mengorbankan kebenaran dan nilai hidup lainnya asalkan kemauannya terpenuhi.

Yesus menghadapi kenyataan bahwa manusia yang selalu mengingini banyak hal itu tidak mau menerima Yohanes Pembaptis maupun diri-Nya. Penolakan itu bukan hanya dari orang perorangan atau lingkup tertentu saja, melainkan meliputi suatu cara hidup yang luas dan berlaku umum dalam kalangan waktu itu. Motif utama dari penolakan mereka ialah ketidakinginan mereka untuk menerima pola hidup baru yang dibawa oleh Yohanes dan Yesus.

Marilah kita belajar dari penolakan orang-orang pada zaman Yesus itu. Keinginan manusia memang banyak, tetapi janganlah mencari kambing hitam apabila kita tidak bisa hidup dalam kebaikan atau kebenaran, atau apabila kita enggan menyesuaikan diri kita dengan pola hidup yang dikehendaki Tuhan. Janganlah kita mempersalahkan orang lain seandainya kita menjadi egois. Janganlah kita mempersalahkan orang lain seandainya kita hidup dalam kebencian dan kecemburuan. Janganlah kita selalu membenarkan diri kita sendiri sambil mempersalahkan orang lain, bahkan mempersalahkan Tuhan sendiri.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk tidak mempersalahkan siapa dalam segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabku. Ajarilah aku untuk senantiasa mendengarkan Engkau dengan tuntutan-tuntutan cinta kasih-Mu. Amin.


Rabu, 08 Desember 2010

Kamis, 9 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 11:11-15

Kamis, 9 Desember 2010  
St. Fransiskus Antonius; St. Petrus Fourier B. Bernardus Maria Silvestrelli
Bacaan I: Yes 41:13-20
Mazmur : 145:1.9.10-11.12-13ab; R:8
Bacaan Injil : Mat 11:11-15


”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan – jika kamu mau menerimanya – ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan

”Mendengar” itu penting dalam kehidupan manusia. Seseorang bisa bebas dari kehancuran atau sebaliknya menjadi binasa hanya kalau dia salah mendengar atau mendengar dari orang yang salah atau mendengar informasi yang keliru.
Tuhan meminta masing-masing pribadi untuk mendengarkan Dia. Mendengarkan Tuhan itu pilihan sikap yang amat penting dan tidak tergantikan karena memang hanya Dialah yang harus didengarkan dengan sepenuh hati. Tuhan adalah kebenaran, dan hanya kebenaranlah yang menjadikan hidup manusia berseri.

”Mendengarkan” itu adalah tentang sikap hati dan pemberian diri. ”Mendengarkan” adalah sikap hati karena hanya orang terbuka hatinya yang dapat membiarkan hal yang baik dan benar masuk dalam dirinya. ”Mendengarkan” adalah suatu pemberian diri karena orang yang mendengarkan kebenaran seharusnya tidak bisa lagi bersikap netral di hadapan kebenaran yang diterimanya, melainkan dia dipaksa untuk memberi diri dan diproses oleh kebenaran itu. Hari-hari kita dalam Masa Adven ini menjadi waktu yang istimewa untuk berbenah diri sesuai dengan tuntutan kebenaran yang dimaklumkan Tuhan melalui Sabda-Nya.

Marilah kita memberi diri dan hati kita untuk mendengar. Jangan sampai kita berpura-pura tidak mendengar ketika tuntutan dari Sabda Tuhan dirasa memberatkan kita.


Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk mendengarkan Sabda-Mu, dan mengubah hidupku seturut tuntutan Sabda-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Selasa, 07 Desember 2010

Rabu, 8 Desember 2010 HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA(ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 1:26-38

Rabu, 8 Desember 2010
HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA
Bacaan I : Kej 3:9-15.20
Mazmur : 98:1.2-3ab.3c-4; R: 1ab
Bacaan II : Ef 1:3-6.11-12
Bacaan Injil : Luk 1:26-38


"Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin ter­jadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia."


Renungan

Tuhan menciptakan manusia karena cinta. Dia menebus kita karena cinta-Nya juga. Cinta Tuhan itu sempurna, tak bernoda. Manusia yang diciptakan Tuhan—pada awal mula—adalah insan yang sempurna. Namun, manusia mencemari dirinya sendiri dengan dosa sehingga dosa itu senantiasa hidup dalam dirinya dan memengaruhi seluruh hidupnya.

Tuhan memulihkan manusia dari kecacatan kita dengan memberikan Yesus sebagai manusia sempurna. Tuhan menyelenggarakan perkandungan-Nya, menjaga Maria agar tak bernoda, sehingga dia melahirkan bagi kita seorang Juru Selamat tanpa dosa. Maria menyanggupkan dirinya untuk bekerja sama dengan rahmat Tuhan dalam proyek penyelamatan kita.

Dia setia kepada penyelenggaraan Ilahi. Dia mencintai Allah yang mencintai dan memanggilnya. Maria tidak menodai cinta Tuhan itu. Pemberian dirinya adalah total untuk keselamatan umat manusia. Kasih Tuhan itu sempurna, jawaban Maria juga sempurna, maka tiada lagi dosa yang bisa memengaruhinya. Kasih kita manusia memang tidaklah sempurna. Namun, kita bisa berjuang menuju ke kesempurnaan dengan menjadikan Maria Bunda kita sebagai panutan dan penolong kita.

Marilah kita terus berjuang melawan dosa untuk mencapai kesempurnaan kita sebagai anak Allah. Tuhan pasti membantu kita dengan rahmat-Nya, Maria Bunda kita menyokong kita dengan kasih dan doanya yang tanpa noda.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa mengupayakan kesempurnaan hidupku, seperti Maria Bundaku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Senin, 06 Desember 2010

Selasa, 7 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 18:12-14

Selasa, 7 Desember 2010
Pw. St. Ambrosius
Bacaan I : Yes 40:1-11
Mazmur : 96:1-2.3.10ac.11-12.13-14; R: Yes 40:10ab
Bacaan Injil : Mat 18:12-14


”Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata ke­­padamu: Sesungguhnya jika ia berhasil me­nemukan­nya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Renungan

Manusia mudah menjadi salah tingkah kalau mendapatkan perlakuan kasih yang berlimpah. Perlakuan kasih yang demikian terkadang memanjakan atau meninabobokannya. Dikasihi secara berlimpah menyebabkan manusia ”lupa diri” sebagai subjek yang dikasihi. Manusia membebaskan dirinya dari orientasi hidup sebagai makhluk yang mulia.

Pengalaman yang demikian menyebabkan manusia—perlahan namun pasti—meninggalkan Allah. Tuhan tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak-Nya hilang atau binasa. Hati-Nya gelisah menyaksikan anak-Nya pergi meninggalkan Dia, meskipun hanya seorang. Masing-masing kita adalah istimewa di hati-Nya sehingga dibayar dengan harga yang sangat mahal, yakni darah Putra-Nya sendiri. Allah mencari kita dengan kasih-Nya melalui siapa pun yang berjumpa dengan kita. Dia mencari dan mencari kita sampai ke dunia hidup kita yang paling mengasyikkan dan memanjakan kemanusiaan kita, yakni alam dosa.

Marilah kita mencermati dan menata hidup kita sebagai insan yang dikasihi Allah. Marilah menyerahkan diri kita ke dalam pelukan kasih-Nya. Janganlah kita memisahkan diri dari kawanan umat Allah yang sedang berziarah kepada-Nya, bersama Yesus Gembala kita. Janganlah kita berasyik ria membangun hidup sendirian dan menyendiri, menghayati hidup dan nilai-nilai yang tidak sejalan dengan apa yang diminta oleh Yesus dan yang sedang dihayati oleh kebanyakan saudara-saudari kita yang mencintai Allah dan sesama dalam Yesus Kristus.


Doa:

Ya Tuhan, Engkau tidak menghendaki seorang pun hilang atau meninggalkan Dikau. Sadarkanlah aku akan cinta-Mu yang kekal, dan janganlah Engkau jemu mencariku kalau aku berpaling dan berpaling lagi dari Engkau. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Minggu, 05 Desember 2010

Senin, 6 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Luk 5:17-26

Senin, 6 Desember 2010
St. Nikolaus dr Myra
Bacaan I: Yes 35:1-10
Mazmur : 85:9ab-10.11-12.13-14; R: Yes 35:4d
Bacaan Injil : Luk 5:17-26

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka da­tang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang meng­usung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk ber­hubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: ”Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: ”Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: ”Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu —: ”Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: ”Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

Renungan

Si lumpuh mendapatkan kemurahan Tuhan dengan dua mahkota iman sekaligus: dosanya diampuni dan kelumpuhannya disembuhkan. Pengalaman dosa dan pengalaman rahmat itu berjalan beriringan. Dosa merusak cita rasa seseorang akan jamahan rahmat, maka anugerah pengampunan menjadi semacam oase dalam perjalanan hidup yang gersang.

Kesiapsediaan untuk menerima pengampunan berarti membuka pintu hati untuk mereguk rahmat. Kita harus berani mengambil sikap seperti si lumpuh yang mempercayakan dirinya pada kehendak baik para sahabatnya dan menerima setiap tawaran rahmat yang datang dari Yesus. Tilamnya adalah tempat pergumulan imannya. Tilam itu mempertemukan dia dengan sahabat-sahabatnya dan dengan Yesus sendiri. Dia membawa kembali tilam itu ke rumahnya tanpa membebani lagi seorang pun yang sudah mempertemukan dirinya dengan Yesus.

Kita tidak boleh melupakan begitu saja pengalaman-pengalaman hidup yang getir (seperti si lumpuh di atas tilamnya). Kita harus membawa pengalaman itu sebagai suatu proses pendewasaan iman yang menghidupkan (seperti si lumpuh yang membawa pulang tilamnya ke rumahnya). Dukungan yang kita dapatkan dari sesama seharusnya menguatkan perjuangan kita.


Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk siap sedia menerima rahmat pengampunanmu dan sembuhkanlah aku dari berbagai ”penyakit rohaniku”. Amin.

sumber: Ziarah Batin 2010

Jumat, 03 Desember 2010

Minggu, 5 Desember 2010,Pekan ADVEN II (ZIARAH BATIN 2010)-Bacaan Injil : Mat 3:1-12

Minggu, 5 Desember 2010
Pekan ADVEN II – St. Sabbas; St. Reinardus; St. Philipus Rinaldi; B. Bartolemeous Fanti
Bacaan I: Yes 11:1-10
Mazmur : 72:1-2.7-8.12-13.17; R:7
Bacaan II : Rm 15:4-9
Bacaan Injil : Mat 3:1-12


Pada waktu itu tampillah Yohanes Pem­baptis di padang gurun Yudea dan mem­­beritakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: ”Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Per­siapkan­lah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ”Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang menga­ta­kan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

Renungan

Masa Adven memberikan kepada kita kesempatan yang istimewa untuk menata hidup dan bertobat. Kedatangan Yesus Yang Mahakudus harus disambut dengan kesucian hati dari orang-orang yang harus menerima Dia.

Misi mempertobatkan itu dijalankan oleh Yohanes Pembaptis. Melalui hidup dan pewartaannya, Yohanes Pembaptis menantang manusia untuk berbenah diri dan mengubah pola lakunya menjadi hidup yang terpuji. Dia mengecam orang Farisi dan Saduki yang munafik dan licik. Yohanes mengecam mereka yang berpikir bahwa untuk memiliki Kerajaan Allah, cukuplah kalau orang dibaptis oleh Yohanes, tanpa harus diikuti oleh suatu upaya berbenah diri.

Kita yang hidup dalam Masa Adven ini jangan sampai ketularan kelicikan dan kemunafikan dari orang Farisi dan Saduki. Kita harus memaksimalkan masa penantian ini dengan suatu olah hidup dalam pertobatan.


Doa: Ya Tuhan, ambillah dari hatiku kelicikan dan kemunafikan agar aku dapat menjadi anak-anak-Mu, dan menjadi saudara bagi sesamaku. Amin.


Sabtu, 4 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)~Mat 9:35–10:1.6-8

Sabtu, 4 Desember 2010
Sta. Barbara; St. Kristian; St. Osmubd; B. Adolph Kolping; St. Yohanes dr Damsyk
Bacaan I: Yes 30:19-21.23-26
Mazmur : 147:1-2.3-4.5-6; R: Yes 30:18
Bacaan Injil : Mat 9:35–10:1.6-8



Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan: ”Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”


Renungan

Yesus melakukan segala hal untuk membagi kasih Tuhan kepada manusia. Membagi kasih merupakan proyek besar yang melibatkan banyak orang pilihan. Orang yang dipilih untuk proyek kasih adalah mereka yang mempunyai hati seperti Yesus sendiri, yakni yang tergerak oleh belas kasihan. Tuhan memberikan kepada kita semua kemampuan untuk mengasihi, sayangnya tidak banyak yang menyadari anugerah yang agung itu sehingga proyek kasih Tuhan selalu kekurangan tenaga.

Keprihatinan akan kurangnya pekerja di kebun anggur Tuhan bukan hanya keprihatinan manusia, melainkan juga keprihatinan Putra Allah sendiri. Bagi Yesus, keprihatinan itu seharusnya menjadi ”jembatan emas” yang menghubungkan kita dengan Tuhan karena yakin bahwa Tuhan sendirilah yang akan mengirim pekerja-pekerja yang pantas dan layak untuk tuaian-Nya. Kita harus berdoa agar Tuhan membuka hati umat-Nya untuk menjadi pekerja-Nya, yakni pembagi kasih dan penyebar rahmat. Berdoalah senantiasa: ”Pastilah Tuhan akan mengasihani engkau apabila engkau berseru-seru. Begitu mendengar teriakanmu, Ia akan menjawab” (Yes 30:19).

Kita juga harus membuka hati dan merelakan diri kita ketika Tuhan yang meminta kita untuk menjadi pekerja-Nya. Biasanya, buah pertama dari doa adalah pendoa itu sendiri. Janganlah kita mengelak panggilan Tuhan yang menghendaki kita menjadi pekerja-Nya.

Janganlah kita sendiri yang menggagalkan doa kita dengan menunjuk kepada diri orang lain saja sebagai pekerja Tuhan, sedangkan kita sendiri hanyalah penikmat rahmat, dan bukan pelaksana perutusan. Mau tunggu apa lagi? Ayo, bekerjalah di proyek kasih-Nya.


Doa: Ya Tuhan, kirimkanlah kepadaku pekerja-pekerja untuk membagikan rahmat dan mewartakan kasih-Mu. Bukalah juga hatiku agar siap sedia menjadi utusan-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010

Kamis, 02 Desember 2010

Jumat, 3 Desember 2010 (Ziarah Batin 2010)~Mrk 16:15-20

Jumat, 3 Desember 2010
Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi
Bacaan I: 1Kor 9:16-19.22-23
Mazmur : 117:1.2; R:Mrk 16:15
Bacaan Injil : Mrk 16:15-20


Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.


Renungan

Menjadi pemberita Injil adalah panggilan yang mulia dan tugas yang luhur. Tuhan menjamin orang-orang pilihan-Nya dengan berbagai kekuatan dan kemudahan, serta janji keberhasilan. St. Fransiskus Xaverius telah mengalami sendiri dalam perutusannya tentang kemahakuasaan Allah yang menjamin segalanya. Dia meninggalkan Spanyol, negeri leluhurnya, mengisi diri dengan ilmu yang didapatinya di Paris, ditahbiskan di Venezia, di Roma dia mempersiapkan dirinya untuk misi. Dia menunaikan misi membagikan rahmat, seperti Yesus yang berkeliling untuk berbuat baik, bahkan sampai di negeri kita. Dia mati, tetapi tetap hidup dalam hati sekalian orang yang hidup menurut Injil dan yang mewartakan Injil, karena dialah pelindung karya misi, yang senantiasa berdoa dan bekerja bagi karya misi.

Semua orang Kristiani dipanggil untuk menjadi pemberita Injil. Tuhan adalah jaminan maka Injil diterima di hati umat beriman, di mana pun Injil itu diberitakan. Kalau kita yakin akan bantuan dari rahmat Tuhan dalam misi atau perutusan, maka tiada sesuatu pun yang pantas dirisaukan.

Kalau kita meragukan bantuan rahmat Tuhan maka kita tidak akan mampu mengusir setan yang ada dalam diri kita sendiri sebagai pewarta, apalagi mengusir setan yang dijumpai dalam pewartaan. Kalau kita tidak mempedulikan janji atau jaminan dari Tuhan itu, betapa kita menjadi pengikut Kristus atau misionaris yang malang karena tidak membiarkan Rahmat Tuhan bekerja secara leluasa dalam hidup.

Janganlah kita menyia-nyiakan rahmat Baptisan yang telah diberikan kepada kita. Ingatlah bahwa dibaptis dan diutus menjadi pemberita Injil adalah satu kesatuan dari paket iman Kristiani yang sama. Marilah kita membangun cita-rasa untuk bermisi dengan mendoakan para misionaris, dan menyanggupkan diri kita untuk memaklumkan Injil kepada sesama di sekitar kita.

Doa: Ya Tuhan, bantulah aku untuk menjadi misionaris-misionaris yang membagi rahmat-Mu kepada semua orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang di sekitarku. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2010

Rabu, 01 Desember 2010

Kamis, 2 Desember 2010(Ziarah Batin 2010)-Mat 7:21.24-27

Kamis, 2 Desember 2010
Sta. Bibiana; B. Maria Angela Astorch; St. Edmund Campion; St. Robertus Southwell
Bacaan I: Yes 26:1-6
Mazmur : 118:1.8-9.19-21.25-27a; R:26a
Bacaan Injil : Mat 7:21.24-27


“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Renungan

Kita mencari ketenteraman hidup dan kebahagiaan. Namun, tidak jarang kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang mendasar dan yang tidak mendukung pemenuhan pencarian kita. Maka, sulitlah bagi kita untuk meraih kebahagiaan.

Yesus memberikan suatu patokan yang sederhana, ringkas, dan pasti untuk menggapai suatu kebahagiaan yang kekal. Mau masuk Kerajaan Surga? Jalan yang harus ditempuh oleh manusia ialah melakukan kehendak Bapa. Orang beriman harus menyelaraskan doanya dengan perbuatannya, serta memadukan perkataannya dan tindakannya. Hidup yang membahagiakan haruslah berasal dari kekayaan hubungan masing-masing pribadi dengan Tuhan yang mempunyai hati sebagai seorang Bapa. Kalau manusia tidak memiliki iman seperti ini, dia kehilangan sesuatu yang tidak tergantikan dalam hidupnya, dan itu berdampak besar sekali bagi seluruh perjuangannya untuk menggapai kebahagiaan.

Kriteria untuk memahami apakah kita sedang melakukan kehendak Bapa atau tidak ialah dengan menimbang hidup kita dengan menggunakan neraca kasih. Tuhan menghendaki kita melakukan perbuatan kasih, bukan persembahan. Dia menuntut kasih dari kita karena kita adalah anak-anak Kasih. Kalau orang mengasihi, ia sudah memiliki segalanya untuk mencapai kebahagiaan, hidupnya pun sekokoh karang.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku anak-anak-Mu untuk melakukan kehendak-Mu agar bahagialah hidupku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2010