Kamis, 30 Juni 2011

Jumat, 1 Juli 2011,HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 11:25–30

Jumat, 1 Juli 2011
HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (P)
Harun, Imam Agung; St. Oliver Plunkett; St. Teodorikus
Bacaan I: Ul. 7:6–11
Mazmur : 103:1–2,3-4,6–7,8,10; R: 17
Bacaan I : Yoh. 4:7–16
Bacaan Injil : Mat. 11:25–30

Pada waktu itu berkatalah Yesus, ”Aku ber­syukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu ber­kenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”


Renungan

Hari ini pertama-tama Yesus mengajak orang bersyukur atas karya Allah yang agung. Betapa banyak karya agung Allah dalam hidup manusia, tetapi kita sering menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Akan tetapi, ketika terjadi bencana, kecelakaan dan sejenisnya, kita malah bertanya di mana kebaikan Allah. Doa syukur Yesus dalam bacaan Injil hari ini merupakan sebuah ajakan dan sekaligus pengajaran agar kita mempunyai hati yang selalu bersyukur kepada Allah.

Kedua, Yesus mengundang kita untuk belajar kepada-Nya bagaimana mengasihi orang lain. Kasih yang diajarkan Yesus adalah kasih yang memberi kelegaan bagi yang tertekan dan meringankan beban orang lain. Dengan kata lain, kasih yang diajarkan Yesus itu adalah kasih yang menyelamatkan. Oleh karena itu, bila kita ingin mengasihi orang lain, syarat yang tidak boleh dilupakan adalah kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Orang yang mempunyai kelemah-lembutan dan kerendahan hati akan mampu memberikan kasih yang meringankan beban dan memberikan kelegaan itu tanpa ada pamrih apa pun. Kasih ini hanya bisa kita lakukan bila kita dihidupi oleh ”denyut nadi” Allah (lih. 1Yoh. 4:15–16).
Cinta yang murni itu berpola pada kasih Yesus Kristus. Iman kepada Kristus menjadi jaminan karya kasih. Di dalam Dialah, kita menjawab kasih Allah dan menawarkan kasih yang Ilahi kepada sesama (1Yoh. 4:13–14).


Doa: Ya Allah, jadikanlah hatiku seperti Hati Kudus Yesus Putra-Mu agar aku selalu memenuhi hidupku dengan penuh cinta kasih dan syukur. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 29 Juni 2011

Kamis, 30 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 9:1–8

Kamis, 30 Juni 2011
Pekan Biasa XIII (H) St. Bertrandus; St. Theobaldus; Sta. Giacinta Marescotti; B. Raymundus Lullus
Bacaan I: Kej. 22:1–19
Mazmur : 115:1–2,3–4,5–6,8–9; R: 9
Bacaan Injil : Mat. 9:1–8

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: ”Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: ”Ia menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: ”Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu —: ”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itu pun bangun lalu pulang.Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.



Renungan

Apakah Abraham begitu saja menerima permintaan Allah untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, Ishak, sebagai persembahan kurban bakaran bagi-Nya? Di balik kisah itu, pastilah sudah terjadi ”pergumulan batin” luar biasa yang dialami Abraham. Pergumulan batin itu mungkin dapat disusun begini, ”Mengapa Allah meminta Abraham untuk mengurbankan Ishak, anak semata wayangnya yang dikurbankan, sementara Allah memilihnya untuk menjadi Bapa para bangsa dan memberikan keturunannya sebanyak bintang di langit? Padahal, Abraham sendiri pastilah punya domba jantan untuk dikurbankan sebagai persembahan bagi Allah.”

Ketaatan Abraham kepada Allah sungguh luar biasa! Kehendaknya bergesekan dengan kehendak bebas Allah. Namun, ia memilih taat kepada Allah, meskipun dengan risiko kehilangan anak satu-satunya yang kelak menjadi ahli warisnya. Keberanian untuk tidak menggenggam erat ”kehendaknya sendiri”, itulah yang membuat Allah pun akhirnya menghentikan tindakan Abraham untuk membunuh Ishak, anaknya, sebagai kurban bagi-Nya. Dari peristiwa itulah, Abraham semakin mengenal, siapakah Allah yang ia imani.

Yesus tidak pernah berhenti memperkenalkan siapakah Allah yang ditaati-Nya, sampai Dia pun tidak mundur, kalaupun pengampunan dosa yang diberikan-Nya kepada orang lumpuh justru dikecam oleh orang Farisi sebagai ”hujatan kepada Allah”! Pantang mundurnya Yesus rasanya memberikan keyakinan, ”Janganlah takut dalam situasi apa pun untuk mewartakan kebenaran siapakah Allah yang kita imani.”

Doa: Bapa, curahkanlah Roh-Mu agar dalam situasi apa pun aku pantang mundur untuk memperkenalkan Engkau dalam kata dan tindakan kasihku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 28 Juni 2011

Rabu, 29 Juni 2011,HARI RAYA St. Petrus dan St. Paulus (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 16:13–19

Rabu, 29 Juni 2011
HARI RAYA St. Petrus dan St. Paulus, RasUL (M)

Bacaan I: Kis. 12:1–11
Mazmur : 34:2–3,4–5,6–7,8–9; R:5
Bacaan I I : Tim. 4:6–8,17–18
Bacaan Injil : Mat. 16:13–19


Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ”Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: ”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”


Renungan

Baik Petrus maupun Paulus sebenarnya dua pribadi yang wataknya hampir sama. Petrus digambarkan sebagai orang yang meledak-ledak emosinya. Sesaat dia akan begitu antusias untuk mengikuti Yesus, Gurunya, bahkan dia penuh semangat untuk membela Sang Guru itu sampai kapan pun. Kenyataannya yang kemudian terjadi, Petrus malah menyangkal Yesus ketika ditanya apakah dia juga murid Yesus. Namun, ia juga pribadi yang mengenal siapakah Yesus. Ia mengenal Yesus sebagai Mesias, Allah yang hidup, sehingga Yesus pun mempercayakan kepadanya ”jemaat” untuk dibangun dalam hidupnya, yang berperan sebagai ”batu karang”-Nya.

Begitu jugalah Paulus, yang pribadinya keras luar biasa, sebagai orang Ibrani asli, ahli Taurat dan termasuk orang Farisi. Bahkan Paulus, yang dahulu bernama Saulus telah mengejar-ngejar para pengikut Kristus dan membunuhnya.

Namun, teguran Tuhan di depan pintu gerbang Damsyik, sampai ia terjatuh dari kudanya dan menjadi buta, telah memutarbalikkan jalan hidup dan pikiran Paulus. Ia menjadi pengikut Kristus, bahkan menjadi pewarta Injil yang cerdas, tangguh, dan handal sampai ke segala bangsa bukan Yahudi.

Watak yang keras ternyata bukanlah halangan bagi Allah untuk memanggil Petrus dan Paulus membangun komunitas orang beriman di tengah segala bangsa bukan Yahudi. Dengan kepribadian yang tangguh dan keras itu, mereka mewartakan Injil agar Gereja ditantang untuk hidup di tengah dunia, bukan sebagai ”gedung” melainkan sebagai ”peristiwa hidup”, sebuah komunitas beriman, yang membawa tanda keselamatan dari Yesus Sang Mesias.

Doa: Bapa di surga, curahkanlah Roh-Mu agar aku mampu menjadi pewarta Injil-Mu dalam kata dan perbuatan kasih sebagaimana diteladankan St. Petrus dan Paulus. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Sabtu, 25 Juni 2011

Minggu, 26 Juni 2011,HARI RAYA TUBUH & DARAH KRISTUS (Ziarah Batin 2011)

Minggu, 26 Juni 2011
HARI RAYA TUBUH & DARAH KRISTUS (P)
St. Yohanes dan Paulus; Sta. Maria Magdalena Fontaine;
St. Yohanes Baptista Makado; St. Leo Tanaka dkk.
Bacaan I: Ul. 8:2–3,14b–16a
Mazmur : 147:12–13,14–15,19–20; R: 12a
Bacaan II : 1Kor. 10:16–17
Bacaan Injil : Yoh. 6:51–58

”Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesa­ma mereka dan berkata, ”Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkit­kan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barang siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barang siapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”



Renungan

Kalau boleh tahu, bagaimana perasaan Anda saat berangkat dari rumah untuk merayakan Ekaristi Minggu atau harian? Apakah ada rasa terbebani sebagai sebuah kewajiban utama, atau sebagai kebutuhan rohani, dan sebagainya?
Sesungguhnya, bukan hanya kita yang membutuhkan Ekaristi, tetapi pertama-tama Yesuslah yang sangat membutuhkan kita untuk hadir dalam perjamuan kasih-Nya. Yesus tidak tahan untuk tidak mengasihi manusia sehabis-habisnya sehingga dengan penuh harapan, Dia merindukan kehadiran kita semua untuk menyantap Daging-Nya dan meminum
Darah-Nya agar kita beroleh hidup yang kekal! Apakah yang engkau rasakan bila Yesus mengatakannya padamu, ”Aku menantikan kehadiranmu!

Maukah engkau datang pada-Ku?” Kita merasa terharu bukan?
Panggilan untuk merayakan Ekaristi bersama Yesus sebenarnya tidak lain adalah panggilan untuk dikasihi Allah seutuhnya.

Namun, panggilan itu sulit kita dengarkan karena kita lebih suka dikasihi dengan syarat: kalau aku berhasil dalam studiku, bila prestasiku lebih tinggi daripada teman-temanku, bila aku memiliki jabatan yang mapan, dan sebagainya. Itulah ”ketentuan dunia yang mengasihi manusia hanya kalau orang berhasil”. Jalan pikiran macam itulah yang diubah oleh Yesus. Hidup kekal itu tidak mulai nanti setelah kita mati, tetapi sudah mulai saat kita mau tekun merayakan Ekaristi. Buah Ekaristi itu akan tampak dalam hidup yang berbagi: penuh keramahan, berani minta dikritik dan dievaluasi, berani bermurah hati, dan berani mengampuni tanpa menghakimi!

Doa: Bapa, aku bersyukur atas santapan Tubuh dan Darah Putra-Mu Yesus Kristus. Semoga berkat santapan itu aku mewujudkan harapan akan hidup kekal dengan saling mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi aku tanpa syarat. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Sabtu, 25 Juni 2011(ziarah Barin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 8:5–17

Sabtu, 25 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H)
St. Gulielmus; Sta. Febronia
Bacaan I : Kej. 18:1–15
Mazmur : Luk. 1:46–47,48–49,50,53
Bacaan Injil : Mat. 8:5–17


Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira men­da­patkan Dia dan memohon kepada-Nya: ”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: ”Aku akan datang menyembuh­kannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: ”Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ”Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”



Renungan

Rasanya sulit sekali bagi Sara untuk percaya akan perkataan Tuhan bahwa tahun depan ia akan mengandung seorang anak laki-laki sementara dirinya sudah lanjut usia dan mati haid. Ketidakpercayaan Sara itu membuat Tuhan menasihatinya melalui Abraham, ”Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki” (Kej. 18:14). Itulah Allah kita, tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Mukjizat Allah akan terjadi saat orang mau terbuka dan berserah diri pada kehendak-Nya. Keyakinan ini ada pada perwira dari Kapernaum: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Ungkapan itu menunjukkan pengakuan dirinya yang rapuh sehingga tidaklah pantas dikasihi Tuhan, namun sekaligus ia mengungkapkan keputusannya agar Tuhan bersabda saja supaya hambanya sembuh. Dan, apa yang terjadi, seketika itu juga hambanya sembuh. Itulah iman, berani percaya kepada Sabda Allah sepenuhnya tanpa syarat apa pun.


Doa
Tuhan, aku percaya, tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Teguhkan imanku ini. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 23 Juni 2011

Jumat, 24 Juni 2011,HARI RAYA Kelahiran St. Yohanes Pembaptis (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Luk. 1:57–66,80

Jumat, 24 Juni 2011
HARI RAYA Kelahiran St. Yohanes Pembaptis (P)

Bacaan I: Yes. 49:1–6
Mazmur : 139:1–3,13–14ab,14c–15; R: 13b
Bacaan I : Kis. 13:22–26
Bacaan Injil : Luk. 1:57–66,80


Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun mela­hirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak sau­daranya mendengar, bahwa Tuhan telah menun­jukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya ber­kata: ”Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya: ”Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.Maka ketakutanlah semua orang yang ting­gal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu men­jadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, mere­nungkannya dan berkata: ”Menjadi apa­kah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan me­nyertai dia. Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menam­pakkan diri kepada Israel.



Renungan

Kelahiran seorang anak di tengah keluarga selalu memunculkan sebuah harapan: ”Dek, nanti besar mau jadi apa?” Anak yang diajak bicara itu pastilah hanya menjawab dengan senyuman tanpa kata. Demikianlah juga kelahiran Yohanes, membuat banyak orang bertanya-tanya:”Menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia!” Apalagi namanya tidak sama dengan nama ayahnya Zakharia. Ditambah lagi, ia baru bisa berbicara kembali setelah anaknya lahir, selama istrinya Elisabeth mengandung, ia menjadi bisu.

Ternyata kelahiran Yohanes memang tepat pada waktunya untuk ”mengantar” perubahan dari tradisi para nabi menuju tradisi baru yang dimulai dengan kelahiran Yesus. Yohanes berperan ”mengantar” umat Israel meninggalkan masa lalu guna memasuki ”era baru” untuk hidup bersama Yesus, Sang Anak Domba Allah. Ia menjalankan perannya itu dengan penuh kerendahan hati. Kerendahan hati itulah yang ditunjukkan Yohanes kelak, saat ia membaptis Yesus di Sungai Yordan. Bahkan demi kebenaran iman, ia akhirnya mati dipenggal kepalanya oleh Herodes karena telah berani mengkritik perkawinannya dengan Herodias, istri Filipus, saudaranya (bdk. Mat. 14).

Itulah tugas ”mengantar” yang penuh risiko, bahkan sampai kematian. Apakah kita juga yakin dipanggil untuk ”mengantar” saudara kita sampai mengenal Yesus yang kita imani dengan gaya hidup yang benar seturut Sabda-Nya?


Doa: Bapa, aku bersyukur karena Yohanes Pembaptis telah dilahirkan untukku sehingga aku semakin mengenal Putra-Mu Yesus yang Engkau utus agar hidupku makin dimurnikan oleh Darah-Nya. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Kamis, 23 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 7:21–29

Kamis, 23 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H) St. Yosephus Cafasso; Sta. Etheldreda
Bacaan I: Kej. 16:1–12,15–16
Mazmur : 106:1–2,3–4a,4b–5; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 7:21–29



”Bukan setiap orang yang berseru ke­pada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!””Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.


Renungan


Bagaimanakah rasanya menjadi seorang istri yang tidak memiliki anak bertahun-tahun? Dalam tradisi Timur Tengah yang paternalistik, rasanya sebuah ”aib” yang berat kalau seorang istri tidak kunjung mengandung. Bahkan, aib itu diyakini sebagai ”hukuman dari Allah” akibat dosa yang telah mereka perbuat. Itulah sebabnya Sara ”menyerahkan” Hagar kepada suaminya Abraham agar dari Hagarlah ada keturunan. Keyakinan Sara itu dijungkirbalikkan oleh Allah. Allah tetap setia pada janji-Nya untuk memberikan keturunan kepada Abraham dan Sara. Maka terpenuhilah janji-Nya, di usia tuanya itu Sara mengandung dan melahirkan Ishak.

Bagaimanakah mungkin Abraham dan Sara akan percaya penuh harapan kalau mereka tidak mengenal siapakah Allah yang mereka imani. Orang mengenal Allah tidak hanya dengan perkataan, melainkan dengan melaksanakan Sabda-Nya, ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Orang yang melaksanakan Sabda Allah itu tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai pusat hidupnya, melainkan menjadikan Allah sebagai andalannya meskipun masa depan tidak jelas, bahkan kalau tidak ada alasan untuk berharap sekalipun. Hidup dalam pengharapan akan Allah ibarat orang yang membangun rumah tidak di atas pasir yang cepat hanyut oleh banjir, tetapi di atas wadas, karena Allah itulah wadas hidupnya.


Doa: Bapa, betapa aku sering mudah putus asa ketika menghadapi banyak ketidakpastian dalam hidup ini. Curahkanlah Roh-Mu agar aku belajar memutuskan tanpa terpaksa untuk menjadikan Engkau satu-satunya andalan hidupku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 21 Juni 2011

Rabu, 22 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 7:15–20

Rabu, 22 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H)
St. Paulinus dr Nola; St. Thomas Moore;
Sta. Yulia Billiart; St. Albanus; St. Yohanes Fischer

Bacaan I: Kej. 15:1–12,17–18
Mazmur : 105:1–2,3–4,6–7,8–9; R: 8a
Bacaan Injil : Mat. 7:15–20


”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”


Renungan

Apakah yang dapat dibanggakan dalam hidup Abraham sehingga Allah memilihnya untuk menjadi pemilik tanah terjanji, tanah Kanaan, bahkan keturunannya akan sebanyak bintang di langit yang tidak terhitung jumlahnya? Allah mengenal iman Abraham yang besar karena ia berani percaya kepada-Nya meskipun tidak ada bukti yang sudah jelas. Percaya tanpa syarat bukanlah tanpa akal budi, tetapi Abraham berani memutuskan untuk mengandalkan seluruh masa depan hidupnya kepada Allah yang ia kenal, ”Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu” (Kej. 15:7).

Allah yang diimani Abraham itulah yang terus-menerus diwariskan dari generasi satu ke generasi berikutnya. Warisan iman itu sungguh berbuahkan dalam diri bangsa Israel, sampai pada keturunannya. Sikap batin Abraham yang penuh percaya kepada Allah yang dikenalnya, itulah yang sebenarnya menjadi inti sikap hidup orang beriman sekarang ini. Ia mampu mengenal Allah karena ia mendengarkan firman-Nya dengan sungguh-sungguh dan menaatinya.

Pertanyaannya adalah bagaimanakah hidup kita akan berbuahkan ”kasih” kalau kita sendiri tidak mengenal siapa Allah yang mengasihi kita? Bagaimana kita akan mengenal Allah itu kalau kita lebih suka mendengarkan suara dunia yang menawarkan gaya hidup serba nikmat, instan, populer, kuasa untuk mengontrol orang lain? Bukankah kita lebih suka menutup telinga saat suara Allah berbisik selembut angin sepoi-sepoi basa, yang memanggil kita untuk kerja keras dalam pengharapan, rendah hati tanpa rendah diri, murah hati dalam pelayanan tanpa pamrih?


Doa: Bapa, bukalah hatiku agar aku tekun mendengarkan suara-Mu yang memanggilku untuk hidup dalam pengharapan-Mu sehingga banyak orang merasakan buah-buah Roh yang Engkau percayakan kepadaku: kehangatan dan kegembiraan! Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Senin, 20 Juni 2011

Selasa, 21 Juni 2011,Pw St. Aloysius Gonzaga, Biarwan(Ziarah batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 7:6,12–14

Selasa, 21 Juni 2011

Pekan Biasa XII Pw St. Aloysius Gonzaga, Biarw. (P)
Bacaan I: Kej. 13:2,5–18
Mazmur : 15:2–3ab,3cd–4ab,5; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 7:6,12–14


”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.Segala sesuatu yang kamu kehendaki su­paya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang men­da­patinya.”



Renungan

Siapakah yang akan membagikan seekor ingkung ayam (ayam utuh) untuk diberikan saat makan bersama dalam sebuah kelompok (biasanya dalam upacara syukuran) yang terdiri dari banyak orang? Jawabannya, dialah yang mau mengambil bagian yang terakhir setelah orang lain mendapatkan sesuai permintaannya. Risikonya, yang membagi bisa jadi tidak mendapatkan bagiannya sama sekali. Itulah risiko menjalankan keutamaan keadilan. Rasanya Abraham jugalah yang berinisiatif untuk membagi tanah mereka agar selesailah konflik yang terjadi antara para gembalanya dan para gembala milik Lot. Konflik itu diselesaikan demi kelestarian relasi persaudaraan. ”Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat” (Kej. 113:8). Persaudaraan dibangun bukan melalui ”pintu yang lebar”, tetapi melalui pintu yang sesak.

Selalu ada kesempatan yang ”luas” untuk tinggal dalam kegelapan, bagaikan pintu yang lebar sehingga orang tidak memerlukan penyangkalan diri, tetapi tinggal mengikuti saja nafsu kedagingan kita tanpa harus kerja keras. Namun, untuk memasuki ”kehidupan sejati, kehidupan dalam Roh”, dibutuhkan kerja keras dan penyangkalan diri sampai menguras seluruh pikiran, hati, dan tenaga, bahkan mesti diperjuangkan sampai tetes darah terakhir.

Menyangkal diri itu berarti mau meninggalkan apa pun yang kuanggap istimewa dan sumber kesenanganku sementara dan berlari mencari Sang Sumber Hidup. Itulah gaya hidup yang berani memasuki ”pintu yang sesak” agar segarlah diri kita karena memasuki ”kehidupan sejati”, yakni bersatu dengan Allah yang hidup.


Doa:Bapa, ajarilah aku untuk berani memilih kehidupan dengan melalui ”pintu yang sesak”, dengan belajar menyangkal diri sehingga nyatalah kasih-Mu dalam tindakanku setiap hari. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Minggu, 19 Juni 2011

Senin, 20 Juni 2011(ZIarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 7:1–5

Senin, 20 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H) St. Silverius, Paus
Bacaan I: Kej. 12:1–9
Mazmur : 33:12–13,18–19,20,22
Bacaan Injil : Mat. 7:1–5


”Jangan kamu menghakimi, supaya ka­mu tidak dihakimi. Karena dengan peng­hakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan di­ukurkan kepadamu. Mengapakah eng­kau melihat selumbar di mata saudaramu, se­dang­kan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”


Renungan

Apakah yang Anda rasakan kalau diajak untuk mencari alamat rumah seorang sahabat di sebuah kota yang baru kali ini Anda kunjungi, dan alamat rumah itu pun tidak lengkap, hanya di sebutkan di sebuah kampung? Apalagi ditambah tidak ada nomor telepon yang dapat dihubungi? Mungkin Anda bisa merasakan jengkel, berkeluh kesah, capek pikiran, apalagi harus tanya sana-sini. Apa yang Anda alami tidaklah seberapa dengan pengalaman Abraham, yang berani percaya kepada Allah untuk pergi dari Haran menuju Tanah Kanaan, yang jaraknya ribuan kilometer, apalagi ditambah umur Abraham yang sudah 75 tahun. Bagaimanakah Abraham membuat ”situasi yang penuh ketidakpastian” itu tetap menjadi ”saat istimewa untuk tetap berharap pada kekuatan Allah” sehingga ia pun percaya akan janji Allah, akan negeri yang diberikan kepada keturunannya.

Kesediaan Abraham untuk ”berani melangkah dari Haran ke Tanah Kanaan” dalam segala ketidakpastiannya, itulah pribadi orang beriman, yang berani berharap daripada pribadi yang mudah apriori sebelum semuanya dijalankan. Orang yang berharap kepada Tuhan itulah orang yang percaya. Demikianlah juga orang yang percaya kepada sesamanya, ia tidak mudah menghakimi kelemahan orang lain, melainkan ia akan belajar berharap, bahwa saudaranya, selemah apa pun, akan dapat bangkit dari kerapuhannya, karena Allah pasti menyertainya.

Doa: Bapa, berilah aku kehendak yang kuat agar tidak mudah apriori kepada-Mu, tetapi setia pada kehendak-Mu. Dengan demikian, aku pun mampu melihat pengharapan-Mu dalam diri sesamaku, yang lemah sekali pun. Amin

sumber:Ziarah Batin 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

Minggu, 19 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 3:16–18

Minggu, 19 Juni 2011
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS (P) St. Gervasius dan Protasius; St. Romualdus; Sta. Yuliana Falconieri
Bacaan I: Kel. 34:4b–6,8–9
Mazmur : Dan. 3:52,53,54,55,56; R: 52b
Bacaan I : 2Kor. 13:11–13
Bacaan Injil : Yoh. 3:16–18


Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menga­runiakan Anak-Nya yang tunggal, su­paya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke da­lam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barang siapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barang siapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.


Renungan

Membuka atau mengakhiri suratnya, Paulus menuliskan rumusan salam seperti ini, ”Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Salam itu mengungkapkan secara sederhana misteri Allah Tritunggal, bukan sebagai rumusan matematis, melainkan sebagai sejarah cinta Allah kepada manusia. Allah Bapa menciptakan seluruh bumi dan isinya, termasuk manusia, yang secara istimewa diciptakan menurut citra-Nya.

Ternyata citra manusia itu dirusak oleh dosa manusia pertama, Adam dan Hawa—saat mereka menaruh harapan pada bujukan ular (kuasa setan)—untuk melawan titah Allah. Rusaknya citra itu membuat manusia lalu jatuh bangun dalam dosa dan berada di bawah cengkeraman maut. Namun, kasih Allah tidak pernah luntur. ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Allah menyerahkan Putra-Nya sendiri untuk tinggal bersama manusia agar citra manusia sebagai anak-anak Allah diperbarui melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Dan belum sampai di situ saja, setelah Yesus naik ke surga, Allah masih mengutus Roh Kudus untuk menyertai kita selamanya.

Lihatlah, betapa besar kasih Allah akan manusia sehingga seluruh diri-Nya—sebagai Bapa yang mencipta, Putra yang menebus, dan Roh yang menguduskan—terlibat secara total mengurus dunia ini. Apa balasan kita akan kasih Allah Tritunggal ini?

Doa: Allah Tritunggal Mahakudus, menyadari cinta-Mu yang luar biasa untukku, mampukan aku untuk menjadi anak-anak Allah yang setia kepada-Mu dalam suka dan duka. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 17 Juni 2011

Sabtu, 18 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 6:24–34

Sabtu, 18 Juni 2011
Pekan Biasa XI (H)
St. Leontius, Hipatios, dan Teodulus
Bacaan I: 2Kor. 12:1–10
Mazmur : 34:8–9,10–11,12–13; R: 9a
Bacaan Injil : Mat. 6:24–34


”Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika de­mi­kian, ia akan membenci yang se­orang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.Karena itu Aku berkata kepadamu: Jangan­lah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan ter­lebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?”
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."


Renungan

Santo Paulus, dalam Bacaan Pertama, mengalami kegelisahan sangat mendalam karena umat di Korintus yang dilayaninya masih berprasangka bahwa Paulus adalah pelayan Injil yang minta dipuji dan minta upah. Kegelisahan itu diatasi Paulus dengan mengungkapkan keyakinannya bahwa Tuhan telah berseru kepadanya: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor. 12:9a).

Paulus benar-benar mengikuti jejak Kristus sendiri. Bagi dia, semua yang lain tidak dianggapnya lagi—emas, perak, pujian, hormat, harga diri, bahkan nyawanya sendiri—karena ia telah mendapatkan harta terpenting dalam hidupnya, yakni Kerajaan Allah dan kebenarannya. Semua yang lain akan ditambahkan.

Dalam Injil hari ini Yesus menunjukkan bahwa kita dipanggil bukan untuk menjadi orang duniawi yang selalu khawatir akan apa yang kita makan dan minum, melainkan menjadi anak-anak kesukaan Bapa, yang terlebih dahulu ”mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya”. Kerajaan Allah tidak lain adalah Allah yang berkuasa dengan menganugerahkan kasih dan pengharapan. Kasih dan pengharapan itu tidak lain adalah Roh-Nya yang menjiwai hidup kita dan Gereja-Nya agar orang beriman terpimpin menuju kasih dan kebenaran sejati. Semua yang lain akan ditambahkan kepada kita, sabda Yesus, asalkan kita terlebih dahulu mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenarannya.

Doa: Bapa, tolonglah aku untuk mengubah kecemasan dan kekhawatiranku menjadi saat penuh rahmat untuk berharap seutuhnya pada-Mu, Sang Sumber Kehidupan sehingga hidupku dapat menjadi tanda pengharapan bagi orang lain. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Jumat, 17 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 6:19–23

Jumat, 17 Juni 2011
Pekan Biasa XI (H)
St. Gregorius Barbarigo
Bacaan I: 2Kor. 11:18,21b–30
Mazmur : 34:2–3,4–5,6–7; R: 18b
Bacaan Injil : Mat. 6:19–23


”Janganlah kamu mengumpulkan har­ta di bumi; di bumi ngengat dan karat me­rusakkannya dan pencuri mem­bong­kar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”


Renungan

Sering terdengar celoteh masyarakat tatkala menilai kesuksesan sebuah keluarga: ”Wah sekarang putra-putri Bapak-Ibu sudah jadi ’orang’ ya?” Ada yang jadi dokter, pastor, suster, pegawai bank swasta .... Ukuran kesuksesan masih pada taraf materialistis-duniawi: kaya, punya status/jabatan, pendidikan tinggi, mapan, dan sebagainya. Cara berpikir seperti itu membuat orang lebih suka ”memegahkan dirinya sendiri”, sementara Allah yang terlibat dalam seluruh hidupnya rupa-rupanya diabaikan begitu saja.

Lain halnya dengan Santo Paulus. Dia tidak bermegah diri karena kehebatannya sendiri, tetapi justru dalam kelemahan dan deritanya. ”Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut” (2Kor. 11:24–25). Ia mampu bertahan dalam derita karena pusat pelayanannya bukan pada kemegahan diri sendiri, tetapi pada kemuliaan Allah.

Orientasi hidup Paulus sepenuhnya terarah pada ”harta di surga” yang tidak habis dimakan ngengat dan dibongkar oleh pencuri. Dengan memusatkan perhatian pada ”harta di surga”, orang beriman tertantang untuk tidak mengandalkan masa depannya pada hartanya, tetapi mengandalkan Allah seutuhnya. Jika Allah menjadi orientasi dasar kita, Dia akan tinggal bersama kita, kuasa-Nya menaungi kita, dan siapakah yang bisa melawan kita? Paulus bersaksi, ”Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2Kor. 12:9b). Apakah kita juga mengandalkan Allah dalam hidup kita?

Doa: Bapa di surga, jamahlah hatiku agar mampu bermurah hati kepada sesama yang mengalami penderitaan sehingga aku tidak lagi menumpuk harta di dunia, melainkan harta di surga. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Rabu, 15 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 6:1–6,16–18

Rabu, 15 Juni 2011
Pekan Biasa XI (H)
St. Vitus; St. Modestus; Sta. Kresensia;
Sta. Paola Gambara Costa; Sta. Germana Cousin

Bacaan I: 2Kor. 9:6–11
Mazmur : 112:1–2,3–4,9; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 6:1–6,16–18


”Ingatlah, jangan kamu melakukan ke­wa­jiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata ke­pa­damu: Sesungguhnya mereka sudah men­dapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka meng­ucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam ka­marmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah men­dapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”



Renungan

Gaya hidup orang Farisi yang suka memamerkan ”kesalehannya” karena sudah berdoa, beramal, dan berpuasa menjadi pokok kritik Yesus. Yesus menjungkirbalikkan cara pandang mereka yang meyakini bahwa keselamatan akan mereka terima kalau perbuatan lahiriah mereka kelihatan saleh. Padahal menurut Yesus, justru sikap batin dalam berbuat baiklah yang paling pokok. Sikap batin atau alasan orang berdoa, berbuat baik, ataupun berpuasa, itulah yang dilihat oleh Allah yang tersembunyi. Karena itu, sampai tiga kali Yesus mengatakan, ”Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Mengapa Allah begitu menghargai ”alasan yang tersembunyi dalam hati manusia”? Karena sikap batin itulah yang menentukan ”ketulusan hati” manusia. Yesus tidak menghendaki kita menjadi orang yang ”narsis”, yang selalu mengagung-agungkan kemolekan diri sendiri, tetapi Yesus menginginkan kita menjadi seorang yang tulus hati dalam berdoa, berpuasa, dan berkarya, yang selalu berorientasi pada kemuliaan Allah dan kebaikan sesama.


Doa: Bapa, aku kerap kali masih tergoda untuk mencari pengakuan bahwa diriku orang baik. Bukalah hatiku agar aku mampu belajar rendah hati seperti Yesus Putra-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 13 Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 5:43–48

Selasa, 14 Juni 2011
Pekan Biasa XI (H)
St. Metodius; B. Gerardus; Pw S. Nabi Elisa
Bacaan I: 2Kor. 8:1–9
Mazmur : 146:2,5–6,7,8–9a; R: 2a
Bacaan Injil : Mat. 5:43–48


”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata ke­pada­mu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”


Renungan

Sesaat menjelang penyambutan Komuni, dua orang yang duduk berdampingan saling berbisik, ”Wah dia, sekarang kelihatan modis tuh, penampilannya!” Temannya menyambung, ”Iya tuh, gaya banget, dia. Dia itu tetanggaku, lagipula dia belum bayar utang loh ke keluargaku.” Jawab temannya, ”Wah kebangeten ya?”

Begitulah sepenggal percakapan menjelang menerima Tubuh Tuhan. Lantas kita bertanya, masihkah doa damai tadi teringat di hatinya: ”Janganlah memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu!” Kenyataannya, ”Janganlah memperhitungkan dosa kami ya Tuhan, tetapi perhitungkanlah dosa dan kesalahan tetangga kami!” Praksis hidup seperti itu menandakan orang belum mampu hidup sebagai anak-anak Bapa di surga yang mengasihi semua orang dalam kelebihan maupun kekurangannya, termasuk orang yang menyakiti kita.

Hari ini kita dituntut Yesus untuk menjadi sempurna sama seperti Bapa di surga adalah sempurna. Allah menjadi acuan kita dalam hal kesempurnaan. Itu berarti, kesempurnaan kita tidak terletak pada ukuran kesenangan pribadi, bukan soal suka atau tidak suka, bukan pula sekadar berbuat baik dan tidak menciptakan masalah dengan orang lain, tetapi kita dituntut berbuat lebih dari itu, yakni rela berkorban demi kebaikan bersama.

Prinsipnya, ”biarkan diri kita semakin kecil, dan orang lain semakin besar”. Inilah jalan menuju kesempurnaan yang dikehendaki Allah, yakni jalan kerendahan hati, pengorbanan, pengampunan, penyangkalan diri—jalan salib.

Doa: Bapa, berilah aku rahmat-Mu agar mampu menghayati jalan salib Putra-Mu hingga mencapai kesempurnaan di dalam Engkau sendiri. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Minggu, 12 Juni 2011

Senin, 13 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 5:38–42

Senin, 13 Juni 2011
Pekan Biasa XI
Pw St. Antonius dr Padua, ImPujG. (P)
Bacaan I: 2Kor. 6:1–10
Mazmur : 98:1,2–3ab,3cd–4; R: 2a
Bacaan Injil : Mat. 5:38–42


”Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Jangan­lah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.


Renungan

Dalam beberapa kali rapat Dewan Pastoral Paroki, ada kesan bahwa pengurus yang ekonominya tidak terlalu baik sering kali tidak mendapat kesempatan untuk berpendapat. Kalaupun diberi kesempatan, pendapat mereka kerap kali ditanggapi dengan sinis dan apriori. Sementara sangat lain sikapnya kalau yang berpendapat adalah para pengurus yang mapan ekonominya, yang punya jabatan/status, yang pandai dan cerdas.

Itulah sebuah peristiwa hidup yang masih diwarnai ”pilih kasih”. Selama sikap itu bercokol dalam diri kita, karya kita tidak lagi berpusat pada Yesus yang telah bangkit dan hidup, tetapi berpusat pada diri sendiri. Santo Paulus mewaspadai sikap ini kepada rekan-rekan sekerjanya di Korintus, agar mereka tidak mengandalkan diri sendiri melainkan mengandalkan kasih karunia Allah yang telah mereka terima sehingga mereka akan tetap sabar dalam segala penderitaan, kesesakan, kesukaran, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjaga-jaga dan berpuasa.

Kesabaran dalam penderitaan itulah yang diwartakan Yesus agar orang mampu mengasihi orang yang menyakitinya, ”memberi pipi kiri bila pipi kananmu ditampar, serahkanlah jubahmu juga kalau orang mengingini bajumu”. Di balik pesan itu, orang beriman ditantang untuk tidak memusatkan hidupnya pada diri sendiri, tetapi pada Allah. Hidup yang berpusat pada diri sendiri lebih suka menggenggam erat harga diri kita. Sebaliknya, hidup yang mengandalkan Allah akan tertantang untuk melepaskan harga diri yang kita genggam erat.


Doa: Bapa, kuatkanlah aku dengan Roh-Mu agar mampu bersandar pada kerahiman dan kemurahan hati-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 10 Juni 2011

Sabtu, 11 Juni 2011,Pekan Paskah VII (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 10:7–13

Sabtu, 11 Juni 2011
Pekan Paskah VII Pw St. Barnabas, Rasul (M)
Bacaan I: Kis. 11:21b; 13:1–3
Mazmur : 98:2–3b,3c–4,5–6
Bacaan Injil : Mat. 10:7–13


Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.


Renungan

Kita sering mendengar berita tentang praktik pengobatan alternatif. Ada praktisi pengobatan alternatif yang mendapatkan ilmu pengobatannya dengan belajar, tetapi ada pula yang semata-mata karena menerima karunia dari Tuhan. Ada juga praktik pengobatan alternatif yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja sehingga umat semestinya waspada dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Soal tarif pengobatan, ada yang terang-terangan pasang tarif—dari tarif menengah sampai tarif yang sangat tinggi. Namun, ada juga yang tidak pasang tarif, tetapi menerima semampu dan seikhlas pasien.

Yesus mengingatkan kita untuk memberikan bagi sesama dengan cuma-cuma alias gratis atas aneka karunia yang kita terima dari-Nya karena kita juga menerimanya dengan gratis. Ibarat air di dalam gelas—yang tidak ada saluran keluar—akan tumpah jika diisi terus dengan air; demikian juga dengan kita, karunia-karunia yang kita terima dari Tuhan harus kita alirkan kepada sesama supaya curahan yang selalu kita terima dari Tuhan tidak tumpah dengan sia-sia.

Santo Barnabas Rasul yang kita peringati hari ini telah menjadi saluran berkat bagi Paulus. Barnabaslah yang mengantarkan Paulus kepada para rasul untuk menceritakan peristiwa penampakan Tuhan dalam perjalanannya ke Damsyik. Dia pulalah yang meyakinkan para rasul tentang kehidupan baru Paulus setelah peristiwa penampakan itu. Maka, marilah kita juga menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama.


Doa: Ya Allah, terima kasih atas aneka karunia yang kuterima dari-Mu dengan cuma-cuma. Jadikanlah diriku saluran berkat bagi sesamaku. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Kamis, 09 Juni 2011

Jumat, 10 Juni 2011,Pekan Paskah VII (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 21:15–19

Jumat, 10 Juni 2011
Pekan Paskah VII (P)
St. Henrikus Balzano
Bacaan I : Kis. 25:13–21
Mazmur : 103:1–2,11–12,19–20b; R: 19a
Bacaan Injil : Yoh. 21:15–19


Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya, ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya, untuk ketiga kalinya, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, ”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, ”Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, ”Ikutlah Aku.”


Renungan

Ketika Anda sedang bercermin, lihatlah siapakah orang yang ada di cermin itu? Anda sendiri bukan? Cermin selalu jujur menampilkan diri kita apa adanya. Namun, sering kali justru kita sendiri yang tidak mau jujur dengan diri kita. Terkadang kita bersembunyi diri, tidak berani memperlihatkan identitas yang sebenarnya karena takut dicela, takut disingkirkan dari pergaulan, atau malu dengan diri sendiri. Inilah tanda bahwa kita sesungguhnya belum mengasihi diri sendiri. Diri sendiri saja tidak dikasihi, bagaimana bisa mengasihi Tuhan dan sesama?

Paulus, selama masa penahanannya, tidak takut dan gentar memperlihatkan identitas dirinya apa adanya, bahwa ia adalah pengikut Kristus, warga negara Roma, seorang Yahudi, yang memberi kesaksian pribadi tentang Yesus yang bangkit dan benar-benar hidup. Paulus berani dan tegar membela kebenaran ini karena ia telah merasakan betapa ia dikasihi Yesus, betapa Yesus telah mengubah dirinya, dan betapa ia amat mengasihi Yesus. Kasih sejatinya ini lebih kuat daripada cambuk dan belenggu penjara.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sungguh mengasihi Yesus yang kita imani? Inilah pertanyaan yang dilontarkan Yesus sampai tiga kali kepada Petrus, ”Apakah engkau mengasihi Aku?” Pertanyaan Yesus kepada Petrus juga menjadi pertanyaan bagi kita, ”Apakah engkau mengasihi Aku?”

Doa
Bapa, ulurkanlah tangan-Mu untuk memberkatiku agar aku mampu mengasihi seperti yang Yesus Putra-Mu kehendaki bagiku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 08 Juni 2011

Kamis, 9 Juni 2011,Pekan Paskah VII (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 17:20–26

Kamis, 9 Juni 2011
Pekan Paskah VII (P)
St. Primus dan St. Felicianus; St. Efrem; B. Diana, Sesilia, dan Amata; Sta. Anna Maria Taigi; B. Yosef de Anchieta
Bacaan I: Kis. 22:30;23:6–11
Mazmur : 16:1–2a,5,7–8,9–10,11; R: 1
Bacaan Injil : Yoh. 17:20–26


”Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”



Renungan

Manakah yang akan Anda pilih, memiliki tanaman bunga mawar yang penuh duri atau bunga mawar tanpa duri? Ada kecenderungan dalam diri kita untuk menghindari ”duri-duri” di tangkai mawar atau memangkas duri-durinya agar dapat dipegang dengan nyaman dan akhirnya bisa mencium kelopak mawar itu tanpa harus khawatir jari-jari kita tertancap durinya. Begitulah manusia, cenderung membangun relasi yang lebih menyenangkan dirinya daripada membangun relasi dengan orang yang memiliki kelemahan yang dapat melukai hatinya.

Santo Paulus berani mengalami dirinya tertancap oleh ”duri-duri” orang Farisi dan Saduki yang mempersoalkan pengharapan akan kebangkitan dari antara orang mati. Paulus begitu tegar dengan keyakinannya sampai ia tidak takut dipenjara.

Ketegaran itulah yang menjadi tanda bahwa Paulus sudah hidup dalam persatuan dengan Allah. Bersatu dengan Allah merupakan panggilan dasar kita, sebagaimana doa Yesus, ”Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” Panggilan dasar ini sulit dimengerti karena kita sudah terbiasa ”bersatu dengan dunia”. Kita tidak berani berkonfrontasi dengan kebobrokan dan ketidakadilan yang terlintas di depan mata kita, karena kita takut terluka. Sebagai kepunyaan Allah, hendaklah kita sehati sejiwa dengan Kristus yang rela tertusuk mahkota duri dan mati di salib demi keselamatan banyak orang.

Doa: Bapa, aku mau menjadi milik-Mu seutuh-Nya yang siap terluka demi keselamatan sesamaku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011 

Selasa, 07 Juni 2011

Rabu, 8 Juni 2011,Pekan Paskah VII(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 17:11b–19

Rabu, 8 Juni 2011
Pekan Paskah VII (P)
SP Maria, Takhta Kebijaksanaan; St. William; B. Maria Drozte-Fischering; B. Nikolaus Gesturis
Bacaan I: Kis. 20:28–38
Mazmur : 68:29–30,33–35a,35b–36c; R: 33a
Bacaan Injil : Yoh. 17:11b–19


”Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”

Renungan

Pernahkah Anda tanpa sengaja memecahkan cermin? Kalau pernah, perhatikanlah di manakah wajah Anda berada, pada satu kepingan pecahan cermin, atau pada semua pecahan cermin? Pasti wajah Anda akan kelihatan di semua pecahan cermin. Demikianlah orang yang mau membagikan hidupnya kepada orang lain. Dia akan kehilangan waktu, tenaga, pikiran, dan kekayaannya untuk turut serta terlibat dalam hidup orang lain dan selalu ”berada” pada setiap orang yang diperhatikannya.

Kehadiran dan keterlibatan Paulus di Efesus dalam menghadapi ajaran sesat, sungguh-sungguh dirasakan oleh setiap jemaat. Siang malam Paulus menasihati mereka bahkan dengan bercucuran air mata, agar mereka tetap berkomitmen pada kebenaran iman yang diajarkannya. Untuk jerih payahnya ini, Paulus tidak meminta balasan apa pun. Paulus mengatakan, ”Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Dengan memberi, orang itu akan dirasakan kehadirannya. Itulah hidup yang menampilkan ciri ”komunitas”.

Panggilan hidup berkomunitas menjadi inti pokok doa Yesus untuk para murid-Nya. Yesus berdoa agar kita hidup tidak untuk dunia, melainkan untuk berkomunitas dengan Allah dan sesama. Hidup berkomunitas dengan Allah, yang menjadi sumber kekuatan, menantang orang untuk bekerja keras dan konsisten antara kata dan perbuatan, mau menjadi orang yang proaktif dalam hidupnya tanpa mencari popularitas dan pujian, serta mau menjadi pelayan yang murah hati tanpa banyak menuntut dari orang lain.

Doa: Bapa, curahkan Roh Kudus-Mu agar aku tetap berkomitmen untuk setia pada iman Gereja-Mu di tengah segala macam ajaran sesat dan kenikmatan dunia ini. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 06 Juni 2011

Selasa, 7 Juni 2011,Pekan Paskah VII(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 17:1–11a

Selasa, 7 Juni 2011
Pekan Paskah VII (P)
B. Anna dr St. Bartolomeus
Bacaan I: Kis. 20:17–27
Mazmur : 68:10–11,20–21; R: 33a
Bacaan Injil : Yoh. 17:1–11a


Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia me­nengadah ke langit dan berkata, ”Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu.


Renungan

Kita hidup di era serba teknologi. Banyak kemudahan dan kenyamanan yang kita peroleh, tetapi tidak kurang pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Handphone (hp), misalnya. memudahkan kita berkomunikasi dengan banyak orang di berbagai belahan dunia dalam waktu singkat. Akan tetapi, dengan hp yang sama orang bisa menjadi begitu reaktif dan cepat marah hanya karena telepon tidak diaktifkan, sms tidak dibalas, gelisah kalau habis pulsa, perasaan was-was dan cemas karena mendapat sms berbau teror dari orang yang tidak dikenal, merasa privasinya terganggu, dan lain-lain. hp itu telah ”membelenggu” manusia dan berubah rupa seolah-olah menjadi ”tuhan yang baru”, dewa yang dicintai sekaligus ditakuti.

St. Paulus justru sebaliknya, ia begitu mengandalkan imannya akan Yesus yang bangkit. Karena itu, Paulus tidak membiarkan dirinya dibelenggu oleh ”kenyamanan hidup bersama” di Efesus melainkan berani melangkah dalam ketidakpastian menuju Yerusalem, tempat ia akan dipenjara. Doa Yesus senantiasa menyertainya sehingga ia tidak takut kehilangan nyawa sekalipun. Doa Yesus yang sama juga menyertai kita hingga hari ini agar kita senantiasa berada di dalam kasih-Nya, bukan dalam gengaman telepon genggam dan aneka kenikmatan duniawi lainnya.


Doa: Bapa, aku bersyukur telah menjadi milik-Mu. Curahkanlah Roh Pengharapan-Mu agar aku tidak takut menanggung risiko menjadi tanda keselamatan-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Minggu, 05 Juni 2011

Senin, 6 Juni 2011,Pekan Paskah VII (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 16:29–33

Senin, 6 Juni 2011
Pekan Paskah VII (P)
St. Norbertus; St. Filipus
Bacaan I : Kis. 19:1–8
Mazmur : 68:2–3,4–5ac,6–7ab; R: 33a
Bacaan Injil : Yoh. 16:29–33

Kata murid-murid-Nya, ”Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau me­ngeta­hui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun, Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Renungan

Air kelapa muda selalu segar meskipun pohon kelapa itu tumbuh di daerah ”air comberan” (air yang kotor dan hitam), bahkan air kelapa muda itu dapat menjadi penawar racun dalam tubuh kita. Bukankah kita juga demikian—dipanggil untuk ”berbuahkan kasih dan damai sejahtera” di mana pun kita ”ditanam”?

Santo Paulus menunjukkan kemampuannya untuk berpindah-pindah tempat. Ketidakpastian daerah yang akan ditinggali bukanlah penghalang, melainkan menjadi tantangan untuk menjalani hidup dalam Roh terus-menerus. Itulah artinya ”baptisan dalam Roh Kudus”.

Roh itulah juga yang diperkenalkan Paulus dengan penumpangan tangan dan yang menuntunnya mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan-Nya hadir di tengah dunia berkat daya kehidupan Roh Kudus. Kerajaan-Nya itu hadir dalam hidup jemaat yang ”percaya akan Yesus yang diutus Allah dan beroleh damai sejahtera”. Hadir dalam diri orang yang berani menomorsatukan kepentingan Allah. Kepentingan Allah tidak lain adalah ”damai sejahtera” yang senantiasa mewarnai hidup kita di mana pun kita berada.


Doa

Bapa, sempurnakanlah niatku untuk menjadi tanda kehadiran Kerajaan-Mu yang membawa damai sejahtera bagi semua orang. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 03 Juni 2011

Minggu, 5 Juni 2011,Pekan Paskah VII (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 17:1–11a

Minggu, 5 Juni 2011
Pekan Paskah VII (P)
Hari Komunikasi Sedunia St. Bonifasius; St. Ferdinandus Constante
Bacaan I : Kis. 1:12–14
Mazmur : 27:1,4,7, 7–8a; R: 15ab
Bacaan II : 1Ptr. 27:1,4,7–8a; R: 13
Bacaan Injil : Yoh. 17:1–11a


Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia me­nengadah ke langit dan berkata, ”Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu.



Renungan

Menjadi pengikut Kristus tidak perlu takut untuk setia bergulat dalam kesulitan hidup, untuk terus berkanjang dalam kesepian, dan tetap tegar berkarya walau merasa ditinggalkan. Dia yang pergi menghadap Bapa, Dialah juga yang meninggalkan Roh-Nya untuk berdiam dalam diri kita agar kita memiliki pengharapan di tengah berbagai macam ketidakpastian. Kita bukan lagi milik dunia ini, tetapi milik Allah sendiri. Dia telah menyatukan milik kepunyaan-Nya dalam suatu komunitas umat beriman, di mana kita juga tergabung di dalamnya.

Komunitas yang hidup bersama Allah, akan menampilkan diri bukan sebagai milik dunia, tetapi sebagai milik-Nya. Dengan menjadi milik Allah, kita dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran kasih setia-Nya, yakni dengan tidak membiarkan diri terjebak dalam kesenangan semu, bersikap rendah hati tanpa mencari popularitas, murah hati dalam pelayanan, dan saling berbagi. Dengan cara hidup itulah kita mulai merintis untuk terlibat dalam hidup yang kekal sejak dari dunia ini.

Doa
Bapa, curahkanlah Roh-Mu agar aku mampu ambil bagian dalam hidup yang kekal, yang dianugerahkan Putra-Mu kepadaku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Sabtu, 4 Juni 2011,Pekan Paskah VI(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 16:23b–28

Sabtu, 4 Juni 2011
Pekan Paskah VI (P)
SP Maria, Ratu Para Rasul; St. Fransiskus Caracciolo;
St. Kuirinus; B. Yakobus dr Viterbo; St. Petrus dr Verona
Bacaan I: Kis. 18:23–28
Mazmur : 47:2–3,8–9,10; R: 8a
Bacaan Injil : Yoh. 16:23b–28


Aku berkata kepadamu, ”Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepa­da Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi ber­kata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”



Renungan

Kemandirian seorang anak kerap kali menjadi tujuan para orangtua mendidik anaknya. Sayangnya, kemandirian itu hanya dipahami sebagai ”orang yang mampu mengatur hidupnya sendiri dan mencukupi kebutuhannya, dan sebisa mungkin tidak meminta bantuan orang lain”. Itulah sebabnya banyak orangtua cenderung mengarahkan anaknya menjadi seorang single fighter. Akibatnya, mereka tidak terbiasa menawarkan sikap murah hati kepada orangtua atau saudaranya sendiri: ”Apa yang bisa saya bantu? Apakah kamu mau membantu pekerjaanku?” Gaya ”menawarkan” dengan risiko ditolak itu sesuatu yang tidak mudah dilakukan, karena kita cenderung minta kepastian di mana ”orang lain harus mau menuruti keinginanku”. Padahal, menawarkan itu salah satu cara bagaimana kita melibatkan orang lain dalam hidup kita.

Yesus yang telah naik ke surga menganugerahkan Roh-Nya agar kita berani meminta kepada Bapa dalam nama-Nya. Meminta dalam nama-Nya tidak lain adalah meminta kasih-Nya. Kasih itu tidak lain Roh-Nya sendiri. Bila kita telah berani meminta bantuan Allah, itu berarti kita mau melibatkan Dia dalam hidup kita. Kita mau bekerja sama dengan Roh-Nya, mau mengikuti keinginan-Nya yang tentu saja terbaik buat kita. Dia yang berjanji, Dialah yang setia, tentu akan mengabulkan permintaan kita dalam nama-Nya. Kepenuhan janji itu tidak lain menjadi sukacita kita.


Doa: Tuhan Yesus, Engkau amat mengasihi aku dan tidak membiarkan aku bagai yatim piatu. Semoga aku sanggup bekerja sama dengan roh-Mu dan senantiasa hidup dalam kasih-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 02 Juni 2011

Jumat, 3 Juni 2011,Pekan Paskah VI(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 16:20–23a

Jumat, 3 Juni 2011

Pekan Paskah VI
Hari Pertama Novena Pentakosta Pw St. Karolus Lwanga, dkk Mrt. (M); Sta. Klotilda; St. Kevin
Bacaan I: Kis. 18:9–18
Mazmur : 47:2–3,4–5,6–7; R: 8a
Bacaan Injil : Yoh. 16:20–23a


”Aku berkata kepadamu: Sesungguh­nya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Dan pada hari itu, kamu tidak akan menanya­kan apa-apa kepada-Ku.


Renungan

Ada peribahasa yang berbunyi, ”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Agaknya peribahasa tersebut cocok dengan pesan Tuhan dalam Injil hari ini. Untuk mendapatkan kegembiraan, terkadang kita harus bersusah payah dan bahkan menderita. Seperti ibu yang kesakitan saat mau melahirkan bayi, tetapi ketika bayi itu lahir, ibu itu tersenyum bahagia.

Hidup ini bagaikan roda berputar: sisi yang tadinya di atas suatu saat akan berada di bawah, begitu pun sebaliknya. Penderitaan dan kegembiraan akan selalu hadir dalam hidup kita di dunia ini. Ada tawa, ada tangis; ada kelahiran, ada kematian. Ketika bayi yang baru lahir menangis, orang di sekelilingnya malah tersenyum bahagia; ketika seseorang meninggal dunia dengan damai dan bahagia, orang yang ditinggalkannya malah menangis sedih.

Inilah hidup yang tidak pernah lepas dari suka dan duka. Ketika kegembiraan itu datang, hendaknya kita tahu bersyukur kepada Tuhan. Sebaliknya, ketika penderitaan yang datang, hendaknya kita tidak menyalahkan Tuhan, melainkan tetap bersyukur kepada-Nya. Sebab, penderitaan bukanlah hukuman dari-Nya. Penderitaan adalah salah satu cara Tuhan untuk memurnikan kita sehingga kita layak menjadi anak-anak-Nya. Penderitaan ibarat emas yang dibakar di dalam api. Hanya dengan api, emas itu akan menjadi emas murni yang berharga (bdk. Sir. 2:1–5).


Doa: Allah Bapa di surga, terima kasih atas segala penyertaan-Mu di dalam hidupku. Berilah aku kekuatan tatkala penderitaan itu datang sehingga aku sanggup menghadapinya. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 01 Juni 2011

Kamis, 2 Juni 2011,HARI RAYA KENAIKAN TUHAN(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 28:16–20

Kamis, 2 Juni 2011
HARI RAYA KENAIKAN TUHAN (P)
St. Feliks dr Nikosia; St. Erasmus;
St. Marselinus dan Petrus; St. Nicephorus dr Konstantinopel

Bacaan I: Kis. 1:1–11
Mazmur : 47:2–3,6–7,8–9; R: 6
Bacaan II : Ef. 1:17–23
Bacaan Injil : Mat. 28:16–20


Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditun­jukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”


Renungan

Saat hidup bersama Yesus, para murid belajar untuk percaya akan perkataan dan pekerjaan-Nya, bahkan belajar percaya bahwa Mesias harus menderita dan mati, namun bangkit pada hari ketiga. Kebangkitan Yesus membuat para murid yakin akan seluruh ajaran-Nya. Kini setelah iman mereka tumbuh berkat kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, mereka ditantang untuk membangun relasi yang ”baru” dengan Yesus, yakni relasi dalam Roh.

Itulah hadiah Yesus naik ke surga bagi para murid-Nya dan juga kita semua yang telah ”dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, serta yang senantiasa melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan”. Menjalin relasi dalam Roh tidak akan pupus dimakan waktu, berlangsung hingga akhir zaman, dan melampaui batas-batas suku, bangsa, dan wilayah sampai ke seluruh dunia. Inilah yang membuat Kristus dan Gereja-Nya berkembang ke mana-mana dan bertahan hingga saat ini.

Pengikut Kristus zaman ini tentu tidak ada yang pernah bertatap muka langsung dengan Yesus, tetapi kita tidak pernah ragu-ragu mengimani Dia. Dia yang telah naik ke surga senantiasa menyertai kita dengan Roh-Nya dan kita dibawa masuk untuk hidup bersama-Nya dalam Roh dan Kebenaran. Hanya dengan cara demikian iman kita dimurnikan dan kita sanggup menjiwa dunia sekitar kita dengan Roh dan Kebenaran Kristus sendiri.


Doa: Yesus, sertailah aku sepanjang zaman dan kuatkanlah komitmenku untuk senantiasa hidup dalam Roh dan Kebenaran-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011