Jumat, 21 Oktober 2011

Sabtu, 22 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 22 Oktober 2011
Pekan Biasa XXIX (H)
Sta. Salome; St. Contardo Ferrini; St. Nunila dan Alodia;
St. Filipos, Hermes, dan Severus

Bacaan I: Rm. 8:1–11
Mazmur : 24:1–2,3–4ab,5–6; R: 6
Bacaan Injil : Luk. 13:1–9


Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: ”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: ”Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang men­cari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”


Renungan

Begitu sering kita menghubungkan bencana sebagai hukuman Ilahi. Namun, penilaian dan penghakiman kita selalu menyudutkan mereka yang menjadi korban bencana. Ketika bencana tsunami menimpa Aceh, tidak sedikit dari kita yang menanggap bahwa orang Aceh jauh lebih besar dosanya daripada kita sehingga mereka pantas menerima hukuman Allah dalam tragedi bencana alam yang menimpa mereka. Peristiwa pembunuhan orang-orang Galilea oleh Pilatus di Bait Allah yang bermotifkan politik diangkat orang untuk meminta penilaian Yesus. Yesus mengingatkan mereka bahwa orang-orang Galilea itu tidak lebih besar dosanya daripada orang-orang Galilea yang lain. Yesus juga mengangkat peristiwa yang dialami oleh delapan belas orang yang tertimpa menara di Siloam.

Semua bencana hendaknya membuat kita bermenung diri dan mengambil hikmah, bukannya ajang pembenaran diri sebagai orang yang lebih baik daripada orang lain. Bukankah bencana tsunami Aceh, gempa bumi di Nias, Irian, dan di tempat lainnya merupakan momentum sejarah yang selayaknya membuat kita lebih rekat sebagai bangsa dalam sikap dan tindak solidaritas kita yang menembus dan melintas batas agama, suku, budaya, dan ras?

Doa: Allah Bapa di surga, jangan biarkan aku merasa diri lebih baik secara moral dan spiritual daripada orang lain. Berilah aku kerendahan hati untuk selalu memohon pengampunan dari-Mu. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Kamis, 20 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 20 Oktober 2011
Pekan Biasa XXIX (H)
Magdalena dr Nagasaki; B. Marie de la Passion;
Sta. Maria Bertilla Boscardin; Sta. Irene dr Portugal

Bacaan I: Rm. 6:19–23
Mazmur : 1:1–2,3,4,5,6; R: 40:5a
Bacaan Injil : Luk. 12:49–53

”Aku datang untuk melemparkan api ke bu­mi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus me­ne­rima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anak­nya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”


Renungan
Para murid Yesus mungkin shock dengan ajaran-Nya yang satu ini, ”Aku datang bukan untuk membawa damai tetapi pertentangan.” Ataukah para murid sudah pernah mendengar tentang hal ini: ”Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mi. 7:6). Bukan tidak mungkin anggota keluarga maupun teman dekatlah yang menjadi musuh kita dalam hidup.


Kita menjadi ”musuh” bukan karena kita orang yang tidak baik, tetapi bisa jadi karena pilihan loyalitas kita.
Yesus menyatakan bahwa dia datang membawa api. Api dalam tradisi Kitab Suci selalu diartikan sebagai kehadiran Tuhan (bdk. Kel. 3:2), sebagai lambang kemuliaan Tuhan (bdk. Yeh. 1:4.13) kekudusan Tuhan (bdk. Ul. 4:24), dan lambang Roh Kudus (bdk. Mat. 3:11). Pewartaan Kristus yang membawa kehadiran Allah di tengah umat manusia membuat manusia harus memilih dalam hal loyalitas. Apa mereka loyal, taat, dan setia kepada Allah atau tidak? Menempatkan segala sesuatu di atas pilihan untuk loyal kepada Tuhan adalah sebuah keberhalaan.

Doa: Tuhan Allahku, biarlah api cinta-Mu membakar semangatku untuk selalu setia kepada-Mu dan hanya loyal kepada-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 17 Oktober 2011

Selasa, 18 Oktober 2011(ziarah batin 2011)

Selasa, 18 Oktober 2011
Pekan Biasa XXIX
Pesta St. Lukas, Pengarang Injil (M)
Bacaan I: 2Tim. 4:10–17b
Mazmur : 145:10–11,12–13ab,17–18; R: 12
Bacaan Injil : Luk. 10:1–9

Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua men­dahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pe­kerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, se­sungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.


Renungan

Para murid Yesus dipanggil untuk diutus. Untuk apa kita diutus dan bagaimana kita diutus telah dengan jelas dikatakan dalam Injil. Dan yang menarik juga bahwa Yesus sendiri telah melihat situasi di mana kita diutus. Kita diutus bagai domba di tengah serigala. Domba selalu menunjukkan sikap kelembutan dan kepasrahan pada gembalanya. Domba itu diutus bukan ke padang belantara yang hijau dengan kesejukan air yang tenang, melainkan ke tengah dunia serigala yang mengusik keberadaannya. Bagaimana dia merasa aman di tengah serigala? Dia tidak akan menghamba kepada serigala, dia juga tidak akan menjadi seperti serigala, tetapi tetap menjadi domba yang setia dengan perutusannya.

Pada Pesta Santo Lukas Pengarang Injil, kita diajak untuk merenungkan perutusan kita. Lukas menulis Injilnya dan Kisah Para Rasul di masa-masa yang penuh dengan tantangan. Banyak murid yang menjadi martir demi pewartaan Injil. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mengambil jalan kekerasan untuk membela Injil. Kerajaan Allah diwartakan tanpa kekerasan dan paksaan, tetapi dengan penuh kesabaran dan kelemahlembutan. Bagaikan domba yang tidak punya pembela di tengah serigala yang siap sedia menerkam mangsanya, mereka hanya mengandalkan kekuatan dan perlindungan pada Sang Gembala Utama.

Doa: Ya Tuhan, berilah aku kelembutan hati dalam mewartakan Injil-Mu yang suci dan peliharalah aku dalam kasih-Mu. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Jumat, 14 Oktober 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 15 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII
Pw Sta. Teresia dr Yesus, PrwPujG. (P)
Bacaan I : Rm. 4:13.16–18
Mazmur : 105:6–7,8–9,42–43; R: 8a
Bacaan Injil : Luk. 12:8–12



”Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan ma­nusia, Anak Manusia juga akan meng­akui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barang­siapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.”


Renungan

”Barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Perkataan ini cukup keras dan banyak orang tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Tuhan. Menyangkal Yesus masih bisa diampuni, tetapi menghujat Roh Kudus adalah dosa yang tidak bisa diampuni.

Allah menciptakan segala sesuatu dan manusia menurut citra-Nya dengan diembusnya Roh Kudus, DAYA HIDUP. Yesus yang penuh dengan Roh Kudus melakukan karya agung Allah: yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan. Yesus mengembusi para murid-Nya dengan Roh Kudus dan berkata, ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh. 20:22–23).

Demikianlah karya Roh dalam penciptaan, menopang ciptaan dan menebusnya dengan kelimpahan kasih Allah.
Kasih pengampunan Tuhan tidak berkesudahan, tanpa batas, dan tanpa syarat. Barang siapa percaya akan kerahiman dan belas kasih Allah serta bertobat, dia akan menikmati kelimpahan kasih dan pengampunan Allah. Barang siapa tidak percaya dan tidak bertobat, dia bukan saja menutup diri akan kerahiman Allah, tetapi juga menghujat Roh Allah yang memampukan orang untuk memiliki DAYA HIDUP baru. Pengampunan selalu ada bagi orang yang percaya dan bertobat.

Doa
Tuhan, sadarkan aku selalu akan kelimpahan kasih karunia-Mu dalam hidupku. Panggillah aku untuk selalu tinggal dalam kelimpahan kasih dan kerahiman-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 13 Oktober 2011

Jumat, 14 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 14 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Yohanes Ogilvie; St. Kalistus I, Paus; B. Gundisalvus dr Lagos; B. Gonzalo dr Lagos
Bacaan I : Rm. 4:1–8
Mazmur : 32:1–2,5,11; R: 7
Bacaan Injil : Luk. 12:1–7

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.”


Renungan

Kemunafikan berarti bahwa manusia tidak menampakkan apa dan siapa sebenarnya dirinya. Dia adalah seorang actor atau pemain drama. Demikianlah orang-orang Farisi di zaman Yesus, mereka menampakkan diri seolah-olah mereka itu sangat suci dan baik. Hati mereka penuh dengan kejahatan. Hidup mereka penuh dengan kebusukan.

Yesus mengajarkan kita agar tidak takut akan sesama manusia yang walaupun membunuh dan menghabiskan nyawa kita, tetapi tidak punya kuasa lagi untuk kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kita selayaknya takut akan Allah. Takut akan Allah dalam bahasa Kitab Suci adalah suatu sikap hormat, sembah, dan bakti bagi Dia yang menciptakan kita dengan cinta dan menopang kita dengan kerahiman-Nya. Inilah sikap yang dituntut oleh Allah (bdk. Im. 25:17). Hanya
Allah yang patut ditakuti, disembah, dan dihormati karena Dialah yang memiliki hidup yang kekal. Dia tidak akan melupakan apa yang Dia ciptakan dengan penuh kasih. Dia tidak menginginkan kita binasa karena kita adalah milik pusaka-Nya. Sekalipun kita kehilangan nyawa di tengah pergulatan dunia yang menentang kita karena nama-Nya, kita tidak akan binasa, tetapi memperoleh hidup yang kekal.

Doa
Ya Tuhan Pelindungku, biarlah aku hanya takut akan Dikau, Allah yang menjanjikanku kehidupan yang kekal. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 12 Oktober 2011

Kamis, 13 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 13 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Eduardus; Sta. Eustokia; B. Honoratus Kosminski; B. Aleksandrina Maria da Costa
Bacaan I: Rm. 3:21–30a
Mazmur : 130:1–2,3–4b,4c–6; R: 7
Bacaan Injil : Luk. 11:47–54

”Celakalah kamu, sebab kamu mem­bangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyang­mu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”
Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.


Renungan

Para nabi seperti Elia, Yeremiah, dan Amos disiksa dan dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Di zaman Raja Ahab (2Raj. 2:16) dan Yoyakim (Yer. 26:1–23) banyak nabi—yang tidak diketahui namanya—dibunuh secara massal. Di Zaman Yesus, mereka membangun tugu-tugu peringatan bagi para nabi yang dibunuh oleh nenek moyang mereka sendiri. Mereka mungkin mau menunjukkan rasa hormat dan kagum terhadap para nabi dahulu. Namun, Yesus membongkar kemunafikan mereka yang hanya mengelabui mata orang dengan penghargaan mereka yang semu, tetapi menolak kehadiran nabi di tengah mereka.

Para ahli Taurat dikecam oleh Yesus karena mereka yang merupakan pemegang kunci pengetahuan tentang Allah, bukan saja menutup diri dari anugerah surga yang dijanjikan, tetapi justru menghalangi orang lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ajaran Tuhan itu sederhana. Janganlah ajaran itu dibuat sedemikian kompleks sehingga orang lain tidak bisa mengerti atau malah tidak punya kemauan dan kemampuan untuk mendalami ajaran-ajaran Tuhan. Banyak orang awam yang tidak lagi mau bersusah payah untuk mendalami ajaran Tuhan dan mereka mengharapkan para pastor saja, atau pengkhotbah yang akan menjelaskan kepada mereka.

Doa: Tuhan Yesus, terangilah aku selalu dengan Roh Kudus-Mu agar aku bisa menjadi penuntun bagi sesamaku untuk menikmati sukacita kehidupan yang Engkau janjikan bagi semua orang. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 11 Oktober 2011

Rabu, 12 oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 12 oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Serafinus dr Montegranaro;
St. Wilfridus; B. Maria Teresa Fasce

Bacaan I: Rm. 2:1–11
Mazmur : 62:2–3,6–7,9; R: 13b
Bacaan Injil : Luk. 11:42–46

”Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar per­sepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan ke­adilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”
Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: ”Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: ”Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”


Renungan

Kecaman yang dilontarkan Yesus kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat makin pedas. Dia membongkar kebobrokan praktik kehidupan agama mereka yang bermotivasi agar dilihat dan dihormati orang. Mereka juga membuat hukum dan peraturan yang mereka sendiri tidak melaksanakannya. Mereka bukan saja penuh dengan kebusukan dan kebobrokan, tetapi justru menyesatkan orang lain dengan ajaran-ajaran mereka. Mereka diibaratkan dengan kubur yang tidak punya tanda. Dalam adat istiadat orang Yahudi, orang yang menginjak kubur akan najis selama tujuh hari. Banyak orang menginjak kubur karena kubur tersebut tidak punya tanda. Orang Farisi adalah kubur-kubur yang tidak punya tanda dan orang bisa saja mendekati mereka dan terkontaminasi dengan ajaran sesat mereka.

Sementara itu, Yesus mengajarkan dan mengingatkan kembali, baik para ahli Taurat dan orang Farisi bahwa esensi dari perintah Allah adalah kasih dan keadilan. Allah sendiri adalah kasih dan segala yang dia lakukan mengalir dari kasih-Nya. Kasih adalah pengorbanan yang selalu merangkul dan meringankan beban orang lain.

Doa: Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kobarkanlah semangat cinta dalam hatiku agar aku selalu hanya memerhatikan apa yang paling utama dan penting dalam hidup ini, yaitu membagi kasih dengan sesama. Amin.

sumber: ziarah batin 2011

Senin, 10 Oktober 2011

Selasa, 11 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 11 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
B. Elias dr Socorro Nieves
Bacaan I: Rm. 1:16–25
Mazmur : 19:2–3,4–5; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 11:37–41

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: ”Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”


Renungan

Yesus sungguh berlaku sangat kasar terhadap orang Farisi yang mengundang dia makan di rumahnya. Orang Farisi itu mengundang Yesus karena terkesan dan tertegun dengan pengajaran-Nya. Namun, apa yang dia dapatkan? Yesus sebagai tamu mengecam sikap orang-orang Farisi yang sangat legalistis dan ritualistis. Hati mereka tertutup dengan substansi ajaran agama mereka. Walau hanya sebagai tamu, Yesus tetap mewartakan kebenaran hidup beragama demi keselamatan orang itu. The truth hurts—kebenaran menyakitkan, tetapi tetap harus diwartakan.

Yesus menekankan pentingnya kebersihan hati—bukan kebersihan tangan—dalam menghayati dan mengamalkan kehidupan beragama. Dia mengkritik sikap mereka yang mau menonjolkan kesalehan di bagian luar, tetapi hati mereka penuh dengan kebusukan, kesombongan, kerakusan, kegetiran, iri, dan sebagainya. Dia menganjurkan kita agar lebih memerhatikan sedekah. Sebab, sedekah adalah ungkapan hati yang penuh kasih dan perhatian bagi orang lain. Yesus mengajarkan agar hati kita dipenuhi dengan pikiran yang penuh kasih dan perhatian agar tidak diisi dengan kebencian, kemarahan, kecemburuan, dan kesombongan.

Doa: Tuhan, penuhilah hatiku dengan kasih-Mu dan tambahkan dahagaku akan kesucian agar aku selalu menikmati damai dan ketenangan bersama-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 07 Oktober 2011

Sabtu, 8 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 8 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII (H)
Simeon; St. Sergius dan Bakhus
Bacaan I : Yl. 3:12–21
Mazmur : 97:1-2,5–6,11–12; R: 12a
Bacaan Injil : Luk.11:27–28

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: ”Ber­bahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: ”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”


Renungan

Banyak orang terpesona menyaksikan Yesus melakukan mukjizat menyembuhkan orang dan mengusir setan. Banyak orang tertegun mendengar kebijaksanaan yang keluar dari mulut-Nya. Seorang perempuan tidak tahan untuk melontarkan kata-kata pujian. ”Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Yesus tentu tidak menyangkal akan kebahagiaan dan berkat yang menjadi milik Maria, bunda-Nya. Dan, memang Kidung Maria sendiri meneguhkan hal itu: ”segala keturunan akan menyebut aku bahagia” (Luk. 1:489).
Yesus menjawab dengan suatu pernyataan yang inklusif dengan memperluas makna berkat dan kebahagiaan yang meliputi semua orang yang menerima dan melakukan, yang mendengar dan memelihara Sabda. Allah menghendaki agar kita hidup sebagai saudara dalam satu keluarga dan Allah menjadi Bapanya. Di sini, Yesus mau mengubah relasi manusia yang didasarkan semata atas hubungan darah dengan suatu keluarga yang diikat dan disatukan dalam iman akan Allah. Oleh karena itu, menjadi berkat dan sumber kebahagiaan bagi sesama selalu bermuara pada kesatuan kita dalam Tuhan. Kita menjadi rahmatan lil alamin kalau kita selalu hidup dalam rahmat Allah.

Doa
Ya Tuhan, tambahkan dahagaku akan Sabda-Mu dan kuatkanlah aku untuk melakukannya agar aku menjadi sumber berkat dan sukacita bagi sesamaku. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Kamis, 06 Oktober 2011

Jumat, 7 Oktober 2011~Pw SP Maria, Ratu Rosario (Ziarah batin 2011)

Jumat, 7 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII
Pw SP Maria, Ratu Rosario (P)
Bacaan I : Yl. 1:13–15; 2:1–2
Mazmur : 9:2–3,6,16,8–9; R: 9a
Bacaan Injil : Luk. 11:15–26


Tetapi ada di antara mereka yang ber­­­kata: ”Ia mengusir setan dengan ku­asa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: ”Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kem­bali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu ber­sih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.”


Renungan

Keberhasilan Yesus mengusir setan dan membuat orang bisu bisa berbicara kembali telah memancing reaksi banyak orang. Mereka menggunakan logika dinamika relasi manusia yang sangat pragmatis: yang menjinakkan penjahat adalah para penjahat sendiri karena mereka adalah sahabat. Kita tahu bahwa persahabatan yang dibangun atas dasar pragmatisme sesaat tidaklah bertahan. Pasti suatu saat mereka akan terpecah belah juga dan hancur. Mereka menuduh
Yesus mengusir setan dengan Beelzebul, si raja setan. Yesus menjawab tuduhan mereka dengan menyingkapkan kebenaran bahwa kerajaan yang terpecah belah tidak akan bertahan. Persahabatan yang semu tidak akan bertahan.

Yesus menegaskan bahwa hanya dengan kuasa Allahlah Dia mampu mengalahkan dan menghancurkan kuasa setan. Namun, setan yang dikalahkan dengan kuasa Ilahi masih mengembara mencari hati yang tandus dan kering. Bisa saja dia kembali ke ”rumah yang kosong”, hati yang kosong dari orang yang disembuhkan dan merusak jiwa orang tersebut dari dalam dengan lebih dahsyat. Oleh karena itu, jangan kita biarkan hati kita kosong dan tandus. Kita hendaknya senantiasa mengisi hati kita dengan kehadiran kuasa Allah.

Doa
Yesus, Penyembuh Yang Agung, datang dan tinggallah dalam hatiku agar aku senantiasa mampu mengusir kuasa setan yang setiap saat mau menggerogoti hidupku. Amin.


sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 04 Oktober 2011

Rabu, 5 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 5 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII (H)
B. Eugenius Bossilkoff; B. Albertus Marvelli; Sta. Anna Maria Gallo; B. Raymundus dr Kapua
Bacaan I : Yun. 4:1–11
Mazmur : 86:3–4,5–6,9–10; R: 15b
Bacaan Injil : Luk. 11:1–4


Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti ber­doa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: ”Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Apabila kamu berdoa, kata­kanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datang­lah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan am­punilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”


Renungan

Seorang ayah begitu bangga meminta anaknya untuk memimpin doa sebelum makan dalam kehadiran seorang pastor di keluarga mereka. Si anak mengucapkan doa Bapa Kami. Sang ayah dengan nada kesal berkomentar, ”Kenapa tidak doa spontan, Nak!”

Doa Bapa Kami, karena begitu sering dan secara rutin dihafal serta diucapkan, seolah-olah tidak bermakna lagi. Padahal, itu adalah doa warisan indah yang Kristus tinggalkan bagi kita. Kita terkadang lebih tersentuh dengan doa spontan yang indah-indah, yang panjang dan penuh dengan kata-kata seolah-olah membuat Allah terkesan.

Para guru, rabi di zaman Yesus, selalu mengajarkan doa pendek kepada para pengikutnya. Yesus pun mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya. Doa yang pendek itu bukan bermaksud agar para murid gampang menghafal dan melafalkannya. Doa ini sungguh merangkul segala sesuatu tentang Tuhan, kita, dan relasi kita dengan Tuhan. Di atas segalanya, doa itu merupakan ungkapan suatu relasi yang intim dan kesatuan yang mendalam antara Yesus dan Allah yang Dia sapa sebagai Abba atau Bapa. Kita pun di ajak-Nya untuk menyapa Allah sebagai Bapa, yang penuh perhatian, berbelas kasihan, dan peduli akan kita, anak-anak-Nya.

Doa
Ya Allah Bapa, sadarkan aku selalu bahwa Engkau adalah Bapaku yang peduli akan diriku, anak kesayangan-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 03 Oktober 2011

Selasa, 4 Oktober 2011~Pw St. Fransiskus Assisi(ziarah batin 2011)

Selasa, 4 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII
Pw St. Fransiskus Assisi (P); St. Fransiskus Charitas; St. Kuintinus
Bacaan I : Yun. 3:1–10
Mazmur : 130:1–2,3–4ab,7–8; R: 3
Bacaan Injil : Luk. 10:38–42

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ”Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: ”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”


Renungan

Marta tentu tidak bisa dipersalahkan. Dia mau membuat yang terbaik buat sahabat yang begitu dekat dengan mereka. Namun terkadang, seperti Marta, kita larut dalam menyibukkan diri dengan pekerjaan atau pelayanan sampai terkadang kita lupa akan siapa yang kita layani, untuk siapa kita menyibukkan diri. Bisa juga, karena terbiasa sibuk, kita cemas kalau tidak sibuk atau tidak menyibukkan diri. Hidup kita akhirnya selalu dihantui oleh kecemasan dan kekhawatiran akan banyak perkara. ”Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:27).

Maria telah memilih yang terbaik yang tidak dapat diambil darinya. Dia memilih untuk berada di kaki Sang Guru sambil mendengarkan wejangan dan pesan-pesan kehidupan. Kehadiran Tuhan dalam hidup kita perlu disambut juga oleh kehadiran hati kita di hadapan-Nya. Kita mungkin seperti Maria, memilih yang terbaik, tetapi pikiran kita bagaikan kera yang meloncat-loncat dari satu pohon kecemasan ke pohon kecemasan yang lain. Tuhan mengundang kita untuk menikmati kehadiran-Nya yang membawakan kita kesejukan dan damai.

Doa
Tuhan Yesus, bebaskanlah aku dari segala kecemasan dan kekhawatiranku yang tidak perlu agar aku menikmati kehadiran-Mu dalam hidupku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Minggu, 02 Oktober 2011

Senin, 3 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Senin, 3 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII (H) St. Fransiskus Borgia; St. Ewaldus Bersaudara
Bacaan I: Yun. 1:1–2:1,11
Mazmur : Yun. 2:2,3,4,5,8; R: 7c
Bacaan Injil : Luk. 10:25–37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ”Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: ”Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Kata Yesus kepadanya: ”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: ”Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: ”Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)


Renungan

Mengetahui perintah utama ”Cinta Kasih” itu tidak cukup. Kita perlu tahu siapa dan apa sasaran perbuatan amal kasih itu. Lewat perumpamaan, Yesus menegaskan bahwa orang yang layak dibantu adalah orang yang berada dalam kesulitan—entah dia berasal dari suku, budaya, bahasa, ataupun agama yang berbeda. Dia adalah sesama yang harus dibantu. Kesulitan dan derita yang mereka alami itu mungkin disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti bencana alam, perlakuan tidak adil oleh sesamanya, penyakit yang menimpa diri mereka, atau bisa juga karena perbuatannya sendiri.

Kita mungkin lebih mudah tergugah untuk membantu mereka yang dekat dengan kita, sesama suku, saudara kita seiman, atau mereka yang kita kenal sebagai orang baik dalam masyarakat. Namun, kita sering kali enggan membantu mereka yang ”bukan sesama kita” yang menderita atau mereka yang menurut penilaian masyarakat adalah orang-orang jahat. Bukankah Allah menerbitkan Matahari bagi orang benar dan orang jahat (bdk. Mat. 5:45)? Bukankah saat-saat orang dalam kesusahan merupakan kesempatan rahmat bagi kita untuk mendekatkan diri dan mengenal mereka secara lebih mendalam serta membantu meringankan beban hidup mereka?

Doa: Ya Tuhan, bukalah mata hatiku akan penderitaan sesamaku dan berilah aku keberanian untuk hadir dekat mereka walau itu menuntut waktu dan pengorbanan. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Jumat, 30 September 2011

Sabtu, 1 Oktober 2011~Pesta Sta. Teresia dr Kanak-Kanak Yesus (ziarah batin 2011)

Sabtu, 1 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVI 
Pesta Sta. Teresia dr Kanak-Kanak Yesus, PrwPujG. (P);
St. Remigius; St. Romanus dr Italia
Bacaan I: Yes. 66:10–14c atau 1Kor. 12:31–13:13
Mazmur : 131:1,2,3
Bacaan Injil : Mat. 18:1–5

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: ”Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”


Renungan

Kita tentu tidak terkejut mendengar bagaimana para rasul berdiskusi tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Siapakah yang tidak merindukan kemajuan, ketenaran, dan kebesaran? Para rasul jujur dengan pergulatan hati mereka. Yesus menempatkan anak kecil di tengah-tengah para rasul. Dalam masyarakat zaman dahulu, anak kecil sama sekali tidak mempunyai hak, tempat yang layak, dan keistimewaan dalam masyarakat. Mereka hanya memiliki kewajiban untuk mengikuti perintah orang tua. Yesus mau menyampaikan bahwa yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah orang-orang yang lemah lembut dan rendah hati, orang yang tidak sombong dan mencari pujian (bdk. Ams. 29:23).
Pada Pesta Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus—pelindung karya misi—kita diajak untuk merenungkan karya misi kita. Karya misi bukanlah soal kebesaran dan ketenaran, sukses dan kehebatan, melainkan soal kesetiaan dan kerendahan hati. Sebagaimana anak-anak kecil yang diajarkan untuk setia mematuhi perintah orang tua, kita pun diajak untuk setia. Oleh karena itu, inti dari ajaran tentang ”yang terbesar dalam Kerajaan Allah” adalah pertobatan (ay. 3), kesahajaan, dan kerendahan hati.

Doa: Yesus, ajarilah aku kesahajaan dan kerendahan hati dan biarlah cahaya serta terang-Mu bersinar dalam hidupku agar aku tidak disilaukan dengan kebesaran dan kemuliaan yang duniawi dan sementara. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 29 September 2011

Jumat, 30 September 2011 Pw St. Hieronimus, ImPujG(ziarah batin 2011)

Jumat, 30 September 2011 Pw St. Hieronimus, ImPujG (P)
Bacaan I: Bar. 1:15–22
Mazmur : 79:1–2,3–5,8–9; R: 9ac
Bacaan Injil : Luk. 10:13–16

”Celakalah engkau Khorazim! Celaka­lah engkau Betsaida! karena ji­ka di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu peng­hakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaik­kan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturun­kan sampai ke dunia orang mati!
Barangsiapa mendengarkan kamu, ia men­dengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”


Renungan

Hari ini, kita mendengar dari Injil bahwa Tuhan Yesus memanggil para murid-Nya untuk menjalankan tugas perutusan-Nya. Mereka harus mengerjakan apa yang pernah dikerjakan oleh Yesus. Mereka diutus untuk mewartakan kebaikan Tuhan yang menyelamatkan.


Betapa pentingnya peranan kehadiran para utusan dalam karya keselamatan. Mereka dijadikan tanda orang yang mengutusnya. Mereka menjadi tanda kehadiran Tuhan sendiri. Tanpa ragu Yesus menegaskan, siapa yang menolak utusan-Nya sama dengan menolak diri-Nya. Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang diutus-Nya. Untuk itu, hidup dan kehadiran para utusan harus menampakkan kehadiran Yesus sendiri.

Para utusan menjadi perantara antara Allah dan manusia. Antara Allah yang menyelamatkan dan umat yang diselamatkan. Dialog di antara keduanya sering diwakili oleh para utusan. Melihat pentingnya peranan mereka, kita harus menghargai dan mendengarkan mereka.

Kisah panggilan para murid ini mengajak kita untuk belajar menghargai orang-orang yang dipilih dan diutus Allah. Kita belajar mendengarkan Firman Allah melalui mereka.

Doa: Ya Tuhan, Engkau menyelamatkanku melalui para utusan-Mu. Ajarilah aku untuk terbuka terhadap kehadiran dan pewartaan mereka. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 27 September 2011

Rabu, 28 September 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 28 September 2011
Pekan Biasa XXVI (H)
St. Wenseslaus; Sta. Eustakia; St. Laurensius Ruiz, Yakobus Kyushei Tomonaga, dan Dominikus Ibanez (Mrt. dr Jepang)
Bacaan I: Neh. 2:1–8
Mazmur : 137:1–2,3,4–5; R: 6a
Bacaan Injil : Luk. 9:57–62

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya me­lanjutkan perjalanan mereka, ber­katalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: ”Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mem­punyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: ”Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: ”Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beri­ta­kanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
Dan seorang lain lagi berkata: ”Aku akan meng­ikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pa­mitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”


Renungan

Banyak orang yang mau mengikuti Yesus, tetapi tidak banyak yang sanggup menjalaninya. Ada banyak alasan yang membuat orang tidak sanggup menanggapi panggilan Yesus. Untuk mengikut-Nya, orang harus berani meninggalkan urusan yang penting, bahkan yang paling penting sekali pun. Tanpa ragu Dia berkata, ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Yesus dan tugas memberitakan Kerajaan Allah harus menjadi prioritas hidup orang yang akan mengikuti-Nya. Sementara itu, Yesus tidak pernah menjanjikan kelimpahan materi terhadap orang-orang yang mengikuti-Nya. Dengan tegas Dia berkata, ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Mengikuti Yesus sesuai Sabda dan teladan Yesus hari ini benar-benar tidak mudah. Tuntutannya tidak ringan, bahkan terasa berat sekali. Yesus memberikan tuntutan yang keras dan tegas kepada setiap orang yang mengikuti-Nya untuk menguji kesungguhan mereka. Sebab, jalan yang akan ditempuh murid Yesus adalah jalan Yesus sendiri. Penderitaan dan kematian merupakan jalan utama yang harus dilewati Yesus dan setiap orang yang mengikuti-Nya.

Doa

Ya Yesus yang baik, Engkau telah menunjukkan jalan kesempurnaan kepadaku. Berkatilah aku agar mampu menghayati jalan yang telah Kautunjukkan kepadaku. Amin.

sumber :Ziarah batin 2011

Senin, 26 September 2011

Selasa, 27 September 2011-Pw St. Vinsensius de Paul, Im (Ziarah batin 2011)

Selasa, 27 September 2011
Pekan Biasa XXVI
Pw St. Vinsensius de Paul, Im (P)
Bacaan I: Za. 8:20–23
Mazmur : 87:1–3,4–5,6–7; R: Za. 8:23
Bacaan Injil : Luk. 9:51–56

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarah­kan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: ”Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.


Renungan

Kekerasan tidak seharusnya dibalas dengan kekerasan. Untuk memadamkan api bukan dengan api, melainkan dengan air. Prinsip kehidupan seperti itulah yang hendak dipraktikkan Yakobus dan Yohanes terhadap orang-orang Samaria yang dianggap menghambat dan menghalangi perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Orang-orang Samaria menolak kehadiran Yesus yang mau melewati desa mereka. Yakobus dan Yohanes bermaksud membalas perbuatan orang-orang Samaria tersebut. Namun, Yesus tidak menyetujui tindakan mereka, bahkan Yesus menegur mereka. Yesus tidak pernah memperbolehkan para murid-Nya menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan. Dalam situasi yang sesulit apa pun, para murid harus tetap mengedepankan kasih dan kelembutan.

Penolakan merupakan salah satu pengalaman yang menyakitkan kehidupan kita. Pengalaman ditolak dapat membuat kita kecewa, marah, dan benci. Meski demikian, pengalaman pahit seperti itu tidak boleh melunturkan kebaikan hati kita. Penolakan hendaknya kita terima sebagai ujian atas iman kita. Mengikuti Yesus berarti mengikuti penderitaan dan kematian-Nya. Kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kekerasan.

Doa

Ya Tuhan Yesus, Engkau tidak mengizinkanku membalas kejahatan dengan kekerasan, melainkan dengan kasih. Untuk itu, aku mohon lembutkanlah hatiku. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2011

Minggu, 25 September 2011

Senin, 26 September 2011 (ziarah batin 2011)

Senin, 26 September 2011
Pekan Biasa XXVI (H)
St. Kosmas dan Damianus; St. Siprianus dan Sta. Yustina
B. Gaspar Strangassinger; St. Elzear & Delfina
Bacaan I: Za. 8:1–8
Mazmur : 102:16–18,19–21,29,22–23
Bacaan Injil : Luk. 9:46–50

Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: ”Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”
Yohanes berkata: ”Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya: ”Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”


Renungan

Untuk menanggapi ambisi para murid-Nya menjadi orang besar, Yesus menempatkan seorang anak di hadapan mereka. Dan tanpa ragu, Dia mengatakan bahwa kalau ingin menjadi yang terbesar, mereka harus terlebih dahulu menjadi yang terkecil. Sebelum ”membesar”, kita harus berani ”mengecil” dahulu. Itulah proses kehidupan yang harus ditempuh Yesus dan para murid-Nya. Jalan untuk meninggikan diri adalah dengan cara merendahkan diri.


”Mengecil untuk membesar”, inilah jalan kesempurnaan yang ditunjukkan Yesus kepada para murid-Nya dan kepada kita semua. Jalan ini telah dibuktikan oleh seorang santa yang berasal dari Prancis, yakni Santa Theresia dari Lisieux. Tanpa ragu, dia memperkenalkan jalan kecilnya untuk mencapai kesempurnaan. Kerendahan hati menjadi keutamaan hidupnya. Tuhan sungguh berkenan dengan orang yang rendah hati. Bagi mereka, Tuhan akan menyediakan tempat yang sangat mulia.

Karya Tuhan yang besar sering tersembunyi dalam hal-hal kecil. Tuhan yang besar menyembunyikan diri-Nya dalam hal-hal kecil. Oleh karena itu, kalau kita mau bertemu dengan Tuhan, mulailah menghargai dan melakukan hal-hal kecil.

Doa: Ya Tuhan, semua orang berharga di hadapan-Mu. Mereka sangat Kauperhatikan dan Kaupelihara, terutama mereka yang lemah dan tidak berdaya. Semoga hatiku bisa menjadi seperti hati-Mu. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Jumat, 23 September 2011

Sabtu, 24 September 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 24 September 2011
Pekan Biasa XXV (H)
St. Gerardus dr Hungaria; St. Pasifikus;
St. Vinsensius Maria Strambi

Bacaan I: Za. 2:1–5,10
Mazmur : Yer. 31:10–12ab,13; R: 10d
Bacaan Injil : Luk. 9:43b–45


Ketika semua orang itu masih heran ka­rena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Dengarlah dan camkanlah se­gala per­kataan-Ku ini: Anak Manusia akan di­serah­kan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersem­bunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.


Renungan

Dalam Injil hari ini, dikisahkan bahwa para murid tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka tidak mengerti ketika Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak percaya bahwa Yesus akan menderita dan mati di kayu salib. Namun, apa yang dikatakan Yesus pasti akan terjadi. Pikiran para murid bukanlah pikiran Yesus. Pilihan Yesus bukanlah pilihan para murid. Jalan Yesus, bukan jalan yang dipilih oleh para murid. Mereka sulit memahami kata-kata Yesus karena mereka bersikukuh dengan pikiran mereka sendiri.

Mengikuti Yesus berarti mengikuti derita dan kematian-Nya. Kalau kita mau mengikuti Yesus, kita juga harus mengikuti jalan-Nya. Kita harus berani menerima penderitaan sebagai sahabat baik. Kita tidak harus lari, tetapi menghadapinya dengan ikhlas. Penderitaan itu akan menyakitkan bila ditolak, tetapi kalau diterima akan menyelamatkan hidup kita. Penderitaan bukan jalan menuju kebinasaan, melainkan jalan kehidupan. Semoga hari ini, kita menjadi murid Yesus yang mengerti apa yang disabdakan-Nya.

Doa: Tuhan Yesus, para murid-Mu tidak mengerti dengan apa yang Kaukatakan hari ini. Jadikanlah aku murid-Mu yang mudah mengerti dan memahami firman-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 22 September 2011

Jumat, 23 September 2011~Pw St. Padre Pio dr Pietrelcina, Im(Ziarah Batin 2011)

Jumat, 23 September 2011
Pekan Biasa XXV
Pw St. Padre Pio dr Pietrelcina, Im (P);
St. Linus; Sta. Tekla

Bacaan I: Hag. 1:15b–2:9
Mazmur : 43:1,2,3,4; R: 5bc
Bacaan Injil : Luk. 9:19–22


Jawab mereka: ”Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka: ”Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: ”Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.
Dan Yesus berkata: ”Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”


Renungan

Yesus ingin mendapat kepastian dari para murid-Nya: apakah mereka sungguh mengenal diri-Nya? Maka, Dia bertanya kepada mereka secara pribadi siapakah diri-Nya. Jawaban yang diberikan Petrus sangat memuaskan Yesus. Mereka mengakui dengan penuh iman bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah. Meski demikian, jawaban tersebut masih harus mereka buktikan dalam hidup mereka. Yesus menuntut iman para murid-Nya secara pribadi. Iman yang berasal dari pengenalan secara pribadi dengan diri-Nya.

Hari ini, Tuhan Yesus juga meminta ketegasan iman dari kita. Yesus juga melontarkan pertanyaan yang sama. Jawaban kita akan sangat ditentukan oleh pengenalan kita terhadap Yesus dan ajaran-Nya selama ini. Mengenal berarti mengalami Yesus secara pribadi. Tidak hanya sekadar mengikuti omongan orang lain. Iman seperti itulah yang dikehendaki Yesus dari kita. Iman yang didasarkan pada suatu pengenalan tidak akan mudah luntur dan runtuh.
Mengenal Yesus secara pribadi merupakan jalan yang benar untuk sampai kepada Yesus. Agar dapat mengenal Yesus dengan sungguh, kita harus membuka diri kita lebar-lebar terhadap kehadiran dan bimbingan-Nya.

Doa: Ya Yesus, sudilah Engkau meneguhkan imanku. Anugerahilah aku iman seperti yang dimiliki Petrus, murid-Mu. Amin.

sumber : Ziarah batin 2011

Rabu, 21 September 2011

Kamis, 22 September 2011 (Ziarah Batin 2011)

Kamis, 22 September 2011
Pekan Biasa XXV (H)
St. Thomas dr Vilkanova; St. Mauritius, dkk;
St. Ignatius dr Santhi; Yusuf Calasanz Marques; Henrikus Saiz, dkk.

Bacaan I: Hag. 1:1–8
Mazmur : 149:1–2,3–4,5–6a,9b; R: 4a
Bacaan Injil : Luk. 9:7–9

Herodes, raja wilayah, mendengar se­gala yang terjadi itu dan ia pun me­rasa cemas, sebab ada orang yang menga­takan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: ”Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.


Renungan

Kecemasan dan kegelisahan senantiasa menghantui orang-orang yang sedang berkuasa. Bagi mereka, setiap orang patut dicurigai dan diwaspadai keberadaan-Nya.

Rupanya, itulah yang dialami oleh Herodes, raja wilayah. Dia gelisah dan cemas dengan kehadiran dan pengaruh Yesus dalam masyarakat. Segala yang dilakukan Yesus, tampaknya mengingatkan dia terhadap Yohanes Pembaptis yang telah dipenggal kepalanya. Dia khawatir bahwa pengaruh ajaran-Nya akan membahayakan kekuasaannya. Oleh karena itu, Herodes ingin mencari tahu tentang Yesus. Dia menganggap Yesus sebagai saingan beratnya.

Kekuasaan bukanlah jaminan keselamatan hidup kita. Karena jabatan, kita tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena kekuasaan, kita menjadi orang yang mudah curiga terhadap orang lain. Kehadiran orang lain, kita anggap sebagai saingan. Kita menjadi takut terhadap keberadaan dan karya orang lain. Namun, semua itu tidak akan terjadi bila kita mengemban jabatan atau kekuasaan kita untuk melayani, bukan untuk menguasai sesama kita.

Doa: Ya Tuhan, berilah aku hati yang suci. Jauhkanlah diriku dari sikap curiga terhadap sesamaku. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2011

Senin, 19 September 2011

Selasa, 20 September 2011 (Ziarah Batin 2011)

Selasa, 20 September 2011
Pekan Biasa XXV
Pw St. Andreas Kim Tae-gon, Im dan Paulus Chong Ha-sang, dkk, Mrt- Korea (M); Sta. Kolumba dan Pamposa; St. Eustakius
Bacaan I: Ezr. 6:7–8,12b,14–20
Mazmur : 122:1–2,3–4a, 4b–5; R: 1
Bacaan Injil : Luk. 8:19–21

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: ”Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka: ”Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”


Renungan

Hari ini, Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya bagaimana mereka harus membangun persaudaraan yang sejati. Persaudaraan yang dihayati para murid-Nya harus melampaui batas-batas manusiawi. Mereka hendaknya bersaudara tidak hanya dengan mereka yang sedarah, melainkan dengan semua orang yang sama-sama mau mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah. Yang menjadi dasar persaudaraan mereka adalah Yesus dan kehendak Allah. Siapa pun yang mau mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah itulah saudara mereka.

Hari ini kita juga diajak Yesus untuk membangun persaudaraan berdasarkan iman kita. Kita membangun persaudaraan yang lebih inklusif. Janganlah bersaudara hanya dengan mereka yang sehati dan sepikiran dengan kita, melainkan dengan siapa pun yang punya kemauan baik untuk melaksanakan kehendak Allah. Kita harus keluar dari kelompok kita. Orang Kristiani harus menjadi suatu persekutuan yang terbuka terhadap siapa pun. Hanya dengan demikianlah, hidup kita akan menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan.

Doa: Ya Yesus, Engkau menghendakiku untuk membangun persaudaraan melampaui batas-batas kemanusiaanku. Jadikanlah hidup kebersamaanku menjadi suatu kesaksian akan kehadiran-Mu yang nyata. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2011

Minggu, 18 September 2011

Senin, 19 September 2011 (ziarah batin 2011)

Senin, 19 September 2011
Pekan Biasa XXV (H)
St. Yanuarius; St. Theodorus; Sta. Emilia de Rodat;
St. Fransiskus Maria dr Camporosso; SP Maria la Salette
Bacaan I: Ezr. 1:1–6
Mazmur : 126:1–2ab,2cd–3,4–5,6
Bacaan Injil : Luk. 8:16–18

”Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tem­payan atau menempatkannya di ba­wah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”


Renungan

Kehadiran dan karya Yesus membawa terang bagi orang-orang pada zamannya. Sikapnya terhadap orang berdosa memberikan harapan baru. Tindakannya yang revolusioner menggelisahkan hati para penguasa. Kehadiran dan karya Yesus bagaikan lilin yang menerangi hidup manusia yang berada dalam kegelapan. Warta gembira yang dibawa Yesus menjadikan manusia menemukan keselamatan yang sesungguhnya.

Selanjutnya, Yesus berharap agar para murid-Nya dapat melanjutkan tugas yang sangat mulia ini. Melalui hidup mereka, makin banyak orang mengenal Dia. Melalui karya mereka, makin banyak orang diselamatkan. Warta gembira harus diwartakan, bukan disembunyikan. Hidup para murid harus mampu menjadi terang bagi orang-orang di sekitarnya. Singkatnya, lewat para murid-Nya, makin banyak orang memperoleh keselamatan.

Harapan Yesus terhadap para murid-Nya, juga menjadi harapan Yesus terhadap kita semua pada zaman sekarang ini. Dia berharap agar hidup kita juga mampu menjadi terang bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Hidup kita akan menjadi terang kehidupan bila hidup kita menampakkan cara, sikap, dan tindakan Yesus sendiri.

Doa: Ya Yesus, hidup dan karya-Mu menjadi terang bagi kehidupanku yang kadang terasa gelap. Jadikanlah hidupku menjadi terang bagi sesama yang ada di sekitarku. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Jumat, 16 September 2011

Sabtu, 17 September 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 17 September 2011
Pekan Biasa XXIV (H)
St. Robertus Bellarminus; Sta. Hildegardis; St. Albertus dr Yerusalem; St. Martinus dr Finojosa
Bacaan I : 1Tim. 6:13–16
Mazmur : 100:2,3,4,5; R: 2c
Bacaan Injil : Luk. 8:4–15


Ketika orang banyak berbondong-bon­dong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan. …
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: ”Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”


Renungan

Tumbuh atau tidaknya sebuah tanaman tidak hanya tergantung pada benih yang ditaburkan, melainkan juga ditentukan oleh kualitas tanahnya.

Proses pertumbuhan tanaman seperti itu dijadikan Yesus untuk menggambarkan situasi hati manusia ketika menerima Sabda Allah. Hati manusia adalah tanah atau lahan tempat benih ditaburkan, sedangkan Sabda Allah adalah benih yang ditaburkan dalam hati manusia. Sabda Allah yang ditaburkan pasti berkualitas baik. Namun, hati manusia yang menerimanya kadang kurang baik. Yesus melukiskan hati manusia seperti tanah yang ada dipinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, tanah di tengah semah duri, dan tanah yang baik. Keadaan tanah, tempat benih itu jatuh akan menentukan hasilnya. Demikian juga, kesuburan hati manusia akan menentukan tumbuhnya benih Sabda Allah yang telah ditaburkan. Tidak semua Sabda Allah yang ditaburkan dalam hati manusia dapat bertumbuh dan berbuah.
Hidup orang beriman sangat tergantung dari firman Allah. Maka, sangat penting bagi orang beriman untuk memelihara dan mengembangkan firman Allah yang telah ditaburkan dalam hatinya.

Doa
Ya Tuhan, Engkau telah menaburkan benih-benih kebaikan dalam diriku. Bantulah aku untuk dapat memelihara dan meneruskannya kepada sesamaku. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2011

Kamis, 15 September 2011

Jumat, 16 September 2011-Pw St. Kornelius, Paus & St. Siprianus, UskMrt (ZIarah Batin 2011)

Jumat, 16 September 2011
Pekan Biasa XXIV
Pw St. Kornelius, Paus & St. Siprianus, UskMrt (M);
Sta. Eufemia

Bacaan I: 1Tim. 6:2c–12
Mazmur : 49:6–7,8–9,17–18,20; R: Mat. 5:3
Bacaan Injil : Luk. 8:1–3

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perem­puan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.


Renungan

Di tengah dunia yang penuh prestasi dan persaingan, banyak orang mengalami kekosongan. Banyak orang menjadi putus asa karena mereka merasa tidak mempunyai peranan lagi dalam kehidupannya.

Ketika memberitakan Kerajaan Allah, Yesus tidak hanya melibatkan para murid-Nya, melainkan juga para perempuan yang melayani-Nya. Yesus juga melibatkan mereka yang dianggap lemah dan tidak berdaya. Dalam masyarakat Yahudi, kaum perempuan kurang mendapat tempat, bahkan tidak termasuk hitungan. Justru dalam situasi masyarakat yang demikian itu, Yesus memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk mengikuti diri-Nya. Dalam kerajaan-Nya, semua mempunyai peranannya masing-masing.

Menghargai dan menerima siapa pun, bahkan mereka yang dianggap lemah dan tidak berdaya harus menjadi ciri khas hidup orang beriman. Semua orang penting dan berguna dalam kehidupan.

Hidup kita sebagai umat beriman akan menjadi indah bila satu sama lain saling menghargai dan menerima. Kita diundang Rasul Paulus untuk menghindari sikap dan tindakan yang bertentangan dengan iman, kasih, dan kelembutan.

Doa: Ya Tuhan, yang lemah dan tidak berdaya selalu Kauperhatikan dan Kauperlihara. Buatlah aku juga menghargai dan menerima sesamaku apa adanya. Amin.


sumber :Ziarah batin 2011

Rabu, 14 September 2011

Kamis, 15 September 2011~Pw SP Maria Berdukacita

Kamis, 15 September 2011
Pekan Biasa XXIV
Pw SP Maria Berdukacita (P); Sta. Katarina Fieschi dr Genoa; St. Nikomedes
Bacaan I : 1Kor. 12:31–13; atau Ibr. 5:7–9
Mazmur : 33:2–3,4–5,12,22
Bacaan Injil : Luk. 2:33–35 atau Luk. 7:31–35


Renungan

Gereja Katolik mengakui Bunda Maria sebagai sebuah rahmat dari Tuhan bagi umat-Nya. Bahkan, di dalam Gereja Katolik, ada banyak devosi kepada Bunda Maria, seperti Doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria.
Dalam sebuah diskusi, ada seseorang yang bertanya, ”Apakah berdoa di depan patung Bunda Maria tidak bisa disamakan dengan menyembah berhala?” Jawabnya tentu ”tidak”. Umat Katolik tidak [boleh] menyembah patung Bunda Maria. Kita hanya berdoa memohon perlindungan dan perantaraan Bunda Maria. Adapun patung hanyalah sarana untuk mendekatkan kita dengan Bunda yang kita ajak berbicara—seperti ibu kita.

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Mengapa Bunda Maria berdukacita? Semasa hidupnya, sebagai bunda Yesus, Maria sering kali berduka. Gereja Katolik memberinya gelar Mater Dolorosa (Bunda Dukacita). Kita pun sering mendengar istilah Tujuh Kedukaan Maria. Nubuat Simeon dalam Injil hari ini adalah salah satu dari kedukaan Maria itu. Kedukaan yang lainnya adalah pengungsian ke Mesir; Yesus hilang di Bait Allah pada usia 12 tahun; Yesus ditangkap, diadili, dan disiksa dalam Jalan Salib; Yesus disalibkan dan wafat; Yesus diturunkan dari salib dan dibaringkan di pangkuannya; Yesus dimakamkan. Namun, Bunda Maria tidak pernah mengeluh dan menyalahkan siapa pun. Ia selalu menyimpan segala duka itu di dalam hati dan merenungkannya (bdk. Luk. 2:19)—hal yang patut kita teladani.
Sampai saat ini pun, Bunda Maria masih sering berduka. Apakah yang menyebabkannya? Ia berduka jika kita menghina Yesus dengan banyak melakukan dosa. Ia berduka jika kita melanggar hukum kasih Allah.

Doa
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau telah memberikan seorang Bunda sebagai rahmat bagiku. Ya Bunda Maria, doakanlah aku yang berdosa ini, sekarang dan waktu aku mati. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2011

Senin, 12 September 2011

Selasa, 13 September 2011 (Ziarah Batin 2011)-Pw St. Yohanes Krisostomus

Selasa, 13 September 2011
Pekan Biasa XXIV
Pw St. Yohanes Krisostomus, UskPujG (P)
Bacaan I: 1Tim. 3:1–13
Mazmur : 101:1–2ab,2ab,2cd–3ab; R: 2b
Bacaan Injil : Luk. 7:11–17


Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya ber­bon­dong-bondong. Setelah Ia dekat pintu ger­bang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ”Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: ”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bang­kitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus me­nyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: ”Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan ”Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.


Renungan

Banyak orang yang mudah kasihan, tetapi sedikit yang memiliki kasih bagi sesamanya. Banyak orang menolong sesamanya karena kasihan, bukan karena kasih. Dua kata yang sangat mirip, tetapi memiliki arti dan makna yang berbeda.

Ketika melihat kematian anak seorang janda, Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Kasihlah yang menggerakkan Yesus untuk menghidupkan kembali anak muda itu dari kematian. Perbuatan Yesus ini adalah perbuatan Allah sendiri. Allah menyelamatkan manusia bukan hanya karena kasihan, melainkan karena kasih. Melihat karya Yesus seperti itu, banyak orang kagum dan memuliakan Allah.


Dengan teladan hidup-Nya ini, Yesus mengajak para murid-Nya dan kita semua untuk melakukan perbuatan baik kita atas dasar kasih, bukan hanya sekadar kasihan. Perbuatan baik yang dilakukan dengan kasih akan mendatangkan kemuliaan Allah, sedangkan perbuatan baik yang dilakukan hanya karena kasihan hanya akan mendatangkan kemuliaan bagi kita sendiri.

Hidup persekutuan kita dalam jemaat akan terasa indah bila didasari dan disemangati dengan kasih, kasih seperti yang dimiliki oleh Yesus sendiri.

Doa: Ya Tuhan, melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Engkau sungguh mengasihiku dan tidak membiarkanku berjuang sendirian. Kehadiran-Mu senantiasa memberikan harapan. Amin.

sumber :ZIarah Batin 2011

Jumat, 09 September 2011

Sabtu, 10 September 2011 (Ziarah batin 2011)

Sabtu, 10 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
St. Theodardus; St. Nikolaus Tolentino;
B. Oglerius; Fransiskus Garate

Bacaan I: 1Tim. 1:15–17
Mazmur : 113:1–2,3–4,5a,6–7
Bacaan Injil : Luk. 6:43–49

”Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.
Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan —, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”


Renungan

Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Demikian juga hati yang baik akan membuahkan kata-kata yang baik, juga sikap dan perbuatan yang baik.

Hidup kita akan membuahkan kebaikan bila kita mampu menjaga hati kita. Dari hati akan timbul sesuatu yang sangat baik. Namun, dari hati pula dapat timbul hal-hal yang buruk. Bahkan, kualitas hidup kita akan sangat ditentukan oleh keadaan hati kita. Maka, kecerdikan kita untuk menjaga hati agar tetap baik menjadi kunci kehidupan kita. Bagaimana cara memelihara hati yang baik? Pertama, ingatlah bahwa Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik untuk hidup kita. Kedua, ingatlah juga bahwa kita hidup dari kebaikan sesama. Hidup kita bisa bertumbuh dan berkembang seperti sekarang ini karena kebaikan keluarga, guru, teman, sahabat, dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai orang beriman, marilah kita mengawali hidup harian kita masing-masing dengan menyediakan waktu sejenak merenungkan segala kebaikan Tuhan yang sudah kita terima dari Tuhan dan sesama. Kemudian, mintalah kepada-Nya agar diberikan pikiran yang jernih, kehendak yang lurus, dan hati yang baik. Hati kita akan membuahkan kebaikan bila kita senantiasa hidup berakar pada Tuhan.

Doa: Allah Bapa sumber kebaikan, Engkau telah memberi hati yang baik kepadaku. Bantulah aku menghasilkan buah-buah yang baik dalam hidupku. Amin.

sumber :Ziarah Batin 2011

Kamis, 08 September 2011

Jumat, 9 September 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 9 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
St. Petrus Klaver; B. Frederik Ozanam
Bacaan I: 1Tim. 1:1–2,12–14
Mazmur : 16:1,2a,5,7–8,11; R: lih. 5a
Bacaan Injil : Luk. 6:39–42

Yesus mengatakan pula suatu per­um­pa­maan kepada mereka: ”Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukan­kah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
Seorang murid tidak lebih daripada guru­nya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pe­lajaran­nya akan sama dengan gurunya.
Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”


Renungan

Mengapa hidup kita lambat untuk menjadi sempurna? Sebab, kita punya kebiasaan kurang bagus seperti ini: cepat melihat kekurangan orang lain, tetapi lambat untuk melihat dan mengakui kekurangan kita sendiri. Kita selalu merasa lebih baik dan lebih sempurna dari orang lain.

Kebiasaan dan sikap seperti inilah yang dikecam oleh Yesus dalam Injil hari ini. Melalui sebuah perumpamaan, Yesus mengecam gaya hidup orang Farisi yang suka menunjukkan kesalahan orang lain, sementara mereka sendiri tidak menyadari dan mengakui kekurangannya sendiri. Mereka begitu sibuk memperhatikan dan menilai hidup sesamanya, sedangkan hidup mereka sendiri terabaikan. Orang-orang Farisi adalah kumpulan orang-orang yang merasa punya hak untuk menilai kehidupan orang lain. Itulah gaya hidup orang-orang munafik yang dikecam oleh Yesus hari ini.

Hidup kita tidak akan menjadi sempurna karena menunjukkan kekurangan sesama kita—apalagi mengadili sesama kita. Hidup yang sempurna justru dimulai saat orang berani dan jujur menyadari, mengakui, dan kemudian memperbaiki kekurangannya sendiri.

Orang yang sungguh beriman tidak akan menggunakan banyak waktunya untuk menilai orang lain, melainkan untuk memperhatikan dan memperbaiki hidupnya.

Doa: Ya Yesus, Engkau tidak berkenan dengan orang yang munafik. Hindarkanlah hidupku dari kemunafikan. Amin.

sumber :Ziarah batin 2011

Rabu, 07 September 2011

Kamis, 8 September 2011 (ziarah batin 2011)-Pesta Kelahiran SP Maria

Kamis, 8 September 2011
Pekan Biasa XXIII
Pesta Kelahiran SP Maria (P)

Bacaan I: Mi. 5:1–4a atau Rm. 8:28–30
Mazmur : 13:6ab,6cd; R: Yes. 61:10
Bacaan Injil : Mat. 1:1–16,18–23

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mem­per­anak­kan Ishak, Ishak memper­anakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mem­per­anakkan Peres dan Zerah dari Tamar, ....
Sesudah pem­buangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel mem­per­­anak­kan Zerubabel, Zerubabel mem­per­anak­kan Abihud, Abihud mem­peranakkan Elyakim, Elyakim memper­anakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanak­kan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar mem­peranakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.


Renungan

Hari ini Gereja sedunia merayakan pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Perayaan hari ini mau mengungkapkan iman Gereja kepada karya Allah yang sungguh nyata dalam hidup Maria. Gereja sungguh menghormati dan mengasihi Maria sebagai perempuan yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam karya keselamatan Allah.

Dalam karya keselamatan-Nya, Allah memanggil dan memilih Maria sebagai ibu Yesus. Sebagai ibu, Maria mengandung, melahirkan, dan membesarkan Yesus. Banyak persoalan yang menantang dalam menjalankan tugas panggilannya ini. Banyak peristiwa aneh yang Dia jumpai dan sulit untuk dipahami. Meski demikian, Dia tetap mau belajar untuk percaya dan taat menjalaninya. Allah tidak pernah salah memilih orang. Dia memilih orang yang tepat untuk menjalankan tugas sesuci itu.

Pesta hari ini menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk merenungkan karya Allah dalam hidup Maria. Dan sampai sekarang pun, Allah masih membutuhkan orang-orang seperti Maria. Orang-orang yang mau terbuka terhadap panggilan-Nya dan terlibat dalam karya penyelamatan-Nya.

Doa: Ya Allah, Engkau memilih Maria menjadi tempat kediaman-Mu di dunia ini. Kudus­kanlah hidupku untuk menjadi tempat kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Selasa, 06 September 2011

Rabu, 7 September 2011 (Ziarah batin 2011)

Rabu, 7 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
Sta. Regina
Bacaan I: Kol. 3:1–11
Mazmur : 145:2–3,10–11,12-13ab; R: 9a
Bacaan Injil : Luk. 6:20–26

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: ”Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Ber­bahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan ber­gembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”


Renungan

Banyak orang yang mencari kebahagiaan, tetapi hanya sedikit yang menemukannya. Sebab, mereka mencari kebahagiaannya tidak pada Allah, melainkan pada hal-hal duniawi.


Pada hari ini, Tuhan Yesus menunjukkan letak dan jalannya. Bagi Yesus, hidup bahagia terletak hanya pada Allah. Kalau kita sungguh percaya dan menggantungkan seluruh hidup kita pada Allah, maka kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Sabda bahagia dan sabda celaka yang diucapkan Yesus pada hari ini dapat menjadi pedoman sekaligus peringatan bagi perjalanan hidup kita. Miskin bisa menjadi berkah bila dimanfaatkan untuk berkembang dalam hidup. Kaya bisa menjadi kutuk bila orang puas dan tidak lagi membutuhkan Allah dan sesamanya. Hidup miskin atau kaya patut disyukuri dan dinikmati. Sebab yang menentukan kebahagiaan hidup kita bukan keduanya, melainkan rasa syukur kita kepada Allah.

Tuhan Yesus sungguh mengasihi kita. Dia menunjukkan jalan bahagia untuk hidup kita. Kita dengarkan Sabda-Nya hari ini dan kita jadikan pedoman sebagai arah dan tujuan hidup kita.

Doa: Ya Tuhan, Engkau telah menciptakan manusia untuk menemukan kebahagiaan dalam Engkau. Peliharalah kerinduanku akan Engkau. Biarlah hatiku selalu berkobar-kobar untuk mencari-Mu. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Senin, 05 September 2011

Selasa, 6 September 2011 (Ziarah batin 2011)

Selasa, 6 September 2011
Pekan Biasa XXIII (H)
St. Thomas Tzugi
Bacaan I: Kol. 2:6–15
Mazmur : 145:1–2,8-9,10–11; R: 9a
Bacaan Injil : Luk. 6:12–19

Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.
Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.


Renungan

Sampai sekarang ini, Tuhan terus melanjutkan karya penyelamatan-Nya. Maka, Dia juga tidak pernah berhenti memanggil orang-orang pilihan-Nya.

Dikisahkan dalam Injil, Yesus memanggil para murid-Nya. Sebelum memilih dua belas murid-Nya untuk menjadi rasul-Nya, Yesus berdoa semalam-malaman kepada Allah. Dengan tindakan ini, Yesus mau menegaskan bahwa panggilan itu pertama-tama karya Allah. Dia memilih orang-orang pilihan-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya.

Meski demikian, tanggapan dari pihak manusia juga sangat diperlukan dalam panggilan. Keterbukaan dan kesediaan untuk menanggapi panggilan Allah juga penting dalam terwujudnya sebuah panggilan. Bisa jadi banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang mau membuka diri. Ada banyak alasan hal yang membuat orang tidak mau membuka diri terhadap panggilan Tuhan.

Tuhan ingin melanjutkan karya penyelamatan-Nya di dunia ini. Maka, Dia memanggil dan memilih orang-orang yang mau diutus-Nya. Kemampuan dan keterampilan bukanlah menjadi kunci kesuksesan dalam panggilan, melainkan keterbukaan dan kesiapsediaan orang untuk hidup berakar dalam Kristus.

Doa: Ya Tuhan, Engkau meneruskan karya penyelamatan-Mu di dunia ini. Engkau memilih orang yang bersedia Kauutus. Buatlah banyak orang mendengarkan panggilan-Mu. Amin.

sumber : Ziarah batin 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Sabtu, 27 Agustus 2011 (Ziarah batin 2011)

Sabtu, 27 Agustus 2011
Pekan Biasa XXI
Pw Sta. Monika (P); Sta. Emma; St. Cyrilus dr Alexandria
Bacaan I: 1Tes. 4:9–11
Mazmur : 98:1.7–8,9; R: lih. 9
Bacaan Injil : Luk. 7:1–17


Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kaper­naum. Di situ ada seorang perwira yang mem­punyai seorang hamba, yang sangat dihar­gainya. Hamba itu sedang sakit keras dan ham­pir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: ”Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: ”Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumah­ku; sebab itu aku juga menganggap diri­ku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hamba­ku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri se­orang bawahan, dan di bawahku ada pula pra­jurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”
Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil ber­paling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ”Aku berkata kepadamu, iman se­besar ini tidak pernah Aku jumpai, se­kali­pun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kem­bali. Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)



Renungan

Santa Monika adalah patron keteladanan seorang ibu dan seorang istri yang mencintai keluarganya secara total. Ia rela melakukan apa pun untuk orang-orang yang dikasihinya. Bukan sekadar mengasihi. Karena segala perjuangan hidupnya itu dibingkainya dalam iman. Ia percaya bahwa Allah peduli terhadap perjuangan umat-Nya.

Segala usahanya selalu disertai doa-doa yang tanpa henti. Memang, buah dari doa-doanya yang tanpa henti itu tidak dinikmatinya secara langsung. Patrisius, sang suami tercinta, baru bertobat dan kemudian dibaptis pada saat ajal siap menjemputnya. Begitu juga pertobatan putranya. Doa-doa yang tak kunjung putus dilantunkan oleh Santa Monika baru siap dipanen beberapa tahun setelah ia wafat. Pertobatan telah menuntun sang putra menjadi seorang imam, menjadi Uskup Hippo di Afrika Utara, dan menjadi pujangga Gereja yang terkenal kesuciannya. Dialah Santo Agustinus yang hari peringatannya selalu dirayakan oleh Gereja sehari setelah Santa Monika.

Gereja masa kini tetap membutuhkan manusia seperti Santa Monika agar karya misi Kristus dapat berkelanjutan. Manusia yang tegar dalam derita. Manusia yang setia dalam iman. Manusia yang berserah kepada rencana Tuhan, tanpa henti berdoa, manakala segala usaha dirasakannya tidak membuahkan hasil. Manusia yang selalu membangun hidupnya dalam kasih Allah.


Doa: Allah Mahaagung, tak ada hidup yang lebih indah selain hidup di dalam kasih-Mu. Tuntunlah aku mengikuti kesetiaan St. Monika dalam membangun hidupku ini. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 25 Agustus 2011

Jumat, 26 Agustus 2011 (Ziarah batin 2011)

Jumat, 26 Agustus 2011
Pekan Biasa XXI (H)
Sta. Teresia Yornet; St. Zepherinus, Paus; Sta. Teresia dr Avila
Bacaan I: 1Tes. 4:1–8
Mazmur : 97:1–2b,5–6,10–12; R: 12a
Bacaan Injil : Mat. 25:1–13


”Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang meng­ambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang!
Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”



Renungan

Lima tahun setelah terbunuhnya John F. Kennedy, Eunice Kennedy, adik mendiang Presiden Amerika, merintis olimpiade khusus bagi anak-anak berketerbelakangan mental (tunagrahita) di tanah milik keluarganya di Maryland pada tahun 1968. Kegiatan yang kemudian dikenal sebagai ”Special Olympics Games” itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri para penyandang tunagrahita. Melalui pendampingan khusus para orangtua dan para pembinanya, penyandang tunagrahita dibangun semangat hidup mandirinya melalui berbagai kompetisi olahraga. Dengan segala keterbatasan yang disandangnya, mereka diajak bangkit menemukan bakatnya, lalu ditantang mengembangkan dirinya seoptimal mungkin agar bisa lebih mandiri. Di Indonesia ada SOINA, Special Olympics Indonesia, yang menargetkan menghasilkan 100.000 atlet tunagrahita pada tahun 2015. Data WHO memperkirakan 3% penduduk Indonesia adalah tunagrahita.

Meraih prestasi membutuhkan usaha keras dan sungguh-sungguh. Tak heran kalau Paulus selain memuji apa yang telah dikerjakan oleh umatnya di Tesalonika, juga meminta mereka untuk lebih bersungguh-sungguh lagi. Pendek kata, mereka harus lebih dan lebih lagi dalam mengupayakan hidup sempurna di hadapan Allah. Persis seperti sepuluh gadis dalam Injil yang semuanya telah siap menanti datangnya pengantin. Namun, hanya lima orang yang mendapat kesempatan masuk ruang perjamuan nikah. Hanya yang terbaiklah yang berkenan di hadapan Allah.

Doa: Tuhan Yesus, Engkau mengajak aku untuk hidup sempurna seperti Bapa sempurna adanya. Bantu aku untuk bangkit meraihnya kembali setiap kali aku jatuh dalam dosaku. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Rabu, 24 Agustus 2011

Kamis, 25 Agustus 2011 (Ziarah batin 2011)

Kamis, 25 Agustus 2011
Pekan Biasa XXI (H)
St. Ludowikus; St. Yosef dr Calasanz;
B. Maria dr Yesus Tersalib

Bacaan I: 1Tes. 3:7–13
Mazmur : 90:3–4,12–13,14,17
Bacaan Injil : Mat. 24:42–51


"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.
Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."



Renungan

Sabtu siang Frater Niko bersiul-siul gembira di ruang makan seminari. Pulang kuliah tadi ia bersenandung sepanjang jalan sambil mengayuh sepedanya. Setelah makan siang ia akan ke Pasir Nangka, sebuah stasi-desa di selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang tiap minggu ketiga rutin dilayaninya selama dua tahun terakhir ini. Sabtu malam ia memimpin ibadat sabda dan diskusi katekese di sana. Bermalam di rumah umat yang sederhana, namun dengan ’pelayanan prima’ seperti tamu agung. Perjalanan panjang 6–7 jam tak dirasa letih saat berkumpul kembali bersama umat setempat. Ada banyak bahan diskusi katekese yang muncul dalam setiap pertemuan. Umat selalu merindukan kehadiran frater muda yang akan memberikan setetes ’air penyejuk iman’ ini. Mereka ingin hidupnya semakin selaras dengan kehendak Allah.
Kerinduan perjumpaan umat-gembala juga terjadi antara Paulus dan Jemaat Tesalonika. ”Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh supaya kita dapat bertemu muka...agar kalian tak bercacat dan kudus di hadapan Allah...”, itu yang diungkapkan dalam bacaan hari ini.

Memang, benih iman yang telah ditaburkan dalam diri kita harus terus-menerus dipelihara agar tumbuh subur. Bersama para pelayan rohani kita merawatnya sedemikian rupa agar hidup semakin sempurna dari hari ke hari, sampai hari kedatangan Tuhan.

Doa: Tuhan Yesus, dampingi aku untuk memperbaiki hidupku setiap saat sambil menantikan kedatangan-Mu kembali kelak. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011