Kamis, 01 Desember 2011

Jumat, 2 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 2 Desember 2011
Pekan ADVEN I (U)
Sta. Bibiana; B. Maria Angela Astorch;
St. Edmund Campion; St. Robertus Southwell

Bacaan I: Yes. 29:17–24
Mazmur : 27:1,4,13–14; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 9:27–31

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: ”Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”
Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: ”Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, ”Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: ”Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: ”Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.


Renungan

Listrik mati. Semua gelap. Yang dibutuhkan adalah terang. Maka, ada sukacita besar yang spontan terungkap dalam sorakan ketika listrik akhirnya hidup kembali. Peralihan sederhana dari gelap ke terang itu adalah sebuah perubahan besar. Bagi kitalah janji perubahan besar itu disampaikan. Padang gurun akan menjadi kebun subur. Orang yang tuli dan buta dipulihkan, yang sombong dilenyapkan, dan yang sesat mendapat pengertian. Tuhan sungguh ingin membuat perubahan besar itu dalam diri kita.

Persoalan sering muncul dalam diri kita. Seolah kita perlu mengingatkan Tuhan agar tahu diri supaya Ia tidak membuat perubahan yang terlalu besar bagi kita. Justru kita yang merasa perlu membatasi gerak-Nya. Padahal, kepada dua orang buta yang sungguh merindukan cahaya itu Yesus tetap perlu memastikan kepercayaan mereka. Kesembuhan terjadi mengikuti pengakuan iman mereka. Entah kapan akhirnya kita bersedia memberi kebebasan kepada Tuhan untuk melakukan perubahan besar dalam diri kita.

Doa: Yesus, Engkaulah terang dan keselamatanku. Bersama-Mu tak ada yang kutakuti. Kerjakanlah perubahan besar yang Engkau kehendaki dalam hidupku. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Rabu, 30 November 2011

Kamis, 1 Desember 2011~Pw B. Dionisius dan Redemptus, Mrt. Indonesia(ziarah batin 2011)

Kamis, 1 Desember 2011
Pekan ADVEN I
Pw B. Dionisius dan Redemptus, Mrt. Indonesia (M)
St. Eligius; St. Adrianus dan Sta. Natalia

Bacaan I: Yes. 26:1–6
Mazmur : 118:1,8–9,19–21,25–27a; R: 26a
Bacaan Injil : Mat. 7:21,24–27

”Bukan setiap orang yang berseru ke­pada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan ma­suk ke dalam Kerajaan Sorga, me­lainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan da­tanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang men­dirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”


Renungan

Tak bisa kita bebas dari keharusan untuk menunggu. Entah lama, entah sebentar, setelah masa menunggu berakhir, kita pun merasa mengalami sebuah pembebasan. Dia yang kita nantikan itu memang akan hadir dalam diri seorang bayi mungil tak berdaya. Meskipun demikian, selama menunggu, kita diajak untuk menumbuhkan keyakinan bahwa melalui bayi mungil itulah Tuhan membangun benteng kuat bagi kita. Di dalam kelembutan itulah tersembunyi sebuah kekuatan bagi pembebasan kita.

Betapa seringnya kita mengisi hidup kita dengan hanya membuat janji-janji baik kepada Tuhan. Kita hanya bisa berseru ”Tuhan! Tuhan!”, tetapi kita tidak sungguh melakukan kehendak-Nya. Kita tidak mau bertahan dalam proses yang tampaknya tidak segera mendatangkan hasil. Untuk membangun sebuah bangunan kokoh, kita perlu menggali lapisan batu yang keras. Karena itu terlalu merepotkan, kita memilih untuk tidak menggali saja. Maka, sedikit kesulitan saja sudah bisa merobohkan kita.

Doa: Yesus, Engkau datang dalam kuasa nama Allah bagiku. Aku terima kekuatan pembebasan yang Engkau tawarkan. Pada-Mu saja aku mau selalu berlindung. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 29 November 2011

Rabu, 30 November 2011~Pesta St. Andreas, Rasul (ziarah batin 2011)

Rabu, 30 November 2011
Pekan Adven I
Pesta St. Andreas, Rasul (M)
Bacaan I : Rm. 10:9–18
Mazmur : 19:2–3,4–5; R: 5a
Bacaan Injil : Mat. 4:18–22


Dan ketika Yesus sedang berjalan me­nyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada me­reka: ”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.


Renungan

Ada dua bersaudara, yang kedua-keduanya menjadi imam. Kakaknya seorang imam tarekat dan adiknya seorang imam diosesan. Dalam sharing ketika misa perdana, sang adik menceritakan bagaimana ia menjadi imam karena ajakan kakaknya. Meski kemudian memilih jalur imamat yang berbeda dengan kakaknya, tetapi perjalanan awal panggilannya diakuinya sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya.

Dalam Injil hari ini kita pun melihat bagaimana dua bersaudara menjadi murid Yesus. Simon Petrus dan Andreas adalah kakak beradik. Demikian juga Yakobus dan Yohanes. Keputusan mereka menanggapi ajakan Yesus pastilah keputusan pribadi, tetapi tidak diragukan juga bahwa keputusan itu juga dipengaruhi oleh saudaranya. Lewat pengalaman ini, kita bisa yakin bahwa orang lain pun mempunyai peran dalam pertumbuhan iman kita. Maka, sudah sepantasnya kalau kita memberikan tempat bagi kehadiran orang lain yang mau membantu menumbuhkan iman kita.

Doa
Tuhan, semoga kehadiran orang lain aku syukuri sebagai berkat dari-Mu yang membantuku bertumbuh dalam iman. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 28 November 2011

Selasa, 29 November 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 29 November 2011
Pekan Adven I (U)
B. Fredericus dr Regensburg
Bacaan I: Yes. 11:1–10
Mazmur : 72:2,7–8,12–13,17; R: 7
Bacaan Injil : Luk. 10:21–24

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: ”Aku ber­syukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sem­bu­nyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: ”Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”


Renungan

Rahasia Kerajaan Allah menurut Yesus tidak dibuka kepada orang bijak dan pandai, tetapi kepada orang kecil. Yesus mensyukurinya karena itulah yang berkenan kepada Bapa. Mengapa Yesus bersikap demikian? Orang bijak dan pandai, seumpama gelas, adalah gelas yang sudah penuh. Karena sudah penuh, gelas itu akan sia-sia kalau diisi lagi. Tidak demikian dengan orang kecil. Seumpama gelas, orang kecil adalah gelas kosong, yang siap diisi kapan pun.

Orang kecil menjadi gambaran kesederhanaan, keterbukaan, dan kepasrahan total terhadap apa pun, termasuk terhadap segala rencana dan kehendak Allah. Sikap inilah yang memungkinkan Allah mudah bekerja sama dengan orang kecil dan sederhana. Semoga kita memiliki semangat dan sikap hidup orang kecil dan sederhana sehingga kita pun diperhitungkan Allah saat Dia membuka rahasia Kerajaan-Nya.

Doa: Tuhan, jadikan aku orang yang rendah hati dan sederhana. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 25 November 2011

Sabtu, 26 November 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 26 November 2011
Pekan Biasa XXXIV (H)
St. Yohanes Berchmans; St. Silvester Gozzolini;
St. Leonardus a Porto Mauritio; St. Sarbel Maklouf

Bacaan I: Dan. 7:15–27
Mazmur : Dan. 3:82,83,84,85,86,87
Bacaan Injil : Luk. 21:34–36

”Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”


Renungan

Ada nasihat demikian dari orang-orang bijak, ”Berdoalah terus seolah-olah hidupmu tinggal satu hari, bekerja keraslah seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi.” Ora et labora, kata orang Latin. Berdoa dan bekerja adalah cara yang pantas dilakukan untuk menantikan kedatangan Tuhan, bukan dengan pesta pora dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Sebab, siapa yang tahu kapan akan mati?

Yesus mengajak kita, ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia”. Semoga ajakan Yesus hari ini semakin mendorong kita untuk rajin berdoa dan bekerja.

Doa: Tuhan, sadarkanlah aku agar aku tidak menyia-nyiakan hidup yang Engkau anugerahkan kepadaku dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 24 November 2011

Jumat, 25 November 2011(ziarah batin 2011)

Jumat, 25 November 2011
Pekan Biasa XXXIV (H)
Sta. Katarina dr Aleksandria; B. Elisabet dr Reute
Bacaan I: Dan. 7:2–14
Mazmur : Dan. 3:75,76,77,78,79,80,81
Bacaan Injil : Luk. 21:29–33


Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: ”Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”


Renungan

Di masa lalu para petani sangat menggantungkan hidupnya pada tanda-tanda alam dalam mengolah sawahnya. Alam memberi petunjuk, kapan petani harus mulai menggarap sawah, kapan harus mulai menebar benih, kapan harus menanam, dan kapan harus memanen. Kepekaan petani terhadap bahasa alam sekitarnya itu lahir dari pengalaman para leluhurnya turun-temurun.
Sebagaimana petani di masa lalu bisa membaca tanda-tanda alam, demikian juga kita hendaknya. Kita perlu mempunyai kemampuan membaca tanda-tanda zaman kalau ingin menanamkan benih Kerajaan Allah di zaman ini. Ketidakmampuan membaca tanda-tanda zaman bisa berakibat benih Kerajaan Allah tidak bisa tumbuh dengan baik. Atau, kalaupun bisa tumbuh, tetapi tidaklah maksimal.

Doa: Tuhan, anugerahilah aku kemampuan membaca tanda-tanda zaman yang Engkau hadirkan di sekitarku setiap hari. Semoga lewat kepekaan itu, aku mampu menanamkan benih Kerajaan-Mu di tengah-tengah masyarakatku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 23 November 2011

Kamis, 24 November 2011~Pw St. Andreas Dung Lac, Im dkk. Mrt Vietnam (ziarah batin 2011)

Kamis, 24 November 2011
Pekan Biasa XXXIV (H)
Pw St. Andreas Dung Lac, Im dkk. Mrt Vietnam (M); St. Krisogonus; St. Vinsensius Liem; St. Ignasius Delgado; St. Dominikus An-Kham
Bacaan I : Dan. 6:12–28
Mazmur : Dan. 3:68,69,70,71,72,73,74
Bacaan Injil : Luk. 21:20–28


”Apabila kamu melihat Yerusalem di­­­kepung oleh tentara-tentara, ketahui­lah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunung­an, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kese­sa­kan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.
Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”


Renungan

Yesus menggambarkan bagaimana akhir dunia akan terjadi. Dengan mengatakan itu, Yesus tidak bermaksud menakut-nakuti kita. Yesus justru mengajak kita untuk mensyukuri kedatangan-Nya karena itu berarti keselamatan Allah akan segera datang. ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah dekat.” Semoga kita lebih berani menghadapi zaman ini meskipun di dalamnya terjadi banyak penderitaan dan ketidakadilan. Keberanian ini perlu kita tumbuhkan dengan keyakinan bahwa Allah akan bekerja lewat dan bersama kita demi mewujudkan keselamatan-Nya.

Doa
Tuhan, jadikanlah aku sarana bagi datangnya keselamatan-Mu di tengah-tengah dunia. Amin.


sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 22 November 2011

Rabu, 23 November 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 23 November 2011
Pekan Biasa XXXIV (H)
St. Klemens I, Paus; St. Kolumbanus; B. Mikhael Agustinus Pro
Bacaan I : Dan. 5:1–6,13–14,16–17,23–28
Mazmur : Dan. 3:62,63,64,65,66,67
Bacaan Injil : Luk. 21:12–19


”Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-pe­­nguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesem­­patan bagimu untuk ber­saksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hati­mu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan mem­berikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”


Renungan

Penganiayaan dan penderitaan bisa menjadi kesempatan bagi orang beriman untuk bersaksi kalau orang bisa bertahan di dalamnya. Bertahan dalam penganiayaan dan penderitaan artinya orang tetap setia pada imannya dalam situasi apa pun. Orang macam ini justru bersyukur boleh menderita dan dianiaya oleh karena imannya.

Dalam sejarah Gereja, kita mengenal banyak orang melakukan ini. Mereka adalah para martir dan para kudus, yang bahkan mau mati demi imannya. Semoga kita pun mampu bersaksi di tengah-tengah masyarakat kita, bukan hanya dengan kata-kata saja, tetapi terlebih dalam kesetiaan dan kerelaan kita menanggung segala masalah dan penderitaan kita.

Doa
Tuhan, semoga aku mampu menjadi saksi-Mu dalam situasi apa pun. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 21 November 2011

Selasa, 22 November 2011~Pw Sta. Sesilia, Prw Mrt.(ziarah batin 2011)

Selasa, 22 November 2011 (HUT MGR AGUS)
Pekan Biasa XXXIV
Pw Sta. Sesilia, Prw Mrt. (M);
St. Filemon, rekan kerja St. Paulus

Bacaan I: Dan. 2:31–45
Mazmur : Dan. 3:57,58,59,60,61
Bacaan Injil : Luk. 21:5–11


Ketika beberapa orang berbicara ten­­tang Bait Allah dan mengagumi bangun­­an itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai ba­rang persembahan, berkatalah Yesus: ”Apa yang kamu lihat di situ—akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiar­kan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: ”Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya: ”Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”
Ia berkata kepada me­reka: ”Bangsa akan bangkit melawan bang­sa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan ter­jadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.”


Renungan

Banjir, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor adalah beberapa bencana alam yang dengan mudah menggerakkan kita untuk berbela rasa. Keprihatinan kita terhadap para korban membuat kita mengusahakan segala cara untuk membantu mereka. Kita mengumpulkan dana dan barang-barang yang dibutuhkan oleh para korban.
Yesus, dalam bacaan hari ini, juga berbicara soal banyak bencana, yaitu perang, pemberontakan, gempa bumi, penyakit sampar, dan kelaparan. Dengan berbicara soal itu, Yesus tidak hendak mengajak kita untuk mengumpulkan dana dan barang-barang saja bagi para korban. Yesus menyebut segala bencana itu untuk mengajak kita waspada dan bertobat.

Doa: Tuhan, semoga aku peka terhadap tanda-tanda yang Engkau berikan kepada-Ku. Semoga dengan kepekaan membaca tanda itu, aku tergerak untuk bertobat. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 17 November 2011

Jumat, 18 November 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 18 November 2011
Pekan Biasa XXXIII (H)
St. Romanus dr Antiokia; Sta. Rosa Filipin Duchene
Bacaan I: 1Mak. 4:36–37,52–59
Mazmur : 1Taw. 29:10,11abc,11d–12a,12bcd; R: 13b
Bacaan Injil : Luk. 19:45–48

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulai­lah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: ”Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, te­ta­pi mereka tidak tahu, bagaimana harus me­la­­kukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepa­da-Nya dan ingin mendengarkan Dia.


Renungan

Yesus berkata, ”Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Kapan kita menjadikan rumah Tuhan sebagai sarang penyamun? Yaitu saat kita masuk dan berada di dalam rumah Tuhan tidak dengan maksud untuk berdoa. Kita juga menjadikan rumah Tuhan sebagai sarang penyamun ketika hati, pikiran, dan tindakan kita saat di rumah Tuhan penuh dengan kebencian, dendam, ketamakan, dan keserakahan. Semoga teguran Yesus hari ini mendorong kita menghormati dan menggunakan rumah Tuhan sebagaimana seharusnya, yaitu tempat kita berdoa dan bertemu dengan Tuhan.

Doa: Tuhan, sadarkanlah aku agar senantiasa ingat kalau berada di dalam rumah-Mu sungguh-sungguh ingin bertemu dan berdoa kepada-Mu. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Rabu, 16 November 2011

Kamis. 17 November 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis. 17 November 2011
Pekan Biasa XXXIII
Pw Sta. Elizabeth dr Hungaria, Prw (P); St. Dionisius Agung; St. Gregorius Thaumaturgos; St. Gregorius dr Tours
Bacaan I : 1Mak. 2:15–29
Mazmur : 50:1–2,5–6,14–15; R: 23b
Bacaan Injil : Luk. 19:41–44


Dan ketika Yesus telah dekat dan me­li­hat kota itu, Ia menangisinya, ka­ta-Nya: ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang per­lu untuk damai sejahteramu! Tetapi seka­rang hal itu ter­sembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan menge­lilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala ju­rusan, dan mereka akan membinasa­kan eng­kau beserta dengan pendudukmu dan pada tem­bokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”


Renungan

Yesus menangisi Yerusalem karena orang-orang Yerusalem tidak peduli. Mereka tenang-tenang saja meski musuh sudah mengepung kota itu dan siap menghancurkannya. Yesus pun akan menangisi kita kalau kita tidak peduli dengan diri kita sendiri.

Sering kita menyerempet bahaya, senang membahayakan diri dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya, saat mengendarai kendaraan, kita ngebut. Atau, tahu bahwa sudah mempunyai suami/istri, tetapi masih mencoba-coba bermain api dengan laki-laki/perempuan lain. Semoga kita tidak menjadi orang yang menyebabkan Yesus menangis lagi.

Doa
Yesus yang baik, jagalah hati, pikiran, kata, dan tindakanku agar aku tidak membuat-Mu menangis lagi. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Selasa, 15 November 2011

Rabu, 16 November 2011(ziarah batin 2011)

Rabu, 16 November 2011
Pekan Biasa XXXIII (H)
Sta. Margarita dr Skotlandia; St. Rochus Gonzales;
St. Yohanes de Castillo; St. Alphonsus Rodrigues; Sta. Getrudis dr Hefta

Bacaan I: 2Mak. 7:1,20–31
Mazmur : 17:1,5–6,8b,15; R: 15b
Bacaan Injil : Luk. 19:11–28

Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata: ”Ada seorang bangsawan be­rang­kat ke sebuah negeri yang jauh untuk di­no­batkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang ham­banya dan memberikan sepuluh mina ke­pada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.
Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab...)


Renungan

Perumpamaan yang dikatakan Yesus hari ini menggambarkan dua tipe orang, yaitu pejuang dan pecundang. Seorang pejuang akan berjuang keras mengembangkan apa yang dipercayakan kepadanya semaksimal mungkin. Sementara seorang pecundang, tidak akan melakukan apa pun karena takut bertanggung jawab, takut gagal.

Memang mengemban suatu tanggung jawab itu penuh risiko dan berpotensi gagal, tetapi kalau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu yang berlipat ganda. Semoga kita menjadi pejuang-pejuang sejati, yang tidak takut mengambil risiko betapa pun berat tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

Doa: Tuhan, bantulah aku agar menjadi orang yang setia terhadap tanggung jawab yang dipercayakan kepadaku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 14 November 2011

Selasa, 15 November 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 15 November 2011
Pekan Biasa XXXIII (H)
St. Albertus Agung; B. Magdalena Morano; B. Marie de la Passion
Bacaan I : 2Mak. 6:18–31
Mazmur : 4:2–3,4–5,6–7
Bacaan Injil : Luk. 19:1–10


Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan te­rus melintasi kota itu. Di situ ada se­­orang bernama Zakheus, kepala pe­mu­ngut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia ber­usaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumah­mu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”


Renungan

Perjumpaan dengan Yesus secara langsung mendorong Zakheus bertobat. Pertobatan Zakheus diwujudkan dengan tindakan memberikan setengah kekayaannya kepada orang miskin. Zakheus juga berjanji untuk mengembalikan apa yang sudah diambilnya, empat kali lipat. Apa yang terjadi dalam diri Zakheus adalah bagaimana seharusnya sebuah pertobatan sejati. Pertobatan sejati itu konkret, nyata.

Pertobatan yang konkret bukan hanya berisi pengakuan akan dosa-dosa yang telah dilakukan saja, tetapi terlebih bagaimana orang mengubah hidupnya menjadi sama sekali baru. Kehendak untuk bertobat secara konkret membuat orang berani mengambil risiko meninggalkan segala dosanya dan memberikan silih bagi orang-orang yang terlukai karena dosanya. Silih itu bisa berupa ucapan tulus permintaan maaf, mengganti kerugian yang timbul akibat dosa itu, dan melakukan kebaikan-kebaikan lain yang berlawanan dengan dosa yang diperbuat. Semoga teladan Zakheus mendorong kita untuk menghayati pertobatan sejati.

Doa
Tuhan, semoga aku mempunyai keberanian untuk bertobat seperti Zakheus. Berkat rahmat-Mu, semoga aku mampu mewujudkan pertobatan itu dalam tindakan-tindakan konkret, bukan hanya dalam kata-kata saja. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Jumat, 11 November 2011

Sabtu, 12 November 2011~Pw St. Yosafat Kunzewich, Usk Mrt

Sabtu, 12 November 2011
Pekan Biasa XXXII
Pw St. Yosafat Kunzewich, Usk Mrt (M);
St. Nilus dr Sinai; St. Theodorus Studit

Bacaan I: Keb. 18:14–16; 19:6–9
Mazmur : 105:2–3,36–37,42–43; R: 5a
Bacaan Injil : Luk. 18:1–8

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bah­wa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidak­kah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”


Renungan

Seorang anak kecil yang meminta sesuatu kepada orangtuanya mempunyai senjata yang efektif, yaitu tangisannya. Kalau permintaannya tidak dipenuhi, ia akan menangis meraung-raung, sampai permintaannya diberikan. Hal yang sama bisa kita lakukan kalau kita berdoa kepada Tuhan. Kita perlu berdoa terus-menerus sampai permohonan kita dikabulkan Tuhan. Persoalannya, sering kali kita mengalami kesulitan kalau harus berdoa secara terus-menerus. Sampai kapan kita harus berdoa? Sampai doa-doa kita dikabulkan? Setelah doa-doa kita dikabulkan apakah kita masih perlu berdoa?

Berdoa terus-menerus mengandaikan bahwa entah mempunyai permohonan atau tidak, kita tetap berdoa. Jadi, kita berdoa bukan berdasarkan ada tidaknya permohonan, tetapi karena kita ingin selalu berhubungan dengan Tuhan. Berdoa dengan cara ini mensyaratkan kita sungguh beriman. Artinya, kita percaya bahwa hanya dengan cara itu kita menjalin hubungan erat dengan Tuhan. Kita mempunyai kerinduan yang mendalam untuk senantiasa bertemu Tuhan. Dan, Tuhan kita yakini senantiasa menunggu kedatangan kita.

Doa: Tuhan, berilah aku iman agar aku senantiasa rindu untuk bertemu dengan-Mu dalam doa-doaku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 10 November 2011

Jumat, 11 November 2011~Pw St. Martinus dr Tours, Usk (ziarah batin 2011)

Jumat, 11 November 2011
Pekan Biasa XXXII
Pw St. Martinus dr Tours, Usk (P)
St. Theodorus Konstantinopel; St. Mennas

Bacaan I : Keb. 13:1–9
Mazmur : 19:2–3,4–5; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 17:26–37

”Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan be­lerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, jangan­lah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawa­nya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
[Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”


Renungan

Sepanjang sejarah manusia, ada banyak ramalan, buku, dan film, yang menggambarkan akhir dunia, bahkan menyebutkan kapan kiamat akan terjadi. Berhadapan dengan kenyataan itu, beragam tanggapan muncul. Ada yang kebingungan, sebagian lagi tidak peduli, dan sebagian yang lain secara hati-hati menanggapi. Kita pun menjadi bagian dari zaman yang mungkin digelisahkan oleh hal-hal macam itu. Bagaimana kita bersikap?

Jelas bagi kita bahwa tidak ada seorang pun yang tahu kapan kiamat datang. Malaikat-malaikat pun tidak tahu. Yesus pun tidak tahu. Hanya Bapa yang tahu. Hari ini Yesus mengajak kita untuk mengambil sikap tertentu dalam menghadapi hari kedatangan-Nya. Yesus menganjurkan kita untuk tetap berada di tempat kita, melakukan apa yang baik yang kita kerjakan saat ini. Tidak perlu bingung, tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Biarlah semua berjalan sebagaimana seharusnya. Itulah semangat kepasrahan aktif menantikan kedatangan Tuhan.

Doa: Tuhan, meski mungkin kiamat segera datang, buatlah aku tetap tenang menjalankan tugas-tugas harianku dengan lebih baik. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 09 November 2011

Kamis, 10 November 2011~Pw St. Leo Agung, PausPujG (ziarah batin 2011)

Kamis, 10 November 2011
Pekan Biasa XXXII
Pw St. Leo Agung, PausPujG (P); St. Andreas Avelino
Bacaan I: Keb. 7:22–8:1
Mazmur : 119:89,90,130,135,175; R: 89a
Bacaan Injil : Luk. 17:20–25

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apa­­­­­bila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”Dan Ia ber­kata kepada murid-murid-Nya: ”Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari AnakManusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”


Renungan

Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu. Bagi kita, semoga penegasan Yesus ini se­nantiasa mendorong kita untuk menyadari kehadiran Kerajaan Allah itu dalam hidup sehari-hari. Memang tidak ada tanda-tanda lahiriah yang menyertai kedatangan Kerajaan Allah, tetapi kehadirannya selalu bisa dirasakan. Ketika kita merasakan damai, kasih, sukacita, pengampunan, dan pembebasan, pada saat itulah Kerajaan Allah hadir secara nyata dalam hidup kita.

Bagaimana kehadiran Kerajaan Allah itu bisa kita rasakan? Kehadiran Kerajaan Allah memberi suatu kelegaan yang luar biasa, seperti kepuasan seorang pahlawan yang berhasil membebaskan negaranya dari penjajahan. Meski untuk memperoleh kebebasan itu ia harus mengorbankan hidupnya sendiri, seorang pahlawan tidaklah memilih mundur. Ia maju terus sampai titik darah penghabisan demi kebebasan itu. Hari ini kita juga memperingati Hari Pahlawan. Semoga pada Hari Pahlawan ini, kita pun disemangati untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tempat kita berada tanpa takut dan kenal lelah.

Doa: Tuhan, buatlah aku kuat dalam menanggung penderitaan demi hadirnya Kerajaan-Mu di tengah-tengah kami. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 08 November 2011

Rabu, 9 November 2011~Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran (ziarah batin 2011)

Rabu, 9 November 2011
Pekan Biasa XXXII
Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran (P);
St. Teodorus Tiro
Bacaan I: Yeh. 47:1–2,8–9,12 atau 1Kor. 3:9c–11,16–17
Mazmur : 46:2–3,5–6,8–9; R: 5
Bacaan Injil : Yoh. 2:13–22

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kam­bing domba dan lembu mereka; uang pe­nukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu mem­buat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: ”Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: ”Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?”
Jawab Yesus kepada mereka: ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: ”Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.


Renungan

Bangunan gereja kita yakini sebagai rumah Tuhan. Sebagai tanda kehadiran-Nya, di setiap gedung gereja ada tabernakel, yang di dalamnya ditakhtakan Sakramen Mahakudus. Dengan itu, kita diajak untuk senantiasa menyadari kehadiran-Nya lewat penghormatan dan sembah bakti. Penghormatan itu terwujud dalam tindakan-tindakan simbolis. Kita mengambil air suci manakala kita memasuki gereja. Kita kemudian berlutut sebelum duduk di bangku yang disediakan. Selanjutnya, kita berdoa secara pribadi atau mengikuti ibadat bersama umat yang lain.

Apakah memang rumah Tuhan selalu kita perlakukan dengan selayaknya? Tidakkah terkadang rumah Tuhan kita jadikan warung kopi atau café, saat kita ngobrol di dalam gereja? Ataukah kita terkadang tidak bisa membedakan mau pergi ke rumah Tuhan atau pergi ke pasar, manakala pergi ke gereja dengan memakai kaos oblong dan celana tiga perempat?
Bahkan, kita keluar masuk gereja seenaknya saat perayaan Ekaristi! Atau, datang terlambat, pulang cepat-cepat! Pada pesta pemberkatan Gereja Basilika Lateran ini, kita diingatkan lagi untuk memperlakukan rumah Tuhan dengan lebih pantas.

Doa: Tuhan, biarlah rumah-Mu menjadi tempat kudus yang pantas bagiku untuk memuji dan menyembah-Mu. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Senin, 07 November 2011

Selasa, 8 November 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 8 November 2011
Pekan Biasa XXXII (H)
Sta. Teoktista; St. Klaudius dkk.
Bacaan I: Keb. 2:23–3:9
Mazmur : 34:2–3,16–17,18–19; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 17:7–10

”Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukan­kah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sedia­kanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum.
Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”


Renungan

Pujian selalu menyenangkan bagi yang menerima. Pujian membuat orang merasa dihargai. Seorang ibu akan senang kalau masakannya dipuji oleh suami dan anak-anaknya. Seorang guru akan bangga kalau murid-muridnya masih mengingatnya. Seorang tukang parkir akan bersyukur kalau orang mengucapkan terima kasih atas pelayanannya. Pujian memang menyenangkan dan bisa menjadi dorongan untuk semakin giat bekerja. Namun, pujian tidak bisa dijadikan landasan untuk bekerja.

Yesus mengajak kita menjadikan ”semangat hamba” sebagai pedoman dalam bekerja. Kita perlu bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat karena memang seharusnya demikian. Ketika hasilnya menjadi hebat dan luar biasa, kita tidak perlu berteriak-teriak bahwa itu hasil pekerjaan kita. Bersama Yesus, kita mengatakan, ”Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk lebih rendah hati dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 01 November 2011

Rabu, 2 November 2011 (Peringatan Arwah Semua Orang Beriman )

Rabu, 2 November 2011
Pekan Biasa XXXI
Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (U/T)

Bacaan I: 2Mak. 12:43–46
Mazmur : 130:1–2,3–4,5–6a,6–7,8
Bacaan II : 1Kor. 15:12–34
Bacaan Injil : Yoh. 6:37–40

”Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk mela­kukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberi­kan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”


Renungan

Peristiwa kematian seseorang bisa menjadi gambaran bagaimana kehidupannya sebelumnya. Gambaran itu ada pada banyak atau sedikitnya pelayat yang datang. Kalau selama hidup ia banyak berbuat baik, mempunyai pergaulan luas, dan terlibat dalam masyarakat, kemungkinan besar yang melayat sangat banyak. Namun, kalau selama hidup orang itu jarang berbuat baik, kurang pergaulan, dan tidak pernah terlibat di masyarakatnya, sering kali jumlah pelayat sangat sedikit.

Pada peringatan arwah semua orang beriman hari ini, kita diajak Yesus untuk berbuat baik, terlebih kepada orang-orang miskin dan menderita, bukan hanya supaya kalau kita meninggal ada banyak orang yang melayat, tetapi terlebih agar kita mendapat bagian dalam kehidupan kekal bersama-Nya.

Doa: Tuhan, bantulah aku agar mau melayani-Mu dengan cara peduli kepada setiap orang yang aku jumpai, terlebih mereka yang miskin dan telantar. Amin.


sumber :ziarah batin 2011

Senin, 31 Oktober 2011

Selasa, 1 November 2011 (HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS)

Selasa, 1 November 2011
HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P)

Bacaan I: Why. 7:2–4,9-14
Mazmur : 24:1-2,3–4ab,5–6; R: 6
Bacaan II : 1Yoh. 3:1–3
Bacaan Injil : Mat. 5:1–12a

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ”Berbahagia­lah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Keraja­an Sorga. Berbahagialah orang yang ber­dukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan me­mi­liki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika ka­rena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepa­da­mu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga.”


Renungan

Setiap orang ingin bahagia. Segala usaha ditempuh agar kebahagiaan itu didapatkan. Usaha yang ditempuh masing-masing orang berbeda-beda tergantung bagaimana dia mengartikan kebahagiaan itu. Ada yang menyangka kebahagiaan itu ada dalam harta benda sehingga seluruh hidupnya dipakai untuk mengumpulkan harta benda. Ada yang mengira kebahagiaan itu ada dalam jabatan tinggi, akibatnya orang mengejarnya mati-matian. Apakah ketika hal-hal itu diperoleh, orang otomatis bahagia? Ternyata tidak. Harta benda dan jabatan sering kali belum cukup memenuhi kerinduan manusia akan kebahagiaan.

Sabda bahagia Yesus hari ini mengingatkan kita akan jalan kebahagiaan yang bisa ditempuh kalau kita menginginkan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati dapat kita peroleh kalau kita hidup dalam keutamaan-keutamaan, senantiasa mengandalkan Tuhan, dan memperjuangkan kebenaran serta perdamaian. Siapa pun dijanjikan kebahagiaan jika melewati jalan itu. Lewat jalan ini orang bukan hanya akan memperoleh kebahagiaan, tetapi juga kekudusan. Pada diri semua orang kudus yang dirayakan pestanya hari ini, kita mendapatkan contoh konkret pribadi-pribadi yang berhasil melewati jalan itu. Mereka bukan hanya menjadi bahagia, tetapi juga kudus.

Doa: Ya Tuhan, berkat teladan para kudus, semoga aku tidak henti-hentinya memperjuangkan kebahagiaan dan kekudusan dalam hidup sehari-hari. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 27 Oktober 2011

Jumat, 29 Oktober 2010 (ziarah batin 2011)

Jumat, 29 Oktober 2010
  B. Michaelis Rua
Bacaan I : Flp 1:1-11
Mazmur : 111:1-2.3-4.5-6 Ref: 2a
Bacaan Injil : Luk 14:1-6


Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: ”Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka: ”Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya.


Renungan

Thomas adalah orang yang selalu berusaha menjadikan hidupnya berarti dan berguna untuk orang lain. Di tengah keluarga, ia menjadi sumber kegembiraan. Di tempat kerjanya, teman-temannya sangat dekat dan senang akan kehadiran Thomas. Di mana pun, Thomas menjadi orang yang selalu siap membantu, apalagi orang yang sedang kesusahan.

Maukah kita menjadi seperti Thomas? Maukah kita menjadikan hidup kita berarti dan berguna untuk sesama? Menjadi orang baik, memang tidak selalu mudah; Yesus sendiri mengalami.

Ketika Yesus menyelamatkan seseorang, ada saja yang tidak senang dan bahkan mengkritiknya. Semoga kita tahan uji sebagai murid-murid Yesus yang berusaha membawa kabar gembira. Semoga kita sungguh yakin bahwa kita membangun kebaikan. Semoga ketika ada orang-orang yang tidak senang dan berusaha menjatuhkan kita, kita tetap sabar dan kuat.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk ikut serta membawa kebaikan dan keselamatan dalam kehidupan. Berilah aku kesabaran dan kekuatan ketika harus menghadapi tantangan dan kesulitan. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 26 Oktober 2011

Kamis, 27 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 27 Oktober 2011
Pekan Biasa XXX (H)
St. Frumensius
Bacaan I: Rm. 8:31b–39
Mazmur : 109:21–22,26–27,30–31; R: 26b
Bacaan Injil : Luk. 13:31–35


Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: ”Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan me­nyem­buhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus me­neruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah se­mestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Ber­kali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diber­katilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”


Renungan

Yesus masih dalam perjalanan ke Yerusalem sebagai tujuan akhir perjalanan-Nya. Yerusalem adalah tempat para nabi dibunuh. Yesus yang mengerti diri-Nya juga sebagai nabi melihat nasib-Nya akan berakhir di Yerusalem. Ketika para rasul menghalangi dia untuk pergi ke Yerusalem karena mereka tahu bahwa dia pasti akan dibunuh di sana, Yesus dengan tegas menghardik mereka. Dia tidak takut sedikit pun akan apa yang menjadi risiko pilihan hidup-Nya. Dia tidak menunjukkan sikap kompromi kepada orang-orang yang menjadi lawan-Nya. Dia secara terbuka memanggil Herodes sebagai serigala.

Menjadi nabi dan menyerukan suara kenabian memang menanggung risiko berat. Kita menjadi musuh banyak orang. Oleh karena itu, begitu sering kita memperhalus inti pewartaan kita dengan lebih diplomatis dan malah berkompromi dengan orang-orang yang menentang kita dengan mengorbankan kebenaran. Begitu sering kita tidak mengatakan kebenaran hanya karena mau menyenangkan orang lain. Kita begitu takut untuk tidak disenangi orang. Paulus—dalam suratnya kepada umat di Tesalonika—mengingatkan kita supaya ”berbicara” bukan untuk menyenangkan hati manusia, tetapi menyenangkan hati Allah (bdk. 1Tes. 2:4).

Doa: Ya Tuhan, berilah aku kekuatan dan keberanian untuk mewartakan hanya kebenaran. Apa pun yang terjadi, kuserahkan segalanya dalam perlindungan-Mu. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Selasa, 25 Oktober 2011

Rabu, 26 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 26 Oktober 2011
Pekan Biasa XXX (H)
St. Lucianus dan Marcianus
Bacaan I: Rm. 8:26–30
Mazmur : 13:4–5,6; R: 6a
Bacaan Injil : Luk. 13:22–30

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.
Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamat­kan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk me­lalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir.”


Renungan

Siapakah yang akan masuk dalam Kerajaan Allah? Tujuan dan arah utama hidup kita adalah keselamatan, khususnya di akhirat kelak. Daud pun bermazmur, ”Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?… Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu” (Mzm. 24:3–4).

Yesus mengingatkan bahwa tidak semua umat pilihan Allah—anak-anak Abraham—secara otomatis akan diselamatkan. Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak. Keselamatan butuh perjuangan. Dan, perjuangan itu memang tidak mudah karena pintu masuknya sempit. Pintu yang dimaksudkan Yesus adalah diri-Nya sendiri (bdk. Yoh. 10:9).
Yesus tahu bahwa para pendengar-Nya tidak percaya kepada-Nya sebagai Mesias, Utusan Allah. Yesus—lebih lanjut—mengejutkan mereka dengan mengatakan bahwa keselamatan itu bukanlah eksklusif milik umat pilihan Allah, tetapi anugerah Allah bagi semua makhluk, semua orang dari segala bangsa.

Doa: Ya Allah, ajarilah aku akan jalan-Mu dan berilah aku kekuatan untuk berjuang sampai penghabisan sehingga aku boleh menikmati kemuliaan-Mu yang Kaujanjikan kepadaku. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Senin, 24 Oktober 2011

Selasa, 25 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 25 Oktober 2011
Pekan Biasa XXX (H)
St. Yohanes Ston; Sta. Margaretha;
St. Gaudensius; St. Krisantus dan Daria

Bacaan I: Rm. 8:18025
Mazmur : 126:1–2ab,2cd–3,4–5,6; R: 3a
Bacaan Injil : Luk. 13:18–21

Maka kata Yesus: ”Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia berkata lagi: ”Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”


Renungan

Apa hubungannya Kerajaan Allah dengan biji sesawi dan ragi roti? Sesuatu yang sangat kecil dan mungkin tidak terlalu diperhatikan. Biji sesawi memang sangat kecil dibandingkan dengan biji-biji lainnya. Namun, ketika biji itu ditanam, ia akan berkembang menjadi pohon yang sangat besar. Demikian pula halnya dengan ragi yang tidak mempunyai arti kalau tetap sebagai ragi. Namun, ragi akan sangat berarti jika bisa membuat roti berkembang dan besar. Sesuatu yang kecil dan tidak diperhatikan, tetapi dalam daya dan kekuatannya, ia mampu mentransformasikan suatu kehidupan menjadi sesuatu yang besar.

Begitulah halnya dengan Kerajaan Allah, selalu berawal dari sesuatu yang sangat kecil dalam hati setiap manusia yang mendengarkan Sabda-Nya. Secara misterius, ia berkembang dan bertumbuh tanpa kita sadari. Bukan sesuatu yang besar dan spektakuler serta dilakukan sekali saja yang mampu mengubah hidup seseorang, melainkan sesuatu yang kecil, tetapi dilakukan secara kontinu, konsisten, ikhlas, dan setia. Banyak dari kita yang ingin melibatkan diri dalam kegiatan gerejani atau masyarakat kalau itu merupakan sesuatu proyek yang besar. Sebaliknya, pekerjaan kecil selalu kita bebankan kepada orang lain. Di hadapan Tuhan, bukan ”apa yang kita lakukan” yang penting, melainkan bagaimana kita melakukan itu dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab, itulah yang terpenting di mata Tuhan.

Doa: Ya Tuhan Allahku, bukalah mata hatiku akan kehadiran dan karya-Mu yang agung dalam setiap usahaku yang kecil, tetapi dilakukan dengan penuh kesetiaan. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 21 Oktober 2011

Sabtu, 22 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 22 Oktober 2011
Pekan Biasa XXIX (H)
Sta. Salome; St. Contardo Ferrini; St. Nunila dan Alodia;
St. Filipos, Hermes, dan Severus

Bacaan I: Rm. 8:1–11
Mazmur : 24:1–2,3–4ab,5–6; R: 6
Bacaan Injil : Luk. 13:1–9


Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: ”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: ”Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang men­cari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”


Renungan

Begitu sering kita menghubungkan bencana sebagai hukuman Ilahi. Namun, penilaian dan penghakiman kita selalu menyudutkan mereka yang menjadi korban bencana. Ketika bencana tsunami menimpa Aceh, tidak sedikit dari kita yang menanggap bahwa orang Aceh jauh lebih besar dosanya daripada kita sehingga mereka pantas menerima hukuman Allah dalam tragedi bencana alam yang menimpa mereka. Peristiwa pembunuhan orang-orang Galilea oleh Pilatus di Bait Allah yang bermotifkan politik diangkat orang untuk meminta penilaian Yesus. Yesus mengingatkan mereka bahwa orang-orang Galilea itu tidak lebih besar dosanya daripada orang-orang Galilea yang lain. Yesus juga mengangkat peristiwa yang dialami oleh delapan belas orang yang tertimpa menara di Siloam.

Semua bencana hendaknya membuat kita bermenung diri dan mengambil hikmah, bukannya ajang pembenaran diri sebagai orang yang lebih baik daripada orang lain. Bukankah bencana tsunami Aceh, gempa bumi di Nias, Irian, dan di tempat lainnya merupakan momentum sejarah yang selayaknya membuat kita lebih rekat sebagai bangsa dalam sikap dan tindak solidaritas kita yang menembus dan melintas batas agama, suku, budaya, dan ras?

Doa: Allah Bapa di surga, jangan biarkan aku merasa diri lebih baik secara moral dan spiritual daripada orang lain. Berilah aku kerendahan hati untuk selalu memohon pengampunan dari-Mu. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Kamis, 20 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 20 Oktober 2011
Pekan Biasa XXIX (H)
Magdalena dr Nagasaki; B. Marie de la Passion;
Sta. Maria Bertilla Boscardin; Sta. Irene dr Portugal

Bacaan I: Rm. 6:19–23
Mazmur : 1:1–2,3,4,5,6; R: 40:5a
Bacaan Injil : Luk. 12:49–53

”Aku datang untuk melemparkan api ke bu­mi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus me­ne­rima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anak­nya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”


Renungan
Para murid Yesus mungkin shock dengan ajaran-Nya yang satu ini, ”Aku datang bukan untuk membawa damai tetapi pertentangan.” Ataukah para murid sudah pernah mendengar tentang hal ini: ”Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mi. 7:6). Bukan tidak mungkin anggota keluarga maupun teman dekatlah yang menjadi musuh kita dalam hidup.


Kita menjadi ”musuh” bukan karena kita orang yang tidak baik, tetapi bisa jadi karena pilihan loyalitas kita.
Yesus menyatakan bahwa dia datang membawa api. Api dalam tradisi Kitab Suci selalu diartikan sebagai kehadiran Tuhan (bdk. Kel. 3:2), sebagai lambang kemuliaan Tuhan (bdk. Yeh. 1:4.13) kekudusan Tuhan (bdk. Ul. 4:24), dan lambang Roh Kudus (bdk. Mat. 3:11). Pewartaan Kristus yang membawa kehadiran Allah di tengah umat manusia membuat manusia harus memilih dalam hal loyalitas. Apa mereka loyal, taat, dan setia kepada Allah atau tidak? Menempatkan segala sesuatu di atas pilihan untuk loyal kepada Tuhan adalah sebuah keberhalaan.

Doa: Tuhan Allahku, biarlah api cinta-Mu membakar semangatku untuk selalu setia kepada-Mu dan hanya loyal kepada-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 17 Oktober 2011

Selasa, 18 Oktober 2011(ziarah batin 2011)

Selasa, 18 Oktober 2011
Pekan Biasa XXIX
Pesta St. Lukas, Pengarang Injil (M)
Bacaan I: 2Tim. 4:10–17b
Mazmur : 145:10–11,12–13ab,17–18; R: 12
Bacaan Injil : Luk. 10:1–9

Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua men­dahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pe­kerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, se­sungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.


Renungan

Para murid Yesus dipanggil untuk diutus. Untuk apa kita diutus dan bagaimana kita diutus telah dengan jelas dikatakan dalam Injil. Dan yang menarik juga bahwa Yesus sendiri telah melihat situasi di mana kita diutus. Kita diutus bagai domba di tengah serigala. Domba selalu menunjukkan sikap kelembutan dan kepasrahan pada gembalanya. Domba itu diutus bukan ke padang belantara yang hijau dengan kesejukan air yang tenang, melainkan ke tengah dunia serigala yang mengusik keberadaannya. Bagaimana dia merasa aman di tengah serigala? Dia tidak akan menghamba kepada serigala, dia juga tidak akan menjadi seperti serigala, tetapi tetap menjadi domba yang setia dengan perutusannya.

Pada Pesta Santo Lukas Pengarang Injil, kita diajak untuk merenungkan perutusan kita. Lukas menulis Injilnya dan Kisah Para Rasul di masa-masa yang penuh dengan tantangan. Banyak murid yang menjadi martir demi pewartaan Injil. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mengambil jalan kekerasan untuk membela Injil. Kerajaan Allah diwartakan tanpa kekerasan dan paksaan, tetapi dengan penuh kesabaran dan kelemahlembutan. Bagaikan domba yang tidak punya pembela di tengah serigala yang siap sedia menerkam mangsanya, mereka hanya mengandalkan kekuatan dan perlindungan pada Sang Gembala Utama.

Doa: Ya Tuhan, berilah aku kelembutan hati dalam mewartakan Injil-Mu yang suci dan peliharalah aku dalam kasih-Mu. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Jumat, 14 Oktober 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 15 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII
Pw Sta. Teresia dr Yesus, PrwPujG. (P)
Bacaan I : Rm. 4:13.16–18
Mazmur : 105:6–7,8–9,42–43; R: 8a
Bacaan Injil : Luk. 12:8–12



”Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan ma­nusia, Anak Manusia juga akan meng­akui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barang­siapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.”


Renungan

”Barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Perkataan ini cukup keras dan banyak orang tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Tuhan. Menyangkal Yesus masih bisa diampuni, tetapi menghujat Roh Kudus adalah dosa yang tidak bisa diampuni.

Allah menciptakan segala sesuatu dan manusia menurut citra-Nya dengan diembusnya Roh Kudus, DAYA HIDUP. Yesus yang penuh dengan Roh Kudus melakukan karya agung Allah: yang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan. Yesus mengembusi para murid-Nya dengan Roh Kudus dan berkata, ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh. 20:22–23).

Demikianlah karya Roh dalam penciptaan, menopang ciptaan dan menebusnya dengan kelimpahan kasih Allah.
Kasih pengampunan Tuhan tidak berkesudahan, tanpa batas, dan tanpa syarat. Barang siapa percaya akan kerahiman dan belas kasih Allah serta bertobat, dia akan menikmati kelimpahan kasih dan pengampunan Allah. Barang siapa tidak percaya dan tidak bertobat, dia bukan saja menutup diri akan kerahiman Allah, tetapi juga menghujat Roh Allah yang memampukan orang untuk memiliki DAYA HIDUP baru. Pengampunan selalu ada bagi orang yang percaya dan bertobat.

Doa
Tuhan, sadarkan aku selalu akan kelimpahan kasih karunia-Mu dalam hidupku. Panggillah aku untuk selalu tinggal dalam kelimpahan kasih dan kerahiman-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 13 Oktober 2011

Jumat, 14 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 14 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Yohanes Ogilvie; St. Kalistus I, Paus; B. Gundisalvus dr Lagos; B. Gonzalo dr Lagos
Bacaan I : Rm. 4:1–8
Mazmur : 32:1–2,5,11; R: 7
Bacaan Injil : Luk. 12:1–7

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.”


Renungan

Kemunafikan berarti bahwa manusia tidak menampakkan apa dan siapa sebenarnya dirinya. Dia adalah seorang actor atau pemain drama. Demikianlah orang-orang Farisi di zaman Yesus, mereka menampakkan diri seolah-olah mereka itu sangat suci dan baik. Hati mereka penuh dengan kejahatan. Hidup mereka penuh dengan kebusukan.

Yesus mengajarkan kita agar tidak takut akan sesama manusia yang walaupun membunuh dan menghabiskan nyawa kita, tetapi tidak punya kuasa lagi untuk kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kita selayaknya takut akan Allah. Takut akan Allah dalam bahasa Kitab Suci adalah suatu sikap hormat, sembah, dan bakti bagi Dia yang menciptakan kita dengan cinta dan menopang kita dengan kerahiman-Nya. Inilah sikap yang dituntut oleh Allah (bdk. Im. 25:17). Hanya
Allah yang patut ditakuti, disembah, dan dihormati karena Dialah yang memiliki hidup yang kekal. Dia tidak akan melupakan apa yang Dia ciptakan dengan penuh kasih. Dia tidak menginginkan kita binasa karena kita adalah milik pusaka-Nya. Sekalipun kita kehilangan nyawa di tengah pergulatan dunia yang menentang kita karena nama-Nya, kita tidak akan binasa, tetapi memperoleh hidup yang kekal.

Doa
Ya Tuhan Pelindungku, biarlah aku hanya takut akan Dikau, Allah yang menjanjikanku kehidupan yang kekal. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 12 Oktober 2011

Kamis, 13 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 13 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Eduardus; Sta. Eustokia; B. Honoratus Kosminski; B. Aleksandrina Maria da Costa
Bacaan I: Rm. 3:21–30a
Mazmur : 130:1–2,3–4b,4c–6; R: 7
Bacaan Injil : Luk. 11:47–54

”Celakalah kamu, sebab kamu mem­bangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyang­mu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.”
Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.


Renungan

Para nabi seperti Elia, Yeremiah, dan Amos disiksa dan dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Di zaman Raja Ahab (2Raj. 2:16) dan Yoyakim (Yer. 26:1–23) banyak nabi—yang tidak diketahui namanya—dibunuh secara massal. Di Zaman Yesus, mereka membangun tugu-tugu peringatan bagi para nabi yang dibunuh oleh nenek moyang mereka sendiri. Mereka mungkin mau menunjukkan rasa hormat dan kagum terhadap para nabi dahulu. Namun, Yesus membongkar kemunafikan mereka yang hanya mengelabui mata orang dengan penghargaan mereka yang semu, tetapi menolak kehadiran nabi di tengah mereka.

Para ahli Taurat dikecam oleh Yesus karena mereka yang merupakan pemegang kunci pengetahuan tentang Allah, bukan saja menutup diri dari anugerah surga yang dijanjikan, tetapi justru menghalangi orang lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ajaran Tuhan itu sederhana. Janganlah ajaran itu dibuat sedemikian kompleks sehingga orang lain tidak bisa mengerti atau malah tidak punya kemauan dan kemampuan untuk mendalami ajaran-ajaran Tuhan. Banyak orang awam yang tidak lagi mau bersusah payah untuk mendalami ajaran Tuhan dan mereka mengharapkan para pastor saja, atau pengkhotbah yang akan menjelaskan kepada mereka.

Doa: Tuhan Yesus, terangilah aku selalu dengan Roh Kudus-Mu agar aku bisa menjadi penuntun bagi sesamaku untuk menikmati sukacita kehidupan yang Engkau janjikan bagi semua orang. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 11 Oktober 2011

Rabu, 12 oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 12 oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Serafinus dr Montegranaro;
St. Wilfridus; B. Maria Teresa Fasce

Bacaan I: Rm. 2:1–11
Mazmur : 62:2–3,6–7,9; R: 13b
Bacaan Injil : Luk. 11:42–46

”Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar per­sepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan ke­adilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”
Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: ”Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: ”Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”


Renungan

Kecaman yang dilontarkan Yesus kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat makin pedas. Dia membongkar kebobrokan praktik kehidupan agama mereka yang bermotivasi agar dilihat dan dihormati orang. Mereka juga membuat hukum dan peraturan yang mereka sendiri tidak melaksanakannya. Mereka bukan saja penuh dengan kebusukan dan kebobrokan, tetapi justru menyesatkan orang lain dengan ajaran-ajaran mereka. Mereka diibaratkan dengan kubur yang tidak punya tanda. Dalam adat istiadat orang Yahudi, orang yang menginjak kubur akan najis selama tujuh hari. Banyak orang menginjak kubur karena kubur tersebut tidak punya tanda. Orang Farisi adalah kubur-kubur yang tidak punya tanda dan orang bisa saja mendekati mereka dan terkontaminasi dengan ajaran sesat mereka.

Sementara itu, Yesus mengajarkan dan mengingatkan kembali, baik para ahli Taurat dan orang Farisi bahwa esensi dari perintah Allah adalah kasih dan keadilan. Allah sendiri adalah kasih dan segala yang dia lakukan mengalir dari kasih-Nya. Kasih adalah pengorbanan yang selalu merangkul dan meringankan beban orang lain.

Doa: Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kobarkanlah semangat cinta dalam hatiku agar aku selalu hanya memerhatikan apa yang paling utama dan penting dalam hidup ini, yaitu membagi kasih dengan sesama. Amin.

sumber: ziarah batin 2011

Senin, 10 Oktober 2011

Selasa, 11 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 11 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVIII (H)
B. Elias dr Socorro Nieves
Bacaan I: Rm. 1:16–25
Mazmur : 19:2–3,4–5; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 11:37–41

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: ”Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”


Renungan

Yesus sungguh berlaku sangat kasar terhadap orang Farisi yang mengundang dia makan di rumahnya. Orang Farisi itu mengundang Yesus karena terkesan dan tertegun dengan pengajaran-Nya. Namun, apa yang dia dapatkan? Yesus sebagai tamu mengecam sikap orang-orang Farisi yang sangat legalistis dan ritualistis. Hati mereka tertutup dengan substansi ajaran agama mereka. Walau hanya sebagai tamu, Yesus tetap mewartakan kebenaran hidup beragama demi keselamatan orang itu. The truth hurts—kebenaran menyakitkan, tetapi tetap harus diwartakan.

Yesus menekankan pentingnya kebersihan hati—bukan kebersihan tangan—dalam menghayati dan mengamalkan kehidupan beragama. Dia mengkritik sikap mereka yang mau menonjolkan kesalehan di bagian luar, tetapi hati mereka penuh dengan kebusukan, kesombongan, kerakusan, kegetiran, iri, dan sebagainya. Dia menganjurkan kita agar lebih memerhatikan sedekah. Sebab, sedekah adalah ungkapan hati yang penuh kasih dan perhatian bagi orang lain. Yesus mengajarkan agar hati kita dipenuhi dengan pikiran yang penuh kasih dan perhatian agar tidak diisi dengan kebencian, kemarahan, kecemburuan, dan kesombongan.

Doa: Tuhan, penuhilah hatiku dengan kasih-Mu dan tambahkan dahagaku akan kesucian agar aku selalu menikmati damai dan ketenangan bersama-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 07 Oktober 2011

Sabtu, 8 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 8 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII (H)
Simeon; St. Sergius dan Bakhus
Bacaan I : Yl. 3:12–21
Mazmur : 97:1-2,5–6,11–12; R: 12a
Bacaan Injil : Luk.11:27–28

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: ”Ber­bahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: ”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”


Renungan

Banyak orang terpesona menyaksikan Yesus melakukan mukjizat menyembuhkan orang dan mengusir setan. Banyak orang tertegun mendengar kebijaksanaan yang keluar dari mulut-Nya. Seorang perempuan tidak tahan untuk melontarkan kata-kata pujian. ”Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Yesus tentu tidak menyangkal akan kebahagiaan dan berkat yang menjadi milik Maria, bunda-Nya. Dan, memang Kidung Maria sendiri meneguhkan hal itu: ”segala keturunan akan menyebut aku bahagia” (Luk. 1:489).
Yesus menjawab dengan suatu pernyataan yang inklusif dengan memperluas makna berkat dan kebahagiaan yang meliputi semua orang yang menerima dan melakukan, yang mendengar dan memelihara Sabda. Allah menghendaki agar kita hidup sebagai saudara dalam satu keluarga dan Allah menjadi Bapanya. Di sini, Yesus mau mengubah relasi manusia yang didasarkan semata atas hubungan darah dengan suatu keluarga yang diikat dan disatukan dalam iman akan Allah. Oleh karena itu, menjadi berkat dan sumber kebahagiaan bagi sesama selalu bermuara pada kesatuan kita dalam Tuhan. Kita menjadi rahmatan lil alamin kalau kita selalu hidup dalam rahmat Allah.

Doa
Ya Tuhan, tambahkan dahagaku akan Sabda-Mu dan kuatkanlah aku untuk melakukannya agar aku menjadi sumber berkat dan sukacita bagi sesamaku. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Kamis, 06 Oktober 2011

Jumat, 7 Oktober 2011~Pw SP Maria, Ratu Rosario (Ziarah batin 2011)

Jumat, 7 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII
Pw SP Maria, Ratu Rosario (P)
Bacaan I : Yl. 1:13–15; 2:1–2
Mazmur : 9:2–3,6,16,8–9; R: 9a
Bacaan Injil : Luk. 11:15–26


Tetapi ada di antara mereka yang ber­­­kata: ”Ia mengusir setan dengan ku­asa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: ”Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kem­bali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu ber­sih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.”


Renungan

Keberhasilan Yesus mengusir setan dan membuat orang bisu bisa berbicara kembali telah memancing reaksi banyak orang. Mereka menggunakan logika dinamika relasi manusia yang sangat pragmatis: yang menjinakkan penjahat adalah para penjahat sendiri karena mereka adalah sahabat. Kita tahu bahwa persahabatan yang dibangun atas dasar pragmatisme sesaat tidaklah bertahan. Pasti suatu saat mereka akan terpecah belah juga dan hancur. Mereka menuduh
Yesus mengusir setan dengan Beelzebul, si raja setan. Yesus menjawab tuduhan mereka dengan menyingkapkan kebenaran bahwa kerajaan yang terpecah belah tidak akan bertahan. Persahabatan yang semu tidak akan bertahan.

Yesus menegaskan bahwa hanya dengan kuasa Allahlah Dia mampu mengalahkan dan menghancurkan kuasa setan. Namun, setan yang dikalahkan dengan kuasa Ilahi masih mengembara mencari hati yang tandus dan kering. Bisa saja dia kembali ke ”rumah yang kosong”, hati yang kosong dari orang yang disembuhkan dan merusak jiwa orang tersebut dari dalam dengan lebih dahsyat. Oleh karena itu, jangan kita biarkan hati kita kosong dan tandus. Kita hendaknya senantiasa mengisi hati kita dengan kehadiran kuasa Allah.

Doa
Yesus, Penyembuh Yang Agung, datang dan tinggallah dalam hatiku agar aku senantiasa mampu mengusir kuasa setan yang setiap saat mau menggerogoti hidupku. Amin.


sumber :ziarah batin 2011

Selasa, 04 Oktober 2011

Rabu, 5 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Rabu, 5 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII (H)
B. Eugenius Bossilkoff; B. Albertus Marvelli; Sta. Anna Maria Gallo; B. Raymundus dr Kapua
Bacaan I : Yun. 4:1–11
Mazmur : 86:3–4,5–6,9–10; R: 15b
Bacaan Injil : Luk. 11:1–4


Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti ber­doa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: ”Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Apabila kamu berdoa, kata­kanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datang­lah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan am­punilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”


Renungan

Seorang ayah begitu bangga meminta anaknya untuk memimpin doa sebelum makan dalam kehadiran seorang pastor di keluarga mereka. Si anak mengucapkan doa Bapa Kami. Sang ayah dengan nada kesal berkomentar, ”Kenapa tidak doa spontan, Nak!”

Doa Bapa Kami, karena begitu sering dan secara rutin dihafal serta diucapkan, seolah-olah tidak bermakna lagi. Padahal, itu adalah doa warisan indah yang Kristus tinggalkan bagi kita. Kita terkadang lebih tersentuh dengan doa spontan yang indah-indah, yang panjang dan penuh dengan kata-kata seolah-olah membuat Allah terkesan.

Para guru, rabi di zaman Yesus, selalu mengajarkan doa pendek kepada para pengikutnya. Yesus pun mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya. Doa yang pendek itu bukan bermaksud agar para murid gampang menghafal dan melafalkannya. Doa ini sungguh merangkul segala sesuatu tentang Tuhan, kita, dan relasi kita dengan Tuhan. Di atas segalanya, doa itu merupakan ungkapan suatu relasi yang intim dan kesatuan yang mendalam antara Yesus dan Allah yang Dia sapa sebagai Abba atau Bapa. Kita pun di ajak-Nya untuk menyapa Allah sebagai Bapa, yang penuh perhatian, berbelas kasihan, dan peduli akan kita, anak-anak-Nya.

Doa
Ya Allah Bapa, sadarkan aku selalu bahwa Engkau adalah Bapaku yang peduli akan diriku, anak kesayangan-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 03 Oktober 2011

Selasa, 4 Oktober 2011~Pw St. Fransiskus Assisi(ziarah batin 2011)

Selasa, 4 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII
Pw St. Fransiskus Assisi (P); St. Fransiskus Charitas; St. Kuintinus
Bacaan I : Yun. 3:1–10
Mazmur : 130:1–2,3–4ab,7–8; R: 3
Bacaan Injil : Luk. 10:38–42

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ”Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: ”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”


Renungan

Marta tentu tidak bisa dipersalahkan. Dia mau membuat yang terbaik buat sahabat yang begitu dekat dengan mereka. Namun terkadang, seperti Marta, kita larut dalam menyibukkan diri dengan pekerjaan atau pelayanan sampai terkadang kita lupa akan siapa yang kita layani, untuk siapa kita menyibukkan diri. Bisa juga, karena terbiasa sibuk, kita cemas kalau tidak sibuk atau tidak menyibukkan diri. Hidup kita akhirnya selalu dihantui oleh kecemasan dan kekhawatiran akan banyak perkara. ”Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:27).

Maria telah memilih yang terbaik yang tidak dapat diambil darinya. Dia memilih untuk berada di kaki Sang Guru sambil mendengarkan wejangan dan pesan-pesan kehidupan. Kehadiran Tuhan dalam hidup kita perlu disambut juga oleh kehadiran hati kita di hadapan-Nya. Kita mungkin seperti Maria, memilih yang terbaik, tetapi pikiran kita bagaikan kera yang meloncat-loncat dari satu pohon kecemasan ke pohon kecemasan yang lain. Tuhan mengundang kita untuk menikmati kehadiran-Nya yang membawakan kita kesejukan dan damai.

Doa
Tuhan Yesus, bebaskanlah aku dari segala kecemasan dan kekhawatiranku yang tidak perlu agar aku menikmati kehadiran-Mu dalam hidupku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Minggu, 02 Oktober 2011

Senin, 3 Oktober 2011 (ziarah batin 2011)

Senin, 3 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVII (H) St. Fransiskus Borgia; St. Ewaldus Bersaudara
Bacaan I: Yun. 1:1–2:1,11
Mazmur : Yun. 2:2,3,4,5,8; R: 7c
Bacaan Injil : Luk. 10:25–37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ”Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: ”Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Kata Yesus kepadanya: ”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: ”Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: ”Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)


Renungan

Mengetahui perintah utama ”Cinta Kasih” itu tidak cukup. Kita perlu tahu siapa dan apa sasaran perbuatan amal kasih itu. Lewat perumpamaan, Yesus menegaskan bahwa orang yang layak dibantu adalah orang yang berada dalam kesulitan—entah dia berasal dari suku, budaya, bahasa, ataupun agama yang berbeda. Dia adalah sesama yang harus dibantu. Kesulitan dan derita yang mereka alami itu mungkin disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti bencana alam, perlakuan tidak adil oleh sesamanya, penyakit yang menimpa diri mereka, atau bisa juga karena perbuatannya sendiri.

Kita mungkin lebih mudah tergugah untuk membantu mereka yang dekat dengan kita, sesama suku, saudara kita seiman, atau mereka yang kita kenal sebagai orang baik dalam masyarakat. Namun, kita sering kali enggan membantu mereka yang ”bukan sesama kita” yang menderita atau mereka yang menurut penilaian masyarakat adalah orang-orang jahat. Bukankah Allah menerbitkan Matahari bagi orang benar dan orang jahat (bdk. Mat. 5:45)? Bukankah saat-saat orang dalam kesusahan merupakan kesempatan rahmat bagi kita untuk mendekatkan diri dan mengenal mereka secara lebih mendalam serta membantu meringankan beban hidup mereka?

Doa: Ya Tuhan, bukalah mata hatiku akan penderitaan sesamaku dan berilah aku keberanian untuk hadir dekat mereka walau itu menuntut waktu dan pengorbanan. Amin.

sumber:ziarah batin 2011