Sabtu, 28 Januari 2012
Pekan Biasa III
Pw St. Thomas dr Aquino, ImPujG. (P)
St. Karolus Agung; St. Petrus Nolaskus; Manfredus
Bacaan I : 2Sam. 12:1–7a.10–17
Mazmur : 51:12–13.14–15.16–17; R: 12a
Bacaan Injil : Mrk. 4:35–41
Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada
mereka: ”Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang
banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam
perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai
Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur
masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.Pada
waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka
murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau
tidak perduli kalau kita binasa?”Ia pun bangun, menghardik angin itu
dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda
dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka:
”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi
sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ”Siapa gerangan orang
ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Renungan
Kecerobohan atau kekeliruan dalam hal kecil dapat
mengakibatkan sesuatu yang fatal dalam kehidupan atau pekerjaan kita.
Inilah yang dialami oleh Daud. Kecerobohan, kesalahan dan
ketidakbijaksanaannya mengambil istri Uria menjadi istrinya dengan
mengorbankan Uria di medan perang menyebabkan kegelisahan,
ketidaktenangan dan penderitaan batin yang berkelanjutan.
Namun, Tuhan itu selalu baik. Ia mengirim Natan untuk menegur
dan memperingatkan Daud akan kesalahannya dan meminta dia menyesal dan
bertobat. Tuhan tidak mau membiarkan Daud jatuh dari satu kesalahan ke
kesalahan lain, dari satu kekeliruan ke kekeliruan lain. Natan
menghantar Daud, tahap demi tahap, dalam proses penyadaran akan dosa dan
menuju penyesalan. Daud terbuka menerima teguran Allah melalui Natan
disertai sikap penyesalan. Daud lalu menyesal dan minta ampun! Dia sadar
bahwa Allah itu memang kaya dalam kerahiman (bdk. Ef. 2:4). Demikian,
ia tetap mendapat tempat di hati Allah.
Dengan tangan terbuka Allah senantiasa mempersilahkan kita
untuk bertobat agar kita menemukan kembali apa yang terbaik dalam diri
kita, menemukan kembali anugerah-anugerah dan buah-buah Roh Kudus yang
telah ditanamkan di dalam diri kita, seperti ”kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri” (Gal. 5:22–23). Untuk itu, Tuhan akan mengingatkan kita
dengan berbagai cara, bahkan berupa badai dan taufan sekalipun, agar
kita kembali kepada-Nya.
Doa
Tuhan Yesus, ketika aku keliru dan ceroboh, tegurlah aku, agar
aku sadar, menyesal dan bertobat. Rahmatilah aku dengan kerahiman-Mu
yang melimpah. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Jumat, 27 Januari 2012~Sta. Angela Merici; St. Gabriel dr Bunda Berdukacita
Jumat, 27 Januari 2012
Pekan Biasa III (H)
Sta. Angela Merici; St. Gabriel dr Bunda Berdukacita;
St. Robertus, Alberikus, dan Stefanus
Bacaan I: 2Sam. 11:1–4a.5–10a.13–17
Mazmur : 51:3–4.5–6a.6bc–7.10–11; R: lh.3a
Bacaan Injil : Mrk. 4:26–34
Lalu kata Yesus: ”Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Kata-Nya lagi: ”Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.
Renungan
Ketika para misionaris datang ke daerah-daerah misi, seperti misalnya Papua, mereka tidak hanya mewartakan Injil tentang Yesus Kristus, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat orang-orang setempat, melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan manusia, dsb. Mereka menjadi sadar bahwa mereka tidak dapat mengharapkan hasil yang instan, mereka tidak akan langsung melihat dan merasakan hasil karya mereka. Ada seorang misionaris Belanda yang memberi nasihat kepada misionaris muda Indonesia sebagai berikut: ”Bekerja di sini jangan harap akan melihat hasil kerjamu.
Butuh waktu 100 tahun untuk melihat hasil kerja sekarang.”
Dalam Injil Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan tentang penabur benih (bdk. Mrk. 4:26–29) dan biji sesawi (bdk. Mrk. 4:30–34). Pesan kedua perumpamaan ini ialah benih dan biji sesawi tumbuh tanpa banyak disadari dan butuh waktu yang cukup untuk menjadi besar dan membawa hasil. Perlu kesabaran sambil memelihara dengan baik agar lingkungannya memberi kesuburan bagi pertumbuhannya. Demikian juga dengan iman dan Kerajaan Allah. Perlu waktu, usaha, kesabaran dan penciptaan lingkungan yang baik agar iman dan Kerajaan Allah bertumbuh dan berkembang, lalu menghasilkan buah-buahnya. Maka pentinglah kita tidak terburu-buru, perlu bersabar dan bertekun. Dalam pertumbuhan itu bukan kita sendiri yang berperan tetapi kita perlu memberi ruang pada Allah yang memberi kehidupan itu.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, tumbuh-kembangkanlah benih iman dalam diriku agar membawa buah-buah kebaikan dan cinta kasih kepada orang-orang lain dan lingkungan sekitar di mana aku berada. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Pekan Biasa III (H)
Sta. Angela Merici; St. Gabriel dr Bunda Berdukacita;
St. Robertus, Alberikus, dan Stefanus
Bacaan I: 2Sam. 11:1–4a.5–10a.13–17
Mazmur : 51:3–4.5–6a.6bc–7.10–11; R: lh.3a
Bacaan Injil : Mrk. 4:26–34
Lalu kata Yesus: ”Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Kata-Nya lagi: ”Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.
Renungan
Ketika para misionaris datang ke daerah-daerah misi, seperti misalnya Papua, mereka tidak hanya mewartakan Injil tentang Yesus Kristus, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat orang-orang setempat, melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan manusia, dsb. Mereka menjadi sadar bahwa mereka tidak dapat mengharapkan hasil yang instan, mereka tidak akan langsung melihat dan merasakan hasil karya mereka. Ada seorang misionaris Belanda yang memberi nasihat kepada misionaris muda Indonesia sebagai berikut: ”Bekerja di sini jangan harap akan melihat hasil kerjamu.
Butuh waktu 100 tahun untuk melihat hasil kerja sekarang.”
Dalam Injil Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan tentang penabur benih (bdk. Mrk. 4:26–29) dan biji sesawi (bdk. Mrk. 4:30–34). Pesan kedua perumpamaan ini ialah benih dan biji sesawi tumbuh tanpa banyak disadari dan butuh waktu yang cukup untuk menjadi besar dan membawa hasil. Perlu kesabaran sambil memelihara dengan baik agar lingkungannya memberi kesuburan bagi pertumbuhannya. Demikian juga dengan iman dan Kerajaan Allah. Perlu waktu, usaha, kesabaran dan penciptaan lingkungan yang baik agar iman dan Kerajaan Allah bertumbuh dan berkembang, lalu menghasilkan buah-buahnya. Maka pentinglah kita tidak terburu-buru, perlu bersabar dan bertekun. Dalam pertumbuhan itu bukan kita sendiri yang berperan tetapi kita perlu memberi ruang pada Allah yang memberi kehidupan itu.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, tumbuh-kembangkanlah benih iman dalam diriku agar membawa buah-buah kebaikan dan cinta kasih kepada orang-orang lain dan lingkungan sekitar di mana aku berada. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Rabu, 25 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012~Pw St. Timotius dan Titus, Usk.
Kamis, 26 Januari 2012
Pekan Biasa III
Pw St. Timotius dan Titus, Usk. (P)
Sta. Paula; St. Stefanus Harding;
St. Robertus Molesmes
Bacaan I: 2Tim. 1:1–8 atau Tit. 1:1–5
Mazmur : 96:1–2a,2b–3,7–8a,10
Bacaan Injil : Mrk. 4:21–25
Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Ia berkata lagi: ”Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”
Renungan
Salah satu perlambangan yang dipakai oleh Kitab Suci adalah cahaya dan pelita. Dalam masyarakat kuno, pelita mempunya fungsi vital. Walaupun kecil, pelita dapat menerangi tempat yang lebih luas. Pelita juga membuat orang melihat, melakukan aktivitas, pekerjaan, menerangi jalan, dsb. Bagi orang-orang Yahudi, cahaya mengekspresikan keindahan, kebenaran dan kebaikan Allah. ”Di dalam terang-Mu kami melihat cahaya” (Mzm. 36:10). ”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105).
Iman Kristiani kita adalah cahaya bagi dunia, yakni bagaikan suatu pelita yang tidak dapat disembunyikan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, tetapi harus ditaruh di atas kaki dian supaya bercahaya ke sekitarnya, yakni kepada orang-orang lain dan lingkungan hidup.
Demikian, Firman Tuhan tidak boleh disimpan, tetapi harus disiarkan. Iman yang kita terima, pengetahuan dan penghayatan kita tentang Yesus tidak untuk disimpan bagi diri sendiri, tetapi harus bercahaya memengaruhi orang-orang lain dan lingkungan di mana kita hidup dan bekerja. Kekayaan hidup iman kita harus dibagikan (sharing) dengan murah hati kepada orang-orang lain, agar mereka pun mengalami dicintai oleh Allah.
Menjadi orang Kristen tidak cukup menjadi orang baik, tetapi harus juga menjadi terang bagi orang-orang lain serta pembagi Kabar Gembira dengan kata dan perbuatan.
Doa: Tuhan, Engkau menghantar aku dengan cahaya kebenaran-Mu yang menyelamatkan. Penuhilah hati dan budiku dengan cahaya kebenaran-Mu. Semoga aku sanggup memancarkannya kepada orang-orang lain dengan kata dan perbuatan. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Pekan Biasa III
Pw St. Timotius dan Titus, Usk. (P)
Sta. Paula; St. Stefanus Harding;
St. Robertus Molesmes
Bacaan I: 2Tim. 1:1–8 atau Tit. 1:1–5
Mazmur : 96:1–2a,2b–3,7–8a,10
Bacaan Injil : Mrk. 4:21–25
Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Ia berkata lagi: ”Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”
Renungan
Salah satu perlambangan yang dipakai oleh Kitab Suci adalah cahaya dan pelita. Dalam masyarakat kuno, pelita mempunya fungsi vital. Walaupun kecil, pelita dapat menerangi tempat yang lebih luas. Pelita juga membuat orang melihat, melakukan aktivitas, pekerjaan, menerangi jalan, dsb. Bagi orang-orang Yahudi, cahaya mengekspresikan keindahan, kebenaran dan kebaikan Allah. ”Di dalam terang-Mu kami melihat cahaya” (Mzm. 36:10). ”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105).
Iman Kristiani kita adalah cahaya bagi dunia, yakni bagaikan suatu pelita yang tidak dapat disembunyikan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, tetapi harus ditaruh di atas kaki dian supaya bercahaya ke sekitarnya, yakni kepada orang-orang lain dan lingkungan hidup.
Demikian, Firman Tuhan tidak boleh disimpan, tetapi harus disiarkan. Iman yang kita terima, pengetahuan dan penghayatan kita tentang Yesus tidak untuk disimpan bagi diri sendiri, tetapi harus bercahaya memengaruhi orang-orang lain dan lingkungan di mana kita hidup dan bekerja. Kekayaan hidup iman kita harus dibagikan (sharing) dengan murah hati kepada orang-orang lain, agar mereka pun mengalami dicintai oleh Allah.
Menjadi orang Kristen tidak cukup menjadi orang baik, tetapi harus juga menjadi terang bagi orang-orang lain serta pembagi Kabar Gembira dengan kata dan perbuatan.
Doa: Tuhan, Engkau menghantar aku dengan cahaya kebenaran-Mu yang menyelamatkan. Penuhilah hati dan budiku dengan cahaya kebenaran-Mu. Semoga aku sanggup memancarkannya kepada orang-orang lain dengan kata dan perbuatan. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Selasa, 24 Januari 2012
Rabu, 25 Januari 2012~Pesta Pertobatan St. Paulus, Rasul
Rabu, 25 Januari 2012
Pekan Biasa III
Pesta Pertobatan St. Paulus, Rasul (P)
Bacaan I: Kis. 22:3–16 atau Kis. 9:1–22
Mazmur : 117:1.2. Ref: Mrk. 16:15
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–18
Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Renungan
Kisah pertobatan St. Paulus, rasul, mengubah garis dan orientasi hidupnya. Pengalaman perjumpaannya dengan Yesus dalam perjalanan ke kota Damsyik sungguh eksistensial, yakni menyentuh seluruh keberadaannya. Suatu perjumpaan yang mengubah segala-galanya. Dari seorang penganiya dan pengejar pengikut-pengikut Kristus menjadi rasul agung Kristus. Sebelum menerima Yesus, ia membanggakan diri sebagai orang Yahudi sejati dan pelaksana hukum Musa. Tidak mengherankan ia marah dengan ajaran dari para murid Yesus. Ia tidak keberatan ketika Stefanus dirajam.
Tidak ada persiapan apa-apa dari Paulus untuk menerima Yesus, tidak ada pengajaran atau katekismus atau retret. Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Inisiatif berasal dari Allah. Allah jugalah yang menghendaki perubahan radikal dalam hidup Paulus.
Namun, barangkali kematian heroik dari Stefanus menumbuhkan benih-benih keraguan pada keyakinannya sendiri dan sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang siapakah Yesus itu yang mampu membuat orang seperti Stefanus begitu setia menjadi murid-Nya, sampai rela mengorbankan nyawanya?
Pertobatan St. Paulus turut mengajak kita untuk merefleksikan saat-saat Allah mau berjumpa dengan kita dengan rahmat-rahmat yang disediakan-Nya. Ada saat Allah menjumpai kita dengan membawa rahmat pertobatan. Ada saat Allah menjumpai kita dengan rahmat pembebasan. Ada saat Allah menjumpai kita dengan rahmat sukacita. Ya, setiap saat Allah mau menjumpai kita karena cinta dan belas kasih-Nya yang begitu luas dan dalam.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku hati yang mau bertobat dan menerima sukacita yang berasal dari-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Pekan Biasa III
Pesta Pertobatan St. Paulus, Rasul (P)
Bacaan I: Kis. 22:3–16 atau Kis. 9:1–22
Mazmur : 117:1.2. Ref: Mrk. 16:15
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–18
Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Renungan
Kisah pertobatan St. Paulus, rasul, mengubah garis dan orientasi hidupnya. Pengalaman perjumpaannya dengan Yesus dalam perjalanan ke kota Damsyik sungguh eksistensial, yakni menyentuh seluruh keberadaannya. Suatu perjumpaan yang mengubah segala-galanya. Dari seorang penganiya dan pengejar pengikut-pengikut Kristus menjadi rasul agung Kristus. Sebelum menerima Yesus, ia membanggakan diri sebagai orang Yahudi sejati dan pelaksana hukum Musa. Tidak mengherankan ia marah dengan ajaran dari para murid Yesus. Ia tidak keberatan ketika Stefanus dirajam.
Tidak ada persiapan apa-apa dari Paulus untuk menerima Yesus, tidak ada pengajaran atau katekismus atau retret. Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Inisiatif berasal dari Allah. Allah jugalah yang menghendaki perubahan radikal dalam hidup Paulus.
Namun, barangkali kematian heroik dari Stefanus menumbuhkan benih-benih keraguan pada keyakinannya sendiri dan sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang siapakah Yesus itu yang mampu membuat orang seperti Stefanus begitu setia menjadi murid-Nya, sampai rela mengorbankan nyawanya?
Pertobatan St. Paulus turut mengajak kita untuk merefleksikan saat-saat Allah mau berjumpa dengan kita dengan rahmat-rahmat yang disediakan-Nya. Ada saat Allah menjumpai kita dengan membawa rahmat pertobatan. Ada saat Allah menjumpai kita dengan rahmat pembebasan. Ada saat Allah menjumpai kita dengan rahmat sukacita. Ya, setiap saat Allah mau menjumpai kita karena cinta dan belas kasih-Nya yang begitu luas dan dalam.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku hati yang mau bertobat dan menerima sukacita yang berasal dari-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Jumat, 20 Januari 2012
Sabtu, 21 Januari 2012~Pw Sta. Agnes, Prw.Mrt
Sabtu, 21 Januari 2012
Pekan Biasa II
Pw Sta. Agnes, Prw.Mrt. (M);
St. Augurius dan Eulogius
Bacaan I: 2Sam. 1:1–4.11–12.19.23–27
Mazmur : 80:2–3.5–7; R: 4b
Bacaan Injil : Mrk. 3:20–21
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
Renungan
Hubungan antara Saul dan Daud tidak selalu diwarnai oleh ketulusan hati. Ada saat Saul membenci Daud karena umat Israel lebih mengelu-elukan Daud. Mereka bersorak: ”Saul mengalahkan beribu-ribu musuh tetapi Daud berlaksa-laksa.” Saul merasa diremehkan; dia sakit hati, sangat marah dan menaruh dendam, sampai berniat untuk membunuh Daud.
Di pihak lain Daud punya sikap berbeda. Ia mempunyai hati yang tulus. Walaupun Daud mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul, namun Daud tidak melakukannya karena ia mencintai Saul, yang juga adalah orang yang diurapi Allah (bdk. 1Sam. 24:7). Cinta dan ketulusan hati Daud sangat kentara ketika ia mendengar bahwa Saul dan sahabat karibnya Yonatan gugur di medan perang. Ia sungguh merasa sedih. Ratapan sedihnya diungkapkannya dengan kata-kata yang sangat menyentuh: ”Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu. Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan” (2Sam. 1:25–26).
Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa iri, marah dan dendam kadangkala meliputi kita, misalnya saat kita merasa diremehkan atau disaingi. Daud mengajarkan kepada kita untuk memiliki kualitas-kualitas hati seperti ketulusan, kesejatian, cinta dan belarasa, yang perlu untuk membangun relasi kita baik dengan sesama maupun dengan Tuhan, walaupun ada saat kita disakiti atau diperlakukan tidak baik.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, berilah aku hati yang tulus, penuh semangat persaudaraan, agar aku selalu berkenan kepada-Mu dan sesamaku. Amin.
Pekan Biasa II
Pw Sta. Agnes, Prw.Mrt. (M);
St. Augurius dan Eulogius
Bacaan I: 2Sam. 1:1–4.11–12.19.23–27
Mazmur : 80:2–3.5–7; R: 4b
Bacaan Injil : Mrk. 3:20–21
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
Renungan
Hubungan antara Saul dan Daud tidak selalu diwarnai oleh ketulusan hati. Ada saat Saul membenci Daud karena umat Israel lebih mengelu-elukan Daud. Mereka bersorak: ”Saul mengalahkan beribu-ribu musuh tetapi Daud berlaksa-laksa.” Saul merasa diremehkan; dia sakit hati, sangat marah dan menaruh dendam, sampai berniat untuk membunuh Daud.
Di pihak lain Daud punya sikap berbeda. Ia mempunyai hati yang tulus. Walaupun Daud mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul, namun Daud tidak melakukannya karena ia mencintai Saul, yang juga adalah orang yang diurapi Allah (bdk. 1Sam. 24:7). Cinta dan ketulusan hati Daud sangat kentara ketika ia mendengar bahwa Saul dan sahabat karibnya Yonatan gugur di medan perang. Ia sungguh merasa sedih. Ratapan sedihnya diungkapkannya dengan kata-kata yang sangat menyentuh: ”Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu. Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan” (2Sam. 1:25–26).
Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa iri, marah dan dendam kadangkala meliputi kita, misalnya saat kita merasa diremehkan atau disaingi. Daud mengajarkan kepada kita untuk memiliki kualitas-kualitas hati seperti ketulusan, kesejatian, cinta dan belarasa, yang perlu untuk membangun relasi kita baik dengan sesama maupun dengan Tuhan, walaupun ada saat kita disakiti atau diperlakukan tidak baik.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, berilah aku hati yang tulus, penuh semangat persaudaraan, agar aku selalu berkenan kepada-Mu dan sesamaku. Amin.
Kamis, 19 Januari 2012
Jumat, 20 Januari 2012
Jumat, 20 Januari 2012
Pekan Biasa II (H)
St. Fabianus, Paus; St. Sebastianus;
St. Eutimos Agung; B. Cyprianus Michael Tansi;
St. Yohanes Pembaptis dr Triguerie
Bacaan I: 1Sam. 24:3–21
Mazmur : 57:2.3–4.6.11; R:2a
Bacaan Injil : Mrk. 3:13–19
Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.
Renungan
Yesus naik ke atas bukit. Tidak disebutkan nama bukitnya. Yang lebih penting adalah simbolisme dan pemaknaannya, bukan lokasinya. Dalam Kitab Suci bukit atau gunung merupakan tempat kudus yang dikaitkan dengan kehadiran Allah. Di sana orang mengalami kehadiran-Nya. Di sana orang mengalami persatuan dengan Dia.
Di saat-saat penting kehidupan publik-Nya Yesus naik ke atas bukit: ketika Ia mau menetapkan kedua belas murid pilihan-Nya, ketika menyampaikan Khotbah Bahagia, pada saat Transfigurasi dan setelah memberi makan 5000 orang ... Di sana Yesus menyatukan diri dengan Bapa untuk memilah-milah kehendak-Nya (discernment).
Kali ini, sebelum mengambil keputusan penting tentang kedua belas murid pilihan-Nya, yang akan menjadi lingkar dalam (inner circle) pelayanan-Nya, Ia naik ke atas bukit. ”Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan” (Mrk. 3:14). Mereka menjadi orang-orang yang diurapi oleh Tuhan dan diberi kuasa-kuasa pelayanan. Keterpilihan mereka bukan merupakan suatu privilese untuk dinikmati melainkan suatu tugas untuk dipenuhi.
Sesungguhnya, ketika Allah memanggil seseorang, Ia mempunyai suatu maksud khusus baginya. Kita pun dipanggil dan diutus oleh Allah melalui cara kita masing-masing untuk suatu maksud khusus Allah.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, kuatkan dan bahagiakanlah aku dalam memenuhi panggilan dan perutusan yang Kaupercayakan kepadaku. Amin.
sumber:ziarah batin 2012
Pekan Biasa II (H)
St. Fabianus, Paus; St. Sebastianus;
St. Eutimos Agung; B. Cyprianus Michael Tansi;
St. Yohanes Pembaptis dr Triguerie
Bacaan I: 1Sam. 24:3–21
Mazmur : 57:2.3–4.6.11; R:2a
Bacaan Injil : Mrk. 3:13–19
Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.
Renungan
Yesus naik ke atas bukit. Tidak disebutkan nama bukitnya. Yang lebih penting adalah simbolisme dan pemaknaannya, bukan lokasinya. Dalam Kitab Suci bukit atau gunung merupakan tempat kudus yang dikaitkan dengan kehadiran Allah. Di sana orang mengalami kehadiran-Nya. Di sana orang mengalami persatuan dengan Dia.
Di saat-saat penting kehidupan publik-Nya Yesus naik ke atas bukit: ketika Ia mau menetapkan kedua belas murid pilihan-Nya, ketika menyampaikan Khotbah Bahagia, pada saat Transfigurasi dan setelah memberi makan 5000 orang ... Di sana Yesus menyatukan diri dengan Bapa untuk memilah-milah kehendak-Nya (discernment).
Kali ini, sebelum mengambil keputusan penting tentang kedua belas murid pilihan-Nya, yang akan menjadi lingkar dalam (inner circle) pelayanan-Nya, Ia naik ke atas bukit. ”Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan” (Mrk. 3:14). Mereka menjadi orang-orang yang diurapi oleh Tuhan dan diberi kuasa-kuasa pelayanan. Keterpilihan mereka bukan merupakan suatu privilese untuk dinikmati melainkan suatu tugas untuk dipenuhi.
Sesungguhnya, ketika Allah memanggil seseorang, Ia mempunyai suatu maksud khusus baginya. Kita pun dipanggil dan diutus oleh Allah melalui cara kita masing-masing untuk suatu maksud khusus Allah.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, kuatkan dan bahagiakanlah aku dalam memenuhi panggilan dan perutusan yang Kaupercayakan kepadaku. Amin.
sumber:ziarah batin 2012
Rabu, 18 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Pekan Biasa II (H)
B. Yakobus Sales dan Wilhelmus Saultemoche;
St. Marius; St. Gerlakus; St. Gottfried
Bacaan I: 1Sam. 18:6–9;19:1–7
Mazmur : 56:2–3.9–10a.10b–11.12–13; R: 5bc
Bacaan Injil : Mrk. 3:7–12
Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: ”Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.
Renungan
Banyak orang suka berkerumun penuh rasa ingin tahu ketika ada sesuatu kejadian atau peristiwa yang menarik perhatian, misalnya ketika ada kejadian pembunuhan, kecelakaan, bom dijinakkan atau meledak, dsb. Mereka datang ingin mendapatkan sesuatu. Hal seperti itu punya magnet atau daya tarik luar biasa.
Ketika nama tenar Yesus sudah menyebar ke segala penjuru, karena apa yang mereka dengar tentang perbuatan-perbuatan-Nya, orang-orang berbondong-bondong datang ingin melihat dan berjumpa dengan Dia. Mereka datang bukan hanya dari Galilea, di mana Yesus tinggal dan berkarya, tetapi juga dari Yerusalem dan Yudea di selatan, dari seberang Sungai Yordan, bahkan dari wilayah-wilayah Tirus dan Sidon yang masih kafir. Di satu pihak jumlah besar ini tentu membesarkan hati, namun di pihak lain Yesus tahu bahwa mereka belum siap untuk memahami identitas-Nya atau siapa Dia sesungguhnya. Pemahaman dan sikap mereka terhadap Yesus masih dangkal. Mereka datang hanya didorong oleh kebutuhan-kebutuhan sesaat. Mereka belum sepenuhnya menjadi pengikut-pengikut-Nya. Mereka datang untuk mendapatkan sesuatu, belum siap untuk memberi atau sharing. Namun, Yesus tidak menolak mereka. Ia berbelarasa.
Yesus mengajarkan kita untuk tidak tergoda dengan popularitas ketika kita disanjung dan dielu-elukan. Ia memberi teladan kepada kita untuk selalu sadar akan mandat perutusan yang dipercayakan oleh Bapa-Nya, yakni menghantar semua orang mengalami kasih dan kebaikan Allah. Ia mengundang kita untuk tidak sekadar ikut Dia, tetapi untuk menjadi pengikut-Nya yang sejati dan menerima Dia sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, dampingilah aku selalu untuk mengagungkan nama-Mu dan mengimani Engkau sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan. Amin.
Pekan Biasa II (H)
B. Yakobus Sales dan Wilhelmus Saultemoche;
St. Marius; St. Gerlakus; St. Gottfried
Bacaan I: 1Sam. 18:6–9;19:1–7
Mazmur : 56:2–3.9–10a.10b–11.12–13; R: 5bc
Bacaan Injil : Mrk. 3:7–12
Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: ”Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.
Renungan
Banyak orang suka berkerumun penuh rasa ingin tahu ketika ada sesuatu kejadian atau peristiwa yang menarik perhatian, misalnya ketika ada kejadian pembunuhan, kecelakaan, bom dijinakkan atau meledak, dsb. Mereka datang ingin mendapatkan sesuatu. Hal seperti itu punya magnet atau daya tarik luar biasa.
Ketika nama tenar Yesus sudah menyebar ke segala penjuru, karena apa yang mereka dengar tentang perbuatan-perbuatan-Nya, orang-orang berbondong-bondong datang ingin melihat dan berjumpa dengan Dia. Mereka datang bukan hanya dari Galilea, di mana Yesus tinggal dan berkarya, tetapi juga dari Yerusalem dan Yudea di selatan, dari seberang Sungai Yordan, bahkan dari wilayah-wilayah Tirus dan Sidon yang masih kafir. Di satu pihak jumlah besar ini tentu membesarkan hati, namun di pihak lain Yesus tahu bahwa mereka belum siap untuk memahami identitas-Nya atau siapa Dia sesungguhnya. Pemahaman dan sikap mereka terhadap Yesus masih dangkal. Mereka datang hanya didorong oleh kebutuhan-kebutuhan sesaat. Mereka belum sepenuhnya menjadi pengikut-pengikut-Nya. Mereka datang untuk mendapatkan sesuatu, belum siap untuk memberi atau sharing. Namun, Yesus tidak menolak mereka. Ia berbelarasa.
Yesus mengajarkan kita untuk tidak tergoda dengan popularitas ketika kita disanjung dan dielu-elukan. Ia memberi teladan kepada kita untuk selalu sadar akan mandat perutusan yang dipercayakan oleh Bapa-Nya, yakni menghantar semua orang mengalami kasih dan kebaikan Allah. Ia mengundang kita untuk tidak sekadar ikut Dia, tetapi untuk menjadi pengikut-Nya yang sejati dan menerima Dia sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, dampingilah aku selalu untuk mengagungkan nama-Mu dan mengimani Engkau sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan. Amin.
Selasa, 17 Januari 2012
Rabu, 18 Januari 2012~Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani
Rabu, 18 Januari 2012
Pekan Biasa II (H)
Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani
Sta. Priska; Sta. Margaretha dr Hongaria
Bacaan I : 1Sam. 17:32–33.37.40–51
.Mazmur : 144:1.2.9–10; R: 1a
Bacaan Injil : Mrk. 3:1–6
Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang
mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia
menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat
mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya
itu: ”Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka:
”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat
jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu
diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia
memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu:
”Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya
itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan
orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.
Renungan
Dari
waktu ke waktu kita dihadapkan pada suatu pilihan yang dilematis, tetapi
keputusan harus diambil. Skala prioritas turut dipertimbangkan. Dalam
kontroversi dengan orang-orang Farisi, yang mengamat-amati setiap gerak
dan perkataan-Nya, Yesus memberikan petunjuk yang jelas untuk memilih,
yakni pro kehidupan. Ia memilih untuk berbuat baik dan menyelamatkan
nyawa orang yang mati sebelah tangannya daripada berkutat dengan
peraturan Sabat yang kaku.
Sementara itu kaum Farisi hanya
mencari-cari alasan untuk mempersalahkan Dia; mereka tidak punya
keprihatinan akan nilai kehidupan yang jauh lebih tinggi daripada suatu
peraturan. Mereka terdiam tanpa bisa membantah Yesus.
Kisah
pertarungan antara Daud dan Goliat membeberkan bagaimana Daud—ketika itu
ia belum dilantik menjadi raja—dihadapkan pada situasi sulit. Dia, yang
masih muda belia, berhadapan dengan Goliat, seorang raksasa yang
ditakuti. Ketika mengajukan diri kepada Saul untuk bertarung melawan
Goliat, Saul meragukannya. ”Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang
Filistin itu .... Sebab engkau masih muda, sedang Goliat sejak dari masa
mudanya telah menjadi prajurit” (1Sam. 17:33). Namun, Daud telah
berketetapan hati, tidak punya keraguan, untuk melawan Goliat. Yang
diandalkan oleh Daud bukanlah kekuatan manusiawi, tetapi Allah yang
menyertainya. Andalan Daud adalah Tuhan. Inilah kualifikasi penting bagi
seorang raja yang akan memerintah atas nama Allah. Dalam melawan
Goliat, Daud pun memegang tongkat, yang akan menjadi lambang
pemerintahannya.
Demikian Tuhan mengajarkan kita untuk
mengedepankan perbuatan baik serta keselamatan sesama kita dan
senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal ikhwal kehidupan kita.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, sadarkanlah aku selalu untuk mengandalkan
Engkau dan senantiasa memilih untuk berbuat baik bagi sesamaku. Amin.
Senin, 16 Januari 2012
Selasa, 17 Januari 2012 (Pw St. Antonius, Abbas (P)
Selasa, 17 Januari 2012
Pekan Biasa II
Pw St. Antonius, Abbas (P)
B. Rosaline Villeneuve; St. Sulpisius
Bacaan I: 1Sam. 16:1–13 Mazmur : 89:20.21–22.27–28; R: 21a
Bacaan Injil : Mrk. 2:23–28
Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan
sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata
orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka:
”Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka
yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke
dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan
roti sajian itu—yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam—dan
memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada
mereka: ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari
Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”
Renungan
Ada dua prinsip yang dapat dipetik dari Injil hari ini tentang hari
Sabat. Pertama, segala peraturan dibuat untuk manusia dan bukan
sebaliknya. Peraturan bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi
untuk kebaikan manusia. Bagi kaum Yahudi, kebajikan ada demi memenuhi
hukum. Bagi Yesus, pengamalan hukum hanya menjadi sempurna apabila hukum
itu mengabdi demi kebaikan orang-orang lain dan diri sendiri. Kedua,
Yesus sebagai Putra Allah tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan
manusiawi, seberapa pun tingginya. Hanya ada satu hukum utama ialah
kasih. Allah adalah kasih itu, maka Ia pun tidak mungkin mengingkari
hakikat diri-Nya. Setiap peraturan ada untuk mengabdi pada hukum yang
utama itu.
Ketika Saul tidak lagi mengabdi Allah dengan benar,
tetapi lebih mengabdi kepentingannya sendiri, Allah menolak dia sebagai
raja dan menggantikannya dengan Daud. Allah menjatuhkan pilihan kepada
Daud, bukan kepada anak-anak Isai yang lain. Allah melihat hati manusia,
sedangkan manusia melihat apa yang ada di depan mata atau tampilan
luar. Kaum Farisi mementingkan praktik luaran, tetapi melupakan prinsip
cinta kasih dan kedalaman hati.
Kita pun diajak untuk
merefleksikan panggilan kita sendiri dan keterpilihan kita oleh Allah
untuk mengabdi pada Dia dan cinta kasih-Nya. Allah mengkhususkan kita
untuk tugas khas yang dipercayakan-Nya kepada kita.
Doa: Tuhan
Allah yang mahabaik, mampukanlah aku untuk mengabdi Engkau sepenuh hati
dan untuk memenuhi panggilan menjadi pelaku cinta kasih. Amin.
sumber:ziarah batin 2012
Jumat, 13 Januari 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
PEKAN BIASA I (H)
St. Feliks dr Nola; B. Petrus Donders;
B. Odorikus dr Pordenone
Bacaan I: 1Sam. 9:1–4.17–19;10:1aMazmur : 21:2–3.4–5.6–7; R: 2a
Bacaan Injil : Mrk. 2:13–17
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak
datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan
lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia
berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti
Dia.
Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak
pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan
murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu
ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan
pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada
murid-murid-Nya: ”Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai
dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: ”Bukan
orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan
untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Renungan
Nasib seseorang sering kali tidak bisa direncanakan. Perjumpaan tak
terduga dengan seseorang atau dengan suatu peristiwa tertentu dapat
mengubah haluan hidup dan memberi makna baru. Pada awal April 2011
Briptu Norman Kamaru tiba-tiba menjadi terkenal dan masuk dalam kalangan
selebriti gara-gara melantunkan lagu Chaiya-Chaiya disertai goyangan
India dan tersebar melalui youtube. Dalam sekecap hidupnya berubah!
Saul disuruh ayahnya untuk mencari keledai-keledai betina yang hilang.
Di tengah upaya pencarian yang gagal, Saul bertemu dengan Samuel untuk
meminta petunjuk. Perjumpaannya ini mengubah hidupnya. Saul diurapi oleh
Samuel menjadi raja sesuai perintah Tuhan. ”Sungguh, Tuhan telah
mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel. Engkau akan memegang
tampuk pemerintahan atas umat Tuhan” (1Sam. 10:1).
Dari
seorang anak peternak, Saul menjadi raja! Lewi yang duduk di rumah cukai
mengalami hal yang serupa. Yesus datang menjumpai dia dan memanggil dia
untuk mengikuti-Nya. ”Ikutilah Aku!” Kiranya Lewi tidak pernah
menyangka akan mengalami hal seperti ini. De facto seluruh haluan
hidupnya berubah. Dari pemungut cukai, yang terlanjur dicap sebagai
pendosa, menjadi murid Yesus yang diutus untuk mewartakan kabar
sukacita-Nya. Kita juga mencatat bahwa di dalam kedua kisah ini ada
Tuhan yang mengambil inisiatif dan yang berkarya.
Baiklah kita
merefleksikan orang-orang atau peristiwa-peristiwa yang mengubah hidup
kita masing-masing dan memberi makna baru bagi haluan hidup kita serta
bagaimana Tuhan bekerja di dalam semuanya itu.
Doa: Tuhan yang
mahabaik, karya-Mu sungguh agung dan tidak terduga. Aku bersyukur karena
Engkau berkenan menuntun hidupku menjadi baru di dalam Dikau. Amin.
sumber:ziarah batin 2012
Selasa, 10 Januari 2012
Rabu,11 Januari 2012
Rabu,11 Januari 2012
PEKAN BIASA I (H)
St. Aleksander, Paus; St. Petrus Balsamus; St. Teodorus Cenobiarch
Bacaan I : 1Sam. 3:1–10.19–20
Mazmur : 40:2.5.7–8a.8b–9.10; R: 8a.9a
Bacaan Injil : Mrk. 1:29–39
Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Renungan
Yesus seorang yang amat sibuk. Membaca kutipan Injil hari ini kita dapat membayangkan kesibukan luar biasa dari Yesus yang penuh aktivitas: mengajar di rumah ibadat, mengadakan kunjungan ke rumah ibu mertua Simon yang sedang menderita sakit demam, menghadapi banyak orang yang menderita berbagai macam penyakit dan yang kerasukan setan. ”Semua orang mencari Engkau” (Mrk. 1:37). Mereka semua dilayani oleh Yesus dengan baik tanpa bersungut-sungut dan disembuhkan. Semua diterima dan disapa-Nya. Namun, dalam kelelahan karya pun Yesus tetap menyempatkan diri untuk mencari tempat yang sunyi untuk berdoa.
Kita juga mungkin menghadapi kesumpekan pekerjaan kita. Ada pekerjaan ini dan itu. Kadang kita mungkin merasa tidak berdaya untuk menyelesaikan semuanya. Kita menghitung-hitung waktu dan fasilitas yang ada. Belum lagi orang lain yang datang untuk meminta kita mengulurkan tangan atau mengerjakan sesuatu. Yesus memberi contoh kepada kita. Dengan tenang Ia menghadapi aktivitasnya. Yang penting ialah kita mengerjakan semuanya dengan baik, dan orang yang mendatangi kita dilayani dengan hati.
Kita dipanggil Tuhan untuk maksud melayani dan berbuat baik. Apakah kita pernah merefleksikan panggilan Tuhan itu? Barangkali Tuhan mendatangi kita, tetapi kita tidak mengenali suara-Nya yang memanggil, seperti pengalaman Samuel. Ketika akhirnya kita sadar, kita berucap: ”Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan” (1Sam. 3:10).
Doa
Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas panggilan dan kepercayaan-Mu untuk mengutus aku melayani sesamaku. Dampingilah aku untuk mengerjakan segalanya dengan baik. Amin.
PEKAN BIASA I (H)
St. Aleksander, Paus; St. Petrus Balsamus; St. Teodorus Cenobiarch
Bacaan I : 1Sam. 3:1–10.19–20
Mazmur : 40:2.5.7–8a.8b–9.10; R: 8a.9a
Bacaan Injil : Mrk. 1:29–39
Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Renungan
Yesus seorang yang amat sibuk. Membaca kutipan Injil hari ini kita dapat membayangkan kesibukan luar biasa dari Yesus yang penuh aktivitas: mengajar di rumah ibadat, mengadakan kunjungan ke rumah ibu mertua Simon yang sedang menderita sakit demam, menghadapi banyak orang yang menderita berbagai macam penyakit dan yang kerasukan setan. ”Semua orang mencari Engkau” (Mrk. 1:37). Mereka semua dilayani oleh Yesus dengan baik tanpa bersungut-sungut dan disembuhkan. Semua diterima dan disapa-Nya. Namun, dalam kelelahan karya pun Yesus tetap menyempatkan diri untuk mencari tempat yang sunyi untuk berdoa.
Kita juga mungkin menghadapi kesumpekan pekerjaan kita. Ada pekerjaan ini dan itu. Kadang kita mungkin merasa tidak berdaya untuk menyelesaikan semuanya. Kita menghitung-hitung waktu dan fasilitas yang ada. Belum lagi orang lain yang datang untuk meminta kita mengulurkan tangan atau mengerjakan sesuatu. Yesus memberi contoh kepada kita. Dengan tenang Ia menghadapi aktivitasnya. Yang penting ialah kita mengerjakan semuanya dengan baik, dan orang yang mendatangi kita dilayani dengan hati.
Kita dipanggil Tuhan untuk maksud melayani dan berbuat baik. Apakah kita pernah merefleksikan panggilan Tuhan itu? Barangkali Tuhan mendatangi kita, tetapi kita tidak mengenali suara-Nya yang memanggil, seperti pengalaman Samuel. Ketika akhirnya kita sadar, kita berucap: ”Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan” (1Sam. 3:10).
Doa
Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas panggilan dan kepercayaan-Mu untuk mengutus aku melayani sesamaku. Dampingilah aku untuk mengerjakan segalanya dengan baik. Amin.
Senin, 09 Januari 2012
Selasa, 10 Januari 2012
Selasa, 10 Januari 2012
PEKAN BIASA I (H)
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
St. Gregorius X, Paus; St. Agatho, Paus; St. Petrus Orseola; St. Gregorius Nyssa
Bacaan I : 1Sam. 1:9–20Mazmur : 1Sam. 2:1.4–5.6–7.8abcd; R: 1a
Bacaan Injil : Mrk. 1:21b–28
Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk
ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar
pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,
tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Pada waktu itu di dalam rumah ibadat
itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: ”Apa
urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak
membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”
Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: ”Diam, keluarlah dari padanya!”
Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan
suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga
mereka memperbincangkannya, katanya: ”Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia
berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka
taat kepada-Nya.” Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke
segala penjuru di seluruh Galilea.
Renungan
”Hatiku
bersukaria karena Tuhan, Penyelamatku.” Inilah refrein Mazmur tanggapan
hari ini. Patutlah kita bersukaria karena kita mengalami kuasa Allah
yang menaungi, membebaskan dan menyelamatkan. Dalam bacaan pertama, Hana
mengalami kuasa Allah melalui pengabulan doanya di Bait Suci. Doa
khusuk, penuh iman dan disertai nazar, yang dipanjatkan kepada Allah
mempunyai kuasa untuk mengubah yang mustahil secara manusiawi menjadi
mungkin. Hana, yang sudah lama merindukan seorang anak, diberi seorang
anak laki-laki yang kemudian diberi nama Samuel, yang berarti ”Aku telah
memintanya dari Tuhan.” Doa dari hati mempunyai daya kekuatan yang
besar.
Dalam bacaan Injil disebutkan bahwa Yesus mengajar sebagai
orang yang berkuasa. Mengajar dan menyembuhkan adalah kegiatan-kegiatan
utama misi Yesus. Ketika Yesus mengajar, mengkomunikasikan
pesan-pesan-Nya serta visi-Nya tentang kehidupan, para pendengar-Nya
sangat terkesan, karena tidak seperti para ahli Taurat, Yesus berbicara
penuh kuasa dan wibawa. Ia tidak sekadar menafsirkan dan memberi makna
pada Kitab Suci, tetapi lebih dari itu kuasa pengajaran-Nya
memberdayakan dan membebaskan, menyejukkan dan melegakan. Pengajaran-Nya
tidak opresif dan menakutkan. Kuasa-Nya menjangkau seorang yang
kerasukan roh jahat dan membebaskannya.
Mempercayakan diri kepada
kuasa Yesus yang memberdayakan dan membebaskan adalah sikap kita yang
tepat untuk mendengarkan ajaran-Nya serta mengalami penyembuhan dan
pembebasan dari beban-beban kehidupan kita sehari-hari. Kita pun dapat
berseru: ”Hatiku bersukaria karena Tuhan, Penyelamatku.”
Doa
Tuhan Yesus Kristus, sabda-Mu adalah hidup dan kebenaran. Semoga
kuasa-Mu tetap menaungi dan menyelamatkan aku yang berpasrah kepada-Mu.
Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Jumat, 06 Januari 2012
Sabtu, 7 Januari 2012
HARI BIASA MASA NATAL (P)
St. Raymundus dr Penafort; St. Lusianus
Bacaan I: 1 Yoh. 5:14–21
Mazmur : 149:1–2.3–4.5.6a.9b; R: 4a
Bacaan Injil : Yoh. 2:1–12
Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: ”Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: ”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: ”Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: ”Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu—dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya—ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: ”Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja.
Renungan
Bagi orang beriman doa merupakan sesuatu yang esensial dan tidak terpisahkan dari hidupnya. Melalui doa kita mengakui kekuasaan dan kebaikan Allah serta kebutuhan dan ketergantungan kita. Oleh karena itu, dalam kebutuhan manusiawi kita Dia kita puji, sembah, muliakan. Kepada-Nya kita mengucap syukur dan menyampaikan permohonan-permohonan kita.
Rasul Yohanes meyakinkan kita bahwa ”Allah mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” (1Yoh. 5:14). Sering kali kita lebih cenderung meminta agar doa-doa kita dikabulkan menurut selera, kemauan atau kehendak kita, seakan-akan kita memaksa Allah untuk memenuhi permintaan kita. Ketika kita meminta sesuatu menurut kehendak-Nya, kita mengungkapkan kepasrahan dan iman kita kepada Dia yang kita akui berkuasa dan mahabaik kepada kita. Ia mengetahui waktu yang tepat bagi kita.
Ketika Yesus dan ibu-Nya, Maria, hadir di pesta nikah di Kana, Maria peka akan kebutuhan anggur yang baru. Ia datang kepada Putra-Nya dan berkata: ”Mereka kehabisan anggur.” Maria tidak berkata banyak. Kata-katanya singkat dan padat. Ia memasrahkan semuanya kepada Yesus. Yesus memahami kebutuhan yang ada. Ia tahu tindakan apa yang harus diambil dan kapan. Yesus dan Maria hadir tepat pada waktunya di Kana dan juga di tengah kebutuhan-kebutuhan kita sebagai murid-murid-Nya dan anak-anaknya.
Doa: Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah iman dan harapanku bahwa Engkau dan Bunda Maria senantiasa hadir memenuhi kebutuhan-kebutuhanku. Amin.
sumber: ziarah batin 2012
Kamis, 05 Januari 2012
Jumat, 6 Januari 2012
Jumat, 6 Januari 2012
HARI BIASA MASA NATAL (P)
Kaspar, Melkior, dan Balthasar (Tiga Raja) B. Didakus Yosef dr Sadiz
Bacaan I : 1Yoh. 5:5–13
Mazmur : 147:12–13.14–15.19–20; R: 12a
Bacaan Injil : Mrk. 1:7–11
Inilah yang diberitakannya: ”Sesudah aku akan datang Ia yang lebih
berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku
tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis
kamu dengan Roh Kudus.” Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di
tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat
Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung
merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga:
”Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”
Renungan
Pada suatu hari, tiga Romo berdiskusi tentang kelelawar-kelelawar yang
menghinggapi Gereja mereka masing-masing. Mereka saling berbagi cerita
tentang cara ampuh untuk mengusir kelelawar-kelelawar itu dari dalam
Gereja karena dianggap mengganggu. Romo A berkata: ”Saya mengambil
senapan lalu menembaki mereka satu per satu; banyak yang mati, tetapi
masih banyak yang tetap hidup.” Romo B berkata: ”Saya sudah menyemprot
mereka dengan pestisida, tetapi mereka malahan bertambah banyak.” Romo C
menimpali dengan berkata: ”Saya sudah bebas dari masalah kelelawar.”
”Apa yang kaubuat?” tanya kedua rekan Romo lain penuh rasa ingin tahu.
”Saya baptis mereka; sesudah itu saya tidak melihat mereka lagi di dalam
Gereja. Mereka sudah pergi keluar.”
Injil hari ini mengisahkan
tentang baptisan Yohanes dengan air dan baptisan Yesus dengan Roh: ”Aku
membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh
Kudus” (Mrk. 1:8). Baptisan mempunyai dimensi misioner atau perutusan.
Mereka yang dibaptis tidak sekadar menjadi anggota Gereja, tetapi diutus
untuk pergi memberi kesaksian tentang cinta dan kebaikan Allah. Ada
banyak anggota umat yang penuh kesetiaan dan komitmen menjalankan tugas
perutusan yang luhur ini. Namun, kita masih menemukan mereka yang sudah
dibaptis, tetapi hanya menjadi baptisan KTP, jarang ke Gereja atau
berdoa; mereka menjadi baptisan nominal, yakni hanya nama saja. Ada juga
baptisan yang tidak terbentuk dalam nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan
Kristiani. Mereka tidak peduli dengan ajaran-ajaran dan
kewajiban-kewajiban sebagai orang-orang yang dibaptis. Ada pula yang
acuh tak acuh, tidak mau tahu dan tidak mau terlibat dengan perutusan
Gereja.
Baptisan mengingatkan kita akan martabat sebagai anak-anak
Allah yang mendapat tugas perutusan untuk pergi ”memberitakan Injil ke
seluruh dunia agar segala bangsa menjadi murid-murid-Nya” (Mat. 28:19;
Mrk. 16:15).
Doa
Tuhan Yesus Kristus, penuhilah aku dengan
Roh-Mu dan nyalakanlah hatiku dengan sukacita Injil, agar aku sanggup
memberi kesaksian tentang cinta dan kebaikan-Mu. Amin.
sumber:ziarah batin 2012
Rabu, 04 Januari 2012
Kamis, 5 Januari 2012
HARI BIASA MASA NATAL (P)
St. Simeon Stylites Tua;
St. Yohanes Nepomuk Neumann; B. Karolus Houben
Bacaan I: 1Yoh. 3:11–21
Mazmur : 100:1–2.3.4.5; R: 1
Bacaan Injil : Yoh. 1:43–51
Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: ”Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”
Kata Natanael kepadanya: ”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: ”Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
Kata Natanael kepada-Nya: ”Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: ”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: ”Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: ”Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Renungan
Sikap skeptis berupa rasa curiga, tidak mudah percaya dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di zaman-Nya, Yesus juga menghadapi sikap skeptis dari Natanael, yang bahkan memberi komentar sinis: ”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46). Tampaknya Natanael tidak menyukai Nazaret, tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di sana dan tidak mau berhubungan dengan orang-orang di sana. Baginya tidak mungkin seorang Mesias datang dari kota kecil yang tidak terkenal.
Kita juga bisa tergoda mengikuti sikap Natanael, yakni menolak orang-orang lain atau mengambil jarak dari mereka, karena mereka berasal dari kalangan, suku, daerah atau posisi yang kita tidak sukai. Kadangkala menolak, meragukan atau tidak percaya akan kelebihan dan kemampuan orang lain. Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari si A atau si B, atau dari daerah atau suku C atau D?
Rekannya Filipus mengambil strategi yang lebih bijaksana, yakni mengundang Natanael untuk ”mari dan lihatlah!” (Yoh. 1:47), yakni untuk mengalami secara pribadi siapakah Yesus itu. Ketika berjumpa dengan Yesus secara langsung, Natanael menemukan dalam diri-Nya hal-hal yang melampaui harapan dan impiannya. Yesus mengetahui pemikiran dan kedalaman hatinya dan mewahyukan kepadanya keinginannya yang terdalam, yakni mengenal Dia secara pribadi. Yesus menghantar Natanael pada iman yang baru. Yesus juga menyukai sifat dan sikapnya yang penuh ketulusan dan tidak berpura-pura. ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh. 1:47).
Doa: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku hati yang murni dan tulus, untuk semakin mengenal Engkau; jauhkanlah aku dari sikap berpura-pura dan munafik. Amin.
HARI BIASA MASA NATAL (P)
St. Simeon Stylites Tua;
St. Yohanes Nepomuk Neumann; B. Karolus Houben
Bacaan I: 1Yoh. 3:11–21
Mazmur : 100:1–2.3.4.5; R: 1
Bacaan Injil : Yoh. 1:43–51
Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: ”Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”
Kata Natanael kepadanya: ”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: ”Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
Kata Natanael kepada-Nya: ”Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: ”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: ”Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: ”Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Renungan
Sikap skeptis berupa rasa curiga, tidak mudah percaya dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di zaman-Nya, Yesus juga menghadapi sikap skeptis dari Natanael, yang bahkan memberi komentar sinis: ”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46). Tampaknya Natanael tidak menyukai Nazaret, tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di sana dan tidak mau berhubungan dengan orang-orang di sana. Baginya tidak mungkin seorang Mesias datang dari kota kecil yang tidak terkenal.
Kita juga bisa tergoda mengikuti sikap Natanael, yakni menolak orang-orang lain atau mengambil jarak dari mereka, karena mereka berasal dari kalangan, suku, daerah atau posisi yang kita tidak sukai. Kadangkala menolak, meragukan atau tidak percaya akan kelebihan dan kemampuan orang lain. Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari si A atau si B, atau dari daerah atau suku C atau D?
Rekannya Filipus mengambil strategi yang lebih bijaksana, yakni mengundang Natanael untuk ”mari dan lihatlah!” (Yoh. 1:47), yakni untuk mengalami secara pribadi siapakah Yesus itu. Ketika berjumpa dengan Yesus secara langsung, Natanael menemukan dalam diri-Nya hal-hal yang melampaui harapan dan impiannya. Yesus mengetahui pemikiran dan kedalaman hatinya dan mewahyukan kepadanya keinginannya yang terdalam, yakni mengenal Dia secara pribadi. Yesus menghantar Natanael pada iman yang baru. Yesus juga menyukai sifat dan sikapnya yang penuh ketulusan dan tidak berpura-pura. ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh. 1:47).
Doa: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku hati yang murni dan tulus, untuk semakin mengenal Engkau; jauhkanlah aku dari sikap berpura-pura dan munafik. Amin.
Senin, 02 Januari 2012
Selasa, 3 Januari 2012
Pesta Nama Yesus yang Tersuci
st. Anterus, Paus; St. Fulgensius
Bacaan I: 1Yoh. 2:29–3:6
Mazmur : 98:1.3c–4.5-6; R: 3cd
Bacaan Injil : Yoh. 1:29–34
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: ”Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ”Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”
Renungan
Dari waktu ke waktu kita senang memperkenalkan seseorang kepada orang lain, entah dia anggota keluarga kita, kenalan atau sahabat kita. Diharapkan semakin kita mengenal seseorang semakin kita mencintainya pula.
Dalam Injil hari ini Yohanes pertama-tama memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yohanes memperkenalkan misi Yesus sebagai hamba Yahweh yang menderita, yang menanggung dosa banyak orang (Yes. 53:7, 12). Kedua, Yesus dilukiskan sebagai pribadi yang dipenuhi oleh Roh Kudus. ”Aku melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atas-Nya.” Yesus ini juga yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dengan daya Roh yang sama Yesus melayani.
Sebagai murid-murid-Nya kita juga diundang untuk terus-menerus mengintensifkan pengenalan kita akan pribadi Yesus yang kaya dan misi-Nya yang luas serta memperkenalkan Dia kepada saudara-saudari kita. Ketika kita melakukan hal ini kita ikut serta dalam pelayanan-Nya dan oleh karenanya kita pun diberi daya Roh Kudus-Nya. Pelayanan kita menjadi tidak bermakna kalau terpisah dari Roh.
Doa: Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu agar aku mampu semakin lebih mengenal Engkau dan semakin berdaya untuk memperkenalkan Engkau dan perutusan-Mu kepada semakin banyak orang. Amin.
sumber: ziarah batin 2012
Pesta Nama Yesus yang Tersuci
st. Anterus, Paus; St. Fulgensius
Bacaan I: 1Yoh. 2:29–3:6
Mazmur : 98:1.3c–4.5-6; R: 3cd
Bacaan Injil : Yoh. 1:29–34
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: ”Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ”Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”
Renungan
Dari waktu ke waktu kita senang memperkenalkan seseorang kepada orang lain, entah dia anggota keluarga kita, kenalan atau sahabat kita. Diharapkan semakin kita mengenal seseorang semakin kita mencintainya pula.
Dalam Injil hari ini Yohanes pertama-tama memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yohanes memperkenalkan misi Yesus sebagai hamba Yahweh yang menderita, yang menanggung dosa banyak orang (Yes. 53:7, 12). Kedua, Yesus dilukiskan sebagai pribadi yang dipenuhi oleh Roh Kudus. ”Aku melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atas-Nya.” Yesus ini juga yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dengan daya Roh yang sama Yesus melayani.
Sebagai murid-murid-Nya kita juga diundang untuk terus-menerus mengintensifkan pengenalan kita akan pribadi Yesus yang kaya dan misi-Nya yang luas serta memperkenalkan Dia kepada saudara-saudari kita. Ketika kita melakukan hal ini kita ikut serta dalam pelayanan-Nya dan oleh karenanya kita pun diberi daya Roh Kudus-Nya. Pelayanan kita menjadi tidak bermakna kalau terpisah dari Roh.
Doa: Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu agar aku mampu semakin lebih mengenal Engkau dan semakin berdaya untuk memperkenalkan Engkau dan perutusan-Mu kepada semakin banyak orang. Amin.
sumber: ziarah batin 2012
Kamis, 29 Desember 2011
Sabtu, 31 Desember 2011(ziarah batin 2011)
Sabtu, 31 Desember 2011
Hari ke-7 Oktaf Natal (P)
Sta. Melania; St. Silvester I, Paus
Bacaan I: 1Yoh. 2:18–21
Mazmur : 96:1–2,11–12,13; R: 11a
Bacaan Injil : Yoh. 1:1–18
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: ”Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Renungan
Hari terakhir di tahun ini. Banyak dari kita sibuk membuat acara untuk menyambut tahun yang baru. Saatnya kembali menoleh ke belakang. Banyak hal yang terjadi. Ada kegagalan, ada keberhasilan, ada kejutan. Mungkin ada sahabat kita yang telah berubah menjadi pembenci kita, tetapi mungkin ada pula yang semula memusuhi kita sekarang justru menjadi sahabat kita. Kita pun bisa bertanya, apakah kita ini sungguh menjadi sahabat Tuhan, atau sebaliknya, tanpa sadar kita menjadi musuh-Nya.
Banyak orang akhirnya memusuhi Tuhan karena terus berpegang pada cara berpikir mereka sendiri. Cara bertindak Tuhan dinilai tidak masuk akal, tidak relevan, bahkan keliru. Mereka yang tetap setia diajak untuk percaya bahwa mereka telah diberi kuasa untuk sungguh hidup sebagai anak-anak Allah. Kita diundang untuk menggunakan kuasa itu seturut kehendak-Nya. Hanya di dalam Dia ada hidup. Hanya dalam Dia segala pengalaman tahun ini punya arti. Hanya dalam Dia tahun yang baru akan bermakna. Selamat menyambut Tahun Baru. Tuhan Memberkati.
Doa: Yesus, langit dan bumi bersorak-sorai bagi-Mu. Kupersembahkan segala yang terjadi selama tahun ini, dan segala yang akan terjadi di tahun yang baru ini. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Hari ke-7 Oktaf Natal (P)
Sta. Melania; St. Silvester I, Paus
Bacaan I: 1Yoh. 2:18–21
Mazmur : 96:1–2,11–12,13; R: 11a
Bacaan Injil : Yoh. 1:1–18
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: ”Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Renungan
Hari terakhir di tahun ini. Banyak dari kita sibuk membuat acara untuk menyambut tahun yang baru. Saatnya kembali menoleh ke belakang. Banyak hal yang terjadi. Ada kegagalan, ada keberhasilan, ada kejutan. Mungkin ada sahabat kita yang telah berubah menjadi pembenci kita, tetapi mungkin ada pula yang semula memusuhi kita sekarang justru menjadi sahabat kita. Kita pun bisa bertanya, apakah kita ini sungguh menjadi sahabat Tuhan, atau sebaliknya, tanpa sadar kita menjadi musuh-Nya.
Banyak orang akhirnya memusuhi Tuhan karena terus berpegang pada cara berpikir mereka sendiri. Cara bertindak Tuhan dinilai tidak masuk akal, tidak relevan, bahkan keliru. Mereka yang tetap setia diajak untuk percaya bahwa mereka telah diberi kuasa untuk sungguh hidup sebagai anak-anak Allah. Kita diundang untuk menggunakan kuasa itu seturut kehendak-Nya. Hanya di dalam Dia ada hidup. Hanya dalam Dia segala pengalaman tahun ini punya arti. Hanya dalam Dia tahun yang baru akan bermakna. Selamat menyambut Tahun Baru. Tuhan Memberkati.
Doa: Yesus, langit dan bumi bersorak-sorai bagi-Mu. Kupersembahkan segala yang terjadi selama tahun ini, dan segala yang akan terjadi di tahun yang baru ini. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Jumat, 30 Desember 2011~Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf(ziarah batin 2011)
Jumat, 30 Desember 2011Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf (P)
St. Sabinus
Bacaan I: Kej. 15:1–6; 21:1–3
Mazmur : 105:1b–2,3–4,5–6,8–9; R: 7a,8a
Bacaan Injil : Luk. 2:36–40
Lagipula
di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer.
Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun
lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan
puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang
malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga
datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara
tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk
Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum
Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di
Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan
kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Renungan
Sebuah janji memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah untuk dipenuhi. Janji di depan altar antara seorang perempuan dan seorang lelaki untuk setia seumur hidup dan membangun sebuah keluarga akan membutuhkan waktu untuk dipenuhi. Tidak ada seorang pun yang sudah bisa tahu secara persis bagaimana jalan kehidupan pasangan dan keluarga baru itu. Janji manusia yang lemah hanya bisa didasarkan pada janji setia Tuhan yang tak akan pernah lalai mendampingi kita.
Bila Tuhan berani setia pada janji-Nya kepada Abraham dengan memberikan Ishak kepadanya, Tuhan pun berani setia pada janji-Nya kepada kita masing-masing. Bagaimana persisnya Tuhan bekerja memenuhi janji-Nya tentu kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Yang bisa kita lakukan adalah terus melangkah bersama-Nya. Yusuf dan Maria pun menyaksikan bahwa kanak-kanak Yesus bertambah besar dan bertumbuh dalam hikmat Tuhan sendiri. Tuhan memiliki irama kerja yang unik.
Doa: Yesus, hanya Engkaulah Tuhan. Inilah aku, inilah keluargaku. Aku percaya bahwa Engkau selalu setia memenuhi janji-Mu. Aku melangkah bersama-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
St. Sabinus
Bacaan I: Kej. 15:1–6; 21:1–3
Mazmur : 105:1b–2,3–4,5–6,8–9; R: 7a,8a
Bacaan Injil : Luk. 2:36–40
Renungan
Sebuah janji memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah untuk dipenuhi. Janji di depan altar antara seorang perempuan dan seorang lelaki untuk setia seumur hidup dan membangun sebuah keluarga akan membutuhkan waktu untuk dipenuhi. Tidak ada seorang pun yang sudah bisa tahu secara persis bagaimana jalan kehidupan pasangan dan keluarga baru itu. Janji manusia yang lemah hanya bisa didasarkan pada janji setia Tuhan yang tak akan pernah lalai mendampingi kita.
Bila Tuhan berani setia pada janji-Nya kepada Abraham dengan memberikan Ishak kepadanya, Tuhan pun berani setia pada janji-Nya kepada kita masing-masing. Bagaimana persisnya Tuhan bekerja memenuhi janji-Nya tentu kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Yang bisa kita lakukan adalah terus melangkah bersama-Nya. Yusuf dan Maria pun menyaksikan bahwa kanak-kanak Yesus bertambah besar dan bertumbuh dalam hikmat Tuhan sendiri. Tuhan memiliki irama kerja yang unik.
Doa: Yesus, hanya Engkaulah Tuhan. Inilah aku, inilah keluargaku. Aku percaya bahwa Engkau selalu setia memenuhi janji-Mu. Aku melangkah bersama-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
Rabu, 28 Desember 2011
Kamis, 29 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Kamis, 29 Desember 2011
Hari ke- 5 Oktaf Natal (P)St. Thomas Becket dr Canterbury; St. Kaspar Del Bufalo;
Daud (Raja Israel)
Bacaan I: 1Yoh. 2:3–11
Mazmur : 96:1–2a,2b–3,5b–6; R: 11a
Bacaan Injil : Luk. 2:22–35
Dan
ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka
membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada
tertulis dalam hukum Tuhan: ”Semua anak laki-laki sulung harus
dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa
yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau
dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Renungan
Bila lampu tiba-tiba padam dan kegelapan menyelimuti kita, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tetaplah diam. Bukalah mata lebar-lebar hingga mata mulai menyesuaikan diri dalam kegelapan itu. Jika kita begitu saja cepat-cepat terus berjalan, sangatlah mungkin kita akan menabrak bahkan memecahkan perabot rumah kita. Untuk mencintai sesama pun kita membutuhkan waktu sampai mata hati kita bisa melihat.
Bila tidak, kita akan cepat membenci orang itu dan menganggapnya penyakit menular yang harus dihindari.
Simeon telah lama mengolah hatinya sehingga bisa melihat dengan tajam. Ia mengenali tangan Tuhan yang berkarya dalam diri bayi mungil Yesus yang sedang dipersembahkan. Jika Yesus sebagai Terang bagi bangsa-bangsa itu sungguh dibiarkan bercahaya, setiap kenyataan akan terlihat apa adanya. Orang harus membuat pilihan. Kenyataan yang jahat harus diakui sebagai yang jahat tanpa ditutup-tutupi dengan polesan cantik. Sebaliknya, yang baik harus dipegang teguh dengan segala risikonya.
Doa: Yesus, langit dan bumi bersorak-sorai memandang Engkau. Berilah aku mata yang baru untuk mengenali kenyataan dan membuat pilihan yang tepat. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Hari ke- 5 Oktaf Natal (P)St. Thomas Becket dr Canterbury; St. Kaspar Del Bufalo;
Daud (Raja Israel)
Bacaan I: 1Yoh. 2:3–11
Mazmur : 96:1–2a,2b–3,5b–6; R: 11a
Bacaan Injil : Luk. 2:22–35
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Renungan
Bila lampu tiba-tiba padam dan kegelapan menyelimuti kita, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tetaplah diam. Bukalah mata lebar-lebar hingga mata mulai menyesuaikan diri dalam kegelapan itu. Jika kita begitu saja cepat-cepat terus berjalan, sangatlah mungkin kita akan menabrak bahkan memecahkan perabot rumah kita. Untuk mencintai sesama pun kita membutuhkan waktu sampai mata hati kita bisa melihat.
Bila tidak, kita akan cepat membenci orang itu dan menganggapnya penyakit menular yang harus dihindari.
Simeon telah lama mengolah hatinya sehingga bisa melihat dengan tajam. Ia mengenali tangan Tuhan yang berkarya dalam diri bayi mungil Yesus yang sedang dipersembahkan. Jika Yesus sebagai Terang bagi bangsa-bangsa itu sungguh dibiarkan bercahaya, setiap kenyataan akan terlihat apa adanya. Orang harus membuat pilihan. Kenyataan yang jahat harus diakui sebagai yang jahat tanpa ditutup-tutupi dengan polesan cantik. Sebaliknya, yang baik harus dipegang teguh dengan segala risikonya.
Doa: Yesus, langit dan bumi bersorak-sorai memandang Engkau. Berilah aku mata yang baru untuk mengenali kenyataan dan membuat pilihan yang tepat. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Kamis, 22 Desember 2011
Jumat, 23 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Jumat, 23 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) St. Yohanes dr Kety; St. Servulus
Bacaan I: Mal. 3:1-4; 4:5-6
Mazmur : 25:4bc-5ab,8-9,10,14 R: Luk. 21:28
Bacaan Injil : Luk. 1:57-66
Kemudian
genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan
seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak
saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang
begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.
Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak
itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi
ibunya berkata: ”Jangan, ia harus dinamai Yohanes.”
Kata mereka kepadanya: ”Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: ”Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Renungan
Sejumlah pengendara sepeda motor yang sengaja tidak mengambil jalur lambat tiba-tiba terkejut ketika ternyata di depan mata ada sekelompok polisi menghentikan mereka. Untuk lari atau berbalik sudah terlambat. Tidak jarang Tuhan juga bertindak secara tiba-tiba di luar perkiraan kita. Bila saatnya tiba, Tuhan pun tak perlu meminta izin kepada kita untuk melaksanakan rencana-Nya. Saat yang mengejutkan itu sering sengaja dipilih oleh Tuhan ketika kita tidak siap, karena justru dengan cara itulah kita dimurnikan.
Kita disadarkan bahwa kita melakukan yang baik karena memang kita menghendaki yang baik, bukan karena takut akan hukuman. Kerabat Zakharia dikejutkan ketika anak yang baru dilahirkan itu harus diberi nama Yohanes. Mereka pun dibuat bertanya-tanya. Tindakan Tuhan yang mengejutkan hanya bisa diterima, meskipun kita tidak selalu bisa memahami sepenuhnya pada saat itu terjadi. Dengan cara itu, kita pun diundang untuk melangkah hanya dalam keyakinan bahwa rencana-Nya itulah yang terbaik.
Doa: Yesus, aku bangkit dan mengangkat mukaku karena aku tahu penyelamatanku sudah dekat. Aku tidak selalu memahami Engkau, tetapi aku tetap melangkah. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) St. Yohanes dr Kety; St. Servulus
Bacaan I: Mal. 3:1-4; 4:5-6
Mazmur : 25:4bc-5ab,8-9,10,14 R: Luk. 21:28
Bacaan Injil : Luk. 1:57-66
Kata mereka kepadanya: ”Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: ”Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Renungan
Sejumlah pengendara sepeda motor yang sengaja tidak mengambil jalur lambat tiba-tiba terkejut ketika ternyata di depan mata ada sekelompok polisi menghentikan mereka. Untuk lari atau berbalik sudah terlambat. Tidak jarang Tuhan juga bertindak secara tiba-tiba di luar perkiraan kita. Bila saatnya tiba, Tuhan pun tak perlu meminta izin kepada kita untuk melaksanakan rencana-Nya. Saat yang mengejutkan itu sering sengaja dipilih oleh Tuhan ketika kita tidak siap, karena justru dengan cara itulah kita dimurnikan.
Kita disadarkan bahwa kita melakukan yang baik karena memang kita menghendaki yang baik, bukan karena takut akan hukuman. Kerabat Zakharia dikejutkan ketika anak yang baru dilahirkan itu harus diberi nama Yohanes. Mereka pun dibuat bertanya-tanya. Tindakan Tuhan yang mengejutkan hanya bisa diterima, meskipun kita tidak selalu bisa memahami sepenuhnya pada saat itu terjadi. Dengan cara itu, kita pun diundang untuk melangkah hanya dalam keyakinan bahwa rencana-Nya itulah yang terbaik.
Doa: Yesus, aku bangkit dan mengangkat mukaku karena aku tahu penyelamatanku sudah dekat. Aku tidak selalu memahami Engkau, tetapi aku tetap melangkah. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Rabu, 21 Desember 2011
Kamis, 22 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Kamis, 22 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) St. Teodoros; St. Yosef Moscati
Bacaan I: 1Sam. 1:24–28
Mazmur : 1Sam. 2:1,4–5,6–7,8abcd; R: 1a
Bacaan Injil : Luk. 1:46–56
Lalu
kata Maria: ”Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena
Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan
hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan
menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan
perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan
rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia
memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan
mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan
orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang
yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong
Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang
dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya
untuk selama-lamanya.”
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Renungan
Orang meremehkan Susan Boyle ketika ia tampil dalam acara Britain’s Got Talent April 2009 yang lalu. Namun demikian, akhirnya seluruh dunia tercengang setelah mendengar suara ajaibnya yang begitu menakjubkan. Wajah dan potongan tubuhnya yang tidak meyakinkan itu telah mampu merendahkan banyak penyanyi yang lebih menawan. Kejadian itu bisa menjadi simbol tentang cara kerja Tuhan. Banyak orang yang lemah justru dipersenjatai secara menakjubkan dengan kekuatan Tuhan sendiri.
Hana mempersembahkan Samuel kepada Tuhan sesuai dengan janjinya. Bagi Hana, anaknya itu bukti nyata bahwa Tuhan sungguh menjungkir balikkan penilain buruk tentang dirinya. Maria pun sadar akan keadaan dirinya yang sebenarnya sungguh tak istimewa. Kerendahan atau sisi lemah diri kita perlu kita peluk erat karena justru di sanalah Tuhan akan memperlihatkan kuasa-Nya secara menakjubkan. Kelemahan kita akan diarahkan secara baru oleh rahmat Tuhan sehingga menjadi kekuatan kita.
Doa: Yesus, aku bersukaria karena Engkau Penyelamatku. Sentuhlah bagian yang paling lemah dalam diriku dengan kekuatan-Mu sendiri. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) St. Teodoros; St. Yosef Moscati
Bacaan I: 1Sam. 1:24–28
Mazmur : 1Sam. 2:1,4–5,6–7,8abcd; R: 1a
Bacaan Injil : Luk. 1:46–56
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Renungan
Orang meremehkan Susan Boyle ketika ia tampil dalam acara Britain’s Got Talent April 2009 yang lalu. Namun demikian, akhirnya seluruh dunia tercengang setelah mendengar suara ajaibnya yang begitu menakjubkan. Wajah dan potongan tubuhnya yang tidak meyakinkan itu telah mampu merendahkan banyak penyanyi yang lebih menawan. Kejadian itu bisa menjadi simbol tentang cara kerja Tuhan. Banyak orang yang lemah justru dipersenjatai secara menakjubkan dengan kekuatan Tuhan sendiri.
Hana mempersembahkan Samuel kepada Tuhan sesuai dengan janjinya. Bagi Hana, anaknya itu bukti nyata bahwa Tuhan sungguh menjungkir balikkan penilain buruk tentang dirinya. Maria pun sadar akan keadaan dirinya yang sebenarnya sungguh tak istimewa. Kerendahan atau sisi lemah diri kita perlu kita peluk erat karena justru di sanalah Tuhan akan memperlihatkan kuasa-Nya secara menakjubkan. Kelemahan kita akan diarahkan secara baru oleh rahmat Tuhan sehingga menjadi kekuatan kita.
Doa: Yesus, aku bersukaria karena Engkau Penyelamatku. Sentuhlah bagian yang paling lemah dalam diriku dengan kekuatan-Mu sendiri. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Senin, 19 Desember 2011
Selasa, 20 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Selasa, 20 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) St. Filigon
Bacaan I: Yes. 7:10–14
Mazmur : 24:1–2,3–4ab,5–6; R: lih. 7c,10b
Bacaan Injil : Luk. 1:26–38
Dalam
bulan yang keenam Allah menyuruh Malaikat Gabriel pergi ke sebuah
kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang
bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama
perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata:
”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria
terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah
arti salam itu.
Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Renungan
Dalam dunia kerja dikenal adanya surat peringatan. Tidak jarang pula bila persoalannya begitu serius, setelah surat itu diberikan, atasan kita sendiri memanggil kita. Kita pun tersentak gemetar ketika tiba-tiba sadar bahwa ada kemungkinan kita akan dipecat. Tuhan telah bekerja dengan berbagai cara untuk mengingatkan manusia. Sekian banyak tanda diberikan. Kini ada tanda yang mengejutkan: seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan. Sentakan kadang dibutuhkan untuk membuka mata kita.
Tuhan sungguh beserta kita, Immanuel. Ia ingin kita percaya akan hal ini. Kita diajak untuk berhadapan dengan Tuhan dengan tetap mengakui kekuasaan-Nya yang bisa sangat membuat kita gemetar, tetapi pada saat yang sama kita pun diajak untuk percaya dan tidak takut. Maria sungguh memahami hal ini. Kekuasaan-Nya akan diperlihatkan untuk membela kita. Tuhan tentu tidak ragu menegur kita bila kita bersalah. Sentakan yang tidak enak adalah ungkapan kesungguhan Tuhan yang mengasihi kita.
Doa: Yesus, Engkau segera datang sebagai Raja Kemuliaan bagiku. Aku memberi-Mu kebebasan untuk memperlihatkan kuasa cinta-Mu dalam hidupku. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) St. Filigon
Bacaan I: Yes. 7:10–14
Mazmur : 24:1–2,3–4ab,5–6; R: lih. 7c,10b
Bacaan Injil : Luk. 1:26–38
Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Renungan
Dalam dunia kerja dikenal adanya surat peringatan. Tidak jarang pula bila persoalannya begitu serius, setelah surat itu diberikan, atasan kita sendiri memanggil kita. Kita pun tersentak gemetar ketika tiba-tiba sadar bahwa ada kemungkinan kita akan dipecat. Tuhan telah bekerja dengan berbagai cara untuk mengingatkan manusia. Sekian banyak tanda diberikan. Kini ada tanda yang mengejutkan: seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan. Sentakan kadang dibutuhkan untuk membuka mata kita.
Tuhan sungguh beserta kita, Immanuel. Ia ingin kita percaya akan hal ini. Kita diajak untuk berhadapan dengan Tuhan dengan tetap mengakui kekuasaan-Nya yang bisa sangat membuat kita gemetar, tetapi pada saat yang sama kita pun diajak untuk percaya dan tidak takut. Maria sungguh memahami hal ini. Kekuasaan-Nya akan diperlihatkan untuk membela kita. Tuhan tentu tidak ragu menegur kita bila kita bersalah. Sentakan yang tidak enak adalah ungkapan kesungguhan Tuhan yang mengasihi kita.
Doa: Yesus, Engkau segera datang sebagai Raja Kemuliaan bagiku. Aku memberi-Mu kebebasan untuk memperlihatkan kuasa cinta-Mu dalam hidupku. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Jumat, 16 Desember 2011
Sabtu, 17 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Sabtu, 17 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) Lazarus (Sahabat Yesus), St. Olympias
Bacaan I: Kej. 49:2,8–10
Mazmur : 72:1,3–4b,7–8,17; R: 7
Bacaan Injil : Mat. 1:1–17
Inilah
silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham
memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan
Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari
Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram
memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason
memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas
memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan
raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo
memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan
Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram
memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas,
Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye
memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan
Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah
pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel
memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud
memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan
Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud
memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan
Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus
yang disebut Kristus. Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari
Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan
ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai
Kristus.
Renungan
Kita tidak perlu memeriksa tiap detik bahwa sebuah tanaman sedang bertumbuh. Bila kita terus mengorek tanah untuk memeriksa apakah akar sudah bertambah, kita akan mematikan tanaman itu. Kita hanya perlu belajar mempercayakan prosesnya pada sebuah daya hidup yang akan menemukan bentuknya pada saatnya. Janji Tuhan tidak pernah gagal.
Manusia sering terlalu cepat meremehkan Tuhan bila tidak segera terlihat ada hasilnya. Tuhan kita perlakukan sebagai singa tua yang sudah kehilangan tenaga.
Pertobatan tentu memuat keharusan agar kita mengubah diri kita. Namun, tak kalah pentingnya, kita pun perlu mengubah penilaian kita tentang Tuhan sendiri. Kedatangan Yesus disiapkan sedemikian lama melewati sekian banyak generasi. Silsilah yang ada jelas memperlihatkan betapa Tuhan terus melanjutkan daya hidup bagi pemenuhan janji-Nya tanpa selalu bisa dikenali oleh manusia. Kita perlu membebaskan Tuhan dari penilaian keliru kita tentang Dia agar daya hidup itu sungguh berbuah dalam diri kita.
Doa: Yesus, Engkau bekerja secara tersembunyi bagiku. Ajari aku untuk mengenali karya-Mu dan tidak lagi meremehkan kekuatan-Mu yang perkasa. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U) Lazarus (Sahabat Yesus), St. Olympias
Bacaan I: Kej. 49:2,8–10
Mazmur : 72:1,3–4b,7–8,17; R: 7
Bacaan Injil : Mat. 1:1–17
Renungan
Kita tidak perlu memeriksa tiap detik bahwa sebuah tanaman sedang bertumbuh. Bila kita terus mengorek tanah untuk memeriksa apakah akar sudah bertambah, kita akan mematikan tanaman itu. Kita hanya perlu belajar mempercayakan prosesnya pada sebuah daya hidup yang akan menemukan bentuknya pada saatnya. Janji Tuhan tidak pernah gagal.
Manusia sering terlalu cepat meremehkan Tuhan bila tidak segera terlihat ada hasilnya. Tuhan kita perlakukan sebagai singa tua yang sudah kehilangan tenaga.
Pertobatan tentu memuat keharusan agar kita mengubah diri kita. Namun, tak kalah pentingnya, kita pun perlu mengubah penilaian kita tentang Tuhan sendiri. Kedatangan Yesus disiapkan sedemikian lama melewati sekian banyak generasi. Silsilah yang ada jelas memperlihatkan betapa Tuhan terus melanjutkan daya hidup bagi pemenuhan janji-Nya tanpa selalu bisa dikenali oleh manusia. Kita perlu membebaskan Tuhan dari penilaian keliru kita tentang Dia agar daya hidup itu sungguh berbuah dalam diri kita.
Doa: Yesus, Engkau bekerja secara tersembunyi bagiku. Ajari aku untuk mengenali karya-Mu dan tidak lagi meremehkan kekuatan-Mu yang perkasa. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Kamis, 15 Desember 2011
Jumat, 16 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Jumat, 16 Desember 2011
St. Sturmius, Sta. Teofanu; B. Maria dr Malaikat
Bacaan I: Yes. 56:1–3a,6–8
Mazmur : 67:2–3,5,7–8; R: 4a
Bacaan Injil : Yoh. 5:33–36
”Kamu
telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang
kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun
Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang
menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja
cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting
daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa
kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang
Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku,
bahwa Bapa yang mengutus Aku.”
Renungan
Kecantikan sejati muncul dari dalam. Demikian bunyi ajaran bijak. Jika tidak ada kecantikan dari dalam, polesan indah di bagian luar pasti akan terasa hampa pada saatnya. Tuhan melakukan banyak hal baik. Sedemikian baiknya Tuhan, hingga Ia pun ingin merangkul sebanyak mungkin orang, termasuk orang-orang di luar bangsa Israel sendiri. Mereka yang sudah percaya pun memancarkan keindahan dari dalam yang juga memikat banyak orang. Semua akan bersukacita di dalam rumah doa bagi Tuhan.
Yohanes Pembaptis tentu secara lahiriah tidak menarik. Namun, dari dalam dirinya terpancar sebuah kekuatan, keindahan, kebeningan. Ia adalah pelita yang menyala dalam kegelapan. Perkataannya tegas dan memang perlu disuarakan. Namun, lebih penting dari itu adalah pekerjaannya. Yesus pun demikian. Hidup dan pekerjaan yang secara setia dilakukan-Nya menegaskan bahwa Ia sungguh diutus oleh Bapa. Kejujuran kita dari dalam akan menentukan keaslian pekerjaan dan kekuatan daya pikat kita bagi orang lain.
Doa: Yesus, bersama segala bangsa aku bersyukur kepada-Mu. Jadikan diriku indah dari dalam agar memikat orang untuk datang dan bersukacita dalam Engkau. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
St. Sturmius, Sta. Teofanu; B. Maria dr Malaikat
Bacaan I: Yes. 56:1–3a,6–8
Mazmur : 67:2–3,5,7–8; R: 4a
Bacaan Injil : Yoh. 5:33–36
Renungan
Kecantikan sejati muncul dari dalam. Demikian bunyi ajaran bijak. Jika tidak ada kecantikan dari dalam, polesan indah di bagian luar pasti akan terasa hampa pada saatnya. Tuhan melakukan banyak hal baik. Sedemikian baiknya Tuhan, hingga Ia pun ingin merangkul sebanyak mungkin orang, termasuk orang-orang di luar bangsa Israel sendiri. Mereka yang sudah percaya pun memancarkan keindahan dari dalam yang juga memikat banyak orang. Semua akan bersukacita di dalam rumah doa bagi Tuhan.
Yohanes Pembaptis tentu secara lahiriah tidak menarik. Namun, dari dalam dirinya terpancar sebuah kekuatan, keindahan, kebeningan. Ia adalah pelita yang menyala dalam kegelapan. Perkataannya tegas dan memang perlu disuarakan. Namun, lebih penting dari itu adalah pekerjaannya. Yesus pun demikian. Hidup dan pekerjaan yang secara setia dilakukan-Nya menegaskan bahwa Ia sungguh diutus oleh Bapa. Kejujuran kita dari dalam akan menentukan keaslian pekerjaan dan kekuatan daya pikat kita bagi orang lain.
Doa: Yesus, bersama segala bangsa aku bersyukur kepada-Mu. Jadikan diriku indah dari dalam agar memikat orang untuk datang dan bersukacita dalam Engkau. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Rabu, 14 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Kamis, 15 Desember 2011
Pekan Adven III (U)
Sta. Kristiana
Bacaan I : Yes. 54:1–10
Mazmur : 30:2,4–6,11–12a,13b; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 7:24–30
Setelah
suruhan Yohanes itu pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang
banyak itu tentang Yohanes: ”Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun?
Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah
kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian
indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah
kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan
lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku
menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di
hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan
oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada
Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari
padanya.” Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk
para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah
memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena
mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.
Renungan
Satu pertanyaan yang sangat sulit dijawab adalah ”Apakah yang sebenarnya menjadi kerinduan hidupku yang paling dalam?” Pilihan yang kita buat sering hanya merupakan reaksi di permukaan saja. Kita pun melakukan banyak reaksi yang tanpa arti. Tuhan ingin memberi yang terbaik bagi kita, tetapi Tuhan mungkin selama ini menanti sampai kita sungguh menginginkannya. Kepada kita pun terus ditawarkan kemungkinan-kemungkinan baru. Hal yang semula tampak tak mungkin akan menjadi mungkin.
Untuk menyadarkan kita, tidak jarang Tuhan menegur kita secara keras. Sayangnya, banyak orang kecewa ketika merasa telah ditegur oleh Tuhan, dan justru membalas dengan kemarahan dan memusuhi-Nya. Tuhan memakai Yohanes Pembaptis untuk menegaskan kasih-Nya yang takkan pernah goncang. Namun demikian, banyak orang begitu bangga dengan keadaan diri mereka sehingga mereka menolak kasih itu. Kita lupa, bahwa mungkin itulah yang sebenarnya menjadi kerinduan terdalam hidup kita.
Doa
Yesus, aku memuji Engkau, karena Engkau membebaskan aku, dan mengubah tangisku menjadi tarian. Mampukan aku terus memilih dan menerima Engkau. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Pekan Adven III (U)
Sta. Kristiana
Bacaan I : Yes. 54:1–10
Mazmur : 30:2,4–6,11–12a,13b; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 7:24–30
Renungan
Satu pertanyaan yang sangat sulit dijawab adalah ”Apakah yang sebenarnya menjadi kerinduan hidupku yang paling dalam?” Pilihan yang kita buat sering hanya merupakan reaksi di permukaan saja. Kita pun melakukan banyak reaksi yang tanpa arti. Tuhan ingin memberi yang terbaik bagi kita, tetapi Tuhan mungkin selama ini menanti sampai kita sungguh menginginkannya. Kepada kita pun terus ditawarkan kemungkinan-kemungkinan baru. Hal yang semula tampak tak mungkin akan menjadi mungkin.
Untuk menyadarkan kita, tidak jarang Tuhan menegur kita secara keras. Sayangnya, banyak orang kecewa ketika merasa telah ditegur oleh Tuhan, dan justru membalas dengan kemarahan dan memusuhi-Nya. Tuhan memakai Yohanes Pembaptis untuk menegaskan kasih-Nya yang takkan pernah goncang. Namun demikian, banyak orang begitu bangga dengan keadaan diri mereka sehingga mereka menolak kasih itu. Kita lupa, bahwa mungkin itulah yang sebenarnya menjadi kerinduan terdalam hidup kita.
Doa
Yesus, aku memuji Engkau, karena Engkau membebaskan aku, dan mengubah tangisku menjadi tarian. Mampukan aku terus memilih dan menerima Engkau. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Senin, 12 Desember 2011
Selasa, 13 Desember 2011~Pw Sta. Lusia, PrwMrt (ziarah batin 2011)
Selasa, 13 Desember 2011
Pekan Adven IIIPw Sta. Lusia, PrwMrt. (M)
Sta. Odilia
bacaan I : Zef. 3:1–2,9–13
Mazmur : 34:2–3,6–7,17–18,19,23; R: 7a
Bacaan Injil : Mat. 21:28–32
”Tetapi
apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki.
Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan
bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa.
Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan
berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi
kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu
yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: ”Yang terakhir.” Kata
Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului
kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk
menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya.
Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya
kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak
menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
Renungan
Para orang tua sering bercerita bahwa mendidik dan membesarkan anak sering mengandung misteri. Yang semula anak nakal ternyata akhirnya sukses dan jadi orang baik. Sebaliknya, yang semula manis ternyata akhirnya justru jatuh dalam narkoba dan masuk penjara. Mungkin seperti itu pula yang terjadi dalam perjalanan hidup kita yang sedang dididik oleh Tuhan sendiri. Yang menentukan adalah apakah kita terbuka untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan kita atau tidak.
Tuhan menawarkan berkat istimewa kepada Israel, tetapi banyak dari mereka menolaknya. Yesus menawarkan cinta-Nya, tetapi justru pelacur, pemungut cukai, dan orang-orang berdosa yang menyambutnya. Semua orang tentu melakukan kesalahan dalam hidupnya. Adalah bencana besar ketika orang menjadi yakin bahwa dirinya sudah sempurna dan tak perlu lagi belajar untuk menjadi lebih baik. Orang semacam ini tidak hanya menipu Tuhan dan sesamanya, tetapi juga dirinya sendiri.
Doa: Yesus, aku berseru kepada-Mu, dengarkanlah aku. Aku ingin memperbarui hidupku. Bentuklah hatiku agar dengan rendah hati belajar dari kesalahanku. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Pekan Adven IIIPw Sta. Lusia, PrwMrt. (M)
Sta. Odilia
bacaan I : Zef. 3:1–2,9–13
Mazmur : 34:2–3,6–7,17–18,19,23; R: 7a
Bacaan Injil : Mat. 21:28–32
Renungan
Para orang tua sering bercerita bahwa mendidik dan membesarkan anak sering mengandung misteri. Yang semula anak nakal ternyata akhirnya sukses dan jadi orang baik. Sebaliknya, yang semula manis ternyata akhirnya justru jatuh dalam narkoba dan masuk penjara. Mungkin seperti itu pula yang terjadi dalam perjalanan hidup kita yang sedang dididik oleh Tuhan sendiri. Yang menentukan adalah apakah kita terbuka untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan kita atau tidak.
Tuhan menawarkan berkat istimewa kepada Israel, tetapi banyak dari mereka menolaknya. Yesus menawarkan cinta-Nya, tetapi justru pelacur, pemungut cukai, dan orang-orang berdosa yang menyambutnya. Semua orang tentu melakukan kesalahan dalam hidupnya. Adalah bencana besar ketika orang menjadi yakin bahwa dirinya sudah sempurna dan tak perlu lagi belajar untuk menjadi lebih baik. Orang semacam ini tidak hanya menipu Tuhan dan sesamanya, tetapi juga dirinya sendiri.
Doa: Yesus, aku berseru kepada-Mu, dengarkanlah aku. Aku ingin memperbarui hidupku. Bentuklah hatiku agar dengan rendah hati belajar dari kesalahanku. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Jumat, 09 Desember 2011
Sabtu, 10 Desember 2011~Pw SP Maria dr Loreto (ziarah batin 2011)
Sabtu, 10 Desember 2011
Pekan ADVEN II (U)Pw SP Maria dr Loreto; St. Miltiades, Paus;
B. Marc Antonio Durando
Bacaan I: Sir. 48:1–4,9–11
Mazmur : 80:2ac,3b,15–16,18–19; R: 4
Bacaan Injil : Mat. 17:10–13
Lalu
murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Kalau demikian mengapa ahli-ahli
Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: ”Memang
Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata
kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan
memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia
akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid
Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.
Renungan
Ada seorang Uskup datang ke sebuah paroki. Tak ada yang mengenalinya. Ia pun ditolak masuk pastoran karena dikira penipu yang hanya ingin meminta uang. Hal serupa sering terjadi. Sebuah kuasa besar sering tersembunyi. Orang pun mudah menilai sesama hanya berdasarkan penampilannya. Kuasa Tuhan turun atas Elia yang diagungkan kemuliaannya itu. Tujuan pemberian kuasa itu tidak lain adalah untuk menyampaikan cinta Tuhan yang ingin agar hati bapa kembali kepada anaknya. Kuasa Tuhan adalah kuaca cinta.
Sering kali cara terbaik untuk melunakkan hati yang begitu keras adalah menyirami orang itu dengan cinta tulus. Mereka yang memperlakukan Yohanes Pembaptis sesuka hati sebenarnya merindukan cinta. Karena hanya memusatkan diri pada hal besar yang terlihat dalam penampilan, mereka pun tidak mengenali kuasa besar Tuhan dalam diri Yohanes Pembaptis yang harus mendahului Yesus. Banyak orang seperti itu diutus kepada kita, tetapi kita enggan mengenali mereka.
Doa: Yesus, pulihkanlah aku dengan cinta-Mu. Aku ingin selalu mampu mengenali keperkasaan-Mu yang sering tersembunyi dalam cinta lembut sesamaku. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Pekan ADVEN II (U)Pw SP Maria dr Loreto; St. Miltiades, Paus;
B. Marc Antonio Durando
Bacaan I: Sir. 48:1–4,9–11
Mazmur : 80:2ac,3b,15–16,18–19; R: 4
Bacaan Injil : Mat. 17:10–13
Renungan
Ada seorang Uskup datang ke sebuah paroki. Tak ada yang mengenalinya. Ia pun ditolak masuk pastoran karena dikira penipu yang hanya ingin meminta uang. Hal serupa sering terjadi. Sebuah kuasa besar sering tersembunyi. Orang pun mudah menilai sesama hanya berdasarkan penampilannya. Kuasa Tuhan turun atas Elia yang diagungkan kemuliaannya itu. Tujuan pemberian kuasa itu tidak lain adalah untuk menyampaikan cinta Tuhan yang ingin agar hati bapa kembali kepada anaknya. Kuasa Tuhan adalah kuaca cinta.
Sering kali cara terbaik untuk melunakkan hati yang begitu keras adalah menyirami orang itu dengan cinta tulus. Mereka yang memperlakukan Yohanes Pembaptis sesuka hati sebenarnya merindukan cinta. Karena hanya memusatkan diri pada hal besar yang terlihat dalam penampilan, mereka pun tidak mengenali kuasa besar Tuhan dalam diri Yohanes Pembaptis yang harus mendahului Yesus. Banyak orang seperti itu diutus kepada kita, tetapi kita enggan mengenali mereka.
Doa: Yesus, pulihkanlah aku dengan cinta-Mu. Aku ingin selalu mampu mengenali keperkasaan-Mu yang sering tersembunyi dalam cinta lembut sesamaku. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Rabu, 07 Desember 2011
Kamis, 8 Desember 2011~HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA (ziarah batin 2011)
Kamis, 8 Desember 2011
HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA (P)
Bacaan I: Kej. 3:9–15,20
Mazmur : 98:1,2–3ab,3c–4; R: 1ab
Bacaan II : Ef. 1:3–6,11–12
Bacaan Injil : Luk. 1:26–38
Dalam
bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota
di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan
dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu
Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ”Salam,
hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut
mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti
salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab
engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau
akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan
hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan
disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan
kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas
kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan
berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu
mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu
kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi
akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan
disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia
pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah
bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah
tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu
meninggalkan dia.
Renungan
Di Jakarta semakin banyak orang menggunakan Blackberry. Meskipun demikian, betapa sering terdengar ucapan mereka yang sudah lama menggunakannya, ”Oh, ternyata Blackberry bisa untuk seperti itu.” Gambaran hidup kita mungkin juga seperti itu. Segala berkat rohani di surga sudah diberikan agar kita bisa hidup kudus tak bercela. Kekuatan Tuhan untuk menginjak kepala ular pun sebenarnya sudah kita terima. Persoalannya, kita sering tidak menyadarinya, atau tidak mau menggunakannya secara penuh.
Kita ingin menjadi pemenang dalam pertandingan melawan godaan kehidupan, tetapi sebenarnya kita belum memiliki hati seorang pemenang itu. Maka, kita terus meminta apa yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita. Maria sebagai Hawa yang baru memberi gambaran tentang keterbukaan pada kekuatan Tuhan agar kita pun sungguh hidup sebagai pemenang. Itu dilakukan karena Roh Kudus menaungi dia. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Kita hanya perlu membiarkan Roh itu berkarya secara penuh dalam hidup kita.
Doa: Yesus, aku menyanyikan lagu baru bagi-Mu yang telah melakukan karya agung bagiku. Aku biarkan lengan-Mu yang kuat terus merebut kemenangan bagiku. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA (P)
Bacaan I: Kej. 3:9–15,20
Mazmur : 98:1,2–3ab,3c–4; R: 1ab
Bacaan II : Ef. 1:3–6,11–12
Bacaan Injil : Luk. 1:26–38
Renungan
Di Jakarta semakin banyak orang menggunakan Blackberry. Meskipun demikian, betapa sering terdengar ucapan mereka yang sudah lama menggunakannya, ”Oh, ternyata Blackberry bisa untuk seperti itu.” Gambaran hidup kita mungkin juga seperti itu. Segala berkat rohani di surga sudah diberikan agar kita bisa hidup kudus tak bercela. Kekuatan Tuhan untuk menginjak kepala ular pun sebenarnya sudah kita terima. Persoalannya, kita sering tidak menyadarinya, atau tidak mau menggunakannya secara penuh.
Kita ingin menjadi pemenang dalam pertandingan melawan godaan kehidupan, tetapi sebenarnya kita belum memiliki hati seorang pemenang itu. Maka, kita terus meminta apa yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita. Maria sebagai Hawa yang baru memberi gambaran tentang keterbukaan pada kekuatan Tuhan agar kita pun sungguh hidup sebagai pemenang. Itu dilakukan karena Roh Kudus menaungi dia. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Kita hanya perlu membiarkan Roh itu berkarya secara penuh dalam hidup kita.
Doa: Yesus, aku menyanyikan lagu baru bagi-Mu yang telah melakukan karya agung bagiku. Aku biarkan lengan-Mu yang kuat terus merebut kemenangan bagiku. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
Selasa, 06 Desember 2011
Rabu, 7 Desember 2011~ Pw. St. Ambrosius, UskPujG(ziarah batin 2011)
Rabu, 7 Desember 2011
Pekan ADVEN II Pw. St. Ambrosius, UskPujG (P)
Bacaan I: Yes. 40:25–31
Mazmur : 103:1–2,3–4,8–10; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 11:28–30
”Marilah
kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi
kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Renungan
Mereka yang hobi memelihara tanaman tentu yakin, bahwa tanaman yang diberi ”nama” dan disapa tiap hari akan bertumbuh lebih baik. Seolah ada tambahan daya hidup yang dialirkan lewat sapaan itu, meskipun tak terlihat. Banyak orang hanya mengakui Tuhan bila ada bukti karya-Nya yang terlihat. Jika tidak, Tuhan dengan mudah dianggap tidak lagi peduli pada ciptaan dan manusia. Ketika manusia tidak lagi mengandalkan kekuatan Tuhan, ia pun akan segera menjadi lesu dan mudah tersandung jatuh.
Cara kita memikul beban itu akan sangat menentukan. Yesus tahu itu, sehingga Ia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, dan menerima pikulan baru dari-Nya yang lebih enak. Beban mungkin tetap sama, tetapi dengan alat pikul yang lebih nyaman, beban berat pun akan lebih nyaman di pundak kita. Rahasia yang perlu kita pelajari dari Yesus adalah dua ciri penting dalam cara bertindak-Nya: lemah lembut dan rendah hati. Dari sanalah mengalir kekuatan dahsyat untuk memikul beban hidup kita.
doa:Yesus, jiwaku memuji Engkau dan mengingat segala kebaikan-Mu. Engkau telah mengampuni dan memahkotai aku. Aku sambut pikulan baru dari-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
Pekan ADVEN II Pw. St. Ambrosius, UskPujG (P)
Bacaan I: Yes. 40:25–31
Mazmur : 103:1–2,3–4,8–10; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 11:28–30
Renungan
Mereka yang hobi memelihara tanaman tentu yakin, bahwa tanaman yang diberi ”nama” dan disapa tiap hari akan bertumbuh lebih baik. Seolah ada tambahan daya hidup yang dialirkan lewat sapaan itu, meskipun tak terlihat. Banyak orang hanya mengakui Tuhan bila ada bukti karya-Nya yang terlihat. Jika tidak, Tuhan dengan mudah dianggap tidak lagi peduli pada ciptaan dan manusia. Ketika manusia tidak lagi mengandalkan kekuatan Tuhan, ia pun akan segera menjadi lesu dan mudah tersandung jatuh.
Cara kita memikul beban itu akan sangat menentukan. Yesus tahu itu, sehingga Ia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, dan menerima pikulan baru dari-Nya yang lebih enak. Beban mungkin tetap sama, tetapi dengan alat pikul yang lebih nyaman, beban berat pun akan lebih nyaman di pundak kita. Rahasia yang perlu kita pelajari dari Yesus adalah dua ciri penting dalam cara bertindak-Nya: lemah lembut dan rendah hati. Dari sanalah mengalir kekuatan dahsyat untuk memikul beban hidup kita.
doa:Yesus, jiwaku memuji Engkau dan mengingat segala kebaikan-Mu. Engkau telah mengampuni dan memahkotai aku. Aku sambut pikulan baru dari-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
Senin, 05 Desember 2011
Selasa, 6 Desember 2011 (ziarah batin 2011)
Selasa, 6 Desember 2011
Pekan ADVEN II (U) St. Nikolas dr Myra
Bacaan I: Yes. 40:1–11
Mazmur : 96:1–2,3,10ac,11–12,13; R: Yes. 40:10ab
Bacaan Injil : Mat. 18:12–14
”Bagaimana
pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di
antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh
sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih
besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang
kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu
yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini
hilang.”
Renungan
Ada banyak bentuk hukuman. Yang paling efektif adalah hukuman dengan cinta. Jika seorang anak gemetar dan takut setelah melakukan kesalahan, tetapi ayahnya memeluknya dan mengampuninya, itulah bentuk hukuman dengan cinta yang akan mengubah hidup anak itu menjadi lebih baik. Akan berbeda akibatnya jika anak tersebut dihukum dengan amarah dan caci maki—kenakalannya akan semakin menjadi-jadi. Dengan amarah dan caci maki, yang buruk tidak akan menjadi baik, bahkan yang baik pun bisa menjadi rusak.
Kepada bangsa Israel yang telah tidak setia pun Tuhan terus menegaskan cinta-Nya. Ia tahu, hanya melalui hukuman dengan cinta itulah akan ada sebuah pertobatan yang asli dan mendalam. Tanpa cinta, pertobatan hanyalah pura-pura.
Demikian besar cinta Tuhan, sehingga kita masing-masing sungguh diperjuangkan. Tak ada yang kurang berharga daripada yang lain. Lebih dari itu, justru yang hilang itu diperlakukan secara lebih istimewa. Tuhan siap terluka oleh duri semak ketika Ia mencoba membebaskan kita yang tersangkut. Ia sungguh bersukacita ketika kita kembali kepada-Nya. Persoalannya, sering kita justru sedih ketika Tuhan menemukan kita dan ingin membawa kita kembali. Tanpa sadar kita lebih merasa betah dalam dosa-dosa kita.
Doa: Yesus, Engkau datang dengan kekuatan-Mu untuk menarik aku dari perangkap dosa. Aku tidak lagi mau hidup dalam perhambaan. Bebaskanlah aku. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
Pekan ADVEN II (U) St. Nikolas dr Myra
Bacaan I: Yes. 40:1–11
Mazmur : 96:1–2,3,10ac,11–12,13; R: Yes. 40:10ab
Bacaan Injil : Mat. 18:12–14
Renungan
Ada banyak bentuk hukuman. Yang paling efektif adalah hukuman dengan cinta. Jika seorang anak gemetar dan takut setelah melakukan kesalahan, tetapi ayahnya memeluknya dan mengampuninya, itulah bentuk hukuman dengan cinta yang akan mengubah hidup anak itu menjadi lebih baik. Akan berbeda akibatnya jika anak tersebut dihukum dengan amarah dan caci maki—kenakalannya akan semakin menjadi-jadi. Dengan amarah dan caci maki, yang buruk tidak akan menjadi baik, bahkan yang baik pun bisa menjadi rusak.
Kepada bangsa Israel yang telah tidak setia pun Tuhan terus menegaskan cinta-Nya. Ia tahu, hanya melalui hukuman dengan cinta itulah akan ada sebuah pertobatan yang asli dan mendalam. Tanpa cinta, pertobatan hanyalah pura-pura.
Demikian besar cinta Tuhan, sehingga kita masing-masing sungguh diperjuangkan. Tak ada yang kurang berharga daripada yang lain. Lebih dari itu, justru yang hilang itu diperlakukan secara lebih istimewa. Tuhan siap terluka oleh duri semak ketika Ia mencoba membebaskan kita yang tersangkut. Ia sungguh bersukacita ketika kita kembali kepada-Nya. Persoalannya, sering kita justru sedih ketika Tuhan menemukan kita dan ingin membawa kita kembali. Tanpa sadar kita lebih merasa betah dalam dosa-dosa kita.
Doa: Yesus, Engkau datang dengan kekuatan-Mu untuk menarik aku dari perangkap dosa. Aku tidak lagi mau hidup dalam perhambaan. Bebaskanlah aku. Amin.
sumber : ziarah batin 2011
Jumat, 02 Desember 2011
Sabtu, 3 Desember 2011~Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi (ziarah batin 2011)
Sabtu, 3 Desember 2011
Pekan ADVEN I
Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi (P)
Bacaan I : 1Kor. 9:16–19,22–23
Mazmur : 117:1,2; R: Mrk. 16:15
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–20
Lalu
Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah
Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan
mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam
bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan
sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka;
mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan
sembuh.”
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Renungan
Seorang pembawa berita memang mahir berkata-kata tentang sebuah kejadian. Namun demikian, seorang saksi mata kejadian yang sama akan bisa bercerita dengan seluruh dirinya. Kejadian itu bukan hanya berita, melainkan sebuah pengalaman. Pewartaan Injil bukanlah soal berkata-kata, tetapi soal daya luar biasa Tuhan dari dalam diri kita. Daya itu demikian kuat sehingga kita akan merasa celaka bila tidak bercerita. Kesempatan untuk bercerita tentang Yesus akan kita pandang jauh lebih besar daripada upah apa pun.
Kesempatan untuk itu pun bukanlah alasan untuk memegahkan diri. Jauh di dalam lubuk hati kita jelas digemakan sebuah keyakinan bahwa hanya kekuatan Tuhan yang berkuasa menembus lapisan tebal tiap hati manusia. Tuhan pun bersedia meneguhkan pewartaan kita dengan tanda yang diperlukan sejauh kita mengizinkan Tuhan untuk melakukan itu. Ketika kita mulai yakin bahwa tanda-tanda luar biasa itu adalah bukti akan kehebatan kita, pada saat itu pula kita berada di ambang kehancuran.
Doa
Yesus, aku ingin terus bercerita tentang karya agung-Mu di antara segala bangsa. Aku rindu untuk mewartakan Engkau dalam kejujuran dan kerendahan hati. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Pekan ADVEN I
Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi (P)
Bacaan I : 1Kor. 9:16–19,22–23
Mazmur : 117:1,2; R: Mrk. 16:15
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–20
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Renungan
Seorang pembawa berita memang mahir berkata-kata tentang sebuah kejadian. Namun demikian, seorang saksi mata kejadian yang sama akan bisa bercerita dengan seluruh dirinya. Kejadian itu bukan hanya berita, melainkan sebuah pengalaman. Pewartaan Injil bukanlah soal berkata-kata, tetapi soal daya luar biasa Tuhan dari dalam diri kita. Daya itu demikian kuat sehingga kita akan merasa celaka bila tidak bercerita. Kesempatan untuk bercerita tentang Yesus akan kita pandang jauh lebih besar daripada upah apa pun.
Kesempatan untuk itu pun bukanlah alasan untuk memegahkan diri. Jauh di dalam lubuk hati kita jelas digemakan sebuah keyakinan bahwa hanya kekuatan Tuhan yang berkuasa menembus lapisan tebal tiap hati manusia. Tuhan pun bersedia meneguhkan pewartaan kita dengan tanda yang diperlukan sejauh kita mengizinkan Tuhan untuk melakukan itu. Ketika kita mulai yakin bahwa tanda-tanda luar biasa itu adalah bukti akan kehebatan kita, pada saat itu pula kita berada di ambang kehancuran.
Doa
Yesus, aku ingin terus bercerita tentang karya agung-Mu di antara segala bangsa. Aku rindu untuk mewartakan Engkau dalam kejujuran dan kerendahan hati. Amin.
sumber :ziarah batin 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
















