Kamis, 26 Januari 2012

Sabtu, 28 Januari 2012~Pw St. Thomas dr Aquino, ImPujG

Sabtu, 28 Januari 2012
Pekan Biasa III
Pw St. Thomas dr Aquino, ImPujG. (P) St. Karolus Agung; St. Petrus Nolaskus; Manfredus
Bacaan I : 2Sam. 12:1–7a.10–17
Mazmur : 51:12–13.14–15.16–17; R: 12a
Bacaan Injil : Mrk. 4:35–41







Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ”Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka me­ninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya mem­ba­ngunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita bi­nasa?”Ia pun bangun, menghardik angin itu dan ber­ka­ta kepada danau itu: ”Diam! Tenang­lah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ”Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Renungan
Kecerobohan atau kekeliruan dalam hal kecil dapat mengakibatkan sesuatu yang fatal dalam kehidupan atau pekerjaan kita. Inilah yang dialami oleh Daud. Kecerobohan, kesalahan dan ketidakbijaksanaannya mengambil istri Uria menjadi istrinya dengan mengorbankan Uria di medan perang menyebabkan kegelisahan, ketidaktenangan dan penderitaan batin yang berkelanjutan.
Namun, Tuhan itu selalu baik. Ia mengirim Natan untuk menegur dan memperingatkan Daud akan kesalahannya dan meminta dia menyesal dan bertobat. Tuhan tidak mau membiarkan Daud jatuh dari satu kesalahan ke kesalahan lain, dari satu kekeliruan ke kekeliruan lain. Natan menghantar Daud, tahap demi tahap, dalam proses penyadaran akan dosa dan menuju penyesalan. Daud terbuka menerima teguran Allah melalui Natan disertai sikap penyesalan. Daud lalu menyesal dan minta ampun! Dia sadar bahwa Allah itu memang kaya dalam kerahiman (bdk. Ef. 2:4). Demikian, ia tetap mendapat tempat di hati Allah.
Dengan tangan terbuka Allah senantiasa mempersilahkan kita untuk bertobat agar kita menemukan kembali apa yang terbaik dalam diri kita, menemukan kembali anugerah-anugerah dan buah-buah Roh Kudus yang telah ditanamkan di dalam diri kita, seperti ”kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal. 5:22–23). Untuk itu, Tuhan akan mengingatkan kita dengan berbagai cara, bahkan berupa badai dan taufan sekalipun, agar kita kembali kepada-Nya.

Doa
Tuhan Yesus, ketika aku keliru dan ceroboh, tegurlah aku, agar aku sadar, menyesal dan bertobat. Rahmatilah aku dengan kerahiman-Mu yang melim­pah. Amin.


sumber : ziarah batin 2012

Jumat, 27 Januari 2012~Sta. Angela Merici; St. Gabriel dr Bunda Berdukacita

Jumat, 27 Januari 2012
Pekan Biasa III (H)

Sta. Angela Merici; St. Gabriel dr Bunda Berdukacita;
St. Robertus, Alberikus, dan Stefanus

Bacaan I: 2Sam. 11:1–4a.5–10a.13–17
Mazmur : 51:3–4.5–6a.6bc–7.10–11; R: lh.3a
Bacaan Injil : Mrk. 4:26–34



Lalu kata Yesus: ”Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang mena­burkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terja­di­nya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sen­dirinya mengeluarkan buah, mula-mula tang­kainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, se­bab musim menuai sudah tiba.” Kata-Nya lagi: ”Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian me­reka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak ber­­kata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala se­suatu secara tersendiri.
Renungan
Ketika para misionaris datang ke daerah-daerah misi, seperti misalnya Papua, mereka tidak hanya mewartakan Injil tentang Yesus Kristus, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat orang-orang setempat, melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan manusia, dsb. Mereka menjadi sadar bahwa mereka tidak dapat mengharapkan hasil yang instan, mereka tidak akan langsung melihat dan merasakan hasil karya mereka. Ada seorang misionaris Belanda yang memberi nasihat kepada misionaris muda Indonesia sebagai berikut: ”Bekerja di sini jangan harap akan melihat hasil kerjamu.
Butuh waktu 100 tahun untuk melihat hasil kerja sekarang.”
Dalam Injil Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan tentang penabur benih (bdk. Mrk. 4:26–29) dan biji sesawi (bdk. Mrk. 4:30–34). Pesan kedua per­umpamaan ini ialah benih dan biji sesawi tumbuh tanpa banyak disadari dan butuh waktu yang cukup untuk menjadi besar dan membawa hasil. Perlu kesabaran sambil memelihara de­ngan baik agar lingkungannya memberi kesuburan bagi pertumbuhannya. Demikian juga dengan iman dan Kerajaan Allah. Perlu waktu, usaha, kesabaran dan penciptaan lingkungan yang baik agar iman dan Kerajaan Allah bertumbuh dan berkembang, lalu menghasilkan buah-buahnya. Maka pentinglah kita tidak terburu-buru, perlu bersabar dan bertekun. Dalam pertumbuhan itu bukan kita sendiri yang berperan tetapi kita perlu memberi ruang pada Allah yang memberi kehidupan itu.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, tumbuh-kembangkanlah benih iman dalam diriku agar mem­bawa buah-buah kebaikan dan cinta kasih kepada orang-orang lain dan lingkungan sekitar di mana aku berada. Amin.

sumber :ziarah batin 2012

Rabu, 25 Januari 2012

Kamis, 26 Januari 2012~Pw St. Timotius dan Titus, Usk.

Kamis, 26 Januari 2012
Pekan Biasa III

Pw St. Timotius dan Titus, Usk. (P)
Sta. Paula; St. Stefanus Harding;
St. Robertus Molesmes

Bacaan I: 2Tim. 1:1–8 atau Tit. 1:1–5
Mazmur : 96:1–2a,2b–3,7–8a,10
Bacaan Injil : Mrk. 4:21–25



Lalu Yesus berkata kepada mereka: ”Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan ter­singkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Ia berkata lagi: ”Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

Renungan

Salah satu perlambangan yang dipakai oleh Kitab Suci adalah cahaya dan pelita. Dalam masyarakat kuno, pelita mempunya fungsi vital. Walaupun kecil, pelita dapat menerangi tempat yang lebih luas. Pelita juga membuat orang melihat, melakukan aktivitas, pekerjaan, menerangi jalan, dsb. Bagi orang-orang Yahudi, cahaya mengekspresikan keindahan, kebenaran dan kebaikan Allah. ”Di dalam terang-Mu kami melihat cahaya” (Mzm. 36:10). ”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105).
Iman Kristiani kita adalah cahaya bagi dunia, yakni bagaikan suatu pelita yang tidak dapat disembunyikan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, tetapi harus ditaruh di atas kaki dian supaya bercahaya ke sekitarnya, yakni kepada orang-orang lain dan lingkungan hidup.

Demikian, Firman Tuhan tidak boleh disimpan, tetapi harus disiarkan. Iman yang kita terima, pengetahuan dan penghayatan kita tentang Yesus tidak untuk disimpan bagi diri sendiri, tetapi harus bercahaya memengaruhi orang-orang lain dan lingkungan di mana kita hidup dan bekerja. Kekayaan hidup iman kita harus dibagikan (sharing) dengan murah hati kepada orang-orang lain, agar mereka pun mengalami dicintai oleh Allah.

Menjadi orang Kristen tidak cukup menjadi orang baik, tetapi harus juga menjadi terang bagi orang-orang lain serta pembagi Kabar Gembira dengan kata dan perbuatan.

Doa: Tuhan, Engkau menghantar aku dengan cahaya kebenaran-Mu yang menyelamatkan. Penuhilah hati dan budiku dengan cahaya kebenaran-Mu. Semoga aku sanggup meman­carkannya kepada orang-orang lain dengan kata dan perbuatan. Amin.

sumber :ziarah batin 2012

Selasa, 24 Januari 2012

Rabu, 25 Januari 2012~Pesta Pertobatan St. Paulus, Rasul

Rabu, 25 Januari 2012
Pekan Biasa III

Pesta Pertobatan St. Paulus, Rasul (P)

Bacaan I: Kis. 22:3–16 atau Kis. 9:1–22
Mazmur : 117:1.2. Ref: Mrk. 16:15
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–18


Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Renungan

Kisah pertobatan St. Paulus, rasul, mengubah garis dan orientasi hidupnya. Pengalaman perjumpaannya dengan Yesus dalam perjalanan ke kota Damsyik sungguh eksistensial, yakni menyentuh seluruh keberadaannya. Suatu perjumpaan yang mengubah segala-galanya. Dari seorang penganiya dan pengejar pengikut-pengikut Kristus menjadi rasul agung Kristus. Sebelum menerima Yesus, ia membanggakan diri sebagai orang Yahudi sejati dan pelaksana hukum Musa. Tidak mengherankan ia marah dengan ajaran dari para murid Yesus. Ia tidak keberatan ketika Stefanus dirajam.

Tidak ada persiapan apa-apa dari Paulus untuk menerima Yesus, tidak ada pengajaran atau katekismus atau retret. Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Inisiatif berasal dari Allah. Allah jugalah yang menghendaki perubahan radikal dalam hidup Paulus.

Namun, barangkali kematian heroik dari Stefanus menumbuhkan benih-benih keraguan pada keyakinannya sendiri dan sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang siapakah Yesus itu yang mampu membuat orang seperti Stefanus begitu setia menjadi murid-Nya, sampai rela mengorbankan nyawanya?
Pertobatan St. Paulus turut mengajak kita untuk merefleksikan saat-saat Allah mau berjumpa dengan kita dengan rahmat-rahmat yang disediakan-Nya. Ada saat Allah menjumpai kita dengan membawa rahmat pertobatan. Ada saat Allah menjumpai kita dengan rahmat pembebasan. Ada saat Allah menjumpai kita dengan rahmat sukacita. Ya, setiap saat Allah mau menjumpai kita karena cinta dan belas kasih-Nya yang begitu luas dan dalam.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku hati yang mau bertobat dan menerima sukacita yang berasal dari-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2012

Jumat, 20 Januari 2012

Sabtu, 21 Januari 2012~Pw Sta. Agnes, Prw.Mrt

Sabtu, 21 Januari 2012
Pekan Biasa II

Pw Sta. Agnes, Prw.Mrt. (M);
St. Augurius dan Eulogius

Bacaan I: 2Sam. 1:1–4.11–12.19.23–27
Mazmur : 80:2–3.5–7; R: 4b
Bacaan Injil : Mrk. 3:20–21




Kemudian Yesus masuk ke sebuah ru­mah. Maka datanglah orang banyak ber­kerumun pula, sehingga makan pun me­reka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Renungan
Hubungan antara Saul dan Daud tidak selalu diwarnai oleh ketulusan hati. Ada saat Saul membenci Daud karena umat Israel lebih mengelu-elukan Daud. Mereka bersorak: ”Saul mengalahkan beribu-ribu musuh tetapi Daud berlaksa-laksa.” Saul merasa diremehkan; dia sakit hati, sangat marah dan menaruh dendam, sampai berniat untuk membunuh Daud.

Di pihak lain Daud punya sikap berbeda. Ia mempunyai hati yang tulus. Walaupun Daud mempunyai kesempatan untuk membunuh Saul, namun Daud tidak melakukannya karena ia mencintai Saul, yang juga adalah orang yang diurapi Allah (bdk. 1Sam. 24:7). Cinta dan ketulusan hati Daud sangat kentara ketika ia mendengar bahwa Saul dan sahabat karibnya Yonatan gugur di medan perang. Ia sungguh merasa sedih. Ratapan sedihnya diungkapkannya dengan kata-kata yang sangat menyentuh: ”Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu. Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan” (2Sam. 1:25–26).

Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa iri, marah dan dendam kadangkala meliputi kita, misalnya saat kita merasa diremehkan atau disaingi. Daud mengajarkan kepada kita untuk memiliki kualitas-kualitas hati seperti ketulusan, kesejatian, cinta dan belarasa, yang perlu untuk membangun relasi kita baik dengan sesama maupun dengan Tuhan, walaupun ada saat kita disakiti atau diperlakukan tidak baik.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, berilah aku hati yang tulus, penuh semangat persaudaraan, agar aku selalu berkenan kepada-Mu dan sesamaku. Amin.

Kamis, 19 Januari 2012

Jumat, 20 Januari 2012

Jumat, 20 Januari 2012
Pekan Biasa II (H)

St. Fabianus, Paus; St. Sebastianus;
St. Eutimos Agung; B. Cyprianus Michael Tansi;
St. Yohanes Pembaptis dr Triguerie

Bacaan I: 1Sam. 24:3–21
Mazmur : 57:2.3–4.6.11; R:2a
Bacaan Injil : Mrk. 3:13–19



Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dike­hendaki-Nya dan mereka pun da­tang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.


Renungan
Yesus naik ke atas bukit. Tidak disebutkan nama bukitnya. Yang lebih penting adalah simbolisme dan pemaknaannya, bukan lokasinya. Dalam Kitab Suci bukit atau gunung merupakan tempat kudus yang dikaitkan dengan kehadiran Allah. Di sana orang mengalami kehadiran-Nya. Di sana orang mengalami persatuan dengan Dia.
Di saat-saat penting kehidupan publik-Nya Yesus naik ke atas bukit: ketika Ia mau menetapkan kedua belas murid pilihan-Nya, ketika menyampaikan Khotbah Bahagia, pada saat Transfigurasi dan setelah memberi makan 5000 orang ... Di sana Yesus menyatukan diri dengan Bapa untuk memilah-milah kehendak-Nya (discernment).
Kali ini, sebelum mengambil keputusan penting tentang kedua belas murid pilihan-Nya, yang akan menjadi lingkar dalam (inner circle) pelayanan-Nya, Ia naik ke atas bukit. ”Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan” (Mrk. 3:14). Mereka menjadi orang-orang yang diurapi oleh Tuhan dan diberi kuasa-kuasa pelayanan. Keterpilihan mereka bukan merupakan suatu privilese untuk dinikmati melainkan suatu tugas untuk dipenuhi.
Sesungguhnya, ketika Allah memanggil seseorang, Ia mempunyai suatu maksud khusus baginya. Kita pun dipanggil dan diutus oleh Allah melalui cara kita masing-masing untuk suatu maksud khusus Allah.


Doa: Tuhan Yesus Kristus, kuatkan dan bahagiakanlah aku dalam memenuhi panggilan dan perutusan yang Kaupercayakan kepadaku. Amin.

sumber:ziarah batin 2012

Rabu, 18 Januari 2012

Kamis, 19 Januari 2012

Kamis, 19 Januari 2012
Pekan Biasa II (H)

B. Yakobus Sales dan Wilhelmus Saultemoche;
St. Marius; St. Gerlakus; St. Gottfried

Bacaan I: 1Sam. 18:6–9;19:1–7
Mazmur : 56:2–3.9–10a.10b–11.12–13; R: 5bc
Bacaan Injil : Mrk. 3:7–12


Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: ”Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.
Renungan
Banyak orang suka berkerumun penuh rasa ingin tahu ketika ada sesuatu kejadian atau peristiwa yang menarik perhatian, misalnya ketika ada kejadian pembunuhan, kecelakaan, bom dijinakkan atau meledak, dsb. Mereka datang ingin mendapatkan sesuatu. Hal seperti itu punya magnet atau daya tarik luar biasa.
Ketika nama tenar Yesus sudah menyebar ke segala penjuru, karena apa yang mereka dengar tentang perbuatan-perbuatan-Nya, orang-orang berbondong-bondong datang ingin melihat dan berjumpa dengan Dia. Mereka datang bukan hanya dari Galilea, di mana Yesus tinggal dan berkarya, tetapi juga dari Yerusalem dan Yudea di selatan, dari seberang Sungai Yordan, bahkan dari wilayah-wilayah Tirus dan Sidon yang masih kafir. Di satu pihak jumlah besar ini tentu membesarkan hati, namun di pihak lain Yesus tahu bahwa mereka belum siap untuk memahami identitas-Nya atau siapa Dia sesungguhnya. Pemahaman dan sikap mereka terhadap Yesus masih dangkal. Mereka datang hanya didorong oleh kebutuhan-kebutuhan sesaat. Mereka belum sepenuhnya menjadi pengikut-pengikut-Nya. Mereka datang untuk mendapatkan sesuatu, belum siap untuk memberi atau sharing. Namun, Yesus tidak menolak mereka. Ia berbelarasa.
Yesus mengajarkan kita untuk tidak tergoda dengan popularitas ketika kita disanjung dan dielu-elukan. Ia memberi teladan kepada kita untuk selalu sadar akan mandat perutusan yang dipercayakan oleh Bapa-Nya, yakni menghantar semua orang mengalami kasih dan kebaikan Allah. Ia mengundang kita untuk tidak sekadar ikut Dia, tetapi untuk menjadi pengikut-Nya yang sejati dan menerima Dia sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, dampingilah aku selalu untuk mengagungkan nama-Mu dan mengimani Engkau sebagai jalan, kebenaran, dan kehidupan. Amin.

Selasa, 17 Januari 2012

Rabu, 18 Januari 2012~Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Rabu, 18 Januari 2012
Pekan Biasa II (H)
Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani
Sta. Priska; Sta. Margaretha dr Hongaria
Bacaan I : 1Sam. 17:32–33.37.40–51
.
Mazmur : 144:1.2.9–10; R: 1a
Bacaan Injil : Mrk. 3:1–6

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: ”Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka: ”Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah ta­ngannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Renungan
Dari waktu ke waktu kita dihadapkan pada suatu pilihan yang dilematis, tetapi keputusan harus diambil. Skala prioritas turut dipertimbangkan. Dalam kontroversi dengan orang-orang Farisi, yang mengamat-amati setiap gerak dan perkataan-Nya, Yesus memberikan petunjuk yang jelas untuk memilih, yakni pro kehidupan. Ia memilih untuk berbuat baik dan menyelamatkan nyawa orang yang mati sebelah tangannya daripada berkutat dengan peraturan Sabat yang kaku.

Sementara itu kaum Farisi hanya mencari-cari alasan untuk mempersalahkan Dia; mereka tidak punya keprihatinan akan nilai kehidupan yang jauh lebih tinggi daripada suatu peraturan. Mereka terdiam tanpa bisa membantah Yesus.
Kisah pertarungan antara Daud dan Goliat membeberkan bagaimana Daud—ketika itu ia belum dilantik menjadi raja—dihadapkan pada situasi sulit. Dia, yang masih muda belia, ber­hadapan dengan Goliat, seorang raksasa yang ditakuti. Ketika mengajukan diri kepada Saul untuk bertarung melawan Goliat, Saul meragukannya. ”Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu .... Sebab engkau masih muda, sedang Goliat sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit” (1Sam. 17:33). Namun, Daud telah berketetapan hati, tidak punya keraguan, untuk melawan Goliat. Yang diandalkan oleh Daud bukanlah kekuatan manusiawi, tetapi Allah yang menyertainya. Andalan Daud adalah Tuhan. Inilah kualifikasi penting bagi seorang raja yang akan memerintah atas nama Allah. Dalam melawan Goliat, Daud pun memegang tongkat, yang akan menjadi lambang pemerintahannya.

Demikian Tuhan mengajarkan kita untuk mengedepankan perbuatan baik serta keselamatan sesama kita dan senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal ikhwal kehidupan kita.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, sadarkanlah aku selalu untuk mengandalkan Engkau dan senantiasa memilih untuk berbuat baik bagi sesamaku. Amin.

Senin, 16 Januari 2012

Selasa, 17 Januari 2012 (Pw St. Antonius, Abbas (P)

Selasa, 17 Januari 2012
Pekan Biasa II
Pw St. Antonius, Abbas (P)
B. Rosaline Villeneuve; St. Sulpisius
Bacaan I: 1Sam. 16:1–13 Mazmur : 89:20.21–22.27–28; R: 21a
Bacaan Injil : Mrk. 2:23–28

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan semen­tara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: ”Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia ma­suk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu—yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam—dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

Renungan
Ada dua prinsip yang dapat dipetik dari Injil hari ini tentang hari Sabat. Pertama, segala peraturan dibuat untuk manusia dan bukan sebaliknya. Peraturan bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi untuk kebaikan manusia. Bagi kaum Yahudi, kebajikan ada demi meme­nuhi hukum. Bagi Yesus, pengamalan hukum hanya menjadi sempurna apabila hukum itu mengabdi demi kebaikan orang-orang lain dan diri sendiri. Kedua, Yesus sebagai Putra Allah tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan manusiawi, seberapa pun tingginya. Hanya ada satu hukum utama ialah kasih. Allah adalah kasih itu, maka Ia pun tidak mungkin mengingkari hakikat diri-Nya. Setiap peraturan ada untuk mengabdi pada hukum yang utama itu.

Ketika Saul tidak lagi mengabdi Allah dengan benar, tetapi lebih mengabdi kepentingannya sendiri, Allah menolak dia sebagai raja dan menggantikannya dengan Daud. Allah menjatuhkan pilihan kepada Daud, bukan kepada anak-anak Isai yang lain. Allah melihat hati manusia, sedangkan manusia melihat apa yang ada di depan mata atau tampilan luar. Kaum Farisi mementingkan praktik luaran, tetapi melupakan prinsip cinta kasih dan kedalaman hati.

Kita pun diajak untuk merefleksikan panggilan kita sendiri dan keterpilihan kita oleh Allah untuk mengabdi pada Dia dan cinta kasih-Nya. Allah mengkhususkan kita untuk tugas khas yang dipercayakan-Nya kepada kita.

Doa: Tuhan Allah yang mahabaik, mampukanlah aku untuk mengabdi Engkau sepenuh hati dan untuk memenuhi panggilan menjadi pelaku cinta kasih. Amin.

sumber:ziarah batin 2012

Jumat, 13 Januari 2012

Sabtu, 14 Januari 2012

Sabtu, 14 Januari 2012
PEKAN BIASA I (H)
St. Feliks dr Nola; B. Petrus Donders;
B. Odorikus dr Pordenone
Bacaan I: 1Sam. 9:1–4.17–19;10:1aMazmur : 21:2–3.4–5.6–7; R: 2a
Bacaan Injil : Mrk. 2:13–17

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: ”Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Renungan
Nasib seseorang sering kali tidak bisa direncanakan. Perjumpaan tak terduga dengan seseorang atau dengan suatu peristiwa tertentu dapat mengubah haluan hidup dan memberi makna baru. Pada awal April 2011 Briptu Norman Kamaru tiba-tiba menjadi terkenal dan masuk dalam kalangan selebriti gara-gara melantunkan lagu Chaiya-Chaiya disertai goyangan India dan tersebar melalui youtube. Dalam sekecap hidupnya berubah!

Saul disuruh ayahnya untuk mencari keledai-keledai betina yang hilang. Di tengah upaya pencarian yang gagal, Saul bertemu dengan Samuel untuk meminta petunjuk. Perjumpaannya ini mengubah hidupnya. Saul diurapi oleh Samuel menjadi raja sesuai perintah Tuhan. ”Sungguh, Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel. Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan” (1Sam. 10:1).

Dari seorang anak peternak, Saul menjadi raja! Lewi yang duduk di rumah cukai mengalami hal yang serupa. Yesus datang menjumpai dia dan memanggil dia untuk mengikuti-Nya. ”Ikutilah Aku!” Kiranya Lewi tidak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini. De facto seluruh haluan hidupnya berubah. Dari pemungut cukai, yang terlanjur dicap sebagai pendosa, menjadi murid Yesus yang diutus untuk mewartakan kabar sukacita-Nya. Kita juga mencatat bahwa di dalam kedua kisah ini ada Tuhan yang mengambil inisiatif dan yang berkarya.

Baiklah kita merefleksikan orang-orang atau peristiwa-peristiwa yang mengubah hidup kita masing-masing dan memberi makna baru bagi haluan hidup kita serta bagaimana Tuhan bekerja di dalam semuanya itu.

Doa: Tuhan yang mahabaik, karya-Mu sungguh agung dan tidak terduga. Aku bersyukur karena Engkau berkenan menuntun hidupku menjadi baru di dalam Dikau. Amin.

sumber:ziarah batin 2012

Selasa, 10 Januari 2012

Rabu,11 Januari 2012

Rabu,11 Januari 2012
PEKAN BIASA I (H)
St. Aleksander, Paus; St. Petrus Balsamus; St. Teodorus Cenobiarch
Bacaan I : 1Sam. 3:1–10.19–20
Mazmur : 40:2.5.7–8a.8b–9.10; R: 8a.9a
Bacaan Injil : Mrk. 1:29–39





Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mer­tua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia mem­bangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemu­dian pe­rempuan itu melayani mereka. Menje­lang ma­lam, sesudah matahari terbenam, diba­wa­lah kepada Yesus semua orang yang men­derita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah se­­luruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyem­buhkan banyak orang yang menderita ber­­macam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-se­tan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tem­pat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku mem­be­ritakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Renungan
Yesus seorang yang amat sibuk. Membaca kutipan Injil hari ini kita dapat membayangkan kesibukan luar biasa dari Yesus yang penuh aktivitas: mengajar di rumah ibadat, mengadakan kunjungan ke rumah ibu mertua Simon yang sedang menderita sakit demam, menghadapi banyak orang yang menderita berbagai macam penyakit dan yang kerasukan setan. ”Semua orang mencari Engkau” (Mrk. 1:37). Mereka semua dilayani oleh Yesus dengan baik tanpa bersungut-sungut dan disembuhkan. Semua diterima dan disapa-Nya. Namun, dalam kelelahan karya pun Yesus tetap menyempatkan diri untuk mencari tempat yang sunyi untuk berdoa.
Kita juga mungkin menghadapi kesumpekan pekerjaan kita. Ada pekerjaan ini dan itu. Kadang kita mungkin merasa tidak berdaya untuk menyelesaikan semuanya. Kita menghitung-hitung waktu dan fasilitas yang ada. Belum lagi orang lain yang datang untuk meminta kita mengulurkan tangan atau mengerjakan sesuatu. Yesus memberi contoh kepada kita. Dengan tenang Ia menghadapi aktivitasnya. Yang penting ialah kita mengerjakan semuanya dengan baik, dan orang yang mendatangi kita dilayani dengan hati.
Kita dipanggil Tuhan untuk maksud melayani dan berbuat baik. Apakah kita pernah merefleksikan panggilan Tuhan itu? Barangkali Tuhan mendatangi kita, tetapi kita tidak me­nge­nali suara-Nya yang memanggil, seperti pengalaman Samuel. Ketika akhirnya kita sadar, kita berucap: ”Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan” (1Sam. 3:10).

Doa
Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas panggilan dan kepercayaan-Mu untuk me­ng­utus aku melayani sesamaku. Dampingilah aku untuk mengerjakan segalanya dengan baik. Amin.

Senin, 09 Januari 2012

Selasa, 10 Januari 2012

Selasa, 10 Januari 2012
PEKAN BIASA I (H)
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P)
St. Gregorius X, Paus; St. Agatho, Paus; St. Petrus Orseola; St. Gregorius Nyssa
Bacaan I : 1Sam. 1:9–20Mazmur : 1Sam. 2:1.4–5.6–7.8abcd; R: 1a
Bacaan Injil : Mrk. 1:21b–28

Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera ma­suk ke dalam rumah ibadat dan me­ngajar. Mereka takjub mendengar pe­ng­ajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: ”Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hen­dak membinasakan kami? Aku tahu siapa Eng­kau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus meng­har­diknya, kata-Nya: ”Diam, keluarlah dari padanya!” Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit de­ngan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka mem­perbin­cang­kannya, katanya: ”Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di se­lu­ruh Galilea.


Renungan
”Hatiku bersukaria karena Tuhan, Penyelamatku.” Inilah refrein Mazmur tanggapan hari ini. Patutlah kita bersukaria karena kita mengalami kuasa Allah yang menaungi, membebaskan dan menyelamatkan. Dalam bacaan pertama, Hana mengalami kuasa Allah melalui pengabulan doanya di Bait Suci. Doa khusuk, penuh iman dan disertai nazar, yang dipanjatkan kepada Allah mempunyai kuasa untuk mengubah yang mustahil secara manusiawi menjadi mungkin. Hana, yang sudah lama merindukan seorang anak, diberi seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Samuel, yang berarti ”Aku telah memintanya dari Tuhan.” Doa dari hati mempunyai daya kekuatan yang besar.
Dalam bacaan Injil disebutkan bahwa Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa. Mengajar dan menyembuhkan adalah kegiatan-kegiatan utama misi Yesus. Ketika Yesus mengajar, mengkomunikasikan pesan-pesan-Nya serta visi-Nya tentang kehidupan, para pendengar-Nya sangat terkesan, karena tidak seperti para ahli Taurat, Yesus berbicara penuh kuasa dan wibawa. Ia tidak sekadar menafsirkan dan memberi makna pada Kitab Suci, tetapi lebih dari itu kuasa pengajaran-Nya memberdayakan dan membebaskan, menyejukkan dan melegakan. Pengajaran-Nya tidak opresif dan menakutkan. Kuasa-Nya menjangkau seorang yang kerasukan roh jahat dan membebaskannya.
Mempercayakan diri kepada kuasa Yesus yang memberdayakan dan membebaskan adalah sikap kita yang tepat untuk mendengarkan ajaran-Nya serta mengalami penyembuhan dan pembebasan dari beban-beban kehidupan kita sehari-hari. Kita pun dapat berseru: ”Hatiku bersukaria karena Tuhan, Penyelamatku.”

Doa
Tuhan Yesus Kristus, sabda-Mu adalah hidup dan kebenaran. Semoga kuasa-Mu tetap menaungi dan menyelamatkan aku yang berpasrah kepada-Mu. Amin.

sumber :ziarah batin 2012

Jumat, 06 Januari 2012

Sabtu, 7 Januari 2012

Sabtu, 7 Januari 2012
HARI BIASA MASA NATAL (P)
St. Raymundus dr Penafort; St. Lusianus
Bacaan I: 1 Yoh. 5:14–21
Mazmur : 149:1–2.3–4.5.6a.9b; R: 4a
Bacaan Injil : Yoh. 2:1–12








Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika me­­re­ka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata ke­­pa­da-Nya: ”Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: ”Mau apakah engkau dari pa­da-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus ber­kata kepada pelayan-pelayan: ”Apa yang dika­takan kepadamu, buatlah itu!”


Di situ ada enam tempayan yang disediakan un­tuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus ber­kata kepada pelayan-pelayan itu: ”Isilah tem­payan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Sekarang ce­­dok­lah dan bawalah kepada pemimpin pes­ta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu—dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya—ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: ”Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja.

Renungan
Bagi orang beriman doa merupakan sesuatu yang esensial dan tidak terpisahkan dari hidupnya. Melalui doa kita mengakui kekuasaan dan kebaikan Allah serta kebutuhan dan ketergantungan kita. Oleh karena itu, dalam kebutuhan manusiawi kita Dia kita puji, sembah, muliakan. Kepada-Nya kita mengucap syukur dan menyampaikan permohonan-permohonan kita.

Rasul Yohanes meyakinkan kita bahwa ”Allah mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” (1Yoh. 5:14). Sering kali kita lebih cenderung meminta agar doa-doa kita dikabulkan menurut selera, kemauan atau kehendak kita, seakan-akan kita memaksa Allah untuk memenuhi permintaan kita. Ketika kita meminta sesuatu menurut kehendak-Nya, kita mengungkapkan kepasrahan dan iman kita kepada Dia yang kita akui berkuasa dan mahabaik kepada kita. Ia mengetahui waktu yang tepat bagi kita.

Ketika Yesus dan ibu-Nya, Maria, hadir di pesta nikah di Kana, Maria peka akan kebutuhan anggur yang baru. Ia datang kepada Putra-Nya dan berkata: ”Mereka kehabisan anggur.” Maria tidak berkata banyak. Kata-katanya singkat dan padat. Ia memasrahkan semuanya kepada Yesus. Yesus memahami kebutuhan yang ada. Ia tahu tindakan apa yang harus diambil dan kapan. Yesus dan Maria hadir tepat pada waktunya di Kana dan juga di tengah kebutuhan-kebutuhan kita sebagai murid-murid-Nya dan anak-anaknya.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah iman dan harapanku bahwa Engkau dan Bunda Maria senantiasa hadir memenuhi kebutuhan-kebutuhanku. Amin.

sumber: ziarah batin 2012

Kamis, 05 Januari 2012

Jumat, 6 Januari 2012

Jumat, 6 Januari 2012
HARI BIASA MASA NATAL (P)
Kaspar, Melkior, dan Balthasar (Tiga Raja) B. Didakus Yosef dr Sadiz
Bacaan I : 1Yoh. 5:5–13
Mazmur : 147:12–13.14–15.19–20; R: 12a 
Bacaan Injil : Mrk. 1:7–11

Inilah yang diberitakannya: ”Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Pada waktu itu da­tanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: ”Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Renungan

Pada suatu hari, tiga Romo berdiskusi tentang kelelawar-kelelawar yang menghinggapi Gereja mereka masing-masing. Mereka saling berbagi cerita tentang cara ampuh untuk mengusir kelelawar-kelelawar itu dari dalam Gereja karena dianggap mengganggu. Romo A berkata: ”Saya mengambil senapan lalu menembaki mereka satu per satu; banyak yang mati, tetapi masih banyak yang tetap hidup.” Romo B berkata: ”Saya sudah menyemprot mereka dengan pestisida, tetapi mereka malahan bertambah banyak.” Romo C menimpali dengan berkata: ”Saya sudah bebas dari masalah kelelawar.” ”Apa yang kaubuat?” tanya kedua rekan Romo lain penuh rasa ingin tahu. ”Saya baptis mereka; sesudah itu saya tidak melihat mereka lagi di dalam Gereja. Mereka sudah pergi keluar.”
Injil hari ini mengisahkan tentang baptisan Yohanes dengan air dan baptisan Yesus dengan Roh: ”Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (Mrk. 1:8). Baptisan mempunyai dimensi misioner atau perutusan. Mereka yang dibaptis tidak sekadar menjadi anggota Gereja, tetapi diutus untuk pergi memberi kesaksian tentang cinta dan kebaikan Allah. Ada banyak anggota umat yang penuh kesetiaan dan komitmen menjalankan tugas perutusan yang luhur ini. Namun, kita masih menemukan mereka yang sudah dibaptis, tetapi hanya menjadi baptisan KTP, jarang ke Gereja atau berdoa; mereka menjadi baptisan nominal, yakni hanya nama saja. Ada juga baptisan yang tidak terbentuk dalam nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan Kristiani. Mereka tidak peduli dengan ajaran-ajaran dan kewajiban-kewajiban sebagai orang-orang yang dibaptis. Ada pula yang acuh tak acuh, tidak mau tahu dan tidak mau terlibat dengan perutusan Gereja.
Baptisan mengingatkan kita akan martabat sebagai anak-anak Allah yang mendapat tugas perutusan untuk pergi ”memberitakan Injil ke seluruh dunia agar segala bangsa menjadi murid-murid-Nya” (Mat. 28:19; Mrk. 16:15).

Doa
Tuhan Yesus Kristus, penuhilah aku dengan Roh-Mu dan nyalakanlah hatiku dengan sukacita Injil, agar aku sanggup memberi kesaksian tentang cinta dan kebaikan-Mu. Amin.

sumber:ziarah batin 2012

Rabu, 04 Januari 2012

Kamis, 5 Januari 2012
HARI BIASA MASA NATAL (P)
St. Simeon Stylites Tua;
St. Yohanes Nepomuk Neumann; B. Karolus Houben
Bacaan I: 1Yoh. 3:11–21
Mazmur : 100:1–2.3.4.5; R: 1
Bacaan Injil : Yoh. 1:43–51

Pada keesokan harinya Yesus memu­tus­kan untuk berangkat ke Galilea. Ia ber­temu dengan Filipus, dan berkata ke­pa­danya: ”Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu de­ngan Natanael dan berkata ke­padanya: ”Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”

Kata Natanael kepadanya: ”Mung­­kinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: ”Mari dan lihat­lah!” Yesus melihat Natanael datang kepa­da-Nya, lalu berkata tentang dia: ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

Kata Natanael ke­pada-Nya: ”Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: ”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: ”Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: ”Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Renungan
Sikap skeptis berupa rasa curiga, tidak mudah percaya dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di zaman-Nya, Yesus juga menghadapi sikap skeptis dari Natanael, yang bahkan memberi komentar sinis: ”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46). Tampaknya Natanael tidak menyukai Nazaret, tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di sana dan tidak mau berhubungan dengan orang-orang di sana. Baginya tidak mungkin seorang Mesias datang dari kota kecil yang tidak terkenal.

Kita juga bisa tergoda mengikuti sikap Natanael, yakni menolak orang-orang lain atau mengambil jarak dari mereka, karena mereka berasal dari kalangan, suku, daerah atau posisi yang kita tidak sukai. Kadangkala menolak, meragukan atau tidak percaya akan kelebihan dan kemampuan orang lain. Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari si A atau si B, atau dari daerah atau suku C atau D?

Rekannya Filipus mengambil strategi yang lebih bijaksana, yakni mengundang Natanael untuk ”mari dan lihatlah!” (Yoh. 1:47), yakni untuk mengalami secara pribadi siapakah Yesus itu. Ketika berjumpa dengan Yesus secara langsung, Natanael menemukan dalam diri-Nya hal-hal yang melampaui harapan dan impiannya. Yesus mengetahui pemikiran dan kedalaman hatinya dan mewahyukan kepadanya keinginannya yang terdalam, yakni mengenal Dia secara pribadi. Yesus menghantar Natanael pada iman yang baru. Yesus juga menyukai sifat dan sikapnya yang penuh ketulusan dan tidak berpura-pura. ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh. 1:47).

Doa: Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku hati yang murni dan tulus, untuk semakin mengenal Engkau; jauhkanlah aku dari sikap berpura-pura dan munafik. Amin.

Senin, 02 Januari 2012

Selasa, 3 Januari 2012
Pesta Nama Yesus yang Tersuci

st. Anterus, Paus; St. Fulgensius

Bacaan I: 1Yoh. 2:29–3:6
Mazmur : 98:1.3c–4.5-6; R: 3cd
Bacaan Injil : Yoh. 1:29–34


Pada keesokan harinya Yohanes meli­­hat Yesus datang kepadanya dan ia ber­ka­ta: ”Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sen­diri pun mula-mula tidak mengenal Dia, te­tapi untuk itulah aku datang dan membaptis de­ngan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ”Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”


Renungan

Dari waktu ke waktu kita senang memperkenalkan seseorang kepada orang lain, entah dia anggota keluarga kita, kenalan atau sahabat kita. Diharapkan semakin kita mengenal seseorang semakin kita mencintainya pula.

Dalam Injil hari ini Yohanes pertama-tama memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yohanes memperkenalkan misi Yesus sebagai hamba Yahweh yang menderita, yang menanggung dosa banyak orang (Yes. 53:7, 12). Kedua, Yesus dilukiskan sebagai pribadi yang dipenuhi oleh Roh Kudus. ”Aku melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atas-Nya.” Yesus ini juga yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dengan daya Roh yang sama Yesus melayani.
Sebagai murid-murid-Nya kita juga diundang untuk terus-menerus mengintensifkan pengenalan kita akan pribadi Yesus yang kaya dan misi-Nya yang luas serta memperkenalkan Dia kepada saudara-saudari kita. Ketika kita melakukan hal ini kita ikut serta dalam pelayanan-Nya dan oleh karenanya kita pun diberi daya Roh Kudus-Nya. Pelayanan kita menjadi tidak bermakna kalau terpisah dari Roh.

Doa: Tuhan Yesus, penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu agar aku mampu semakin lebih mengenal Engkau dan semakin berdaya untuk memperkenalkan Engkau dan perutusan-Mu kepada semakin banyak orang. Amin.

sumber: ziarah batin 2012

Kamis, 29 Desember 2011

Sabtu, 31 Desember 2011(ziarah batin 2011)

Sabtu, 31 Desember 2011
Hari ke-7 Oktaf Natal (P)

Sta. Melania; St. Silvester I, Paus

Bacaan I: 1Yoh. 2:18–21
Mazmur : 96:1–2,11–12,13; R: 11a
Bacaan Injil : Yoh. 1:1–18

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang ke­pada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: ”Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Renungan

Hari terakhir di tahun ini. Banyak dari kita sibuk membuat acara untuk menyambut tahun yang baru. Saatnya kembali menoleh ke belakang. Banyak hal yang terjadi. Ada kegagalan, ada keberhasilan, ada kejutan. Mungkin ada sahabat kita yang telah berubah menjadi pembenci kita, tetapi mungkin ada pula yang semula memusuhi kita sekarang justru menjadi sahabat kita. Kita pun bisa bertanya, apakah kita ini sungguh menjadi sahabat Tuhan, atau sebaliknya, tanpa sadar kita menjadi musuh-Nya.

Banyak orang akhirnya memusuhi Tuhan karena terus berpegang pada cara berpikir mereka sendiri. Cara bertindak Tuhan dinilai tidak masuk akal, tidak relevan, bahkan keliru. Mereka yang tetap setia diajak untuk percaya bahwa mereka telah diberi kuasa untuk sungguh hidup sebagai anak-anak Allah. Kita diundang untuk menggunakan kuasa itu seturut kehendak-Nya. Hanya di dalam Dia ada hidup. Hanya dalam Dia segala pengalaman tahun ini punya arti. Hanya dalam Dia tahun yang baru akan bermakna. Selamat menyambut Tahun Baru. Tuhan Memberkati.

Doa: Yesus, langit dan bumi bersorak-sorai bagi-Mu. Kupersembahkan segala yang terjadi selama tahun ini, dan segala yang akan terjadi di tahun yang baru ini. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 30 Desember 2011~Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf(ziarah batin 2011)

Jumat, 30 Desember 2011Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf (P)
St. Sabinus

Bacaan I: Kej. 15:1–6; 21:1–3
Mazmur : 105:1b–2,3–4,5–6,8–9; R: 7a,8a
Bacaan Injil : Luk. 2:36–40

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.


Renungan

Sebuah janji memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah untuk dipenuhi. Janji di depan altar antara seorang perempuan dan seorang lelaki untuk setia seumur hidup dan membangun sebuah keluarga akan membutuhkan waktu untuk dipenuhi. Tidak ada seorang pun yang sudah bisa tahu secara persis bagaimana jalan kehidupan pasangan dan keluarga baru itu. Janji manusia yang lemah hanya bisa didasarkan pada janji setia Tuhan yang tak akan pernah lalai mendampingi kita.

Bila Tuhan berani setia pada janji-Nya kepada Abraham dengan memberikan Ishak kepadanya, Tuhan pun berani setia pada janji-Nya kepada kita masing-masing. Bagaimana persisnya Tuhan bekerja memenuhi janji-Nya tentu kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Yang bisa kita lakukan adalah terus melangkah bersama-Nya. Yusuf dan Maria pun menyaksikan bahwa kanak-kanak Yesus bertambah besar dan bertumbuh dalam hikmat Tuhan sendiri. Tuhan memiliki irama kerja yang unik.

Doa: Yesus, hanya Engkaulah Tuhan. Inilah aku, inilah keluargaku. Aku percaya bahwa Engkau selalu setia memenuhi janji-Mu. Aku melangkah bersama-Mu. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Rabu, 28 Desember 2011

Kamis, 29 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 29 Desember 2011
Hari ke- 5 Oktaf Natal (P)
St. Thomas Becket dr Canterbury; St. Kaspar Del Bufalo;
Daud (Raja Israel)

Bacaan I: 1Yoh. 2:3–11
Mazmur : 96:1–2a,2b–3,5b–6; R: 11a
Bacaan Injil : Luk. 2:22–35

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: ”Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”


Renungan

Bila lampu tiba-tiba padam dan kegelapan menyelimuti kita, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tetaplah diam. Bukalah mata lebar-lebar hingga mata mulai menyesuaikan diri dalam kegelapan itu. Jika kita begitu saja cepat-cepat terus berjalan, sangatlah mungkin kita akan menabrak bahkan memecahkan perabot rumah kita. Untuk mencintai sesama pun kita membutuhkan waktu sampai mata hati kita bisa melihat.


Bila tidak, kita akan cepat membenci orang itu dan menganggapnya penyakit menular yang harus dihindari.
Simeon telah lama mengolah hatinya sehingga bisa melihat dengan tajam. Ia mengenali tangan Tuhan yang berkarya dalam diri bayi mungil Yesus yang sedang dipersembahkan. Jika Yesus sebagai Terang bagi bangsa-bangsa itu sungguh dibiarkan bercahaya, setiap kenyataan akan terlihat apa adanya. Orang harus membuat pilihan. Kenyataan yang jahat harus diakui sebagai yang jahat tanpa ditutup-tutupi dengan polesan cantik. Sebaliknya, yang baik harus dipegang teguh dengan segala risikonya.  

Doa: Yesus, langit dan bumi bersorak-sorai memandang Engkau. Berilah aku mata yang baru untuk mengenali kenyataan dan membuat pilihan yang tepat. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 22 Desember 2011

Jumat, 23 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 23 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U)
St. Yohanes dr Kety; St. Servulus
Bacaan I: Mal. 3:1-4; 4:5-6
Mazmur : 25:4bc-5ab,8-9,10,14 R: Luk. 21:28
Bacaan Injil : Luk. 1:57-66

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: ”Jangan, ia harus dinamai Yohanes.”
Kata mereka kepadanya: ”Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikan­nya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: ”Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.


Renungan

Sejumlah pengendara sepeda motor yang sengaja tidak mengambil jalur lambat tiba-tiba terkejut ketika ternyata di depan mata ada sekelompok polisi menghentikan mereka. Untuk lari atau berbalik sudah terlambat. Tidak jarang Tuhan juga bertindak secara tiba-tiba di luar perkiraan kita. Bila saatnya tiba, Tuhan pun tak perlu meminta izin kepada kita untuk melaksanakan rencana-Nya. Saat yang mengejutkan itu sering sengaja dipilih oleh Tuhan ketika kita tidak siap, karena justru dengan cara itulah kita dimurnikan.

Kita disadarkan bahwa kita melakukan yang baik karena memang kita menghendaki yang baik, bukan karena takut akan hukuman. Kerabat Zakharia dikejutkan ketika anak yang baru dilahirkan itu harus diberi nama Yohanes. Mereka pun dibuat bertanya-tanya. Tindakan Tuhan yang mengejutkan hanya bisa diterima, meskipun kita tidak selalu bisa memahami sepenuhnya pada saat itu terjadi. Dengan cara itu, kita pun diundang untuk melangkah hanya dalam keyakinan bahwa rencana-Nya itulah yang terbaik.

Doa: Yesus, aku bangkit dan mengangkat mukaku karena aku tahu penyelamatanku sudah dekat. Aku tidak selalu memahami Engkau, tetapi aku tetap melangkah. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 21 Desember 2011

Kamis, 22 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 22 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U)
St. Teodoros; St. Yosef Moscati
Bacaan I: 1Sam. 1:24–28
Mazmur : 1Sam. 2:1,4–5,6–7,8abcd; R: 1a
Bacaan Injil : Luk. 1:46–56

Lalu kata Maria: ”Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesung­guhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.


Renungan

Orang meremehkan Susan Boyle ketika ia tampil dalam acara Britain’s Got Talent April 2009 yang lalu. Namun demikian, akhirnya seluruh dunia tercengang setelah mendengar suara ajaibnya yang begitu menakjubkan. Wajah dan potongan tubuhnya yang tidak meyakinkan itu telah mampu merendahkan banyak penyanyi yang lebih menawan. Kejadian itu bisa menjadi simbol tentang cara kerja Tuhan. Banyak orang yang lemah justru dipersenjatai secara menakjubkan dengan kekuatan Tuhan sendiri.

Hana mempersembahkan Samuel kepada Tuhan sesuai dengan janjinya. Bagi Hana, anaknya itu bukti nyata bahwa Tuhan sungguh menjungkir balikkan penilain buruk tentang dirinya. Maria pun sadar akan keadaan dirinya yang sebenarnya sungguh tak istimewa. Kerendahan atau sisi lemah diri kita perlu kita peluk erat karena justru di sanalah Tuhan akan memperlihatkan kuasa-Nya secara menakjubkan. Kelemahan kita akan diarahkan secara baru oleh rahmat Tuhan sehingga menjadi kekuatan kita.

Doa: Yesus, aku bersukaria karena Engkau Penyelamatku. Sentuhlah bagian yang paling lemah dalam diriku dengan kekuatan-Mu sendiri. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Senin, 19 Desember 2011

Selasa, 20 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 20 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U)
St. Filigon
Bacaan I: Yes. 7:10–14
Mazmur : 24:1–2,3–4ab,5–6; R: lih. 7c,10b
Bacaan Injil : Luk. 1:26–38

Dalam bulan yang keenam Allah me­nyuruh Malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin ter­jadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


Renungan

Dalam dunia kerja dikenal adanya surat peringatan. Tidak jarang pula bila persoalannya begitu serius, setelah surat itu diberikan, atasan kita sendiri memanggil kita. Kita pun tersentak gemetar ketika tiba-tiba sadar bahwa ada kemungkinan kita akan dipecat. Tuhan telah bekerja dengan berbagai cara untuk mengingatkan manusia. Sekian banyak tanda diberikan. Kini ada tanda yang mengejutkan: seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan. Sentakan kadang dibutuhkan untuk membuka mata kita.

Tuhan sungguh beserta kita, Immanuel. Ia ingin kita percaya akan hal ini. Kita diajak untuk berhadapan dengan Tuhan dengan tetap mengakui kekuasaan-Nya yang bisa sangat membuat kita gemetar, tetapi pada saat yang sama kita pun diajak untuk percaya dan tidak takut. Maria sungguh memahami hal ini. Kekuasaan-Nya akan diperlihatkan untuk membela kita. Tuhan tentu tidak ragu menegur kita bila kita bersalah. Sentakan yang tidak enak adalah ungkapan kesungguhan Tuhan yang mengasihi kita.

Doa: Yesus, Engkau segera datang sebagai Raja Kemuliaan bagiku. Aku memberi-Mu kebebasan untuk memperlihatkan kuasa cinta-Mu dalam hidupku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 16 Desember 2011

Sabtu, 17 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Sabtu, 17 Desember 2011
Hari Biasa Khusus Adven (U)
Lazarus (Sahabat Yesus), St. Olympias
Bacaan I: Kej. 49:2,8–10
Mazmur : 72:1,3–4b,7–8,17; R: 7
Bacaan Injil : Mat. 1:1–17

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanak­kan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.


Renungan

Kita tidak perlu memeriksa tiap detik bahwa sebuah tanaman sedang bertumbuh. Bila kita terus mengorek tanah untuk memeriksa apakah akar sudah bertambah, kita akan mematikan tanaman itu. Kita hanya perlu belajar mempercayakan prosesnya pada sebuah daya hidup yang akan menemukan bentuknya pada saatnya. Janji Tuhan tidak pernah gagal.
Manusia sering terlalu cepat meremehkan Tuhan bila tidak segera terlihat ada hasilnya. Tuhan kita perlakukan sebagai singa tua yang sudah kehilangan tenaga.

Pertobatan tentu memuat keharusan agar kita mengubah diri kita. Namun, tak kalah pentingnya, kita pun perlu mengubah penilaian kita tentang Tuhan sendiri. Kedatangan Yesus disiapkan sedemikian lama melewati sekian banyak generasi. Silsilah yang ada jelas memperlihatkan betapa Tuhan terus melanjutkan daya hidup bagi pemenuhan janji-Nya tanpa selalu bisa dikenali oleh manusia. Kita perlu membebaskan Tuhan dari penilaian keliru kita tentang Dia agar daya hidup itu sungguh berbuah dalam diri kita.

Doa: Yesus, Engkau bekerja secara tersembunyi bagiku. Ajari aku untuk mengenali karya-Mu dan tidak lagi meremehkan kekuatan-Mu yang perkasa. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Kamis, 15 Desember 2011

Jumat, 16 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Jumat, 16 Desember 2011
St. Sturmius, Sta. Teofanu; B. Maria dr Malaikat
Bacaan I: Yes. 56:1–3a,6–8
Mazmur : 67:2–3,5,7–8; R: 4a
Bacaan Injil : Yoh. 5:33–36

”Kamu telah mengirim utusan kepa­da Yohanes dan ia telah bersak­si ten­tang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.”


Renungan

Kecantikan sejati muncul dari dalam. Demikian bunyi ajaran bijak. Jika tidak ada kecantikan dari dalam, polesan indah di bagian luar pasti akan terasa hampa pada saatnya. Tuhan melakukan banyak hal baik. Sedemikian baiknya Tuhan, hingga Ia pun ingin merangkul sebanyak mungkin orang, termasuk orang-orang di luar bangsa Israel sendiri. Mereka yang sudah percaya pun memancarkan keindahan dari dalam yang juga memikat banyak orang. Semua akan bersukacita di dalam rumah doa bagi Tuhan.

Yohanes Pembaptis tentu secara lahiriah tidak menarik. Namun, dari dalam dirinya terpancar sebuah kekuatan, keindahan, kebeningan. Ia adalah pelita yang menyala dalam kegelapan. Perkataannya tegas dan memang perlu disuarakan. Namun, lebih penting dari itu adalah pekerjaannya. Yesus pun demikian. Hidup dan pekerjaan yang secara setia dilakukan-Nya menegaskan bahwa Ia sungguh diutus oleh Bapa. Kejujuran kita dari dalam akan menentukan keaslian pekerjaan dan kekuatan daya pikat kita bagi orang lain.

Doa: Yesus, bersama segala bangsa aku bersyukur kepada-Mu. Jadikan diriku indah dari dalam agar memikat orang untuk datang dan bersukacita dalam Engkau. Amin.


sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 14 Desember 2011

Kamis, 15 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Kamis, 15 Desember 2011
Pekan Adven III (U)
Sta. Kristiana
Bacaan I : Yes. 54:1–10
Mazmur : 30:2,4–6,11–12a,13b; R: 2a
Bacaan Injil : Luk. 7:24–30


Setelah suruhan Yohanes itu pergi, mulai­lah Yesus berbicara kepada orang ba­nyak itu tentang Yohanes: ”Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.” Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.

Renungan
Satu pertanyaan yang sangat sulit dijawab adalah ”Apakah yang sebenarnya menjadi kerinduan hidupku yang paling dalam?” Pilihan yang kita buat sering hanya merupakan reaksi di permukaan saja. Kita pun melakukan banyak reaksi yang tanpa arti. Tuhan ingin memberi yang terbaik bagi kita, tetapi Tuhan mungkin selama ini menanti sampai kita sungguh menginginkannya. Kepada kita pun terus ditawarkan kemungkinan-kemungkinan baru. Hal yang semula tampak tak mungkin akan menjadi mungkin.
Untuk menyadarkan kita, tidak jarang Tuhan menegur kita secara keras. Sayangnya, banyak orang kecewa ketika merasa telah ditegur oleh Tuhan, dan justru membalas dengan kemarahan dan memusuhi-Nya. Tuhan memakai Yohanes Pembaptis untuk menegaskan kasih-Nya yang takkan pernah goncang. Namun demikian, banyak orang begitu bangga dengan keadaan diri mereka sehingga mereka menolak kasih itu. Kita lupa, bahwa mungkin itulah yang sebenarnya menjadi kerinduan terdalam hidup kita.

Doa
Yesus, aku memuji Engkau, karena Engkau membebaskan aku, dan mengubah tangisku menjadi tarian. Mampukan aku terus memilih dan menerima Engkau. Amin.


sumber :ziarah batin 2011

Senin, 12 Desember 2011

Selasa, 13 Desember 2011~Pw Sta. Lusia, PrwMrt (ziarah batin 2011)

Selasa, 13 Desember 2011
Pekan Adven III
Pw Sta. Lusia, PrwMrt. (M)
Sta. Odilia

bacaan I : Zef. 3:1–2,9–13
Mazmur : 34:2–3,6–7,17–18,19,23; R: 7a
Bacaan Injil : Mat. 21:28–32

”Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: ”Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan menda­hului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”


Renungan

Para orang tua sering bercerita bahwa mendidik dan membesarkan anak sering mengandung misteri. Yang semula anak nakal ternyata akhirnya sukses dan jadi orang baik. Sebaliknya, yang semula manis ternyata akhirnya justru jatuh dalam narkoba dan masuk penjara. Mungkin seperti itu pula yang terjadi dalam perjalanan hidup kita yang sedang dididik oleh Tuhan sendiri. Yang menentukan adalah apakah kita terbuka untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan kita atau tidak.
Tuhan menawarkan berkat istimewa kepada Israel, tetapi banyak dari mereka menolaknya. Yesus menawarkan cinta-Nya, tetapi justru pelacur, pemungut cukai, dan orang-orang berdosa yang menyambutnya. Semua orang tentu melakukan kesalahan dalam hidupnya. Adalah bencana besar ketika orang menjadi yakin bahwa dirinya sudah sempurna dan tak perlu lagi belajar untuk menjadi lebih baik. Orang semacam ini tidak hanya menipu Tuhan dan sesamanya, tetapi juga dirinya sendiri.

Doa: Yesus, aku berseru kepada-Mu, dengarkanlah aku. Aku ingin memperbarui hidupku. Bentuklah hatiku agar dengan rendah hati belajar dari kesalahanku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Jumat, 09 Desember 2011

Sabtu, 10 Desember 2011~Pw SP Maria dr Loreto (ziarah batin 2011)

Sabtu, 10 Desember 2011
Pekan ADVEN II (U)
Pw SP Maria dr Loreto; St. Miltiades, Paus;
B. Marc Antonio Durando

Bacaan I: Sir. 48:1–4,9–11
Mazmur : 80:2ac,3b,15–16,18–19; R: 4
Bacaan Injil : Mat. 17:10–13

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: ”Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.


Renungan

Ada seorang Uskup datang ke sebuah paroki. Tak ada yang mengenalinya. Ia pun ditolak masuk pastoran karena dikira penipu yang hanya ingin meminta uang. Hal serupa sering terjadi. Sebuah kuasa besar sering tersembunyi. Orang pun mudah menilai sesama hanya berdasarkan penampilannya. Kuasa Tuhan turun atas Elia yang diagungkan kemuliaannya itu. Tujuan pemberian kuasa itu tidak lain adalah untuk menyampaikan cinta Tuhan yang ingin agar hati bapa kembali kepada anaknya. Kuasa Tuhan adalah kuaca cinta.

Sering kali cara terbaik untuk melunakkan hati yang begitu keras adalah menyirami orang itu dengan cinta tulus. Mereka yang memperlakukan Yohanes Pembaptis sesuka hati sebenarnya merindukan cinta. Karena hanya memusatkan diri pada hal besar yang terlihat dalam penampilan, mereka pun tidak mengenali kuasa besar Tuhan dalam diri Yohanes Pembaptis yang harus mendahului Yesus. Banyak orang seperti itu diutus kepada kita, tetapi kita enggan mengenali mereka.

Doa: Yesus, pulihkanlah aku dengan cinta-Mu. Aku ingin selalu mampu mengenali keperkasaan-Mu yang sering tersembunyi dalam cinta lembut sesamaku. Amin.

sumber :ziarah batin 2011

Rabu, 07 Desember 2011

Kamis, 8 Desember 2011~HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA (ziarah batin 2011)

Kamis, 8 Desember 2011
HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA (P)

Bacaan I: Kej. 3:9–15,20
Mazmur : 98:1,2–3ab,3c–4; R: 1ab
Bacaan II : Ef. 1:3–6,11–12
Bacaan Injil : Luk. 1:26–38

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang ber­tunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin ter­jadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


Renungan

Di Jakarta semakin banyak orang menggunakan Blackberry. Meskipun demikian, betapa sering terdengar ucapan mereka yang sudah lama menggunakannya, ”Oh, ternyata Blackberry bisa untuk seperti itu.” Gambaran hidup kita mungkin juga seperti itu. Segala berkat rohani di surga sudah diberikan agar kita bisa hidup kudus tak bercela. Kekuatan Tuhan untuk menginjak kepala ular pun sebenarnya sudah kita terima. Persoalannya, kita sering tidak menyadarinya, atau tidak mau menggunakannya secara penuh.

Kita ingin menjadi pemenang dalam pertandingan melawan godaan kehidupan, tetapi sebenarnya kita belum memiliki hati seorang pemenang itu. Maka, kita terus meminta apa yang sebenarnya sudah diberikan kepada kita. Maria sebagai Hawa yang baru memberi gambaran tentang keterbukaan pada kekuatan Tuhan agar kita pun sungguh hidup sebagai pemenang. Itu dilakukan karena Roh Kudus menaungi dia. Hal yang sama juga terjadi pada kita. Kita hanya perlu membiarkan Roh itu berkarya secara penuh dalam hidup kita.

Doa: Yesus, aku menyanyikan lagu baru bagi-Mu yang telah melakukan karya agung bagiku. Aku biarkan lengan-Mu yang kuat terus merebut kemenangan bagiku. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Selasa, 06 Desember 2011

Rabu, 7 Desember 2011~ Pw. St. Ambrosius, UskPujG(ziarah batin 2011)

Rabu, 7 Desember 2011
Pekan ADVEN II
Pw. St. Ambrosius, UskPujG (P)
Bacaan I: Yes. 40:25–31
Mazmur : 103:1–2,3–4,8–10; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 11:28–30

”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Ku­pasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”


Renungan

Mereka yang hobi memelihara tanaman tentu yakin, bahwa tanaman yang diberi ”nama” dan disapa tiap hari akan bertumbuh lebih baik. Seolah ada tambahan daya hidup yang dialirkan lewat sapaan itu, meskipun tak terlihat. Banyak orang hanya mengakui Tuhan bila ada bukti karya-Nya yang terlihat. Jika tidak, Tuhan dengan mudah dianggap tidak lagi peduli pada ciptaan dan manusia. Ketika manusia tidak lagi mengandalkan kekuatan Tuhan, ia pun akan segera menjadi lesu dan mudah tersandung jatuh.

Cara kita memikul beban itu akan sangat menentukan. Yesus tahu itu, sehingga Ia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, dan menerima pikulan baru dari-Nya yang lebih enak. Beban mungkin tetap sama, tetapi dengan alat pikul yang lebih nyaman, beban berat pun akan lebih nyaman di pundak kita. Rahasia yang perlu kita pelajari dari Yesus adalah dua ciri penting dalam cara bertindak-Nya: lemah lembut dan rendah hati. Dari sanalah mengalir kekuatan dahsyat untuk memikul beban hidup kita.

doa:Yesus, jiwaku memuji Engkau dan mengingat segala kebaikan-Mu. Engkau telah mengampuni dan memahkotai aku. Aku sambut pikulan baru dari-Mu. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Senin, 05 Desember 2011

Selasa, 6 Desember 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 6 Desember 2011
Pekan ADVEN II (U)
St. Nikolas dr Myra
Bacaan I: Yes. 40:1–11
Mazmur : 96:1–2,3,10ac,11–12,13; R: Yes. 40:10ab
Bacaan Injil : Mat. 18:12–14

”Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata ke­­padamu: Sesungguhnya jika ia berhasil me­nemukan­nya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”


Renungan

Ada banyak bentuk hukuman. Yang paling efektif adalah hukuman dengan cinta. Jika seorang anak gemetar dan takut setelah melakukan kesalahan, tetapi ayahnya memeluknya dan mengampuninya, itulah bentuk hukuman dengan cinta yang akan mengubah hidup anak itu menjadi lebih baik. Akan berbeda akibatnya jika anak tersebut dihukum dengan amarah dan caci maki—kenakalannya akan semakin menjadi-jadi. Dengan amarah dan caci maki, yang buruk tidak akan menjadi baik, bahkan yang baik pun bisa menjadi rusak.

Kepada bangsa Israel yang telah tidak setia pun Tuhan terus menegaskan cinta-Nya. Ia tahu, hanya melalui hukuman dengan cinta itulah akan ada sebuah pertobatan yang asli dan mendalam. Tanpa cinta, pertobatan hanyalah pura-pura.
Demikian besar cinta Tuhan, sehingga kita masing-masing sungguh diperjuangkan. Tak ada yang kurang berharga daripada yang lain. Lebih dari itu, justru yang hilang itu diperlakukan secara lebih istimewa. Tuhan siap terluka oleh duri semak ketika Ia mencoba membebaskan kita yang tersangkut. Ia sungguh bersukacita ketika kita kembali kepada-Nya. Persoalannya, sering kita justru sedih ketika Tuhan menemukan kita dan ingin membawa kita kembali. Tanpa sadar kita lebih merasa betah dalam dosa-dosa kita.

Doa: Yesus, Engkau datang dengan kekuatan-Mu untuk menarik aku dari perangkap dosa. Aku tidak lagi mau hidup dalam perhambaan. Bebaskanlah aku. Amin.

sumber : ziarah batin 2011

Jumat, 02 Desember 2011

Sabtu, 3 Desember 2011~Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi (ziarah batin 2011)

Sabtu, 3 Desember 2011
Pekan ADVEN I
Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Karya Misi (P)
Bacaan I : 1Kor. 9:16–19,22–23
Mazmur : 117:1,2; R: Mrk. 16:15
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–20


Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil ke­pa­da segala makhluk. Siapa yang per­caya dan dibaptis akan diselamatkan, teta­pi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.



Renungan

Seorang pembawa berita memang mahir berkata-kata tentang sebuah kejadian. Namun demikian, seorang saksi mata kejadian yang sama akan bisa bercerita dengan seluruh dirinya. Kejadian itu bukan hanya berita, melainkan sebuah pengalaman. Pewartaan Injil bukanlah soal berkata-kata, tetapi soal daya luar biasa Tuhan dari dalam diri kita. Daya itu demikian kuat sehingga kita akan merasa celaka bila tidak bercerita. Kesempatan untuk bercerita tentang Yesus akan kita pandang jauh lebih besar daripada upah apa pun.

Kesempatan untuk itu pun bukanlah alasan untuk memegahkan diri. Jauh di dalam lubuk hati kita jelas digemakan sebuah keyakinan bahwa hanya kekuatan Tuhan yang berkuasa menembus lapisan tebal tiap hati manusia. Tuhan pun bersedia meneguhkan pewartaan kita dengan tanda yang diperlukan sejauh kita mengizinkan Tuhan untuk melakukan itu. Ketika kita mulai yakin bahwa tanda-tanda luar biasa itu adalah bukti akan kehebatan kita, pada saat itu pula kita berada di ambang kehancuran.

Doa
Yesus, aku ingin terus bercerita tentang karya agung-Mu di antara segala bangsa. Aku rindu untuk mewartakan Engkau dalam kejujuran dan kerendahan hati. Amin.

sumber :ziarah batin 2011