“Dalam liturgi Gereja, dalam doanya, dalam persekutuan kaum beriman yang hidup kita mengalami kasih Allah, kita menyadari-Nya dan belajar mengenal kehadiran-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Ia lebih dulu mengasihi kita dan terus mengasihi; maka juga kita dapat menanggapinya dengan kasih. Allah tidak menuntut perasaan, yang tidak bisa kita rasakan, dan karena dari "lebih dahulu" kasih Allah ini, dapatlah dalam diri kita bersemi kasih sebagai jawaban.” (Paus Benediktus XVI, Ensiklik Deus Caritas Est, Allah adalah kasih, No. 17)
Jumat, 10 Februari 2017
Kamis, 09 Februari 2017
Rabu, 08 Februari 2017
Setan
“Tanpa Allah manusia tidak tahu kemana ia harus pergi dan tidak mampu memahami siapakah dirinya.” (Paus Benediktus XVI, Ensiklik Caritas in Veritate, Kasih dalam Kebenaran, No. 78)
Selasa, 07 Februari 2017
Pikiran yg jahat
“Orang yang dibaptis menjalankan perutusannya di dalam Gereja, persekutuan semua orang yang dibaptis” (Katekismus Gereja Katolik, 2030)
Senin, 06 Februari 2017
Minggu, 05 Februari 2017
Kamis, 02 Februari 2017
Rabu, 01 Februari 2017
*⚪GAJI DAN BERKAT⚪*RENUNGAN PAGI.1 PEBR'17
*Gaji itu ada slipnya*
*Berkat tidak ada slip*
*Gaji itu dari Boss*
*Berkat itu dari TUHAN*
*Gaji itu hanya uang*
*Berkat bisa berupa banyak hal.*
*Gaji itu diperoleh dengan kerja.*
*Berkat itu diperoleh dengan iman.*
*Gaji itu sudah terduga,*
*Berkat itu sering tak terduga.*
*Gaji mungkin sudah besar, tapi terasa kurang*
*Berkat itu selalu mencukupi, meski tak seberapa..*
*Gaji harus dikejar, dicari dan diusahakan dengan bekerja.*
*Namun Berkat bisa datang bagi orang yang percaya.*
*Tidak semua orang memiliki gaji,* *tetapi setiap orang bisa memiliki Berkat.*
*Gaji memungkinkan tertukar dengan lain orang,* *tetapi Berkat tidak akan pernah tertukar.*
*Besaran gaji ditentukan oleh masa kerja dan kinerja,* *sementara besaran Berkat ditentukan iman dan percaya kita pada TUHAN .*
*So, jangan pernah cemas, khawatir, resah, dan gundah terhadap nasib yang akan datang,* *terlebih jangan pernah merasa susah dan sedih terhadap yang luput dari masa lalu.*
*Yakinlah bahwa rencana dan kuasa TUHAN tepat dan indah pada saatnya.*
*Jadi...... gaji itu hanya* *sebagian kecil dari Berkat.*
π
π»π· *SELAMAT PAGI ...* πΊπΎ
*Gaji itu ada slipnya*
*Berkat tidak ada slip*
*Gaji itu dari Boss*
*Berkat itu dari TUHAN*
*Gaji itu hanya uang*
*Berkat bisa berupa banyak hal.*
*Gaji itu diperoleh dengan kerja.*
*Berkat itu diperoleh dengan iman.*
*Gaji itu sudah terduga,*
*Berkat itu sering tak terduga.*
*Gaji mungkin sudah besar, tapi terasa kurang*
*Berkat itu selalu mencukupi, meski tak seberapa..*
*Gaji harus dikejar, dicari dan diusahakan dengan bekerja.*
*Namun Berkat bisa datang bagi orang yang percaya.*
*Tidak semua orang memiliki gaji,* *tetapi setiap orang bisa memiliki Berkat.*
*Gaji memungkinkan tertukar dengan lain orang,* *tetapi Berkat tidak akan pernah tertukar.*
*Besaran gaji ditentukan oleh masa kerja dan kinerja,* *sementara besaran Berkat ditentukan iman dan percaya kita pada TUHAN .*
*So, jangan pernah cemas, khawatir, resah, dan gundah terhadap nasib yang akan datang,* *terlebih jangan pernah merasa susah dan sedih terhadap yang luput dari masa lalu.*
*Yakinlah bahwa rencana dan kuasa TUHAN tepat dan indah pada saatnya.*
*Jadi...... gaji itu hanya* *sebagian kecil dari Berkat.*
π
π»π· *SELAMAT PAGI ...* πΊπΎ
Kudus
“Hanya dalam kebenaran-lah kasih bersinar terang, hanya dalam kebenaran kasih dapat dihidupi secara otentik. Kebenaran adalah terang yang memberi makna dan nilai kepada kasih.“ – Paus Benediktus XVI, Ensiklik Caritas in Veritate
Selasa, 31 Januari 2017
Tidak Percaya
Janganlah menjadi teman Yesus di masa damai dan musuh-Nya di masa perang! (St. Sirilus dari Yerusalem)
Senin, 30 Januari 2017
Menyusahkan
“Sebagai orangtua, tidak boleh ada letusan-letusan marah terhadap anak-anak dan pandangan yang menghina, kata-kata yang menekan.” (St. Yohanes Bosko)
Minggu, 29 Januari 2017
Siksa
Allah adalah Bapa yang maha kuasa. Kebapaan-Nya dan kekuasaan-Nya saling menerangkan. Ia menunjukkan kekuasaan-Nya sebagai Bapa dengan memelihara kita Bdk. Mat 6:32., dengan menerima kita sebagai anak-anak-Nya (Aku mau "menjadi bapa-Mu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan perempuan, demikianlah firman Tuhan yang maha kuasa" 2 Kor 6:18); Ia menunjukkan kekuasaan-Nya juga melalui belas kasihan-Nya yang tidak terbatas, karena Ia menyatakannya terutama dengan mengampuni dosa-dosa kita secara bebas. --- Katekismus Gereja Katolik, 270
Jumat, 27 Januari 2017
Saudara-saudari terkasih, dalam sekolah para kudus, hendaklah kita jatuh cinta dengan sakramen ini! Marilah kita berpartisipasi dalam Misa Kudus dengan rekoleksi, untuk memperoleh buah-buah rohaninya, marilah kita memperkaya diri kita dengan Tubuh dan Darah Tuhan kita, tiada henti diberi makan oleh rahmat ilahi! Hendaklah kita dengan rela dan lebih sering berdiam bersama Sakramen Mahakudus, dalam percakapan dari hati ke hati! (Audiensi Umum Paus Benediktus XVI tentang St. Tomas Aquino)
Kamis, 26 Januari 2017
Rabu, 25 Januari 2017
Kamis, 26 Januari 2017
“Tidak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya. Dia harus memilikinya dulu” (St. Teresa dari Avila)
Rabu, 25 Januari 2017
“Rasul Paulus kaya akan cinta Kristus. Selama ia memiliki itu, ia menganggap dirinya yang paling bahagia di antara raja, pemerintah dan penguasa” (St. Yohanes Krisostomus)
Senin, 20 Juni 2016
Selasa, 21 Juni 2016
Minggu, 19 Juni 2016
Senin, 20 Juni 2016
Jumat, 17 Juni 2016
Kamis, 16 Juni 2016

“Misi Gereja adalah untuk “mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya ditengah semua bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu di dunia”. Di satu sisi, Gereja adalah “sebuah sakramen – “yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (Deklarasi Dominus Iesus, No. 18)
Minggu, 12 Juni 2016
Senin, 13 Juni 2016
Sabtu, 11 Juni 2016
Jumat, 10 Juni 2016
Jumat, 10 Juni 2016

"Dalam banyak negara, dewasa ini terdapat banyak orang Katolik yang meminta perceraian menurut hukum sipil dan mengadakan Perkawinan baru secara sipil. Gereja merasa diri terikat kepada perkataan Yesus Kristus: "Barang siapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina" (Mrk 10:11-12). Karena itu, Gereja memegang teguh bahwa ia tidak dapat mengakui sah ikatan yang baru, kalau Perkawinan pertama itu sah. Kalau mereka yang bercerai itu kawin lagi secara sipil, mereka berada dalam satu situasi yang secara obyektif bertentangan dengan hukum Allah. Karena itu, mereka tidak boleh menerima komuni selama situasi ini masih berlanjut. Dengan alasan yang sama mereka juga tidak boleh melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam Gereja. Pemulihan melalui Sakramen Pengakuan hanya dapat diberikan kepada mereka yang menyesal, bahwa mereka telah mencemari tanda perjanjian dan kesetiaan kepada Kristus,dan mewajibkan diri supaya hidup dalam pantang yang benar." (Katekismus Gereja Katolik, 1650)
Rabu, 08 Juni 2016
Selasa, 07 Juni 2016
Rabu, 8 Juni 2016
Senin, 06 Juni 2016
Selasa, 7 Juni 2016
Minggu, 05 Juni 2016
Senin, 6 Juni 2016
Kamis, 02 Juni 2016
Jumat, 11 Mei 2012
Sabtu, 12 Mai 2012
Sabtu, 12 Mai 2012
Pekan PASKAH V (P)
St. Nereus, Achileus, Pankrasius, dan Sta. Flavia Domitila; St. Germanus; St. Leopoldus Mandic; B William Tirri
Bacaan I : Kis. 16:1–10
Mazmur : 100:1–2.3.5; R: 1a
Bacaan Injil : Yoh. 15:18–21
”Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”
Renungan
Kisah Para Rasul hari ini sungguh menarik. Roh Kudus sungguh tampil sebagai sahabat sejati, membimbing Paulus dan Timoteus dalam perjalanan pewartaan mereka. Roh Kudus memimpin mereka melalui karunia penglihatan, pengetahuan, kebijaksanaan. Luar biasa! Namun, adakah kuasa dan karya Roh Kudus masih selalu diandalkan dalam hidup harian kita sebagai orang Kristen pada abad ini?
Dalam kenyataannya, di satu pihak, jika dilihat dari kemerosotan hidup yang melanda anggota Gereja secara umum dewasa ini, kita boleh mengatakan Roh Kudus telah masuk dalam daftar ”Allah yang pekerjaan-Nya dilupakan–atau yang diabaikan”. Banyak anggota Gereja Kristus zaman ini tidak lagi mengandalkan karya Roh Kudus, tetapi mengandalkan potensi kehidupan lain, yang menyebabkan terjadinya kemerosotan hidup dalam berbagai aspeknya. Anggota Gereja tenggelam dalam materialisme yang kuat bahkan meningkat sampai kepada atheisme. Akibat kemajuan teknologi, banyak orang lupa atau dengan sengaja mengabaikan bimbingan Roh Kudus karena lebih suka kepada kesenangan duniawi. Namun, di pihak lain, sejak Konsili Vatikan II, ketika pengaruh Gereja di tengah dunia demikian kuat di bawah kepemimpinan Paus Yohanes XXIII dan para penggantinya, keterbukaan Gereja terhadap pekerjaan Roh Kudus semakin besar. Ketika dunia ini tenggelam dalam dosa, dengan segala kejahatan yang terjadi, karunia-karunia Roh Kudus tampaknya semakin tercurah membarui dunia.
Di mana-mana muncul kelompok-kelompok rohani awam maupun religius yang mengandalkan pekerjaan Roh Kudus; dan mereka dengan penuh semangat melakukan evangelisasi baru dengan menghidupkan karisma-karisma Roh Kudus. Pelayanan mereka dalam Gereja telah mengembalikan hati begitu banyak orang kepada Tuhan, orang-orang bertobat dan mencintai sakramen-sakramen, tekun membaca Kitab Suci, aktif dalam pelayanan Gereja serta membangun kembali hubungan yang baik dengan sesama. Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja dan membarui kehidupan umat Allah dalam Gereja, yang membuat orang rindu kembali kepada suasana hidup Gereja perdana. Bagaimana dengan Anda, sudahkah mengandalkan Roh Kudus dalam hidup Anda?
Doa
Ya Tuhan, bantulah aku untuk semakin mengandalkan pekerjaan Roh-Mu yang kudus agar aku sanggup melayani Engkau dan sesama. Amin
sumber : ziarah batin 2012
Pekan PASKAH V (P)
St. Nereus, Achileus, Pankrasius, dan Sta. Flavia Domitila; St. Germanus; St. Leopoldus Mandic; B William Tirri
Bacaan I : Kis. 16:1–10
Mazmur : 100:1–2.3.5; R: 1a
Bacaan Injil : Yoh. 15:18–21
”Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”
Renungan
Kisah Para Rasul hari ini sungguh menarik. Roh Kudus sungguh tampil sebagai sahabat sejati, membimbing Paulus dan Timoteus dalam perjalanan pewartaan mereka. Roh Kudus memimpin mereka melalui karunia penglihatan, pengetahuan, kebijaksanaan. Luar biasa! Namun, adakah kuasa dan karya Roh Kudus masih selalu diandalkan dalam hidup harian kita sebagai orang Kristen pada abad ini?
Dalam kenyataannya, di satu pihak, jika dilihat dari kemerosotan hidup yang melanda anggota Gereja secara umum dewasa ini, kita boleh mengatakan Roh Kudus telah masuk dalam daftar ”Allah yang pekerjaan-Nya dilupakan–atau yang diabaikan”. Banyak anggota Gereja Kristus zaman ini tidak lagi mengandalkan karya Roh Kudus, tetapi mengandalkan potensi kehidupan lain, yang menyebabkan terjadinya kemerosotan hidup dalam berbagai aspeknya. Anggota Gereja tenggelam dalam materialisme yang kuat bahkan meningkat sampai kepada atheisme. Akibat kemajuan teknologi, banyak orang lupa atau dengan sengaja mengabaikan bimbingan Roh Kudus karena lebih suka kepada kesenangan duniawi. Namun, di pihak lain, sejak Konsili Vatikan II, ketika pengaruh Gereja di tengah dunia demikian kuat di bawah kepemimpinan Paus Yohanes XXIII dan para penggantinya, keterbukaan Gereja terhadap pekerjaan Roh Kudus semakin besar. Ketika dunia ini tenggelam dalam dosa, dengan segala kejahatan yang terjadi, karunia-karunia Roh Kudus tampaknya semakin tercurah membarui dunia.
Di mana-mana muncul kelompok-kelompok rohani awam maupun religius yang mengandalkan pekerjaan Roh Kudus; dan mereka dengan penuh semangat melakukan evangelisasi baru dengan menghidupkan karisma-karisma Roh Kudus. Pelayanan mereka dalam Gereja telah mengembalikan hati begitu banyak orang kepada Tuhan, orang-orang bertobat dan mencintai sakramen-sakramen, tekun membaca Kitab Suci, aktif dalam pelayanan Gereja serta membangun kembali hubungan yang baik dengan sesama. Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja dan membarui kehidupan umat Allah dalam Gereja, yang membuat orang rindu kembali kepada suasana hidup Gereja perdana. Bagaimana dengan Anda, sudahkah mengandalkan Roh Kudus dalam hidup Anda?
Doa
Ya Tuhan, bantulah aku untuk semakin mengandalkan pekerjaan Roh-Mu yang kudus agar aku sanggup melayani Engkau dan sesama. Amin
sumber : ziarah batin 2012
Kamis, 10 Mei 2012
Jumat, 11 Mei 2012
Jumat, 11 Mei 2012
Pekan PASKAH V (P)
St. Ignasius Peis dr Lakoni; Sta. Bertha; St. Ignasius dr Laconi
Bacaan I : Kis. 15:22–31
Mazmur : 57:8–9.10–12; R: 10a
Bacaan Injil : Yoh. 15:12–17
”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
Renungan
Gereja perdana seperti diceritakan dalam Kisah Para Rasul mengandalkan hidup dan karya mereka pada kuasa Roh Kudus. Oleh bimbingan Roh Kudus sendiri, mereka ikut bertanggung jawab atas hidup dan perkembangan jemaat baru di Antiokhia, Siria dan Kilikia, yang imannya telah digoncangkan oleh ajaran sesat. Mereka memilih Barnabas dan Paulus lalu mengutusnya ke sana. Dua sahabat ini adalah orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka membawa serta sebuah surat yang berbunyi: ” ... Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu: Kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.” Setelah membaca surat itu, para jemaat di sana diliputi sukacita.
Wujud hidup yang terpenting sebagai pengikut Kristus adalah taat kepada perintah Allah, hidup dalam semangat kasih, dan mau mengamalkan kasih itu, satu terhadap terhadap yang lain. Yesus sendiri telah menunjukkan inti kedatangan-Nya ke dunia ini dengan menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia dan mengajarkan para pengikut-Nya agar mau melakukan hal yang sama. ”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu....”
Untuk mencapai tingkat kehidupan seperti itu sungguh tidak mudah.
Manusia membutuhkan adanya atmosfer kewibawaan Ilahi, suasana hidup
di bawah bimbingan kuasa Roh Kudus. Roh Kudus adalah kuasa yang
memimpin setiap orang kepada ketaatan, kebenaran, kasih, dan yang
meneguhkan langkah hidup manusia menuju keabadian hidup bersama Allah
sendiri.
Doa
Ya Tuhan, pimpinlah hidupku dengan daya dan kuasa Roh Kudus-Mu agar aku sanggup menata hidup penuh kasih seturut perintah-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Pekan PASKAH V (P)
St. Ignasius Peis dr Lakoni; Sta. Bertha; St. Ignasius dr Laconi
Bacaan I : Kis. 15:22–31
Mazmur : 57:8–9.10–12; R: 10a
Bacaan Injil : Yoh. 15:12–17
”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
Renungan
Gereja perdana seperti diceritakan dalam Kisah Para Rasul mengandalkan hidup dan karya mereka pada kuasa Roh Kudus. Oleh bimbingan Roh Kudus sendiri, mereka ikut bertanggung jawab atas hidup dan perkembangan jemaat baru di Antiokhia, Siria dan Kilikia, yang imannya telah digoncangkan oleh ajaran sesat. Mereka memilih Barnabas dan Paulus lalu mengutusnya ke sana. Dua sahabat ini adalah orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka membawa serta sebuah surat yang berbunyi: ” ... Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu: Kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.” Setelah membaca surat itu, para jemaat di sana diliputi sukacita.
Wujud hidup yang terpenting sebagai pengikut Kristus adalah taat kepada perintah Allah, hidup dalam semangat kasih, dan mau mengamalkan kasih itu, satu terhadap terhadap yang lain. Yesus sendiri telah menunjukkan inti kedatangan-Nya ke dunia ini dengan menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia dan mengajarkan para pengikut-Nya agar mau melakukan hal yang sama. ”Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu....”
Doa
Ya Tuhan, pimpinlah hidupku dengan daya dan kuasa Roh Kudus-Mu agar aku sanggup menata hidup penuh kasih seturut perintah-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Rabu, 09 Mei 2012
Kamis, 10 Mei 2012
Kamis, 10 Mei 2012
Pekan PASKAH V (P)
St. Antonius dr Florence; St. Damianaus de Veuster; St. Gordianus dan Epimakus
Bacaan I : Kis. 15:7–21
Mazmur : 96:1–2a.2b–3.10; R: lih.3
Bacaan Injil : Yoh. 15:9–11
”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”
Renungan
Pada masa awal Gereja, syarat menjadi murid Yesus amat sederhana, yaitu seseorang harus menyatakan imannya akan Allah dengan perantaraan Yesus Kristus dan setelah itu orang tersebut dibaptis dengan air dan Roh Kudus.
Syarat yang sederhana ini tidak berarti menjadi orang Kristen cukup mengucapkan syahadat itu. Menjadi orang Kristen tentu saja terikat kewajiban untuk menghayati dan mengamalkan imannya dengan benar dan baik, sesuai dengan perintah Allah sendiri. Kewajiban ini bukan untuk mengikat seseorang ke dalam sebuah hukum yang membuatnya tidak bebas, tetapi supaya kasih Allah semakin hidup dan berbuah serta memberikan sukacita yang penuh dalam diri setiap orang yang mampu menjalankannya. Hukum yang dihayati dan dijalankan dengan kasih menghantar setiap orang kepada pengalaman akan kasih Allah.
Setiap orang beriman tentu ingin mengalami apa yang namanya “sukacita yang penuh” tersebut. Namun, bagaimana cara untuk memperolehnya? Yesus dengan jelas memberikan rumusnya, yakni: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” Sukacita yang sempura hanya berasal dari perbuatan kasih seturut perintah Yesus.
Doa
Ya Tuhan, ajarilah aku mencintai hukum-hukum-Mu agar dengan itu aku menikmati sukacita yang penuh seperti yang Engkau janjikan. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Pekan PASKAH V (P)
St. Antonius dr Florence; St. Damianaus de Veuster; St. Gordianus dan Epimakus
Bacaan I : Kis. 15:7–21
Mazmur : 96:1–2a.2b–3.10; R: lih.3
Bacaan Injil : Yoh. 15:9–11
”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”
Renungan
Pada masa awal Gereja, syarat menjadi murid Yesus amat sederhana, yaitu seseorang harus menyatakan imannya akan Allah dengan perantaraan Yesus Kristus dan setelah itu orang tersebut dibaptis dengan air dan Roh Kudus.
Syarat yang sederhana ini tidak berarti menjadi orang Kristen cukup mengucapkan syahadat itu. Menjadi orang Kristen tentu saja terikat kewajiban untuk menghayati dan mengamalkan imannya dengan benar dan baik, sesuai dengan perintah Allah sendiri. Kewajiban ini bukan untuk mengikat seseorang ke dalam sebuah hukum yang membuatnya tidak bebas, tetapi supaya kasih Allah semakin hidup dan berbuah serta memberikan sukacita yang penuh dalam diri setiap orang yang mampu menjalankannya. Hukum yang dihayati dan dijalankan dengan kasih menghantar setiap orang kepada pengalaman akan kasih Allah.
Setiap orang beriman tentu ingin mengalami apa yang namanya “sukacita yang penuh” tersebut. Namun, bagaimana cara untuk memperolehnya? Yesus dengan jelas memberikan rumusnya, yakni: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” Sukacita yang sempura hanya berasal dari perbuatan kasih seturut perintah Yesus.
Doa
Ya Tuhan, ajarilah aku mencintai hukum-hukum-Mu agar dengan itu aku menikmati sukacita yang penuh seperti yang Engkau janjikan. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Jumat, 04 Mei 2012
Sabtu, 5 Mei 2012
Sabtu, 5 Mei 2012
Pekan PASKAH IV (P)
St. Hilarius dari Arles; Sta. Yutta; St. Angelus; B. Vinsent Soler
Bacaan I : Kis. 13:44–52
Mazmur : 98:1.2–3ab.3cd–4; R: 3cd
Bacaan Injil : Yoh. 14:7–14
”Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”
Renungan
Ada seorang Bapak yang selalu merasa diri hebat, karena memiliki jimat yang bisa menangkis segala kuasa setan dan bisa menyembuhkan segala penyakit. Namun, cara hidupnya amat bertentangan dengan hidup Kristiani. Ia tak pernah ke gereja, tidak berdoa, dan bermusuhan dengan banyak orang. Orang ini selalu membuat agar semua orang yang ditolongnya terus-menerus bergantung padanya. Sikap dan cara hidup seperti ini dengan jelas menunjukkan bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan berasal dari Allah melainkan dari kuasa kegelapan.
Yesus Kristus memiliki kuasa Allah karena berasal dari Allah dan Dia adalah Allah. Dalam diri-Nya Allah bekerja menyelamatkan manusia, dan melalui Dia Allah memberikan segala rahmat yang dibutuhkan manusia dalam hidup ini. Yesus sendiri berkata, “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh. 14:14). Dia melakukan semua itu agar semua manusia diselamatkan. Syaratnya hanya ini: ”Percayalah kepada Yesus” (bdk. Yoh. 14:11).
Bacaan Pertama menceritakan bagaimana Paulus dan Barnabas, di tengah penolakan dan penganiayaan, tak pernah merasa letih dan takut untuk mewartakan nama Yesus karena mereka percaya apa yang mereka katakan itu benar. Ketika mereka ditolak, situasi itu mereka terima sebagai cara Tuhan untuk menjadikan mereka ”terang bagi bangsa-bangsa”. Melalui mereka nama Tuhan dikenal dan diwartakan kepada semua bangsa lain.
Allah telah bekerja dalam diri Putra-Nya dan dalam diri pengikut-pengikut-Nya. Bapa, Putra dan Roh Kudus bekerja dalam diri setiap kita yang percaya dan dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus. Maka tinggalkan segala kebanggaan yang sia-sia yang berasal dari dunia ini dan berharaplah hanya kepada Allah yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat.
Doa
Ya Yesus, Engkau dan Bapa satu adanya. Bantulah aku agar selalu percaya bahwa kuasa-Mu melampaui segala kerapuhan dan kedosaanku. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Pekan PASKAH IV (P)
St. Hilarius dari Arles; Sta. Yutta; St. Angelus; B. Vinsent Soler
Bacaan I : Kis. 13:44–52
Mazmur : 98:1.2–3ab.3cd–4; R: 3cd
Bacaan Injil : Yoh. 14:7–14
”Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”
Renungan
Ada seorang Bapak yang selalu merasa diri hebat, karena memiliki jimat yang bisa menangkis segala kuasa setan dan bisa menyembuhkan segala penyakit. Namun, cara hidupnya amat bertentangan dengan hidup Kristiani. Ia tak pernah ke gereja, tidak berdoa, dan bermusuhan dengan banyak orang. Orang ini selalu membuat agar semua orang yang ditolongnya terus-menerus bergantung padanya. Sikap dan cara hidup seperti ini dengan jelas menunjukkan bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan berasal dari Allah melainkan dari kuasa kegelapan.
Yesus Kristus memiliki kuasa Allah karena berasal dari Allah dan Dia adalah Allah. Dalam diri-Nya Allah bekerja menyelamatkan manusia, dan melalui Dia Allah memberikan segala rahmat yang dibutuhkan manusia dalam hidup ini. Yesus sendiri berkata, “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh. 14:14). Dia melakukan semua itu agar semua manusia diselamatkan. Syaratnya hanya ini: ”Percayalah kepada Yesus” (bdk. Yoh. 14:11).
Bacaan Pertama menceritakan bagaimana Paulus dan Barnabas, di tengah penolakan dan penganiayaan, tak pernah merasa letih dan takut untuk mewartakan nama Yesus karena mereka percaya apa yang mereka katakan itu benar. Ketika mereka ditolak, situasi itu mereka terima sebagai cara Tuhan untuk menjadikan mereka ”terang bagi bangsa-bangsa”. Melalui mereka nama Tuhan dikenal dan diwartakan kepada semua bangsa lain.
Allah telah bekerja dalam diri Putra-Nya dan dalam diri pengikut-pengikut-Nya. Bapa, Putra dan Roh Kudus bekerja dalam diri setiap kita yang percaya dan dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus. Maka tinggalkan segala kebanggaan yang sia-sia yang berasal dari dunia ini dan berharaplah hanya kepada Allah yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat.
Doa
Ya Yesus, Engkau dan Bapa satu adanya. Bantulah aku agar selalu percaya bahwa kuasa-Mu melampaui segala kerapuhan dan kedosaanku. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Kamis, 03 Mei 2012
Jumat, 4 Mei 2012
Jumat, 4 Mei 2012
Pekan PASKAH IV (P)
Sta. Rachel; Sta. Gemma Galgani; B. Yosef Maria Rubio; St. Fidelis dr Sigmaringen
Bacaan I : Kis. 13:26–33
Mazmur : 2:6–7.8–9.10–11; R: 7
Bacaan Injil : Yoh. 14:1–6
”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya: ”Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Renungan
Suatu hari Anton datang kepada Pastor untuk menceritakan kegelisahan dan ketakutan dalam hidupnya, terutama karena belum mendapat pekerjaan dan juga selalu gagal dalam mencari jodoh. Setiap malam ia tidak bisa tidur memikirkan semua itu. Pastor pun menyarankan agar ia tekun bermeditasi dengan doa Nama Yesus. Beberapa waktu kemudian ia datang lagi dan bersaksi: ”Tuhan telah memberikan aku ketenangan dan mensyukuri kehidupanku. Doa dan meditasi nama Yesus membuatku tenang. Dalam ketenangan, imanku bertumbuh dan harapanku menjadi teguh.”
Menjaga ketenangan hati, karena percaya serta menaruh harapan pada Yesus, adalah dalil kebenaran Allah dalam diri Yesus. ”Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2). Mendapat tempat tinggal berarti kita dimasukkan dalam keluarga Allah; dan jika sudah menjadi anggota keluarga-Nya maka setiap anggotanya mendapat hak untuk memperoleh segala rahmat dan berkat yang disediakan Allah sendiri, yaitu hak untuk menikmati damai, sukacita, ketenteraman hidup, dan keselamatan.
Perayaan wafat dan kebangkitan Yesus selama hari-hari Paskah bukan hanya berarti perayaan keselamatan, tetapi juga perayaan yang memberi penegasan bahwa ”janji keselamatan Allah telah terpenuhi, bahwa Allah itu setia dan mengasihi umat-Nya”. Jaminan ini mengajarkan setiap orang yang percaya agar selalu hidup dalam iman, harap, dan kasih kepada-Nya; memelihara ketenangan batin dalam doa, pujian dan sembah bakti yang tak kunjung putus.
Doa
Ya Yesus, tuntunlah aku untuk selalu berjalan di jalan-Mu; satu-satunya jalan benar menuju kehidupan abadi. Amin.
Pekan PASKAH IV (P)
Sta. Rachel; Sta. Gemma Galgani; B. Yosef Maria Rubio; St. Fidelis dr Sigmaringen
Bacaan I : Kis. 13:26–33
Mazmur : 2:6–7.8–9.10–11; R: 7
Bacaan Injil : Yoh. 14:1–6
”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya: ”Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Renungan
Suatu hari Anton datang kepada Pastor untuk menceritakan kegelisahan dan ketakutan dalam hidupnya, terutama karena belum mendapat pekerjaan dan juga selalu gagal dalam mencari jodoh. Setiap malam ia tidak bisa tidur memikirkan semua itu. Pastor pun menyarankan agar ia tekun bermeditasi dengan doa Nama Yesus. Beberapa waktu kemudian ia datang lagi dan bersaksi: ”Tuhan telah memberikan aku ketenangan dan mensyukuri kehidupanku. Doa dan meditasi nama Yesus membuatku tenang. Dalam ketenangan, imanku bertumbuh dan harapanku menjadi teguh.”
Menjaga ketenangan hati, karena percaya serta menaruh harapan pada Yesus, adalah dalil kebenaran Allah dalam diri Yesus. ”Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2). Mendapat tempat tinggal berarti kita dimasukkan dalam keluarga Allah; dan jika sudah menjadi anggota keluarga-Nya maka setiap anggotanya mendapat hak untuk memperoleh segala rahmat dan berkat yang disediakan Allah sendiri, yaitu hak untuk menikmati damai, sukacita, ketenteraman hidup, dan keselamatan.
Perayaan wafat dan kebangkitan Yesus selama hari-hari Paskah bukan hanya berarti perayaan keselamatan, tetapi juga perayaan yang memberi penegasan bahwa ”janji keselamatan Allah telah terpenuhi, bahwa Allah itu setia dan mengasihi umat-Nya”. Jaminan ini mengajarkan setiap orang yang percaya agar selalu hidup dalam iman, harap, dan kasih kepada-Nya; memelihara ketenangan batin dalam doa, pujian dan sembah bakti yang tak kunjung putus.
Doa
Ya Yesus, tuntunlah aku untuk selalu berjalan di jalan-Mu; satu-satunya jalan benar menuju kehidupan abadi. Amin.
Selasa, 24 April 2012
Rabu, 25 April 2012
Rabu, 25 April 2012
PEKAN PASKAH III (P)
Pesta St. Markus, Pengarang Injil
Bacaan I : 1Ptr. 5:6b–14
Mazmur : 89:2–3.6–7.16–17; R: 2a
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–20
Lalu Yesus berkata kepada mereka, ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Renungan
Santo Markus adalah teman seperjalanan Santo Paulus. Tampaknya sebagai orang muda ia mampu merekam apa yang dilihat dan didengarnya, dan menulisnya. Dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya, Injil Markuslah yang paling singkat. Inti pokok keempat Injil sama, yaitu melawan kuasa setan dengan kuasa Allah.
Di zaman ini kuasa setan terasa semakin ganas. St. Petrus mengatakan: ”Lawanmu, iblis yang terus mencari mangsa!” Orang yang hidup di kota-kota dengan dinamika dan tuntutan hidup tinggi yang membuat orang mudah stres dan tersinggung, sulit mengampuni, mudah menghukum dan sulit berbelas kasih. Masalah kecil menjadi besar dan banyak orang ingin tampil sebagai pahlawan. Kuasa setan mudah menyusup ke dalam hidup mereka.
Iblis hanya dikalahkan oleh Allah. Kuasa Allah menjadi efektif dalam diri orang yang percaya. Percaya pada Allah levelnya bukan konsep, tetapi kualitas hati, rasa, dan mental. ”Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat....” Kualitas iman itu terlihat dalam perbuatan orang percaya. Dalam nama Yesus mereka mampu mengusir setan-setan dan menyembuhkan orang sakit dengan menumpangkan tangan. Sekalipun minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka. Hanya dalam iman yang kuat, kuasa setan akan dikalahkan.
Doa
Tuhan Yesus, kuatkanlah imanku agar mampu mengalahkan kuasa setan yang terus mengaum hendak menerkam aku. Amin.
PEKAN PASKAH III (P)
Pesta St. Markus, Pengarang Injil
Bacaan I : 1Ptr. 5:6b–14
Mazmur : 89:2–3.6–7.16–17; R: 2a
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–20
Lalu Yesus berkata kepada mereka, ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Renungan
Santo Markus adalah teman seperjalanan Santo Paulus. Tampaknya sebagai orang muda ia mampu merekam apa yang dilihat dan didengarnya, dan menulisnya. Dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya, Injil Markuslah yang paling singkat. Inti pokok keempat Injil sama, yaitu melawan kuasa setan dengan kuasa Allah.
Di zaman ini kuasa setan terasa semakin ganas. St. Petrus mengatakan: ”Lawanmu, iblis yang terus mencari mangsa!” Orang yang hidup di kota-kota dengan dinamika dan tuntutan hidup tinggi yang membuat orang mudah stres dan tersinggung, sulit mengampuni, mudah menghukum dan sulit berbelas kasih. Masalah kecil menjadi besar dan banyak orang ingin tampil sebagai pahlawan. Kuasa setan mudah menyusup ke dalam hidup mereka.
Iblis hanya dikalahkan oleh Allah. Kuasa Allah menjadi efektif dalam diri orang yang percaya. Percaya pada Allah levelnya bukan konsep, tetapi kualitas hati, rasa, dan mental. ”Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat....” Kualitas iman itu terlihat dalam perbuatan orang percaya. Dalam nama Yesus mereka mampu mengusir setan-setan dan menyembuhkan orang sakit dengan menumpangkan tangan. Sekalipun minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka. Hanya dalam iman yang kuat, kuasa setan akan dikalahkan.
Doa
Tuhan Yesus, kuatkanlah imanku agar mampu mengalahkan kuasa setan yang terus mengaum hendak menerkam aku. Amin.
Senin, 23 April 2012
Selasa, 24 April 2012
Selasa, 24 April 2012
PEKAN PASKAH III (P)
St. Fidelis dr Sigmaringen; Sta. Rosa Virginia Pelletier; Sta. Maria Ufrasia Pelletier
Bacaan I : Kis. 7:51–8:1a
Mazmur : 31:3cd–4.6ab.7b.8a.17.21ab; R: 6a
Bacaan Injil : Yoh. 6:30–35
Maka kata mereka kepada-Nya, ”Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.” Maka kata Yesus kepada mereka, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, ”Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, ”Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Renungan
Apa beda antara orang biasa dengan para kudus? Bacaan pertama mengisahkan peristiwa pembunuhan Stefanus, martir pertama. Dalam kisah kematian Stefanus ini sangat kentara perbedaan antara orang biasa dan orang kudus. Untuk orang biasa, penderitaan sering dijadikan alasan untuk melukai kesucian jiwanya dengan mengeluh, menyalahkan orang lain dan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, bagi orang kudus seperti Stefanus, penderitaan, penghinaan bahkan siksaan tidak menodai kekudusan jiwanya. Dia tetap tenang dan tidak terbawa oleh emosi balas dendam. Dikatakan ’mukanya sama seperti muka seorang malaikat’ bahkan dia berdoa: ”Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”
Dalam situasi apa pun Stefanus tetap berfokus kepada Allah. Dia tidak haus nama baik, gengsi atau pujian. Ia telah makan roti hidup hingga memiliki hidup Allah sendiri. Sementara para pemuka agama Yahudi berfokus pada egoismenya sendiri. Rasa gengsi sangat tinggi sehingga mereka mudah tersinggung dan terluap dengan membunuh orang-orang benar dan baik.
Doa
Tuhan Yesus, biarlah aku makan roti hidup, yaitu diri-Mu sendiri agar aku memiliki hidup kekal. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
PEKAN PASKAH III (P)
St. Fidelis dr Sigmaringen; Sta. Rosa Virginia Pelletier; Sta. Maria Ufrasia Pelletier
Bacaan I : Kis. 7:51–8:1a
Mazmur : 31:3cd–4.6ab.7b.8a.17.21ab; R: 6a
Bacaan Injil : Yoh. 6:30–35
Maka kata mereka kepada-Nya, ”Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.” Maka kata Yesus kepada mereka, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, ”Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, ”Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Renungan
Apa beda antara orang biasa dengan para kudus? Bacaan pertama mengisahkan peristiwa pembunuhan Stefanus, martir pertama. Dalam kisah kematian Stefanus ini sangat kentara perbedaan antara orang biasa dan orang kudus. Untuk orang biasa, penderitaan sering dijadikan alasan untuk melukai kesucian jiwanya dengan mengeluh, menyalahkan orang lain dan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, bagi orang kudus seperti Stefanus, penderitaan, penghinaan bahkan siksaan tidak menodai kekudusan jiwanya. Dia tetap tenang dan tidak terbawa oleh emosi balas dendam. Dikatakan ’mukanya sama seperti muka seorang malaikat’ bahkan dia berdoa: ”Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”
Dalam situasi apa pun Stefanus tetap berfokus kepada Allah. Dia tidak haus nama baik, gengsi atau pujian. Ia telah makan roti hidup hingga memiliki hidup Allah sendiri. Sementara para pemuka agama Yahudi berfokus pada egoismenya sendiri. Rasa gengsi sangat tinggi sehingga mereka mudah tersinggung dan terluap dengan membunuh orang-orang benar dan baik.
Doa
Tuhan Yesus, biarlah aku makan roti hidup, yaitu diri-Mu sendiri agar aku memiliki hidup kekal. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Jumat, 20 April 2012
Sabttu, 21 April 2012
Sabttu, 21 April 2012
Pekan Paskah II (P),
St. Anselmus; St. Simon bar Sabbae;
St. Konradus dr Parzham
Bacaan I : Kis. 6:1–7
Mazmur : 116:12–13,15–16bc,17–18; R: 1Kor. 10:16
Bacaan Injil : Yoh. 6:16–21
Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
Renungan
Badai laut itu menakutkan, namun badai kehidupan jauh lebih menggetarkan. Kalau kita sedang diterpa masalah hidup, dikhianati orang yang kita cintai, ditipu orang, digosipkan teman, dsb., rasanya sakit dan menakutkan. Ketika dikuasai oleh ketakutan, kita panik. Dalam kepanikan orang tidak bisa menggunakan akal sehat atau mendengarkan suara hati. Itulah yang dialami oleh para rasul di tengah laut yang sedang diterpa topan dan gelombang laut. Kepanikan itu musnah ketika ada suara yang penuh kuasa: ”Ini Aku, jangan takut!”
Suara itu seperti bagai sebuah tonggak besi kokoh yang bisa kita andalkan agar kita tidak diombang-ambingkan oleh perasaan. Suara itu berasal dari luar tetapi juga sekaligus dari dalam hati kita yang terdalam. Suara yang penuh kuasa itu seperti merengkuh seluruh kerapuhan kita dan kita menjadi sejuk, tenang, dan damai
.
Semakin kita tenang, semakin suara itu menguasai kita dan kita bersatu dengan si pemilik suara itu. Bersatu dengan Dia berarti hidup dalam kuasa kasih-Nya. Inilah tujuan hidup kita. Seperti perahu para Rasul seketika itu juga sampai ke pantai yang dituju bersama Yesus, demikian juga hidup kita berlabuh dalam kasih-Nya yang penuh kuasa.
Doa: Tuhan Yesus, trima kasih atas sabda-Mu yang penuh kuasa. Dengan tinggal tenang dan percaya pada sabda-Mu, badai kehidupan tidak akan menggetarkan aku. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Pekan Paskah II (P),
St. Anselmus; St. Simon bar Sabbae;
St. Konradus dr Parzham
Bacaan I : Kis. 6:1–7
Mazmur : 116:12–13,15–16bc,17–18; R: 1Kor. 10:16
Bacaan Injil : Yoh. 6:16–21
Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Aku ini, jangan takut!” Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
Renungan
Badai laut itu menakutkan, namun badai kehidupan jauh lebih menggetarkan. Kalau kita sedang diterpa masalah hidup, dikhianati orang yang kita cintai, ditipu orang, digosipkan teman, dsb., rasanya sakit dan menakutkan. Ketika dikuasai oleh ketakutan, kita panik. Dalam kepanikan orang tidak bisa menggunakan akal sehat atau mendengarkan suara hati. Itulah yang dialami oleh para rasul di tengah laut yang sedang diterpa topan dan gelombang laut. Kepanikan itu musnah ketika ada suara yang penuh kuasa: ”Ini Aku, jangan takut!”
Suara itu seperti bagai sebuah tonggak besi kokoh yang bisa kita andalkan agar kita tidak diombang-ambingkan oleh perasaan. Suara itu berasal dari luar tetapi juga sekaligus dari dalam hati kita yang terdalam. Suara yang penuh kuasa itu seperti merengkuh seluruh kerapuhan kita dan kita menjadi sejuk, tenang, dan damai
.
Semakin kita tenang, semakin suara itu menguasai kita dan kita bersatu dengan si pemilik suara itu. Bersatu dengan Dia berarti hidup dalam kuasa kasih-Nya. Inilah tujuan hidup kita. Seperti perahu para Rasul seketika itu juga sampai ke pantai yang dituju bersama Yesus, demikian juga hidup kita berlabuh dalam kasih-Nya yang penuh kuasa.
Doa: Tuhan Yesus, trima kasih atas sabda-Mu yang penuh kuasa. Dengan tinggal tenang dan percaya pada sabda-Mu, badai kehidupan tidak akan menggetarkan aku. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Kamis, 19 April 2012
Jumat, 20 April 2012
Jumat, 20 April 2012
Pekan Paskah II (P)
St. Teodorus Trichinas; Sta. Oda
Bacaan I : Kis. 5:34–42
Mazmur : 27:1.4.13–14; R: 4ab
Bacaan Injil : Yoh. 6:1–15
Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, ”Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, ”Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, ”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, ”Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mukjizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: ”Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.
Renungan
Kita mengenal banyak orang Katolik yang ”shopping”. Di mana pun ada kegiatan rohani, orang itu pasti hadir. Bahkan tak jarang ikut aktif dalam aneka seminar atau kebaktian yang diselenggarakan oleh Gereja non Katolik, namun cara hidupnya tidak lebih baik. Seperti seorang pemburu, orang ini senantiasa berburu, tetapi tidak atau kurang menikmati hasil buruannya.
Dalam Injil hari ini dikatakan ”orang banyak berbondong-bondong....”—mereka sedang berburu. Apa perintah Yesus? ”Suruhlah orang-orang itu duduk!” Duduk adalah sikap diam, tenang, terbuka dan pasrah. Mereka diminta untuk tidak terus bergerak, berburu, tetapi hening, dan apa yang terjadi? Yesus memberi mereka makan.
Duduk adalah sikap taat untuk menerima anugerah Allah dan meresapkannya sehingga menjadi kenyang. Anugerah Allah berlimpah tanpa batas. Kita tinggal menyadari dan menikmatinya.
Doa
Tuhan Yesus, ajarilah aku memiliki sikap tenang, duduk dan menikmati kasih-Mu. Jangan biarkan aku terus mencari tanpa tujuan. Amin.
sumber : ziarah iman 2012
Pekan Paskah II (P)
St. Teodorus Trichinas; Sta. Oda
Bacaan I : Kis. 5:34–42
Mazmur : 27:1.4.13–14; R: 4ab
Bacaan Injil : Yoh. 6:1–15
Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, ”Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, ”Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, ”Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, ”Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mukjizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: ”Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.
Renungan
Kita mengenal banyak orang Katolik yang ”shopping”. Di mana pun ada kegiatan rohani, orang itu pasti hadir. Bahkan tak jarang ikut aktif dalam aneka seminar atau kebaktian yang diselenggarakan oleh Gereja non Katolik, namun cara hidupnya tidak lebih baik. Seperti seorang pemburu, orang ini senantiasa berburu, tetapi tidak atau kurang menikmati hasil buruannya.
Dalam Injil hari ini dikatakan ”orang banyak berbondong-bondong....”—mereka sedang berburu. Apa perintah Yesus? ”Suruhlah orang-orang itu duduk!” Duduk adalah sikap diam, tenang, terbuka dan pasrah. Mereka diminta untuk tidak terus bergerak, berburu, tetapi hening, dan apa yang terjadi? Yesus memberi mereka makan.
Duduk adalah sikap taat untuk menerima anugerah Allah dan meresapkannya sehingga menjadi kenyang. Anugerah Allah berlimpah tanpa batas. Kita tinggal menyadari dan menikmatinya.
Doa
Tuhan Yesus, ajarilah aku memiliki sikap tenang, duduk dan menikmati kasih-Mu. Jangan biarkan aku terus mencari tanpa tujuan. Amin.
sumber : ziarah iman 2012
Rabu, 18 April 2012
Kamis, 19 April 2012
Kamis, 19 April 2012
Pekan Paskah II (P)
St. Leo IX, Paus; Sta. Tarbula; St. Elfege; St. Werner; Sta. Agnes Montepulciano
Mazmur : 34:2.9.17–18.19–20; R: 7a
Bacaan Injil : Yoh. 3:31–36
Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang Yesus di hadapan murid-muridnya: ”Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barang siapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barang siapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Renungan
Hidup kekal adalah hidup abadi, yaitu hidup yang tidak ada batas dan sekatnya. Bila diumpamakan, hidup kekal itu seperti sebuah garis panjang tanpa ujung dan bukan sebuah kotak dengan sekat-sekat.
Hidup kekal akan menjadi milik kita bila kita percaya kepada Anak Allah, yaitu Tuhan Yesus. Percaya berarti mengandalkan hidup pada-Nya, I trust in Him. Kualitasnya tidak hanya pada tataran konsep, tetapi pada kualitas hati. Bila sumber hidup adalah hati maka seluruh sikap, rasa, cara pikir dan perilaku kita tidak menganut hukum parsial: salah atau benar; sukses atau gagal; menang atau kalah, dsb. Tetapi, mengikuti hukum ”harmoni”—semua dimensi hidup, baik yang positif maupun negatif memiliki makna keselamatan.
Semua yang dialami dalam hidup ini mewahyukan kuasa dan kasih Allah. Demikian juga motivasi tindakan atau hidupnya adalah kasih, bukan mencari kesuksesan atau pujian. Sebaliknya, ”Barang siapa tidak taat kepada Anak Allah, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Tuhan Yesus, Engkau telah memberi teladan bagaimana hidup menurut hukum kasih. Ajarilah aku untuk setia pada hukum itu hingga aku memiliki hidup kekal. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Pekan Paskah II (P)
St. Leo IX, Paus; Sta. Tarbula; St. Elfege; St. Werner; Sta. Agnes Montepulciano
Mazmur : 34:2.9.17–18.19–20; R: 7a
Bacaan Injil : Yoh. 3:31–36
Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang Yesus di hadapan murid-muridnya: ”Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barang siapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barang siapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Renungan
Hidup kekal adalah hidup abadi, yaitu hidup yang tidak ada batas dan sekatnya. Bila diumpamakan, hidup kekal itu seperti sebuah garis panjang tanpa ujung dan bukan sebuah kotak dengan sekat-sekat.
Hidup kekal akan menjadi milik kita bila kita percaya kepada Anak Allah, yaitu Tuhan Yesus. Percaya berarti mengandalkan hidup pada-Nya, I trust in Him. Kualitasnya tidak hanya pada tataran konsep, tetapi pada kualitas hati. Bila sumber hidup adalah hati maka seluruh sikap, rasa, cara pikir dan perilaku kita tidak menganut hukum parsial: salah atau benar; sukses atau gagal; menang atau kalah, dsb. Tetapi, mengikuti hukum ”harmoni”—semua dimensi hidup, baik yang positif maupun negatif memiliki makna keselamatan.
Semua yang dialami dalam hidup ini mewahyukan kuasa dan kasih Allah. Demikian juga motivasi tindakan atau hidupnya adalah kasih, bukan mencari kesuksesan atau pujian. Sebaliknya, ”Barang siapa tidak taat kepada Anak Allah, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Tuhan Yesus, Engkau telah memberi teladan bagaimana hidup menurut hukum kasih. Ajarilah aku untuk setia pada hukum itu hingga aku memiliki hidup kekal. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Selasa, 17 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Pekan Paskah II (P)
St. Eleutherius, Paus;
B. Maria dr Inkarnasi
Bacaan I : Kis. 5:17–26
Mazmur : 34:2–3.4–5.6–7.8–9; R: 7a
Bacaan Injil : Yoh. 3:16–21
Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus berkata: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barang siapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barang siapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barang siapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”
Renungan
Kalau Anda memberi karena diminta, itu bukan kasih. Tetapi kalau Anda memberi sebelum diminta dan pemberianmu itu tepat dengan kebutuhannya, itulah kasih. Kasih sejati senantiasa ada unsur eros dan agape; merasa memiliki dan rela memberikan dirinya.
”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal!” Inilah kasih sejati!
Penyakit yang paling serius sedang menimpa umat manusia sekarang adalah merasa ”tidak dicintai!” Allah yang empunya kita, tahu akan kebutuhan itu maka Dia memberikan Putra-Nya untuk mencintai manusia. Dia memberi diri-Nya bukan karena kita minta, tetapi karena Dia tahu akan kebutuhan kita.
Hanya kasih Allah yang bisa diandalkan dan tidak mengecewakan. Kasih ini memampukan kita berbuat baik dan benar. Marilah kita berusaha, hari demi hari, agar hanya kasih Allah yang menjadi sumber hidup dan perbuatan kita!
Doa: Tuhan Yesus, kasih-Mu tanpa syarat dan tanpa batas. Kuatkanlah kepercayaanku akan kasih-Mu itu. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Pekan Paskah II (P)
St. Eleutherius, Paus;
B. Maria dr Inkarnasi
Bacaan I : Kis. 5:17–26
Mazmur : 34:2–3.4–5.6–7.8–9; R: 7a
Bacaan Injil : Yoh. 3:16–21
Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus berkata: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barang siapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barang siapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barang siapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”
Renungan
Kalau Anda memberi karena diminta, itu bukan kasih. Tetapi kalau Anda memberi sebelum diminta dan pemberianmu itu tepat dengan kebutuhannya, itulah kasih. Kasih sejati senantiasa ada unsur eros dan agape; merasa memiliki dan rela memberikan dirinya.
”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal!” Inilah kasih sejati!
Penyakit yang paling serius sedang menimpa umat manusia sekarang adalah merasa ”tidak dicintai!” Allah yang empunya kita, tahu akan kebutuhan itu maka Dia memberikan Putra-Nya untuk mencintai manusia. Dia memberi diri-Nya bukan karena kita minta, tetapi karena Dia tahu akan kebutuhan kita.
Hanya kasih Allah yang bisa diandalkan dan tidak mengecewakan. Kasih ini memampukan kita berbuat baik dan benar. Marilah kita berusaha, hari demi hari, agar hanya kasih Allah yang menjadi sumber hidup dan perbuatan kita!
Doa: Tuhan Yesus, kasih-Mu tanpa syarat dan tanpa batas. Kuatkanlah kepercayaanku akan kasih-Mu itu. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Kamis, 12 April 2012
Jumat, 13 April 2012
Jumat, 13 April 2012
OKTAF PASKAH (P)
St. Martinus I, Paus; Sta. Margaretha dr Metola
Bacaan I : Kis. 4:1–12
Mazmur : 118:1–2.4.22–24.25–27a; R: 22
Bacaan Injil : Yoh. 21:1–14
Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, ”Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, ”Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, ”Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka, ”Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka, ”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, ”Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: ”Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: ”Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: ”Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Renungan
Cinta itu membuka pandangan. Membuat hati lebih mudah mengenal kehadiran Allah di mana-mana. Murid yang dikasihi Yesus cepat mengenali siapa pribadi itu, dia berkata kepada Petrus: ”Itu Tuhan!” Pengenalan ini menggerakkan murid-murid lain untuk segera mendekati Yesus dan menikmati kebersamaan dengan Dia.
Ketulusan hati untuk mencintai sesama dan Allah tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi mampu menggerakkan orang lain untuk datang kepada Allah. Setiap kali kita mampu berkata: ”Itu Tuhan” maka kita menggerakkan banyak orang untuk mengarahkan hidupnya pada Allah sumber segalanya.
Doa
Tuhan, ajarilah dan mampukanlah aku untuk mencintai sesama dan menjadi peka akan kehadiran-Mu dalam peristiwa sehari-hari sehingga aku bisa membawa banyak orang untuk menyembah-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
OKTAF PASKAH (P)
St. Martinus I, Paus; Sta. Margaretha dr Metola
Bacaan I : Kis. 4:1–12
Mazmur : 118:1–2.4.22–24.25–27a; R: 22
Bacaan Injil : Yoh. 21:1–14
Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, ”Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, ”Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, ”Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka, ”Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka, ”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, ”Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: ”Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: ”Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: ”Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Renungan
Cinta itu membuka pandangan. Membuat hati lebih mudah mengenal kehadiran Allah di mana-mana. Murid yang dikasihi Yesus cepat mengenali siapa pribadi itu, dia berkata kepada Petrus: ”Itu Tuhan!” Pengenalan ini menggerakkan murid-murid lain untuk segera mendekati Yesus dan menikmati kebersamaan dengan Dia.
Ketulusan hati untuk mencintai sesama dan Allah tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi mampu menggerakkan orang lain untuk datang kepada Allah. Setiap kali kita mampu berkata: ”Itu Tuhan” maka kita menggerakkan banyak orang untuk mengarahkan hidupnya pada Allah sumber segalanya.
Doa
Tuhan, ajarilah dan mampukanlah aku untuk mencintai sesama dan menjadi peka akan kehadiran-Mu dalam peristiwa sehari-hari sehingga aku bisa membawa banyak orang untuk menyembah-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Rabu, 11 April 2012
Kamis, 12 April 2012
Kamis, 12 April 2012
OKTAF PASKAH (P)
St. Yulius I, Paus;
St. Sabas dr Goth
Bacaan I : Kis. 3:11–26
Mazmur : 8:2a.5.6–7.8–9; R: 2ab
Bacaan Injil : Luk. 24:35–48
Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, ”Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, ”Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, ”Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka, ”Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
Kata-Nya kepada mereka, ”Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”
Renungan
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, ”ketelanjangan” atau kelemahan manusiawi dirasa sebagai ancaman. Setiap orang berusaha menutupi kelemahannya dengan aneka cara. Ada ketakutan, ”jangan-jangan orang lain memanfaatkan kelemahanku untuk menjatuhkan aku!” Beranggapan bahwa kebahagiaan atau damai sejahtera tidak akan dialami selama masih memiliki kelemahan.
Penampakan Tuhan Yesus hendak memutus logika itu. Tanpa ragu dan malu Dia mengatakan: ”Damai sejahtera bagi kamu! Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini...”. Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan kepada mereka tangan dan kaki-Nya yang berlubang bekas paku. Damai sejahtera hanya dapat kita nikmati dan wartakan kalau kita realistis, berani menerima luka-luka atau kelemahan diri.
Dengan mengakui dan menerima kelemahan diri, kita mengakui bahwa satu-satunya yang suci dan perkasa hanya Allah. Hanya Dia sumber damai sejahtera dan kebahagiaan sejati. Sikap seperti ini merupakan ungkapan bahwa kita sungguh beriman. Orang yang sungguh beriman akan dengan tulus mengakui serta menerima kekurangan dan kelemahan diri tanpa direpotkan olehnya.
Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk jujur mengakui kelemahan diriku dan senantiasa hanya mengandalkan keperkasaan dan belas kasih-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
OKTAF PASKAH (P)
St. Yulius I, Paus;
St. Sabas dr Goth
Bacaan I : Kis. 3:11–26
Mazmur : 8:2a.5.6–7.8–9; R: 2ab
Bacaan Injil : Luk. 24:35–48
Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, ”Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, ”Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, ”Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka, ”Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
Kata-Nya kepada mereka, ”Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”
Renungan
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, ”ketelanjangan” atau kelemahan manusiawi dirasa sebagai ancaman. Setiap orang berusaha menutupi kelemahannya dengan aneka cara. Ada ketakutan, ”jangan-jangan orang lain memanfaatkan kelemahanku untuk menjatuhkan aku!” Beranggapan bahwa kebahagiaan atau damai sejahtera tidak akan dialami selama masih memiliki kelemahan.
Penampakan Tuhan Yesus hendak memutus logika itu. Tanpa ragu dan malu Dia mengatakan: ”Damai sejahtera bagi kamu! Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini...”. Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan kepada mereka tangan dan kaki-Nya yang berlubang bekas paku. Damai sejahtera hanya dapat kita nikmati dan wartakan kalau kita realistis, berani menerima luka-luka atau kelemahan diri.
Dengan mengakui dan menerima kelemahan diri, kita mengakui bahwa satu-satunya yang suci dan perkasa hanya Allah. Hanya Dia sumber damai sejahtera dan kebahagiaan sejati. Sikap seperti ini merupakan ungkapan bahwa kita sungguh beriman. Orang yang sungguh beriman akan dengan tulus mengakui serta menerima kekurangan dan kelemahan diri tanpa direpotkan olehnya.
Doa: Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk jujur mengakui kelemahan diriku dan senantiasa hanya mengandalkan keperkasaan dan belas kasih-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Selasa, 10 April 2012
Rabu, 11 April 2012
Rabu, 11 April 2012
OKTAF PASKAH (P)
Pw St. Stanislaus dr Krakow;
St. George Gervase
Bacaan I : Kis. 3:1–10
Mazmur : 105:1–2.3–4.6–7.8–9; R: 3b
Bacaan Injil : Luk. 24:13–35
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Kata-Nya kepada mereka, ”Apakah itu?” Jawab mereka, ”Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.”
(Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)
Renungan
Hidup adalah sebuah perjalanan. Terkadang dua langkah maju selangkah mundur. Terkadang senang, terkadang susah. Semua membutuhkan proses dan kesabaran. Para murid Yesus yang berasal dari Emaus berjalan pulang kampung. Mereka mengalami goncangan jiwa karena Guru mereka wafat secara tidak terhormat. Muka tunduk menatap tanah. Berjalan tanpa saling memandang. Sedih. Mereka sibuk dengan pikiran dan perasaannya masing-masing.
Syukurlah mereka masih mau berdialog dengan orang ”asing” yang bertanya kepada mereka tentang peristiwa yang menimpa mereka. Hati yang diliputi oleh kecewa, marah, dan sedih tidak mampu melihat dan merasakan kehadiran Yesus sepanjang perjalanan hidup, padahal Tuhan tetap setia menyertai mereka, membuka dialog dan mengobarkan hati mereka dengan cerita sejarah keselamatan sampai dengan menggunakan kata-kata keras: ”Hai kamu orang bodoh...!” Dan Dia tetap rela untuk makan bersama mereka.
Tatkala mereka mengundang Yesus, menyediakan kursi kosong bagi-Nya dan menikmati kebersamaan dalam sukacita, mata hati mereka terbuka bahwa senyatanya Yesus senantiasa menyertai perjalanan mereka. Dalam makan bersama pun bukan mereka yang menjamu Yesus, tetapi Dia yang menjamu mereka dengan memberikan hidup-Nya.
Doa: Tuhan, berilah aku iman yang kuat, keyakinan yang mantap, bahwa dalam situasi apa pun Engkau senantiasa menyertai perjalananku. Terima kasih, Tuhan, atas kesetiaan-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
OKTAF PASKAH (P)
Pw St. Stanislaus dr Krakow;
St. George Gervase
Bacaan I : Kis. 3:1–10
Mazmur : 105:1–2.3–4.6–7.8–9; R: 3b
Bacaan Injil : Luk. 24:13–35
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Kata-Nya kepada mereka, ”Apakah itu?” Jawab mereka, ”Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.”
(Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)
Renungan
Hidup adalah sebuah perjalanan. Terkadang dua langkah maju selangkah mundur. Terkadang senang, terkadang susah. Semua membutuhkan proses dan kesabaran. Para murid Yesus yang berasal dari Emaus berjalan pulang kampung. Mereka mengalami goncangan jiwa karena Guru mereka wafat secara tidak terhormat. Muka tunduk menatap tanah. Berjalan tanpa saling memandang. Sedih. Mereka sibuk dengan pikiran dan perasaannya masing-masing.
Syukurlah mereka masih mau berdialog dengan orang ”asing” yang bertanya kepada mereka tentang peristiwa yang menimpa mereka. Hati yang diliputi oleh kecewa, marah, dan sedih tidak mampu melihat dan merasakan kehadiran Yesus sepanjang perjalanan hidup, padahal Tuhan tetap setia menyertai mereka, membuka dialog dan mengobarkan hati mereka dengan cerita sejarah keselamatan sampai dengan menggunakan kata-kata keras: ”Hai kamu orang bodoh...!” Dan Dia tetap rela untuk makan bersama mereka.
Tatkala mereka mengundang Yesus, menyediakan kursi kosong bagi-Nya dan menikmati kebersamaan dalam sukacita, mata hati mereka terbuka bahwa senyatanya Yesus senantiasa menyertai perjalanan mereka. Dalam makan bersama pun bukan mereka yang menjamu Yesus, tetapi Dia yang menjamu mereka dengan memberikan hidup-Nya.
Doa: Tuhan, berilah aku iman yang kuat, keyakinan yang mantap, bahwa dalam situasi apa pun Engkau senantiasa menyertai perjalananku. Terima kasih, Tuhan, atas kesetiaan-Mu. Amin.
sumber :ziarah batin 2012
Senin, 09 April 2012
Selasa, 10 April 2012
Selasa, 10 April 2012
OKTAF PASKAH (P)
St. Vinsensius dr Lerins; Yehezkiel, Nabi
Bacaan I : Kis. 2:36–41
Mazmur : 33:4–5.18–19.20.22; R: 5b
Bacaan Injil : Yoh. 20:11–18
OKTAF PASKAH (P)
St. Vinsensius dr Lerins; Yehezkiel, Nabi
Bacaan I : Kis. 2:36–41
Mazmur : 33:4–5.18–19.20.22; R: 5b
Bacaan Injil : Yoh. 20:11–18
Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, ”Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, ”Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, ”Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, ”Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, ”Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, ”Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, ”Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, ”Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Renungan
Mata hati kita sering dibutakan oleh perasaan sedih, cemas, bingung dan perasaan negatif lainnya. Perasaan negatif itu melumpuhkan kemampuan untuk melihat kebenaran. Pandangannya tidak lagi objektif. Malaikat tidak dilihatnya sebagai malaikat; Tuhan Yesus dipandangnya sebagai tukang kebun. Ketika Yesus bertanya ”siapakah yang engkau cari?” Maria pun tidak bisa menjawabnya. Kesadarannya pulih kembali ketika Yesus secara pribadi memanggil namanya: ”Maria!”
Panggilan yang personal itulah yang menghentikan ”puting beliung perasaan negatifnya” dan membangunkan kesadarannya bahwa Yesus hadir didekatnya. Tampaknya, saking gembiranya, dia ingin memegang dan menggenggam Tuhan Yesus. Namun, Tuhan mengingatkan: ”Jangan memegang Aku!” Tuhan tidak mungkin kita genggam dan kuasai.
Pengalaman disapa oleh Tuhan secara pribadi adalah bekal yang cukup kuat dan penuh daya untuk menjadi saksi kebangkitan. Pengalaman itu akan kita miliki kalau kita keluar dari aneka perasaan negatif dan berfokus pada Allah sendiri.
Doa
Tuhan Yesus, sapalah aku dengan namaku seperti Engkau menyapa Maria Magdalena agar aku mempunyai pengalaman indah, mendalam, dan kuat tentang kasih-Mu sehingga aku layak menjadi saksi-Mu. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Rabu, 04 April 2012
Kamis, 5 April 2012
Kamis, 5 April 2012
Kamis Putih (P)
St. Vinsensius Ferreri;
Sta. Yuliana dr Kornillon
Bacaan I : Kel. 12:1–8.11–14
Mazmur : 116:12–13.15–16bc.17–18; R: 1Kor. 10:16
Bacaan II : 1Kor. 11: 23–26
Bacaan Injil : Yoh. 13:1–15
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, ”Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, ”Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, ”Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus, ”Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, ”Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: ”Barang siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.”Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia.
Karena itu Ia berkata: ”Tidak semua kamu bersih.”Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Renungan
Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus membungkukan tubuh-Nya, membasuh kaki para murid-Nya dan menyekanya. Sebuah tindakan yang selayaknya dilakukan oleh seorang pelayan, bukan Guru dan Tuhan. Tetapi, kali ini yang melakukan adalah Dia yang mahasuci. Sungguh tindakan rendah hati yang tiada tara, tujuannya: ”agar kita mendapat bagian dalam diri-Nya!”
Merayakan Ekaristi khususnya pada hari Kamis Putih ini adalah merayakan kerendahan hati Tuhan untuk keselamatan kita. Dia tidak hanya membasuh kaki, tetapi lebih dari itu, yaitu memberikan seluruh hidup-Nya. Hidup ilahi-Nya dicurahkan pada kita agar kita menjadi bagian dari hidup-Nya. Ingat akan jasa baik Yesus ini, betapa jahatnya bila kita egois, merendahkan orang lain, merasa diri benar dan tidak rela berbagi dengan sesama.
Doa: Tuhan Yesus, apalagi yang kurang? Engkau telah memberikan segala-galanya untukku. Ajarilah aku untuk memberi dan tidak menuntut seperti Engkau. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Kamis Putih (P)
St. Vinsensius Ferreri;
Sta. Yuliana dr Kornillon
Bacaan I : Kel. 12:1–8.11–14
Mazmur : 116:12–13.15–16bc.17–18; R: 1Kor. 10:16
Bacaan II : 1Kor. 11: 23–26
Bacaan Injil : Yoh. 13:1–15
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, ”Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, ”Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, ”Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus, ”Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, ”Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: ”Barang siapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.”Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia.
Karena itu Ia berkata: ”Tidak semua kamu bersih.”Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Renungan
Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus membungkukan tubuh-Nya, membasuh kaki para murid-Nya dan menyekanya. Sebuah tindakan yang selayaknya dilakukan oleh seorang pelayan, bukan Guru dan Tuhan. Tetapi, kali ini yang melakukan adalah Dia yang mahasuci. Sungguh tindakan rendah hati yang tiada tara, tujuannya: ”agar kita mendapat bagian dalam diri-Nya!”
Merayakan Ekaristi khususnya pada hari Kamis Putih ini adalah merayakan kerendahan hati Tuhan untuk keselamatan kita. Dia tidak hanya membasuh kaki, tetapi lebih dari itu, yaitu memberikan seluruh hidup-Nya. Hidup ilahi-Nya dicurahkan pada kita agar kita menjadi bagian dari hidup-Nya. Ingat akan jasa baik Yesus ini, betapa jahatnya bila kita egois, merendahkan orang lain, merasa diri benar dan tidak rela berbagi dengan sesama.
Doa: Tuhan Yesus, apalagi yang kurang? Engkau telah memberikan segala-galanya untukku. Ajarilah aku untuk memberi dan tidak menuntut seperti Engkau. Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Selasa, 03 April 2012
Rabu, 4 April 2012
Rabu, 4 April 2012
Pekan Suci (U)
St. Isidorus dr Sevilla;
St. Benediktus Moor; St. Platon
Bacaan I : Yes. 50:4–9a
Mazmur : 69:8–10.21bcd–22.31.33–34; R: 14cb
Bacaan Injil : Mat. 26:14–25
Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, ”Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, ”Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, ”Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”
Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: ”Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab: ”Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: ”Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: ”Engkau telah mengatakannya.”
Renungan
Konon, ketika Leonardo da Vinci diminta menggambarkan Perjamuan Malam Terakhir, ia memerlukan model-model untuk melukiskan wajah Yesus dan para murid-Nya. Leonardo da Vinci mengalami kesulitan menemukan model Yesus karena orang tersebut harus memancarkan sifat-sifat Yesus. Setelah lama mencari, ia akhirnya menemukan seseorang yang tepat.
Selanjutnya, cukup mudah mencari model untuk Petrus, Yakobus, Andreas, dan murid lainnya. Tetapi, ketika ia harus melukiskan wajah Yudas, Leonardo da Vinci lagi-lagi mengalami kesulitan. Namun, setelah lama mencari, akhirnya ia berhasil mendapatkan seseorang yang tepat, yang ia temukan di suatu ruang pengadilan. Si terdakwa yang dituduh sebagai pembunuh, penipu, pengkhianat itu menjadi model yang tepat bagi Leonardo da Vinci untuk melukiskan wajah Yudas. Orang itu pun dibawanya ke Kapel Sixtina. Ketika Leonardo da Vinci sedang melukis wajah Yudas, tiba-tiba si penjahat itu menangis. Leonardo da Vinci terkejut, lalu menanyakan mengapa dia menangis. Penjahat itu berkata, ”Apakah tuan sudah lupa sama saya? Beberapa tahun lalu saya juga pernah duduk di sini untuk menjadi model wajah Yesus.”
Pengkhianatan kepada Yesus oleh pengikut-pengikut-Nya masih terjadi sampai hari ini. Saat ini di sini kita bersemangat mengatakan ”Ya Tuhan, aku mengasihi-Mu”, namun di luar sana berlaku seperti tidak mengenal Yesus. Dosa telah mengubah seseorang yang telah suci dibaptis menjadi seorang pengkhianat.
Doa:Tuhan Yesus, aku berjanji sekali lagi untuk tidak akan mengkhianati-Mu. Amin.
sumber : ziarah baton 2012
Pekan Suci (U)
St. Isidorus dr Sevilla;
St. Benediktus Moor; St. Platon
Bacaan I : Yes. 50:4–9a
Mazmur : 69:8–10.21bcd–22.31.33–34; R: 14cb
Bacaan Injil : Mat. 26:14–25
Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, ”Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, ”Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, ”Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”
Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: ”Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab: ”Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: ”Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: ”Engkau telah mengatakannya.”
Renungan
Konon, ketika Leonardo da Vinci diminta menggambarkan Perjamuan Malam Terakhir, ia memerlukan model-model untuk melukiskan wajah Yesus dan para murid-Nya. Leonardo da Vinci mengalami kesulitan menemukan model Yesus karena orang tersebut harus memancarkan sifat-sifat Yesus. Setelah lama mencari, ia akhirnya menemukan seseorang yang tepat.
Selanjutnya, cukup mudah mencari model untuk Petrus, Yakobus, Andreas, dan murid lainnya. Tetapi, ketika ia harus melukiskan wajah Yudas, Leonardo da Vinci lagi-lagi mengalami kesulitan. Namun, setelah lama mencari, akhirnya ia berhasil mendapatkan seseorang yang tepat, yang ia temukan di suatu ruang pengadilan. Si terdakwa yang dituduh sebagai pembunuh, penipu, pengkhianat itu menjadi model yang tepat bagi Leonardo da Vinci untuk melukiskan wajah Yudas. Orang itu pun dibawanya ke Kapel Sixtina. Ketika Leonardo da Vinci sedang melukis wajah Yudas, tiba-tiba si penjahat itu menangis. Leonardo da Vinci terkejut, lalu menanyakan mengapa dia menangis. Penjahat itu berkata, ”Apakah tuan sudah lupa sama saya? Beberapa tahun lalu saya juga pernah duduk di sini untuk menjadi model wajah Yesus.”
Pengkhianatan kepada Yesus oleh pengikut-pengikut-Nya masih terjadi sampai hari ini. Saat ini di sini kita bersemangat mengatakan ”Ya Tuhan, aku mengasihi-Mu”, namun di luar sana berlaku seperti tidak mengenal Yesus. Dosa telah mengubah seseorang yang telah suci dibaptis menjadi seorang pengkhianat.
Doa:Tuhan Yesus, aku berjanji sekali lagi untuk tidak akan mengkhianati-Mu. Amin.
sumber : ziarah baton 2012
Senin, 02 April 2012
Selasa, 3 April 2012
Selasa, 3 April 2012
Pekan Suci (U)
St. Richard dr Chichester;
St. Yosef, Mrt.; St. Sixtus I, Paus
Bacaan I : Yes. 49:1–6
Mazmur : 71:1–2.3–4a.5–6ab.15.17; R: 15
Bacaan Injil : Yoh. 13:21–33.36–38
Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, ”Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!”
Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya, ”Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, ”Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya, ”Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.
Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: ”Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)
Renungan
Sewaktu umur 13 tahun, Shinta mengalami musibah; ketika sedang berenang, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri—ia menderita penyakit ayan. Berbagai upaya telah ditempuh untuk menyembuhkannya, tetapi selalu gagal. Kini dia sudah berumur 30 tahun. Awalnya Bu Maria, orang tua Shinta, frustrasi, malu, marah dan memberontak pada Tuhan, mengapa masalah seperti ini menimpa keluarganya. Sebulan sekali pastor mengunjungi Shinta dan memberikan komuni. Suatu ketika pastor berkata: ”Saya sedang mengunjungi Tuhan Yesus yang menderita!” Ibu Maria tersentak mendengar kalimat itu sambil memandang wajah Shinta yang tenang, teduh dan memancarkan kepasrahan. Saat itu hatinya terasa diubah dan matanya dicelikkan. Shinta bukanlah beban keluarga, tetapi sarana bagi mereka untuk mencintai Yesus yang menderita. Sejak saat itu Ibu Maria merasa gembira boleh melayani Tuhan Yesus dalam diri anaknya yang tak berdaya.
Tuhan Yesus mengatakan: ”Allah dipermuliakan dalam diri-Nya yang menderita, tergantung di kayu salib!” Penderitaan dan aneka masalah atau penyakit yang menimpa manusia bukanlah tanda hukuman dari Allah, tetapi tanda kerapuhan manusia. Dalam kerapuhan manusia itu kemuliaan Allah mudah dinyatakan. Hanya orang rendah hati yang mampu merasakan kemuliaan Allah yang nyata dalam hidup kita yang lemah dan rapuh. Ini kebahagiaan tanpa syarat.
Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa merayakan hidup dan bukan meratapinya karena Engkau menyatakan keagungan dan kemuliaan-Mu dalam diriku! Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Pekan Suci (U)
St. Richard dr Chichester;
St. Yosef, Mrt.; St. Sixtus I, Paus
Bacaan I : Yes. 49:1–6
Mazmur : 71:1–2.3–4a.5–6ab.15.17; R: 15
Bacaan Injil : Yoh. 13:21–33.36–38
Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, ”Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!”
Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya, ”Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, ”Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya, ”Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.
Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: ”Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab....)
Renungan
Sewaktu umur 13 tahun, Shinta mengalami musibah; ketika sedang berenang, tiba-tiba dia tidak sadarkan diri—ia menderita penyakit ayan. Berbagai upaya telah ditempuh untuk menyembuhkannya, tetapi selalu gagal. Kini dia sudah berumur 30 tahun. Awalnya Bu Maria, orang tua Shinta, frustrasi, malu, marah dan memberontak pada Tuhan, mengapa masalah seperti ini menimpa keluarganya. Sebulan sekali pastor mengunjungi Shinta dan memberikan komuni. Suatu ketika pastor berkata: ”Saya sedang mengunjungi Tuhan Yesus yang menderita!” Ibu Maria tersentak mendengar kalimat itu sambil memandang wajah Shinta yang tenang, teduh dan memancarkan kepasrahan. Saat itu hatinya terasa diubah dan matanya dicelikkan. Shinta bukanlah beban keluarga, tetapi sarana bagi mereka untuk mencintai Yesus yang menderita. Sejak saat itu Ibu Maria merasa gembira boleh melayani Tuhan Yesus dalam diri anaknya yang tak berdaya.
Tuhan Yesus mengatakan: ”Allah dipermuliakan dalam diri-Nya yang menderita, tergantung di kayu salib!” Penderitaan dan aneka masalah atau penyakit yang menimpa manusia bukanlah tanda hukuman dari Allah, tetapi tanda kerapuhan manusia. Dalam kerapuhan manusia itu kemuliaan Allah mudah dinyatakan. Hanya orang rendah hati yang mampu merasakan kemuliaan Allah yang nyata dalam hidup kita yang lemah dan rapuh. Ini kebahagiaan tanpa syarat.
Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk senantiasa merayakan hidup dan bukan meratapinya karena Engkau menyatakan keagungan dan kemuliaan-Mu dalam diriku! Amin.
sumber : ziarah batin 2012
Langganan:
Postingan (Atom)















































