Selasa, 23 Agustus 2011

Rabu, 24 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)

Rabu, 24 Agustus 2011
Pekan Biasa XXI
Pesta St. Bartolomeus, Rasul (M), Sta. Emilia de Vialar
Bacaan I: Why. 21:9b–14
Mazmur : 145:10–11,12–13b,17–18; R: lih. 12
Bacaan Injil : Yoh. 1:45–51

Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: ”Kami telah mene­mu­kan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: ”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: ”Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: ”Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
Kata Natanael kepada-Nya: ”Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: ”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: ”Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: ”Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Aku ber­kata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”



Renungan

Vannia adalah primadona di kelasnya. Sifatnya yang terbuka dan berani membuat teman-teman sekelas mengangkatnya menjadi kepala ’geng’. Kesulitan apa pun yang dihadapi teman-temannya selalu dapat ia bantu mengatasinya. Berhadapan dengan kakak-kakak kelas yang galak, menghadapi guru yang sedang marah, sampai menghadapi Mas Ojo penjual minuman dingin di pinggiran pagar sekolah yang sering bikin masalah dengan anak-anak sekolah, semua dapat diatasi Vannia dengan mudah.

Dalam setiap komunitas biasanya akan lahir pemimpin-pemimpin. Mereka awalnya orang-orang biasa, yang karena dukungan keadaan kemudian tampil menjadi pemimpin. Ada yang berhasil menjadi pemimpin yang baik dan disenangi orang, tetapi tak sedikit juga yang menjadi pemimpin yang dibenci. Mereka semua sama-sama memiliki kelebihan dibandingkan anggota komunitas lainnya.

Gereja perdana juga memilih pemimpin-pemimpin perdananya melalui Yesus Sang Guru. Sekelompok pemimpin itu dinamai para rasul. Salah seorang di antaranya adalah Natanael, petani dari Kana, yang diperkenalkan kepada Yesus oleh Filipus. Keraguannya, yang kemudian diikuti oleh pengakuan imannya akan Yesus sebagai Putra Allah, membuatnya amat istimewa di mata Yesus. Ia diperkenankan menjadi salah satu saksi kebangkitan-Nya dalam peristiwa penampakan di tepi Danau Tiberias. Natanael disebut juga Bartolomeus (Yunani), atau bar-Tolmay dalam bahasa Arami, yang artinya anak Tolmay, putra petani.

Doa


Yesus, Putra Allah, bentuklah diriku menjadi rasul-rasul-Mu di masa kini, yang siap mengantar banyak orang mencapai keselamatan yang Kaujanjikan itu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 22 Agustus 2011

Selasa, 23 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)

Selasa, 23 Agustus 2011
Pekan Biasa XXI (H)
Sta. Rosa da Lima; St. Filipus Benizi
Bacaan I: 1Tes. 2:1–8
Mazmur : 139:1–3,4–6; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 23:23–26


”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”



Renungan

Tepuk tangan meriah mengakhiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di PT Abal Abalan. Para pemegang saham bergembira atas kinerja jajaran direksi dan manajemen yang berhasil membukukan laba sangat memuaskan. Selain itu, RUPS juga memutuskan menghibahkan 10% laba untuk pembangunan panti asuhan dan 10% lagi untuk dana pendidikan calon imam di seminari setempat.

Kabar gembira dari RUPS juga disampaikan kepada Pastor Paroki setempat. Kemudian sambil menyatakan terima kasihnya, Pastor Paroki mengajukan beberapa pertanyaan, antara lain apakah karyawan sudah digaji dengan wajar; apakah kaidah keadilan diterapkan dalam bisnis; apakah kejujuran dan etika bisnis telah mendapat tempat utama dalam pengelolaan perusahaan? Ia berharap agar prinsip-prinsip moral Kristiani mendapat tempat terhormat di sana.
Perusahaan berkembang karena kinerja yang baik, bukan karena dilakukan dengan curang, manipulatif, bahkan menindas orang lain. Tak ada artinya memberikan sumbangan dalam jumlah besar kalau dananya diperoleh dari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran iman kita. Kalau itu yang terjadi, apa bedanya kita dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Kita harus belajar dari pengalaman Jemaat Tesalonika, yang tetap setia berpegang pada ajaran-ajaran iman yang telah mereka terima, tak goyah dalam situasi apa pun.

Doa:Tuhan, semoga pengelolaan lembaga-lembaga duniawi yang Kaupercayakan kepadaku dapat kulakukan dengan baik tanpa mengabaikan kaidah moral dan imanku. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Jumat, 19 Agustus 2011

Sabtu, 20 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)

Sabtu, 20 Agustus 2011
Pekan Biasa XX
Pw St. Bernardus, Abas, PujG. (P);
Samuel, Imam dan Hakim

Bacaan I: Rut. 2:1–3,8–11; 4:13–17
Mazmur : 128:1–2,3,4,5; R: 4
Bacaan Injil : Mat. 23:1–12


Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”



Renungan

Dengan gagah, ketiga bocah Al, El, dan Dul, tampil di panggung memainkan gitar, bas, dan drum sambil bergaya seperti pemusik kawakan. Decak kagum membahana keluar dari mulut para penonton yang menyaksikannya, saat pembawa acara mengomentari penampilan mereka. ”Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” itulah pepatah yang bisa melengkapi penampilan ketiga anak pasangan Achmad Dani dan Maia Estianty itu. Kehebatan yang mereka miliki menurun dari bakat, kemampuan, dan jiwa seni kedua orangtuanya.

Di sekeliling kita ada banyak contoh serupa. Seniman memiliki anak-anak yang seniman juga. Bangsawan lahir dari sebuah keluarga bangsawan. Pewarisan seperti itu umumnya otomatis diturunkan secara genetik dari orangtua ke anak. Bacaan Pertama hari ini juga ingin menampilkan ”akar genetik” manusia Yesus, yang sering kali disebut sebagai keturunan Daud.
Pewarisan secara genetik akan lebih sempurna kalau diiringi pewarisan nilai-nilai luhur kehidupan yang berproses dalam hidup nyata sehari-hari. Misalnya: pengampunan, cinta kasih, kesederhanaan dan kerendahan hati, serta aneka nilai luhur lainnya yang dicontohkan dan diteladankan oleh yang lebih tua di dalam keluarga, atau di dalam komunitas setempat. Nilai-nilai luhur seperti itu, menurut Yesus, harus dicontohkan. Tak cukup hanya diajarkan dengan mulut sebagaimana yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Doa: Tuhan Yesus, dampingilah aku untuk berani memilah aneka contoh kehidupan yang ada di sekelilingku dan berani memilih yang terbaik sesuai ajaran-Mu. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Kamis, 18 Agustus 2011

Jumat, 19 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)

Jumat, 19 Agustus 2011
Pekan Biasa XX (H)
St. Yohanes Eudes; St. Ludovikus;
Ezekhiel Moreno; Guerikus Abas

Bacaan I: Rut 1:1,3–6,14b–16,22
Mazmur : 146:5–6,7,8–9bc–10; R: 2a
Bacaan Injil : Mat. 22:34–40


Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkum­pullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: ”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang ter­utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesama­mu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”


Renungan

Melalui mesin pencari kata di internet kita bisa menemukan jutaan link yang membahas entry kata ”kasih” atau ”cinta kasih”. Selain itu, ada juga ribuan tembang bertema ”cinta” dan ”kasih” bisa kita unduh melalui situs pengoleksi lagu di internet. Luar biasa pemahaman manusia tentang kata yang satu ini. Namun, coba bandingkan dengan berita di radio, televisi, dan koran setiap hari, apakah pemahaman manusia tentang kasih itu sungguh mampu diwujudkan atau hanya sekadar pemanis bibir? Pertengkaran, perkelahian dan kekerasan terjadi di mana-mana. Kerusuhan, bahkan juga peperangan silih berganti mewarnai muka bumi ini. Jangan-jangan, ”cinta kasih” hanya bersifat verbalistik. Mudah diucapkan dan didiskusikan, bahkan mudah juga dinyanyikan dengan melodi yang indah.

”Kalau begitu, hukum manakah yang terbesar?” tanya seorang ahli Taurat kepada Yesus untuk mencobai-Nya. Jawaban Yesus tampaknya ”standar-standar” saja, persis seperti yang sudah diajarkan turun-temurun oleh nenek moyang bangsa Yahudi: mengasihi Allah dengan segala-galanya, lalu mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Ini bukanlah hal baru. Kitab Rut dalam Bacaan Pertama juga selintas memperlihatkan cinta kasih yang sejati melalui sikap Rut terhadap Naomi.

Persoalan kita adalah bagaimana menjadikan yang ”standar-standar” itu berbuah nyata dalam tindakan konkret sehari-hari. Di sinilah kelebihan Yesus, menjadikan yang ”standar-standar” itu menjadi luar biasa karena dipraktikkan dalam hidup-Nya sendiri. Bahkan Ia memuliakan nilai kasih yang dipraktikkan-Nya itu dengan mengampuni sesama-Nya saat meregang nyawa tergantung di salib. Itulah cinta kasih yang sejati.

Doa: Yesus Tuhan Penyelamatku, sanggupkan aku untuk mempraktikkan ajaran cinta kasih-Mu dalam tindakanku sehari-hari. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 16 Agustus 2011

Rabu, 17 Agustus 2011(Ziarah Batin 2011)-HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Rabu, 17 Agustus 2011
HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA (P)
St. Gregorius Thaumaturgos; St. Gregorius dr Tours
Bacaan I: Sir. 10:1–8
Mazmur : 101:1a,2ac,3a,6-7; R: Gal. 5:13
Bacaan II : 1Ptr. 2:13–17
Bacaan Injil : Mat. 22:15–21


Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Eng­kau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan mem­bayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepa­da-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka mem­bawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”


Renungan

Republik Indonesia hari ini genap berusia 66 tahun. Artinya sudah puluhan kali juga kita merayakannya dengan kegembiraan. Ada pidato kenegaraan pimpinan-pimpinan bangsa. Ada upacara bendera di mana-mana. Ada renungan suci dalam keheningan malam di taman makam pahlawan. Ada pawai dan karnaval meriah dari gang-gang sempit sampai ke jalan-jalan raya. Ada lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba balap karung, dan sebagainya. Inilah saat sarat makna bagi sebuah komunitas multikultur, multietnik, dan multireligi yang memproklamasikan dirinya menjadi sebuah bangsa dan negara berdaulat pada tahun 1945.

Mengisi kemerdekaan bukan sekadar merayakan 17 Agustus setiap tahun. Kemerdekaan harus diwujudkan dan dialami dalam perilaku hidup sehari-hari warga negaranya. Para pemimpinnya jujur dan berwibawa. Rakyatnya hidup damai dan sejahtera. Seluruh komponen bangsa boleh ambil bagian, sekaligus boleh menimba manfaat maksimal dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai murid Kristus kita juga harus berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan. ”Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar...”, sabda Yesus ini bergema kembali dalam hati kita hari ini. Dirgahayu Republik Indonesia...!

Doa: Allah Pencipta Semesta Alam, aku bersyukur menjadi bagian dari bangsa ini. Rasa syukurku akan kuungkapkan dalam partisipasiku mengisi kemerdekaan melalui karya-karya yang berguna bagi sesamaku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 15 Agustus 2011

Selasa, 16 Agustus 2011 (ziarah batin 2011)

Selasa, 16 Agustus 2011
Pekan Biasa XX (H)
St. Benediktus Yoseph Labre; St. Stefanus dr Hungaria
Bacaan I: Hak. 6:11–24a
Mazmur : 85:9,1–12,13–14; R: lih. 9
Bacaan Injil : Mat. 19:23–30


Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata, ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, ”Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus, ”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.”


Renungan

Dalam sebuah dialog di facebook untuk mengomentari foto seorang romo yang masih muda dan ganteng, ada seorang Bapak berkomentar begini, ”....kekaguman tak habis-habisnya melihat keputusan anak-anak muda seperti dia. Semoga umat dapat menghargai dan ikut bertanggung jawab atas panggilan imamatnya....”

Kalau mau jujur, mungkin bukan hanya bapak ini seorang yang kagum. Banyak orang juga kagum dengan anak-anak muda idealis seperti itu. Ia berani mengambil keputusan yang ”dianggap tak masuk akal” bagi dunia anak muda sekarang. Bukankah di sekelilingnya ada begitu banyak peluang untuk menikmati hidup, untuk meraih ”sukses”, dan membuat dirinya bisa tampil beda dengan orang lain mengikuti cara pandang dunia modern itu sendiri. Salahkah semua itu?
Kekaguman kita akan bertambah lagi kalau merenungkan tantangan Yesus dalam Injil hari ini. Ia tidak ingin murid-murid sejatinya itu ”biasa-biasa” saja. Harus lebih dari itu, harus sempurna, dan harus memiliki totalitas kemuridan agar bisa meraih hidup yang kekal.

Memang, hanya yang berkualitaslah yang pantas disebut sebagai murid sejati-Nya. Hanya yang sempurnalah yang pantas meraih hidup yang kekal. Menjadi orang-orang pilihan Allah adalah ”mimpi” yang harus diwujudkan.


Doa: Allah Bapa, penguasa langit dan bumi, Putra-Mu menjanjikan kemuliaan bagi murid-murid sejati-Nya, yaitu duduk bersama-Nya untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Aku ingin ambil bagian bersama-Nya juga kelak. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

Sabtu, 13 Agustus 2011(Ziarah Batin 2011)

Sabtu, 13 Agustus 2011
Pekan Biasa XIX (H)
St. Hippolitus; St. Innosensius XI, Paus;
St. Pontianus, Paus; St. Maximus

Bacaan I: Yos. 24:1–13
Mazmur : 136:1–3,16–18,21–22,24
Bacaan Injil : Mat. 19:3–12


Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya me­marahi orang-orang itu. Tetapi Yesus ber­kata: ”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.


Renungan

”Jas Merah” adalah ungkapan dan kosa kata yang lahir dari mulut Bung Karno. ”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, itu maksudnya. Sejarah berisi catatan dari berbagai peristiwa. Sejarah juga memuat interpretasi atas serentetan peristiwa yang dialami oleh seseorang, sekelompok orang, atau sebuah bangsa. Maka sejarah janganlah dibelokkan, apalagi diselewengkan, harus apa adanya.

Nabi Yosua mengantar ”umat pilihan” memasuki babak baru dalam sejarah, sebagai bangsa yang mulai menetap, membangun sebuah negeri, menjadi bangsa yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Mereka tidak boleh melupakan sejarah, tetapi harus belajar dari sejarah perjalanan panjang: berawal dari sebuah keluarga, sebuah kelompok kecil, sampai menjadi sebuah bangsa besar yang menetap di Kanaan yang luas dan subur. Pada akhir hayatnya, Yosua kembali mengingatkan umatnya untuk tetap setia kepada Allah yang tetap setia menyertai perjalanan mereka selama-lamanya.

Dari sejarah umat pilihan ini kita bisa belajar bagaimana sesuatu yang awalnya tampak kecil dan tidak berarti bisa berkembang menjadi luar biasa. Sesuatu yang kecil dan tampaknya tidak bernilai di mata dunia telah menjadi permata di tangan Allah. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa kecil dan tidak berguna, merasa terbuang dan terpinggirkan, merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Bukankah Allah tetap mengasihi kita? Bukankah sejarah iman telah membuktikan bagaimana Allah setia mendampingi umat-Nya, yang menuruti perintah-perintah-Nya, yang selalu dekat dengan-Nya?
Jangan-jangan kita merasa hidup beriman itu harus seperti anak kecil yang penurut. Ah, siapa takut? Bukankah Yesus, di tengah-tengah kerumunan anak-anak kecil, mengatakan, ”Orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Doa: Tuhan Yesus, ajari aku untuk memiliki hati seperti seorang anak kecil, yang tulus, jujur, dan penuh kepolosan di hadapan-Mu. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Kamis, 11 Agustus 2011

Jumat, 12 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 19:3–12

Jumat, 12 Agustus 2011
Pekan Biasa XIX (H)
Sta. Radegundis dr Turingia;
Sta. Yohana Fransiska de Chantal; St. Sabas dr Goth

Bacaan I: Yos. 24:1–13
Mazmur : 136:1–3,16–18,21–22,24
Bacaan Injil : Mat. 19:3–12

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Apakah diper­bolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: ”Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah di­per­satukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: ”Jika de­mikian, apakah sebabnya Musa me­merintah­kan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” Kata Yesus kepada mereka: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”



Renungan

Ada rupa-rupa panggilan hidup yang bisa kita pilih dan jalani. Ada yang memilih untuk menikah dan membangun keluarga. Ada juga yang memilih tidak menikah lalu menjadi biarawan-biarawati, menjadi imam, atau mengabdikan hidup semata-mata untuk melayani Tuhan dan sesama. Setiap pilihan memuat hak, sekaligus tanggung jawab bagi si pemilihnya, yang harus dilaksanakan secara konsekuen agar pilihan hidupnya itu sungguh-sungguh bermakna.
Pada bagian akhir Kitab Yosua digambarkan kasih Allah yang begitu besar kepada orang Israel. Allah memilih mereka sebagai umat-Nya, mendampingi mereka sampai menjadi sebuah bangsa yang besar, dan juga melindungi mereka dari segala ancaman. Begitu besar kasih Allah terhadap bangsa pilihan-Nya: Ia memberikan Tanah Terjanji yang mereka peroleh tanpa bersusah payah; memiliki kota-kota tanpa membangunnya; dan memetik anggur dan zaitun dari kebun yang tidak mereka tanam sendiri. Itulah tanggung jawab. Itulah konsekuensi dari sebuah pilihan.

Ketika kita sudah menentukan pilihan, maka kita harus berani menjalaninya sepenuh hati. Juga jangan ”menduakan”, atau ”menggandakan” pilihan, hanya untuk mewujudkan egoisme kita. Yesus mengajak kita untuk tidak bertegar hati. Belajar dari kasih Allah yang begitu besar kepada umat pilihan-Nya, maka begitu juga seharusnya besarnya kasih kita terhadap apa yang telah kita pilih dengan bebas.

Doa: Tuhan, Engkau setia kepada umat pilihan-Mu. Aku ingin belajar setia juga sebagaimana Engkau perlihatkan dalam hidupku ini. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 10 Agustus 2011

Kamis, 11 Agustus 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 18:21–19:1

Kamis, 11 Agustus 2011
Pekan Biasa XIX
Pw Sta. Klara dr Assisi; (P); Sta. Susana
Bacaan I: Yos. 3:7–10a,11,13–17
Mazmur : 114:1–2,3–4,5–6
Bacaan Injil : Mat. 18:21–19:1


Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”Yesus berkata kepadanya, ”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai meng­adakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia me­nangkap dan mencekik kawannya itu, kata­nya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawan­­nya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Bacaan selengkapnya lihat Akitab….)



Renungan

Gentong yang penuh berisi air, apabila diisi terus dengan air, isinya akan melimpah ke mana-mana dan terbuang percuma. Namun, apabila pada gentong itu dibuatkan saluran keluar (outlet) yang pas, maka limpahan isinya dapat disalurkan ke tempat lain yang membutuhkannya.

Hidup kita juga ibarat gentong yang terbuka menerima rezeki, rahmat, atau berkat dari Allah. Semua akan percuma kalau diperuntukkan melulu bagi kepentingan diri sendiri. Berkat itu akan berdaya guna, bahkan akan selalu terisi terus, kalau ada saluran keluar untuk membagikannya kepada orang lain. Sedekah, berbagi, atau berderma adalah wujud nyata solidaritas yang ditanamkan oleh setiap agama di muka bumi.

Dalam Injil hari ini kita melihat perumpamaan tentang hamba yang jahat dan tak tahu berterima kasih. Ia memperoleh kebaikan dari majikannya, tetapi ia tidak rela berbagi kepada sesamanya. Yesus memperluas pemahaman tentang berbagi yang bukan semata-mata menyangkut materi, namun juga yang imaterial, seperti kasih dan pengampunan.

Doa: Allah Maha Pengampun, aku ingin mengampuni orang lain sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Curahkan Roh-Mu untuk menguatkan tekatku ini. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 09 Agustus 2011

Rabu, 10 Agustus 2011(ziarah batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 12:24–26

Rabu, 10 Agustus 2011
Pekan Biasa XIX
Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir (M)
Bacaan I: 2Kor. 9:6–10
Mazmur : 112:1–2,5–9; R: 5a
Bacaan Injil : Yoh. 12:24–26

Aku berkata kepadamu: Sesungguh­nya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan meng­hasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus me­ngikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”


Renungan

Pohon pisang dapat tumbuh di mana saja, berbuah tanpa mengenal musim. Jantung dan buahnya dipersembahkan untuk memberi kehidupan bagi banyak orang. Daun dan batangnya juga digunakan untuk kepentingan manusia. Lebih menarik lagi kalau kita perhatikan bagaimana pohon pisang berkembang biak secara vegetatif, melalui tunas-tunas yang tumbuh di sekeliling pohon induk, lalu kemudian menjadi anakan pohon. Agar anakan pohon ini bisa menjadi pohon dewasa yang menghasilkan buah pada waktunya maka pohon induk harus dimusnahkan.

Hari ini kita merayakan pesta St. Laurensius, diakon dan pelayan setia Paus Sixtus II (Abad ke-3) yang diserahi tugas mengurus harta kekayaan Gereja untuk dibagikan kepada fakir miskin. Ketika Paus Sixtus dipenjara oleh penguasa Roma, Laurensius juga menemaninya. Namun, ketika penguasa Roma ingin merebut harta kekayaan Gereja yang dikelolanya, Laurensius malahan segera membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Hal ini membuat gusar penguasa Roma yang lalu membakar Laurensius hidup-hidup. Kesaksian iman Laurensius menjadi berita besar yang membangkitkan iman orang-orang Kristen lainnya pada waktu itu.

Hari ini Yesus memberi perumpamaan tentang biji gandum. Ada yang tetap sebiji dan tidak menghasilkan buah. Namun, ada juga yang menghasilkan buah berlimpah-limpah. Agar menghasilkan buah berlimpah dibutuhkan pengorbanan. Siapkah kita menjadi biji gandum yang jatuh ke dalam tanah, hancur, namun lalu menghasilkan banyak buah?

Doa: Tuhan Yesus, biji gandum yang tetap sebiji tidaklah berguna. Engkau ingin agar aku menjadi biji gandum yang menghasilkan banyak buah. Bantu aku dalam mewujudkannya. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 08 Agustus 2011

Selasa, 9 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 18:1–5,10,12–14

Selasa, 9 Agustus 2011
Pekan Biasa XIX (H)
St. Oswaldus; Sta. Teresia Benedikta dr Salib
Bacaan I : Ul. 31:1–8
Mazmur : Ul. 32:3–4a,7–9,12; R: 9a
Bacaan Injil : Mat. 18:1–5,10,12–14


Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, ”Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”


Renungan

Masih lekat dalam ingatan kita proses alih kepemimpinan di Keuskupan Agung Jakarta yang berlangsung dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Petrus & Paulus, 29 Juni 2010. Indah dan mengharukan. Diawali dengan bersama-sama menyanyikan lagu In Nomine Iesu, yang merupakan sesanti Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Setelah itu Kardinal menyerahkan tongkat gembalanya kepada Uskup Agung Ignatius Suharyo.

Setelah menerima tongkat itu, Mgr. Suharyo mencium tangan dan cincin Romo Kardinal, yang menandakan kesetiaan dan kesediaannya melanjutkan tugas penggembalaan di KAJ. Kemudian Romo Kardinal memeluk Mgr. Suharyo, yang mengungkapkan kasih dan restunya kepada Uskup Agung Jakarta yang baru. Prosesi alih kepemimpinan ditutup dengan menyanyikan lagu Serviens Domino, yang diinspirasikan oleh sesanti Mgr. Suharyo.

Suksesi Apostolik dalam Gereja Katolik berlangsung sederhana dan tanpa ingar-bingar sebagaimana layaknya pemilihan dan pergantian kepemimpinan dalam dunia politik dan organisasi kemasyarakatan. Praktis tanpa politik uang, tanpa intrik, dan tanpa ”kongkalikong”.

Yesus Sang Guru mengamanatkan semua murid-Nya untuk melandaskan kepemimpinan pada semangat pelayanan dan kesederhanaan. Menjadi pemimpin bukan untuk berkuasa. Bukan untuk meraup segala sesuatu bagi kepentingannya sendiri. Menjadi pemimpin artinya menjadi pelayan...yang siap mencari dan menemukan domba-domba yang hilang.

Doa
Allah Bapa, bentuklah aku menjadi orang yang selalu siap melayani sesamaku dalam semangat kesederhanaan. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 05 Agustus 2011

Sabtu, 6 Agustus 2011-Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya(Bacaan Injil : Mat. 17:1–9 )

Sabtu, 6 Agustus 2011
Pekan Biasa XVIII
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (P) St. Hermanus
Bacaan I : Dan. 7:9–10,13–14
Mazmur : 97:1–2,5–6,9; R: 1a,9a
Bacaan Injil : Mat. 17:1–9


Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus, ”Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata, ”Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, ”Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Renungan
Dalam misa pontifikal di gereja Katedral, seorang Uskup biasanya memimpin upacara dengan mengenakan semua atribut kegembalaannya secara lengkap. Ada mitra di kepala, tongkat gembala di tangan, dan salib pektoral di dada. Bahkan seorang Uskup Agung Metropolit sering kali juga melengkapi penampilannya dengan memasang pallium (semacam syal terbuat dari tenunan bulu domba yang sudah diberkati Sri Paus) melingkar di pundak pada bagian luar kasulanya. Itulah yang membedakannya dengan imam-imam lain yang mendampinginya dalam upacara tersebut.
Dalam Injil hari ini kita dengar bagaimana Petrus, Yakobus, dan Yohanes mengalami peristiwa iman saat Yesus berubah rupa di depan mereka. Dan seketika itu juga Petrus menjawab, ”Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini...”
Hari ini kita merayakan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. Perayaan ini hendaknya tidak sekadar upacara, namun mengantar kita kepada iman akan Yesus, Allah Penyelamat, yang menebus segala dosa kita agar layak memandang kemuliaan-Nya juga kelak. Membawa dan mengantar kita kepada iman yang sama sebagaimana yang dialami oleh ketiga Rasul di Gunung Tabor.
Hari ini hati kita juga berbunga-bunga, seperti Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Seperti para imam yang mendampingi Uskup dalam misa pontifikal, yang merasa bangga dan bahagia karena mendapat anugerah istimewa.

Doa
Yesus Tuhanku, semoga cahaya yang memancar dari tubuh-Mu di Gunung Tabor juga memenuhi hatiku dan seluruh Gereja, Tubuh Mistik-Mu di dunia. Amin.


sumber:ziarah Batin 2011

Kamis, 04 Agustus 2011

Jumat, 5 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 16:24–28

Jumat, 5 Agustus 2011
Pekan Biasa XVIII (H)
Pemberkatan Gereja Basilika SP Maria; Sta. Nonna
Bacaan I : Ul. 4:32–40
Mazmur : 77:12–13,14–15,16,21; R: 12a
Bacaan Injil : Mat. 16:24–28


Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Setiap orang yang mau meng­­ikut Aku, ia harus menyangkal diri­nya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya.”



Renungan

Serombongan pemuda beringas berteriak-teriak sambil mengacungkan golok ke arah jemaat yang sedang beribadah mengisi masa Prapaskah di rumah Pak Paulus. Mereka tidak setuju karena rumah tinggal (dianggap) bukanlah tempat ibadah. Apalagi ibadah dilengkapi dengan nyanyian pujian yang mereka anggap mengganggu ketenangan lingkungan. Tidak ada kompromi, semua jemaat digiring bak pesakitan menuju kantor polsek setempat untuk diinterogasi. Akhirnya, Pak Paulus diminta menandatangani perjanjian bermeterai agar tidak lagi menggunakan rumahnya untuk beribadah bersama.

Melalui Musa, Allah memurnikan kualitas iman umat-Nya sebelum memasuki ”Tanah Terjanji”. Hanya yang tahan banting, yang berpegang pada ketetapan dan perintah-Nya yang diperkenankan-Nya masuk. Permintaan yang sama diulangi lagi oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, ”Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, harus berani memikul salibnya.” Itulah kualitas kemuridan yang diminta-Nya.
Kemuridan adalah sebuah proses panjang. Melalui Pembaptisan, kita mengawali masa resmi kemuridan, yang akan terus berproses sepanjang hidup. Bukan jalan mudah, lancar, dan serba enak yang harus kita lalui, tetapi juga jalan berliku, penuh kesulitan dan tantangan, yang kita namai ”jalan salib hidup” kita.

Doa
Tuhan Yesus, jadikan hatiku semakin menyerupai Hati Kudus-Mu yang aku muliakan pada Jumat Pertama ini. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 03 Agustus 2011

Kamis, 4 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 16:13–23

Kamis, 4 Agustus 2011
Pekan Biasa XVIII
Pw St. Yohanes Maria Vianney, Im (P)
Bacaan I : Bil. 20:1–13
Mazmur : 95:1–2,6–7,8–9; R: 8
Bacaan Injil : Mat. 16:13–23


Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ”Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: ”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.
Se­jak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ”Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”


Renungan

”Saya mendapat hadiah untaian Litani Serba Salah,” ungkap seorang tokoh jemaat yang baru enam bulan dipercaya menjadi ketua Stasi dalam suatu kesempatan sharing pendalaman iman masa. Melakukan ini-itu selalu dianggap salah oleh umat. Kritik tajam, gerundelan, bahkan cemooh dan caci maki juga pernah diterimanya. Tidak tahan dengan semua itu, ia berniat mengajukan pengunduran diri kepada Pastor Parokinya.
Musa dan Harun menghadapi persoalan yang sama saat memimpin orang Israel melintasi padang gurun menuju Tanah Terjanji. Bahkan, mereka juga putus asa menghadapi jemaat yang dipimpinnya, sehingga menggerutu kepada Tuhan yang telah memilih dan menunjuk mereka sebagai pemimpin. Ketika membentuk Gereja-Nya, Yesus juga memilih pemimpin-pemimpin berkualitas untuk menggembalakan umat-Nya, seperti Petrus yang dengan berani mengungkapkan imannya, ”Engkaulah Mesias...!”

Pemimpin sejati harus tumbuh di sekitar kita, dalam lingkungan keluarga, Gereja, maupun masyarakat. Pemimpin yang tegar, tidak cengeng dan tidak mudah putus asa menghadapi tantangan dan kesulitan, seperti pohon tinggi yang perkasa, yang tidak gentar diterpa angin kencang. Pemimpin yang mau mengayomi, melayani, dan mengantar mereka yang dipimpinnya menuju ”Tanah Terjanji” dalam hidupnya masing-masing.

Doa
Yesus, ajari aku untuk memiliki ketegaran hati seperti Santo Petrus, rasul yang Kaupilih menjadi pemimpin Gereja-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 02 Agustus 2011

Rabu, 3 Agustus 2011(ZIarah batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 15:21–28

Rabu, 3 Agustus 2011
Pekan Biasa XVIII (H)
St. Stefanus I, Paus
Bacaan I : Bil. 13:1–2a,25–14:1,26–29,34–35
Mazmur : 106:6–7a,13–14,21–22,23; R: 4a
Bacaan Injil : Mat. 15:21–28


Lalu Yesus pergi dari situ dan menying­kir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: ”Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: ”Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: ”Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ”Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: ”Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: ”Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: ”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.



Renungan

Baliho raksasa dipasang di sudut jalan strategis untuk mengiklankan sebuah acara rohani ”Mukjizat & Penyembuhan” yang akan dilakukan oleh sekelompok penginjil terkenal dari luar negeri. Banyak yang mencibir. Banyak juga yang percaya lalu berbondong-bondong mendatanginya. Ada yang disembuhkan total. Ada yang disembuhkan sesaat. Namun, banyak juga yang tidak mengalami apa-apa. Itulah realitas kehidupan, sekaligus kesaksian iman yang dipertontonkan di zaman modern ini.

Atas perintah Allah, Musa mengutus beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang berlimpah susu dan madu, bakal tempat tinggal mereka sebagai bangsa yang merdeka. Namun, banyak yang berkhianat menyampaikan kabar burung, yang membuat orang Israel menjadi ketakutan dan meragukan rencana Allah bagi mereka. Maka rencana memasuki Tanah Terjanji harus tertunda 40 tahun lamanya. Iman dikalahkan oleh kabar burung. Hal kebalikannya terjadi di zaman Yesus. Seorang wanita Kanaan menaruh kepercayaan bahwa Yesus akan menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Dan totalitas imannya kemudian berbuah nyata dalam hidupnya.
Iman adalah penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah. Allah tidak akan pernah tinggal diam membiarkan umat kesayangan-Nya dalam kesulitan. Sudahkah kita memiliki iman seperti itu?

Doa
Tuhan, jadikan diriku sebagai tanah subur bagi bertumbuhnya benih iman yang telah Kautaburkan. Amin.


sumber:Ziarah batin 2011

Senin, 01 Agustus 2011

Selasa, 2 Agustus 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 15:1–2,10–14

Selasa, 2 Agustus 2011
Pekan Biasa XVIII (H)
St. Eusebius Vercelli; B. Petrus Feber; St. Petrus Yulianus Eymard
Bacaan I : Bil. 12:1–13
Mazmur : 51:3–4,5–6a,6bc–7,12–13; R: 3a
Bacaan Injil : Mat. 15:1–2,10–14



Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: ”Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan ber­kata kepada mereka: ”Dengar dan camkan­lah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: ”Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?” Jawab Yesus: ”Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”



Renungan

Perawakannya kecil, suaranya tidak berwibawa, wajahnya juga biasa-biasa saja. Itu kesan pertama ketika Bu Fidelis diperkenalkan sebagai komandan baru di sebuah kesatuan militer. Banyak orang bertanya apakah ia sanggup memimpin para tentara yang hampir semuanya pria di sini? Dari dalam kesatuan yang akan dipimpinnya juga muncul keraguan atas kapabilitas Bu Fidelis. Waktu berputar begitu cepat. Bu Fidelis bisa membuktikan siapa dirinya. Dua tahun kemudian terdengar kabar bahwa ia dipromosikan ke posisi yang lebih strategis dan penting dalam jajaran kemiliteran.

Kitab Bilangan hari ini memperlihatkan bagaimana hal-hal lahiriah membawa Harun dan Miryam meragukan Musa. Begitu juga Injil Matius mewartakan bagaimana keragu-raguan orang-orang Farisi dan ahli Taurat terhadap Yesus.

Banyak cara untuk menanggapi keraguan orang terhadap diri kita. Banyak hal bisa kita lakukan untuk membuat orang lain yakin dengan diri kita. Musa dan Yesus memberi inspirasi kepada kita bagaimana caranya menjawab semua keraguan orang melalui tindakan nyata. Bekerja dan berbuat sebaik mungkin untuk kepentingan semua orang. Memosisikan diri sebagai ”penyelamat yang memberi kepastian” dalam suasana ketakutan dan kebimbangan.

Doa
Tuhan Yesus, dampingi aku untuk menemukan diriku yang seutuhnya agar hidupku berguna bagi sesamaku. Amin.


sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 29 Juli 2011

Sabtu, 30 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 14:1–12

Sabtu, 30 Juli 2011
Pekan Biasa XVII (H)
St. Petrus Krisologus; St. Yustinus de Yakobis; St. Abdon dan Senen; Sta. Yulita dr Kaesarea
Bacaan I: Im. 25:1,8–17
Mazmur : 67:2–3,5,7–8; R: 4
Bacaan Injil : Mat. 14:1–12

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: ”Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: ”Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberi­kan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: ”Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.


Renungan

Ketika Gereja merayakan tahun Yubileum, banyak kegiatan yang dilakukan, baik yang bersifat sosial maupun liturgis. Salah satu seminari menandai tahun Yubileum itu dengan mengadakan ”pemutihan” atau ”pelunasan utang-utang” karyawan seminari. Semua karyawan yang memiliki utang dianggap sudah lunas. Rektor mengatakan inilah saat membebaskan saudara-saudari kecil kita dari beban utang mereka.

Dalam Bacaan Pertama hari ini dijelaskan apa itu tahun Yobel (lih. Im. 25:1.8–17). Yobel adalah sangkakala, yang ditiup untuk menandai sebuah perayaan besar setiap 50 tahun sekali. Peniup­an Yobel itu mau mengingatkan bahwa kekuasaan Tuhan mutlak atas seluruh bumi dan kekuasaan-Nya itu demi keselamatan seluruh manusia. Penyelamatan itu ditandai dan diwujudkan dengan pembebasan para budak, tanah yang dijual harus dikembalikan pada pemiliknya, bumi pun harus diistirahatkan. Seluruh hukum harus diselaraskan dengan Hukum Tuhan agar negara dan bangsa disucikan.

Apa yang dilakukan Herodes pada hari ulang tahunnya justru sebaliknya. Ia malah menyuruh memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Sebagai orang beriman, hendaknya kita senantiasa men­jadikan hari-hari hidup kita sebagai hari yang penuh rahmat dan keselamatan bagi sesama kita.

Doa

Ya Tuhan, kadang aku tidak sadar diri bahwa aku meletakkan beban berat pada sesamaku. Aku ingin bertobat dan mau menjadi sumber rahmat dan keselamatan bagi lingkungan sekitarku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 28 Juli 2011

Jumat, 29 Juli 2011-Pw Sta. Marta, Maria, dan Lazarus, Sahabat Tuhan (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Yoh. 11:19–27

Jumat, 29 Juli 2011
Pekan Biasa XVII
Pw Sta. Marta, Maria, dan Lazarus, Sahabat Tuhan (P) St. Simplisius; St. Faustinus dan Beatriks
Bacaan I: 1Yoh. 4:7–16
Mazmur : 34:2–3,4–5,6–7,8–9,10–11
Bacaan Injil : Yoh. 11:19–27



Di situ banyak orang Yahudi telah da­tang kepada Marta dan Maria untuk meng­­hibur mereka berhubung dengan ke­ma­tian sau­daranya. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapat­kan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus: ”Tuhan, sekiranya Eng­kau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Te­tapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus ke­pada Marta: ”Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya: ”Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta: ”Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”


Renungan

Dialog Yesus dan Marta dalam perikop Injil tadi adalah bagian dari kisah panjang tentang Yesus membangkitkan Lazarus dari mati. Suatu perbuatan mukjizat yang tiada taranya. Di sini Yesus hendak memperlihatkan ke-Allah-an-Nya yang berkuasa atas maut. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias, Anak Allah, yang datang ke dunia.
Pertanyaan kita, mengapa Yesus mau melakukan mukjizat ini justru kepada Lazarus? Siapakah Maria dan Marta itu sampai Yesus mau datang ke rumah mereka dan mau menggunakan kuasa-Nya sebagai Allah, yang dapat membangkitkan orang mati? Jawabannya tiada lain adalah karena KASIH. Maria dan Marta amat mengasihi Yesus dan mereka terlihat saling mengasihi. Kasih itulah yang membuka mata hati Marta untuk mengenal Yesus lebih dalam sebagai Mesias. ”Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Oleh karena kasih yang sama, Yesus diutus Bapa untuk datang kepada kita, supaya kita hidup oleh-Nya (bdk. 1Yoh. 4:9).

Peringatan wajib Santa Marta, Maria, dan Lazarus ini hendaknya menggerakkan hati kita untuk semakin bertumbuh dalam kasih itu—kasih yang semakin dalam kepada Allah dan sesama. Hanya dengan mengasihi seperti Yesus mengasihi, kita pantas menjadi sahabat Yesus yang terkasih.

Doa


Tuhan Yesus, aku bersyukur menjadi sahabat-Mu. Semoga aku semakin dalam mengenal-Mu dan semakin luas dalam mengasihi sesamaku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Rabu, 27 Juli 2011

Kamis, 28 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:47–53

Kamis, 28 Juli 2011
Pekan Biasa XVII (H)
St. Nasarius dan Selsus; St. Viktor dan Innosensius
Bacaan I: Kel. 40:16–21,34–38
Mazmur : 84:3,4,5–6a,8a.11; R: 2
Bacaan Injil : Mat. 13:47–53

”Demikian pula hal Kerajaan Surga itu se­umpama pukat yang dilabuh­kan di laut, lalu mengumpul­kan ber­­bagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pu­kat itu pun diseret orang ke pantai, lalu du­duk­­lah mereka dan mengumpul­kan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak ba­ik mereka buang. Demikian­lah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, ”Ya, kami mengerti.”
Maka berkatalah Yesus kepada mereka, ”Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seum­pama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Sete­lah Yesus selesai menceritakan perumpa­ma­an-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ.



Renungan

Tuhan melakukan pemilihan mana orang baik dan mana orang jahat, lalu ia memilahnya dan memisahkannya. Dalam perumpamaan tentang pukat ini, Yesus mau menegaskan bahwa kejahatan dan kebaikan atau kebenaran bukanlah nasib, bukan Tuhan yang menghendaki. Hal ini terjadi karena manusia itu sendiri. Tuhan menaburkan kebaikan, tetapi pada akhirnya manusia yang menerima benih kebaikan itulah yang bisa melipatgandakan kebaikan Tuhan, tetapi juga bisa melenyapkannya. Perbuatan dan tindakan manusia juga menentukan berkembang atau tidaknya sebuah kebaikan.
Tuhan membiarkan seleksi terjadi melalui perjalanan hidup manusia. Pada akhirnya Tuhan akan memilih orang-orang yang menggandakan kebaikan-Nya menjadi ”anak-anak Terang” yang diutus untuk menerangi sesamanya agar mengalami keselamatan yang berasal dari pada-Nya.

Doa


Ya Tuhan, semoga aku menjadi orang yang Kaupilih untuk melipatgandakan kebaikan dan kemurahan hati-Mu. Jadikanlah aku orang-orang yang mampu memahami kehendak dan perintah-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 26 Juli 2011

Rabu, 27 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:44–46

Rabu, 27 Juli 2011
Pekan Biasa XVII (H)
B. Maria Magdalena Martinengo; B. Titus Brandsma
St. Pantaleon; St. Aurelius dan Sta. Natalia
Bacaan I: Kel. 34:29–35
Mazmur : 99:5,6,7,9
Bacaan Injil : Mat. 13:44–46

”Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipen­damkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya per­gilah ia menjual seluruh miliknya lalu mem­beli ladang itu.
Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu se­um­pama seorang pedagang yang mencari mu­tiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”


Renungan

Sekarang ini banyak kita jumpai foto aura. Menurut orang-orang yang pernah foto aura, ketika orang sedang bahagia maka cahaya yang ada di sekitarnya berwarna putih, sedangkan orang yang sedang mengalami stres, sedih, atau marah cahaya yang ada di sekitarnya buram atau gelap. Tanpa melakukan foto aura pun kita bisa melihat raut wajah seseorang. Orang yang baik diperlihatkan dengan raut wajah yang manis dan tatapan mata yang ramah, sedangkan orang jahat akan tampak dari raut wajah yang menyebalkan dan tatapan mata yang licik.

Musa dalam Bacaan Pertama hari ini wajahnya bercahaya sampai menyilaukan mata bangsa yang dipimpinnya. ”Ketika Musa turun dari Gunung Sinai—kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu—tidakkah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan” (Kel. 34:29). Cahaya kemuliaan yang terpantul di wajah­nya adalah karena ia dekat dan bersatu dengan Tuhan. Musa selalu berelasi dan berkomunikasi dengan Tuhan, maka wajahnya menampakkan seri kemuliaan Allah. Cahaya itu adalah wajah Allah yang dibawa Musa kepada bangsanya. Sebagai pemimpin bangsa, Musa menghadirkan kemuliaan wajah Allah.

Kemuliaan Tuhan bagai mutiara yang amat berharga untuk kita. Bila kita ingin memperoleh kemuliaan Tuhan maka kita juga harus mendekatkan diri dan selalu berelasi dan berkomunikasi dengan Dia. Bahkan segala hal yang menghalangi kita untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan Dia perlu dibuang dan ditinggalkan. Namun, kemuliaan wajah Tuhan bukan untuk kemuliaan kita sendiri, melainkan untuk kebaikan dan kebahagiaan serta keselamatan sesama yang kita jumpai. Setelah kita memperolehnya, kita membagikannya kepada semua orang; kita menjadi pancaran wajah kasih-Nya bagi sesama.

Doa: Ya Tuhan, Engkau memerintahkan aku untuk menjadi cahaya dunia. Semoga cahaya kemuliaan wajah-Mu itulah yang aku bawa dalam diriku agar dunia mengalami terang keselamatan-Mu. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Senin, 25 Juli 2011

Selasa, 26 Juli 2011-Pw St. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:16–17

Selasa, 26 Juli 2011
Pekan Biasa XVII
Pw St. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria (P)
Bacaan I: Sir. 44:1,10–15
Mazmur : 132:11,13-14,17–18
Bacaan Injil : Mat. 13:16–17


”Tetapi berbahagialah matamu kare­na melihat dan telingamu karena men­dengar. Sebab Aku ber­kata kepa­damu: Sesungguh­nya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”


Renungan

Orangtua mana yang tidak bangga melihat anaknya sukses, disenangi banyak orang, penuh sukacita dan damai. Demikianpun anak yang berbahagia itu, yang menjadi kebanggaan keluarga, tentu akan berbagi kebahagiaan dengan orangtua dan sanak keluarganya. Suasana seperti inilah yang kiranya dialami oleh St. Yoakim dan Ana, ketika melihat Maria, anak mereka, dipenuhi kasih karunia, sukacita, dan damai dari Allah sendiri.

Kebahagiaan Maria pun menular kepada kedua orangtuanya. Mereka berbahagia terlebih karena telah diberi anugerah untuk melihat, mendengar, mengetahui rahasia Kerajaan Allah yang kini sedang dinyatakan dalam diri Yesus, Putra Maria, cucu mereka. Kebahagiaan yang demikian ini amat ditegaskan Yesus: ”Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” apa yang dijanjikan Allah kepada manusia.

Kita pun akan disebut Yesus sebagai orang-orang yang berbahagia jika kita sanggup menemukan kehendak Allah dalam
setiap peristiwa hidup kita, baik dalam suka maupun duka. Dengan berupaya menemukan maksud Allah di balik setiap peristiwa hidup kita, sesungguhnya kita mengangkat peristiwa tersebut, yang mungkin biasa-biasa saja, ke tingkat yang lebih tinggi, dan percayalah Allah akan mempermuliakan kita di dalam pekerjaan-pekerjaan itu. Kita akan disukai Tuhan karena selalu melibatkan Dia dalam hidup dan karya-karya kita.


Doa: Tuhan Yesus, aku ingin menjadi anak yang berbahagia, karena senantiasa dekat dengan-Mu. Semoga kebahagiaanku ini menular kepada sesamaku melalui pekerjaan-pekerjaanku yang baik. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 21 Juli 2011

Jumat, 22 Juli 2011-Pw Sta. Maria Magdalena (ziarah batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:18–2

Jumat, 22 Juli 2011
Pekan Biasa XVI
Pw Sta. Maria Magdalena (P); St. Teofilus
Bacaan I: Kel. 20:1–17
Mazmur : 19:8,9,10,11; R: Yoh. 6:64
Bacaan Injil : Mat. 13:18–23



”Karena itu, dengarlah arti per­um­pamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman ten­tang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengerti­nya, datanglah si jahat dan merampas yang ditabu­rkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila da­tang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang dita­bur­kan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”


Renungan

Kontrak kerja sama selalu berisi butir-butir yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Dalam kontrak itu juga disepakati hal-hal yang perlu dihindari atau malah harus dijauhi agar tidak merugikan dan merusak kerja sama itu.

Perjanjian di Sinai juga berisi butir-butir yang harus ditaati oleh umat Israel. Namun, ada perbedaan yang sangat mendasar: dalam perjanjian Sinai, butir-butir yang diperintahkan oleh Allah bukan untuk keuntungan Allah, melainkan justru demi keuntungan dan kebaikan umat sendiri. Perintah jangan membunuh, berzina, bersaksi dusta, dan sebagainya bukan untuk keuntungan Allah, tetapi untuk kebaikan manusia dalam hidup bersama. Jika larangan itu dilanggar maka yang akan dialami manusia adalah kekacauan, ketakutan, dan kerugian yang sangat besar. Agar mereka dapat menjauhi segala kejahatan yang menimbulkan kerugian itu maka pada awal perjanjian, Allah memerintahkan agar mereka menomor-satukan Allah—tidak ada allah lain dan menyembah hanya kepada-Nya. Menomor-satukan relasi dengan Allah adalah syarat utama dan mutlak untuk menjalin relasi yang baik dengan sesama.

Doa:


Tuhan, aku sering melalaikan relasi dan komunikasi dengan-Mu sehingga aku sering mengalami kekeringan dalam hidup, relasi dengan sesama juga terhambat. Aku ingin selalu menjaga kesegaran relasiku dengan-Mu, bantulah aku dengan rahmat-Mu agar dapat melakukannya. Amin.

sumber:ziarah batin 2011

Rabu, 20 Juli 2011

Kamis, 21 Juli 2011 (Ziarah batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:10–17

Kamis, 21 Juli 2011
Pekan Biasa XVI (H)
Daniel, Nabi; St. Laurensius dr Brindisi; St. Viktor dr Marseilles
Bacaan I: Kel. 19:1–2,9–11,16–20b
Mazmur : Dan. 3:52,53,54,56
Bacaan Injil : Mat. 13:10–17

Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: ”Me­nga­pa Engkau berkata-kata kepada me­reka dalam perumpamaan?” Jawab Yesus: ”Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari pada­nya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perum­pamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak men­dengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak me­ngerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan me­reka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.

Tetapi berbahagialah matamu karena meli­hat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin men­dengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”


Renungan

Yesus mengajar orang-orang dan para murid yang mengelilingi-Nya dengan perumpamaan-perumpamaan. Banyak yang tidak mengerti apa maksud dari pengajaran Yesus itu, sehingga mereka bertanya-tanya; tetapi Ia menegaskan bahwa hanya orang yang mempunyai imanlah yang mampu memahami apa yang diajarkan-Nya itu.

Peristiwa perjanjian Yahweh dengan bangsa Israel di gunung Sinai digambarkan dengan kedahsyatan alam. Ini untuk menekankan keagungan Allah melebihi segala rasa takut dalam diri umat. Ini bagian dari pendidikan umat Allah, yang harus menerima perintah Allah dengan rasa takut agar jangan melanggar dan terutama jangan menggantikan Allah dengan dewa-dewa lain. Isi pendidikan yang diberikan Allah kepada umat melalui Musa adalah perintah untuk menyucikan diri dan bersiap-siap menyambut kehadiran Allah.


Setiap hari Allah juga mendidik kita melalui peristiwa hidup sehari-hari dan melalui Sabda yang kita dengar dalam perayaan Ekaristi. Tujuan utama pendidikan Tuhan bagi kita adalah juga agar kita selalu menyucikan diri dengan tidak melakukan kejahatan.

Doa:

Ya Tuhan, aku berterima kasih dan bersyukur karena Engkau mendidik dan membimbing aku untuk selalu sadar diri sehingga tidak jatuh di dalam kejahatan dan dosa. Aku ingin menjadi murid-Mu yang tidak hanya mendengar, tetapi juga melaksanakan ajaran-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 19 Juli 2011

Rabu, 20 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:1–9

Rabu, 20 Juli 2011
Pekan Biasa XVI (H)
Elia, Nabi; Sta. Margaretha dr Antiokhia; St. Vinsent Kaun
Bacaan I: Kel. 16:1–5,9–15
Mazmur : 78:18–19,23–24,25–26,27–28; R: 24b
Bacaan Injil : Mat. 13:1–9


Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datang­lah orang banyak ber­bondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: ”Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”


Renungan

Kasih Tuhan tidak pernah dihalangi, dihentikan, atau dirusakkan oleh apa pun juga, bahkan oleh dosa sekalipun. Walau berkali-kali manusia membalas kebaikan dan kasih Tuhan dengan melakukan dosa dan kesalahan, tetapi kasih Tuhan tetap mengalir. Benih kebaikan dan kasih-Nya ditaburkan ke seluruh umat-Nya.

Bangsa Israel yang sedang berada dalam perjalanan menuju tanah merdeka selalu ditaburi kebaikan dan kasih Tuhan, tetapi bagaikan tanah tipis di pinggir jalan atau semak berduri. Mereka senang dan bersukacita waktu mendengar janji pembebasan dari Tuhan. Namun, ketika mengalami kesulitan, kegembiraan mereka berubah menjadi sungut-sungut. Mereka protes pada Tuhan melalui Musa dan Harun, gembala dan pemimpin mereka. Mereka tidak sabar dan mudah mengeluh dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Akan tetapi, Tuhan tetap mengasihi mereka. Dia tidak menghentikan kebaikan dan kasih serta kemurahan hati-Nya, meskipun melihat umat yang dipilih-Nya justru bersungut-sungut. Tuhan justru memanjakan mereka dengan hujan berkat, yakni kelimpahan makanan di tengah padang gurun. Tujuan kasih Tuhan itu adalah agar umat mengenal siapa sebenarnya Tuhan yang menyelamatkan mereka itu.


Setiap saat kita juga menerima hujan berkat dari Tuhan. Dia tidak menghentikan berkat-Nya hanya karena kita berdosa. Kehendak Tuhan adalah agar berkat yang dicurahkan itu berbuah banyak dalam kehidupan, karena kita menanggapinya dengan penuh rasa syukur. Kita seharusnya menjadi tanah subur yang menampung curahan berkat kasih Tuhan itu dan menumbuhkannya sampai berlipat ganda.

Doa:
Ya Tuhan, sering kali aku lupa bersyukur atas segala limpahan berkat dan kemurahan hati-Mu yang aku terima setiap saat. Semoga dari hari ke hari aku menjadikan diriku tanah yang subur, yang mampu melipatgandakan curahan berkat-Mu dalam kehidupan bermasyarakat dan menggereja. Amin.


sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 18 Juli 2011

Selasa, 19 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 12:46–50

Selasa, 19 Juni 2011
Pekan Biasa XVI (H)
St. Arsenius Agung; Sta. Aurea
Bacaan I: Kel. 14:21–15:1
Mazmur : Kel. 15:8–9,10,12,17; R: 1
Bacaan Injil : Mat. 12:46–50


Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-sau­dara-Nya berdiri di luar dan ber­usaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: ”Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: ”Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: ”Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”


Renungan

Orang mudah menyanjung keluarga atau kerabat orang besar yang terkenal dan berkuasa, kemungkinan agar dapat masuk dalam lingkungannya sehingga memperoleh sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan. Dengan kata lain, orang ingin menjadi orang terdekat dengan tokoh yang populer atau berkuasa melalui ”pintu belakang”. Yesus tidak menunjuk kemungkinan itu dengan memanfaatkan hubungan darah, tetapi berdasarkan kehendak Bapa.

Orang mengira bahwa Yesus akan mengistimewakan ibu dan saudara-saudara-Nya. Akan tetapi, Yesus malah berkata, ”Siapakah ibu-Ku? Dan siapakah saudara-saudara-Ku?” Jawaban yang disampaikan Yesus itu bukan untuk menolak sang ibu yang telah mengandung dan melahirkan-Nya, tetapi mendudukkan perkara pada dasar yang paling hakiki dan paling dalam. Keistimewaan Maria adalah karena ia melaksanakan kehendak Allah. Ia mengandung dan melahirkan Yesus karena Allah menghendakinya. Jadi, Maria menjadi orang yang sangat diistimewakan bukan karena hubungan darah dengan Yesus, tetapi karena mentaati kehendak Allah. Sabda ini kemudian diumumkan bagi setiap orang bahwa ”siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”.

Jika kita ingin memperoleh keistimewaan dari Tuhan, syarat utamanya adalah melaksanakan kehendak-Nya sebagaimana Maria telah melaksanakannya, bukan memanfaatkan status yang kita punya.

Doa:

Ya Tuhan, aku ingin menjadi saudara-saudari-Mu, tetapi sering kali aku ingin mendapatkannya dengan cara yang mudah. Sabda-Mu mengingatkan aku bahwa aku harus menjadi seperti Bunda Maria yang taat pada kehendak Bapa. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Minggu, 17 Juli 2011

Senin, 18 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 12:38–42

Senin, 18 Juni 2011
Pekan Biasa XVI (H) Penampakan I Maria kepada Sta. Catharina Laboure; St. Frederik dr Utrecht; St. Simforosa dan putra-putranya
Bacaan I : Kel. 14:5–18
Mazmur : Kel. 15:1–2,3–4,5–6; R: 1
Bacaan Injil : Mat. 12:38–42


Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada me­reka: ”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini me­nuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam pe­rut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu peng­hakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”


Renungan

Walaupun berkali-kali Tuhan bersabda bahwa Dia akan selalu menyertai umat-Nya, terlebih dalam kesulitan dan beban berat, tetapi sering kali manusia gampang takut pada kesulitan, ancaman, dan bahaya yang dihadapinya. Demikianlah gambaran orang-orang Israel yang sedang ngalami pembebasan dari penindasan orang-orang Mesir. Mereka marah dan bahkan mengumpat Musa dengan mengatakan lebih baik tetap hidup dalam perbudakan daripada dalam pelarian menuju kemerdekaan dan keselamatan itu. Demikian kata mereka, ”Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir” (Kel. 14:12). Musa justru dianggap mengganggu ketenteraman hidup mereka sebagai budak. Mereka tidak ingat lagi bahwa Allah yang mengawali seluruh usaha pembebasan itu tidak sepicik pikiran manusia: memulai sesuatu karya, tetapi tidak menyelesaikannya atau malah meninggalkannya karena bosan.


Penyerahan dan kepasrahan hidup ke dalam tangan kuasa kasih Allah perlu kita tingkatkan supaya kita tidak menjadi seperti orang Israel, yang justru memarahi Dia yang mau menyelamatkan hidup mereka. Akan tetapi, pasrah dan menyerah dalam kuasa tangan kasih Tuhan tidak berarti berdiam diri, melainkan seperti yang disabdakan Allah kepada Musa, yakni melakukan sesuatu. Bukan Allah sendiri yang bekerja, sementara kita berteriak-teriak dalam doa atau duduk tenang-tenang tanpa berbuat sesuatu.



Doa:

Ya Tuhan, aku sering kurang berpasrah pada kehendak-Mu yang menyelamatkanku. Aku berpikir seolah aku mampu melakukan sesuatu, dan jika aku gagal aku menyalahkan Engkau. Jadikanlah aku orang yang mentaati kehendak dan Sabda-Mu. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 15 Juli 2011

Sabtu, 16 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 12:14–21

Sabtu, 16 Juli 2011
Pekan Biasa XV (H)
Sta. SP Maria dr Gunung Karmel; Sta. Reinildis; B. Para Perawan Martir Orange
Bacaan I : Kel. 12:37–42
Mazmur : 136:1,23–24,10–12,13–15
Bacaan Injil : Mat. 12:14–21


Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia me­nyem­buhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ”Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.”

Renungan

Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang berkuasa sering diidentikkan dengan orang yang menakutkan karena bisa berbuat apa saja. Mengapa demikian? Karena orang yang mempunyai kekuasaan sering tergoda dan jatuh pada kesewenang-wenangan. Hukum bukan lagi digunakan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, tetapi disalahgunakan untuk mencari keuntungannya sendiri. Gambaran seperti ini kemudian dilekatkan pada Allah yang Mahakuasa; dengan kuasa-Nya Allah dilihat sebagai Penguasa yang kejam dan menakutkan.

Yesus menghadirkan Pribadi Allah yang sangat berbeda dengan gambaran orang saat itu. Allah adalah Penguasa yang lemah lembut, yang tetap menghendaki kebenaran, tetapi tidak menghukum orang yang bersalah atau berdosa, melainkan menyelamatkannya. Kelemah-lembutan dan kebaikan Allah itu dinyatakan dengan sabda, ”Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang” (Mat. 12:20). Orang yang jatuh dalam kesalahan, tidak dibinasakan-Nya, tetapi jus­tru direngkuh-Nya agar selamat. Kekuasaan itu dimiliki bukan untuk menindas orang demi mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri, tetapi kekuasaan Ilahi adalah untuk menyelamatkan orang lain, terutama mereka yang terancam keselamatannya karena kesalahan dan dosa mereka.

Doa
Ya Tuhan, jadikanlah aku hamba-Mu yang senantiasa menghadirkan kelemah-lembutan ketika berhadapan dengan sesama dan terlebih saat melayani mereka demi kebahagiaan mereka sebagaimana Engkau telah melakukannya bagiku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Kamis, 14 Juli 2011

Jumat, 15 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 12:1–8

Jumat, 15 Juli 2011
Pekan Biasa XV
Pw St. Bonaventura, UskPujG. (P); St. Yakobus dr Nisiba
Bacaan I : Kel. 11:10–12:14
Mazmur : 116:12–13,15–16bc,17–18; R: 13
Bacaan Injil : Mat. 12:1–8


Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena la­par, murid-murid-Nya memetik bulir gan­dum dan memakannya. Melihat itu, ber­ka­talah orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak di­per­bolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ”Tidak­kah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mere­ka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang meng­ikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam me­­lang­gar hukum Sabat di dalam Bait Allah, na­mun tidak ber­salah? Aku berkata kepada­mu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika me­­mang ka­mu mengerti maksud firman ini: Yang Ku­­kehendaki ialah belas kasihan dan bukan per­sembahan, tentu kamu tidak meng­h­ukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manu­sia adalah Tuhan atas hari Sabat.”


Renungan

Peraturan-peraturan atau hukum-hukum dalam agama merupakan petunjuk pelaksana yang bertujuan membantu umat agar dapat lebih mudah mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam sikap, doa, dan perbuatan. Namun, terkadang peraturan dan hukum itu bergeser menjadi semacam penentu baik buruknya hidup keagamaan seseorang dan bahkan penentu atas dosa dan pahala. Jika orang melakukan peraturan itu, ia merasa akan mendapat pahala nantinya, tetapi jika ia melanggar atau tidak melaksanakannya berarti ia berdosa dan risikonya mengalami penderitaan di neraka.

Anggapan ini membuat hidup beragama menjadi melenceng dari yang sesungguhnya. Ibadat doa hanya menjadi pemenuhan hukum agama saja. Itulah yang dihayati orang-orang Farisi. Mereka menilai baik buruknya orang dengan ukuran pelaksanaan hukum saja. Hukum tidak dilihat sebagai sebuah sarana yang membantu orang beriman mengungkapkan dan mewujudkan iman kepercayaannya.

Jawaban Yesus dalam Injil hari ini selain bertujuan mengkritik kepicikan orang Farisi, juga mau meluruskan dan memperluas padangan tentang hukum hari Sabat. Contoh yang dikatakan Yesus memperlihatkan bahwa hukum bertujuan membantu manusia menyadari bahwa kekuasaan Tuhan jauh melebihi kekuasaan hukum.

Doa
Ya Tuhan, jadikanlah aku pelayan umat-Mu yang mengutamakan hukum cinta kasih dalam membangun hidup bersama karena hukum-Mu adalah hukum yang menyelamatkan. Jangan biarkan aku jatuh menjadi hakim yang selalu mencari kesalahan orang lain. Amin.


sumber:Ziarah batin 2011

Rabu, 13 Juli 2011

Kamis, 14 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 11:28–30

Kamis, 14 Juli 2011
Pekan Biasa XV (H)
St. Fransiskus Solanus; St. Kamilus dr Lellis
Bacaan I : Kel. 3:13–20
Mazmur : 105:1,5,8–9,24–25,26–27; R: 8a
Bacaan Injil : Mat. 11:28–30


”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan ke­pa­damu. Pikullah kuk yang Kupasang dan bela­jarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”




Renungan

Nasihat bijak ”Tuhan tidak tidur” yang disampaikan kepada orang yang sedang mengalami persoalan berat dalam hidupnya, mau menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan atau meninggalkan umat-Nya sendirian dalam pergulatan mengatasi persoalannya itu. Syair lagu”Tak akan pernah dibiarkannya kubergumul sendiri, sebab Allah mengerti …” juga mengatakan hal yang sama. Kata-kata bijak itu muncul karena tidak jarang orang mengalami keputusasaan ketika menghadapi persoalan yang berat, dan bahkan kemudian mempertanyakan di mana Allah? Mengapa Allah diam saja?

Demikian juga yang dialami oleh bangsa Israel ketika berada dalam penindasan bangsa Mesir. Allah menyatakan kehendak-Nya mengangkat bangsa Israel menjadi bangsa pilihan dan akan menyelamatkan mereka dari tanah penjajahan. Allah mendengarkan tangisan dan seruan mereka, sehingga Dia mengirim utusan-Nya—Musa—untuk memimpin keluar dari penderitaan penjajahan itu. Di bawah perlindungan dan pimpinan-Nya, Israel akan menemukan dan membangun masa depan: Allah mengikuti mereka selalu dalam perjalanan mereka.

Sabda Allah itu tergenapi juga dalam diri Kristus yang menyatakan, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Kristus tidak melarikan diri ketika orang yang percaya dan berharap kepada-Nya sedang mengalami persoalan berat. Justru Dia menyediakan diri untuk menanggung beban berat itu dan menggantinya dengan kelegaan.

Doa
Ya Tuhan, penyertaan-Mu menguatkan langkah kakiku dalam menapaki peziarahan hidup ini. Semoga aku tidak mudah mengeluh dan putus asa ketika menghadapi kesulitan, karena Engkau selalu menyertaiku. Amin.




sumber:Ziarah Batin 2011

Selasa, 12 Juli 2011

Rabu, 13 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 11:25–27

Rabu, 13 Juli 2011
Pekan Biasa XV (H)
St. Henrikus; St. Eugenius; Sta. Teresia Yesus dr Andes
Bacaan I : Kel. 3:1–6,9-12
Mazmur : 103:1–2,3–4,6–7; R: 8a
Bacaan Injil : Mat. 11:25–27

Pada waktu itu berkatalah Yesus: ”Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”



Renungan

Seperti air mencari tempat yang rendah, dan tempat yang paling rendah itulah yang dapat menampung air paling banyak, demikian juga dengan rahmat Tuhan. Dia mencari dan memilih orang ”kecil”, yakni orang yang rendah hati untuk menyingkapkan misteri Kerajaan Surga.

Bunda Maria adalah teladan sempurna sebagai orang yang rendah hati dengan menyebut dirinya hamba-Nya yang hina dina yang ditinggikan oleh semua bangsa dan disebut bahagia. Pastor Ars, Yohanes Maria Vianney adalah salah satu contoh ”orang kecil”, sederhana, dan rendah hati yang dipilih dan diangkat Tuhan untuk melimpahkan berkat dan rahmat keselamatan-Nya bagi orang-orang yang merindukannya. Orang-orang kudus ini tidak berambisi untuk ”memupuk harta surgawi” dengan menunjuk dan menghitung-hitung jasa yang telah mereka lakukan. Mereka memilih menghadap Tuhan dengan tangan terbuka dan sampai di hadapan-Nya dengan ”tangan kosong”. Justru ”tangan kosong” itu menjadi tempat untuk menerima dan menampung berkat Tuhan yang melimpah.

Kepandaian yang dimiliki seseorang terkadang justru digunakan orang untuk mengkritisi dan merasionalisasi misteri Ilahi. Itulah sebabnya Tuhan bersyukur kepada Bapa-Nya di surga karena Dia menyatakan misteri kebijakan Ilahi-Nya kepada mereka yang memiliki kerendahan hati.

Doa
Ya Tuhan, aku bersyukur karena Kauanugerahi talenta kepandaian untuk mengatur hidupku agar sesuai dengan kehendak-Mu. Semoga aku tetap rendah hati dalam kepan­daianku sehingga misteri Ilahi-Mu Kaunyatakan pula kepadaku dan sesama. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Senin, 11 Juli 2011

Selasa, 12 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 11:20–24

Selasa, 12 Juli 2011
Pekan Biasa XV (H)
St. Yohanes Gualbertus; St. Feodor dan Joan; St. Nabor dan Felix; St. Uguzo atau Lusio
Bacaan I : Kel. 2:1–15a
Mazmur : 69:3,14,30–31,33–34; R: 33
Bacaan Injil : Mat. 11:20–24



Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling ba­­nyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: ”Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata ke­padamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari peng­hakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.”


Renungan

Beberapa tahun yang lalu kita akrab dengan istilah ”katabelece” atau surat sakti dan semacamnya. Dengan membawa surat sakti atau katabelece itu, seseorang akan mendapat perlakuan istimewa sehingga apa pun yang diinginkan akan dengan sangat mudah diperoleh. Kota-kota istimewa, seperti Khorazim, Kapernaum, dan Betsaida adalah kota-kota istimewa. Memang kota Khorazim tidak banyak diberitakan dalam Injil, tetapi Kapernaum dan Betsaida adalah tempat kediaman Petrus di tepi danau dan tempat Yesus setiap kali kembali mengajar dan melakukan mukjizat. Walaupun memiliki keistimewaan itu, ternyata mereka yang tinggal di kota-kota itu tidak mengalami keselamatan. Kekerasan hati penduduk kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum ini barangkali disebabkan karena mereka menganggap diri mereka sudah mempunyai agama yang baik dan kota-kota mereka sendiri sudah makmur sehingga mereka tidak mau menyerahkan diri kepada Yesus. Ada kesombongan rohani dalam hati mereka.

Kita harus mengusahakan keselamatan kita dengan takut dan gentar kepada Tuhan serta dengan tulus hati. Hanya dari Tuhanlah kita mengalami keselamatan, bukan karena nama baik atau kepandaian kita sendiri. Semoga kecaman Yesus atas penduduk kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum yang tidak mau bertobat setelah mendengarkan pewartaan Yesus mendapat jawaban yang positif dari pihak kita, yakni kita siap menghidupi semangat pertobatan itu di dalam kehidupan konkret kita sehari-hari. Kalau ini yang terjadi maka pertobatan kita akan mendatangkan keselamatan Tuhan, dan hidup kita sendiri berkat pertobatan itu menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama.

Doa
Tuhan, aku kadang kurang menyadari diriku ini terbelenggu oleh kesombongan rohani. Sabda-Mu mengingatkan aku bahwa keselamatan hanya berasal dari pada-Mu, bukan karena kebaikan dan kepandaianku. Ampunilah aku yang sering menyombongkan diri di hadapan-Mu dan sesamaku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Jumat, 08 Juli 2011

Sabtu, 9 Juli 2011 (Ziarah batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 10:24–33

Sabtu, 9 Juli 2011
Pekan Biasa XIV (H)
Sta. Veronika dr Binasko; B. Yohana Scopelli; St. Adrian Fortescue; St. Nikolaus Pick; Sta. Hermina
Bacaan I : Kej. 49:29–32; 50:15–26b
Mazmur : 105:1–2,3–4,6–7; R: 69:33
Bacaan Injil : Mat. 10:24–33



”Seorang murid tidak lebih daripada guru­­nya, atau seorang hamba dari pa­da tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.
Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisik­kan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut ke­pada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.
Setiap orang yang mengakui Aku di depan ma­nusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa me­nyang­kal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”


Renungan

Yesus sebagai guru mengingatkan para murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dengan penuh keberanian. ”Jangan takut terhadap mereka” (Mat. 10:26) mengindikasikan bahwa para murid tidak boleh takut terhadap roh kejahatan seperti yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya, ”Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (Mat. 10:1). Para murid diperintahkan untuk mengalahkan kuasa iblis, bukan untuk takut kepadanya. Para murid hanya boleh takut kepada Allah yang berkuasa atas mati dan hidupnya manusia. Yang dimaksud dengan takut kepada Allah adalah takwa dan taat pada kehendak-Nya, yang bertujuan demi kebaikan dan keselamatan manusia itu sendiri.

Allah yang menguasai kehidupan adalah Allah yang menghargai kehidupan manusia itu. Para murid dan setiap kita berharga di mata-Nya melebihi ciptaan lainnya. Karena itu, Allah tidak akan membiarkan manusia hancur di tangan iblis yang mau merusak hidup manusia. Allah bahkan akan menjaga sampai setiap helaian rambut manusia dan tidak akan dibiarkan hilang sehelai pun.

Doa
Ya Tuhan Allah, aku bersyukur karena Engkau menjadikan aku berharga di mata-Mu dan Engkau tidak akan membiarkan aku dikalahkan oleh roh kejahatan. Berkatilah aku selalu agar mampu mengalahkan roh kejahatan yang akan merusak kehidupanku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011