Minggu, 12 Desember 2010

Senin, 13 Desember 2010 (ZIARAH BATIN 2010)

Senin, 13 Desember 2010
Pw Sta. Lusia; Sta. Odilla
Bacaan I : Bil 24: 2-7.15-17a
Mazmur : 25: 4bc-5ab.6-7c.8-9; R: 4b
Bacaan Injil : Mat 21: 23-27

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?” Mereka memper­bincangkannya di antara mereka, dan berkata: ”Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.” Lalu mereka menjawab Yesus: ”Kami tidak tahu.” Dan Yesus pun berkata kepada mereka: ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Renungan

”Kami tidak tahu,” inilah jawaban dari imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi kepada Yesus, setelah mereka berunding. Sesungguhnya mereka tahu tentang jawaban yang sebenarnya. Mereka menjawab ”tidak tahu” untuk menghindari tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa saja jatuh dalam pilihan sikap yang sama dengan para imam kepala dan pemuka Yahudi.

Kita bisa saja berkata ”tidak tahu” hanya untuk mencuci tangan dari berbagai tanggung jawab. Kita berkata ”tidak tahu” hanya untuk suatu alibi. Namun, percayalah bahwa mengatakan ”tidak tahu” tentang sesuatu yang diketahui, apalagi berkaitan dengan suatu perkara besar, akan menciptakan suatu ketidaknyamanan batin dan ketidakleluasaan mengekspresikan diri karena disiksa rasa bersalah.

Ada dua nilai yang dikorbankan, yakni menyembunyikan kebenaran dan membiarkan kebenaran berlalu tanpa memengaruhi orang yang berhak memilikinya. Dengan demikian, kita mencelakakan diri sendiri dan merintangi orang lain untuk masuk dalam kebenaran.

Masa Adven adalah saat yang tepat untuk membongkar cara pikir dan cara hidup yang mapan, tetapi salah. Mari kita perangi aneka kepentingan diri yang bisa mencelakakan diri kita sendiri dan mencelakakan orang lain juga. Marilah kita selalu membuka hati kepada Yesus dan kebenaran-Nya.

Doa:Ya Tuhan, ajarilah aku untuk membangun hidup yang jujur, dan beranikanlah aku untuk mengatakan yang benar.

sumber:ZIARAH BATIN 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar