Kamis, 16 Juni 2011

Jumat, 17 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 6:19–23

Jumat, 17 Juni 2011
Pekan Biasa XI (H)
St. Gregorius Barbarigo
Bacaan I: 2Kor. 11:18,21b–30
Mazmur : 34:2–3,4–5,6–7; R: 18b
Bacaan Injil : Mat. 6:19–23


”Janganlah kamu mengumpulkan har­ta di bumi; di bumi ngengat dan karat me­rusakkannya dan pencuri mem­bong­kar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”


Renungan

Sering terdengar celoteh masyarakat tatkala menilai kesuksesan sebuah keluarga: ”Wah sekarang putra-putri Bapak-Ibu sudah jadi ’orang’ ya?” Ada yang jadi dokter, pastor, suster, pegawai bank swasta .... Ukuran kesuksesan masih pada taraf materialistis-duniawi: kaya, punya status/jabatan, pendidikan tinggi, mapan, dan sebagainya. Cara berpikir seperti itu membuat orang lebih suka ”memegahkan dirinya sendiri”, sementara Allah yang terlibat dalam seluruh hidupnya rupa-rupanya diabaikan begitu saja.

Lain halnya dengan Santo Paulus. Dia tidak bermegah diri karena kehebatannya sendiri, tetapi justru dalam kelemahan dan deritanya. ”Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut” (2Kor. 11:24–25). Ia mampu bertahan dalam derita karena pusat pelayanannya bukan pada kemegahan diri sendiri, tetapi pada kemuliaan Allah.

Orientasi hidup Paulus sepenuhnya terarah pada ”harta di surga” yang tidak habis dimakan ngengat dan dibongkar oleh pencuri. Dengan memusatkan perhatian pada ”harta di surga”, orang beriman tertantang untuk tidak mengandalkan masa depannya pada hartanya, tetapi mengandalkan Allah seutuhnya. Jika Allah menjadi orientasi dasar kita, Dia akan tinggal bersama kita, kuasa-Nya menaungi kita, dan siapakah yang bisa melawan kita? Paulus bersaksi, ”Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2Kor. 12:9b). Apakah kita juga mengandalkan Allah dalam hidup kita?

Doa: Bapa di surga, jamahlah hatiku agar mampu bermurah hati kepada sesama yang mengalami penderitaan sehingga aku tidak lagi menumpuk harta di dunia, melainkan harta di surga. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar