Rabu, 22 Juni 2011

Kamis, 23 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 7:21–29

Kamis, 23 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H) St. Yosephus Cafasso; Sta. Etheldreda
Bacaan I: Kej. 16:1–12,15–16
Mazmur : 106:1–2,3–4a,4b–5; R: 1a
Bacaan Injil : Mat. 7:21–29



”Bukan setiap orang yang berseru ke­pada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!””Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.


Renungan


Bagaimanakah rasanya menjadi seorang istri yang tidak memiliki anak bertahun-tahun? Dalam tradisi Timur Tengah yang paternalistik, rasanya sebuah ”aib” yang berat kalau seorang istri tidak kunjung mengandung. Bahkan, aib itu diyakini sebagai ”hukuman dari Allah” akibat dosa yang telah mereka perbuat. Itulah sebabnya Sara ”menyerahkan” Hagar kepada suaminya Abraham agar dari Hagarlah ada keturunan. Keyakinan Sara itu dijungkirbalikkan oleh Allah. Allah tetap setia pada janji-Nya untuk memberikan keturunan kepada Abraham dan Sara. Maka terpenuhilah janji-Nya, di usia tuanya itu Sara mengandung dan melahirkan Ishak.

Bagaimanakah mungkin Abraham dan Sara akan percaya penuh harapan kalau mereka tidak mengenal siapakah Allah yang mereka imani. Orang mengenal Allah tidak hanya dengan perkataan, melainkan dengan melaksanakan Sabda-Nya, ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Orang yang melaksanakan Sabda Allah itu tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai pusat hidupnya, melainkan menjadikan Allah sebagai andalannya meskipun masa depan tidak jelas, bahkan kalau tidak ada alasan untuk berharap sekalipun. Hidup dalam pengharapan akan Allah ibarat orang yang membangun rumah tidak di atas pasir yang cepat hanyut oleh banjir, tetapi di atas wadas, karena Allah itulah wadas hidupnya.


Doa: Bapa, betapa aku sering mudah putus asa ketika menghadapi banyak ketidakpastian dalam hidup ini. Curahkanlah Roh-Mu agar aku belajar memutuskan tanpa terpaksa untuk menjadikan Engkau satu-satunya andalan hidupku. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar