Selasa, 21 Juni 2011

Rabu, 22 Juni 2011(Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 7:15–20

Rabu, 22 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H)
St. Paulinus dr Nola; St. Thomas Moore;
Sta. Yulia Billiart; St. Albanus; St. Yohanes Fischer

Bacaan I: Kej. 15:1–12,17–18
Mazmur : 105:1–2,3–4,6–7,8–9; R: 8a
Bacaan Injil : Mat. 7:15–20


”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”


Renungan

Apakah yang dapat dibanggakan dalam hidup Abraham sehingga Allah memilihnya untuk menjadi pemilik tanah terjanji, tanah Kanaan, bahkan keturunannya akan sebanyak bintang di langit yang tidak terhitung jumlahnya? Allah mengenal iman Abraham yang besar karena ia berani percaya kepada-Nya meskipun tidak ada bukti yang sudah jelas. Percaya tanpa syarat bukanlah tanpa akal budi, tetapi Abraham berani memutuskan untuk mengandalkan seluruh masa depan hidupnya kepada Allah yang ia kenal, ”Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu” (Kej. 15:7).

Allah yang diimani Abraham itulah yang terus-menerus diwariskan dari generasi satu ke generasi berikutnya. Warisan iman itu sungguh berbuahkan dalam diri bangsa Israel, sampai pada keturunannya. Sikap batin Abraham yang penuh percaya kepada Allah yang dikenalnya, itulah yang sebenarnya menjadi inti sikap hidup orang beriman sekarang ini. Ia mampu mengenal Allah karena ia mendengarkan firman-Nya dengan sungguh-sungguh dan menaatinya.

Pertanyaannya adalah bagaimanakah hidup kita akan berbuahkan ”kasih” kalau kita sendiri tidak mengenal siapa Allah yang mengasihi kita? Bagaimana kita akan mengenal Allah itu kalau kita lebih suka mendengarkan suara dunia yang menawarkan gaya hidup serba nikmat, instan, populer, kuasa untuk mengontrol orang lain? Bukankah kita lebih suka menutup telinga saat suara Allah berbisik selembut angin sepoi-sepoi basa, yang memanggil kita untuk kerja keras dalam pengharapan, rendah hati tanpa rendah diri, murah hati dalam pelayanan tanpa pamrih?


Doa: Bapa, bukalah hatiku agar aku tekun mendengarkan suara-Mu yang memanggilku untuk hidup dalam pengharapan-Mu sehingga banyak orang merasakan buah-buah Roh yang Engkau percayakan kepadaku: kehangatan dan kegembiraan! Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar