Senin, 13 Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 5:43–48

Selasa, 14 Juni 2011
Pekan Biasa XI (H)
St. Metodius; B. Gerardus; Pw S. Nabi Elisa
Bacaan I: 2Kor. 8:1–9
Mazmur : 146:2,5–6,7,8–9a; R: 2a
Bacaan Injil : Mat. 5:43–48


”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata ke­pada­mu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”


Renungan

Sesaat menjelang penyambutan Komuni, dua orang yang duduk berdampingan saling berbisik, ”Wah dia, sekarang kelihatan modis tuh, penampilannya!” Temannya menyambung, ”Iya tuh, gaya banget, dia. Dia itu tetanggaku, lagipula dia belum bayar utang loh ke keluargaku.” Jawab temannya, ”Wah kebangeten ya?”

Begitulah sepenggal percakapan menjelang menerima Tubuh Tuhan. Lantas kita bertanya, masihkah doa damai tadi teringat di hatinya: ”Janganlah memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu!” Kenyataannya, ”Janganlah memperhitungkan dosa kami ya Tuhan, tetapi perhitungkanlah dosa dan kesalahan tetangga kami!” Praksis hidup seperti itu menandakan orang belum mampu hidup sebagai anak-anak Bapa di surga yang mengasihi semua orang dalam kelebihan maupun kekurangannya, termasuk orang yang menyakiti kita.

Hari ini kita dituntut Yesus untuk menjadi sempurna sama seperti Bapa di surga adalah sempurna. Allah menjadi acuan kita dalam hal kesempurnaan. Itu berarti, kesempurnaan kita tidak terletak pada ukuran kesenangan pribadi, bukan soal suka atau tidak suka, bukan pula sekadar berbuat baik dan tidak menciptakan masalah dengan orang lain, tetapi kita dituntut berbuat lebih dari itu, yakni rela berkorban demi kebaikan bersama.

Prinsipnya, ”biarkan diri kita semakin kecil, dan orang lain semakin besar”. Inilah jalan menuju kesempurnaan yang dikehendaki Allah, yakni jalan kerendahan hati, pengorbanan, pengampunan, penyangkalan diri—jalan salib.

Doa: Bapa, berilah aku rahmat-Mu agar mampu menghayati jalan salib Putra-Mu hingga mencapai kesempurnaan di dalam Engkau sendiri. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar