Selasa, 19 Juli 2011

Rabu, 20 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 13:1–9

Rabu, 20 Juli 2011
Pekan Biasa XVI (H)
Elia, Nabi; Sta. Margaretha dr Antiokhia; St. Vinsent Kaun
Bacaan I: Kel. 16:1–5,9–15
Mazmur : 78:18–19,23–24,25–26,27–28; R: 24b
Bacaan Injil : Mat. 13:1–9


Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datang­lah orang banyak ber­bondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: ”Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”


Renungan

Kasih Tuhan tidak pernah dihalangi, dihentikan, atau dirusakkan oleh apa pun juga, bahkan oleh dosa sekalipun. Walau berkali-kali manusia membalas kebaikan dan kasih Tuhan dengan melakukan dosa dan kesalahan, tetapi kasih Tuhan tetap mengalir. Benih kebaikan dan kasih-Nya ditaburkan ke seluruh umat-Nya.

Bangsa Israel yang sedang berada dalam perjalanan menuju tanah merdeka selalu ditaburi kebaikan dan kasih Tuhan, tetapi bagaikan tanah tipis di pinggir jalan atau semak berduri. Mereka senang dan bersukacita waktu mendengar janji pembebasan dari Tuhan. Namun, ketika mengalami kesulitan, kegembiraan mereka berubah menjadi sungut-sungut. Mereka protes pada Tuhan melalui Musa dan Harun, gembala dan pemimpin mereka. Mereka tidak sabar dan mudah mengeluh dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Akan tetapi, Tuhan tetap mengasihi mereka. Dia tidak menghentikan kebaikan dan kasih serta kemurahan hati-Nya, meskipun melihat umat yang dipilih-Nya justru bersungut-sungut. Tuhan justru memanjakan mereka dengan hujan berkat, yakni kelimpahan makanan di tengah padang gurun. Tujuan kasih Tuhan itu adalah agar umat mengenal siapa sebenarnya Tuhan yang menyelamatkan mereka itu.


Setiap saat kita juga menerima hujan berkat dari Tuhan. Dia tidak menghentikan berkat-Nya hanya karena kita berdosa. Kehendak Tuhan adalah agar berkat yang dicurahkan itu berbuah banyak dalam kehidupan, karena kita menanggapinya dengan penuh rasa syukur. Kita seharusnya menjadi tanah subur yang menampung curahan berkat kasih Tuhan itu dan menumbuhkannya sampai berlipat ganda.

Doa:
Ya Tuhan, sering kali aku lupa bersyukur atas segala limpahan berkat dan kemurahan hati-Mu yang aku terima setiap saat. Semoga dari hari ke hari aku menjadikan diriku tanah yang subur, yang mampu melipatgandakan curahan berkat-Mu dalam kehidupan bermasyarakat dan menggereja. Amin.


sumber:Ziarah Batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar