Selasa, 28 Februari 2012

Rabu, 29 Februari 2012

Rabu, 29 Februari 2012
Pekan Prapaskah I (U)
St. Gabriel Possenti; St. Leander
Bacaan I : Yun. 3:1–10
Mazmur : 51:3–4.12–13.18–19; R: 19b
Bacaan Injil : Luk. 11:29–32





Ketika orang banyak me­ngerumuni-Nya, berkatalah Yesus: ”Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka meng­hendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum me­­reka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan se­sung­guhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka men­dengarkan pemberitaan Yunus, dan se­sung­guhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”



Renungan

Bobby Harimaipen, seorang pastor yang bijak, suatu saat menasihati seorang umatnya yang pemabok. ”Apakah Pastor bisa menunjukkan bagaimana caranya supaya saya berhenti minum?” tanya pemabok setengah menantang. Pastor pun menjawab, ”Ah, gampang sekali resep supaya berhenti minum. Itu semudah kita membuka telapak tangan!” Mendengar kata-kata tersebut, sang pemabok berkata, ”Kalau benar semudah membuka telapak tangan, tunjukkan dan saya bersumpah akan berhenti minum!” Dengan tersenyum Pastor Bobby menjawab, ”Begini, setiap kali Anda memegang botol atau gelas berisi minuman beralkohol, bukalah tangan Anda sebelum gelas itu menyentuh bibir Anda!” Sejak saat itu sang pemabok berhenti minum.
”Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda…!” sabda Yesus.
Tak selamanya tawaran pertobatan itu diterima. Ada banyak alasan untuk menolak atau menghindarinya. Bahkan, orang-orang dalam Injil menuntut tanda terlebih dahulu sebagai syarat pertobatan. Padahal pertobatan adalah soal hati. Untuk bertobat, pertama-tama harus ada kerelaan hati dan kemauan yang kuat, maka jalan akan terbuka lebar. Apakah selama masa puasa ini, sudah ada kemauan kuat dalam diri kita untuk bertobat?

Doa
Tuhan yang penuh belas kasih, luluhkan hatiku untuk mendengar ajakan pertobatan dari-Mu. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar