Kamis, 24 Februari 2011

Jumat, 25 Februari 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mrk. 10:1–1

Jumat, 25 Februari 2011
Pekan Biasa VII (H)
Sta. Walburga
Bacaan I: Sir. 6:5–17
Mazmur : 119:12,16,18,27,34,35; R: 35a
Bacaan Injil : Mrk. 10:1–12


Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: ”Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka: ”Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: ”Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”



Renungan

Dewasa ini kesetiaan dan komitmen permanen semakin sulit. Tidak sedikit persahabatan berakhir dengan pengkhianatan; komitmen perkawinan berakhir dengan perpisahan, bahkan perceraian. Di lingkungan dunia kerja, orang dengan gampang berpindah-pindah kerja, walaupun mendapatkan suatu pekerjaan tidaklah mudah.

Pada hari ini Tuhan berbicara kepada kita tentang kesetiaan dan komitmen dalam persahabatan dan perkawinan. Penulis Sirakh mengingatkan, ”Jika engkau mau mendapat sahabat, ujilah dia dahulu dan jangan segera percaya kepadanya” (Sir. 6:7). Suatu persahabatan perlu mendapat ruang dan waktu untuk bertumbuh, berproses menjadi berkualitas. ”Sebab ada orang yang bersahabat hanya selama menguntungkan, tetapi di kala engkau mendapat kesukaran, ia tidak bertahan” (Sir 6:8). Yang kita butuhkan adalah seorang sahabat sejati dalam suka dan duka, gembira dan sedih, sehat dan sakit, untung dan malang. A friend in need is a friend indeed bermakna bahwa seorang sahabat yang sejati adalah sahabat yang tersedia pada saat kapan saja kita membutuhkan dia, tanpa membuat perhitungan untung dan rugi.

Dalam hal perkawinan antara seorang pria dan wanita, mereka bukan sekadar dua pribadi yang bersahabat, tetapi mereka telah dipersatukan menjadi belahan jiwa satu dari yang lain. Cinta telah mempersatukan dan mengikat mereka. Hubungan cinta mereka bersifat memberi dan menerima (take and give) dan membutuhkan kesetiaan dan komitmen yang permanen dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit. Komitmen yang permanen adalah mungkin kalau cinta yang tulus dan tanpa pamrih selalu dikedepankan.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah aku seorang pribadi yang penuh komitmen dan kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup yang Kaupercayakan kepadaku, baik dalam suka maupun dalam duka kehidupan. Amin.

sumber:Ziarah Batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar