Minggu, 03 Juli 2011

Senin, 4 Juli 2011 (Ziarah Batin 2011)-Bacaan Injil : Mat. 9:18–26

Senin, 4 Juli 2011
Pekan Biasa XIV (H)
Sta. Elisabeth dr Portugal; St. Ulrich/Ulrikus; B. Pierre Georges Frassati; B. Maria Crocifissa Curcio
Bacaan I : Kej. 28:10–22a
Mazmur : 91:1–2,3–4,14–15ab; R: 2b
Bacaan Injil : Mat. 9:18–26


Sementara Yesus berbicara demikian ke­pada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan ber­kata: ”Anakku perempuan baru saja me­­ning­gal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu ber­sama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang su­dah dua belas tahun lamanya menderita pen­darah­an maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena kata­nya dalam hatinya: ”Asal kujamah saja ju­bah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus ber­paling dan memandang dia serta berkata: ”Teguh­kanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: ”Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang ba­nyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Renungan

Beberapa kali kita mendengar bagaimana orang yang terkena bencana tidak dapat diselamatkan karena bantuan datangnya terlambat. Kemudian muncullah penyesalan, kekecewaan, kemarahan, dan sebagainya karena orang berpikir seandainya bantuan datang tepat pada waktunya, orang tidak akan mengalami kerugian yang sangat besar, entah berupa kematian, kehilangan barang yang paling berharga, dan sebagainya. Juga kita sering mendengar betapa sulitnya ketemu dengan seorang pemimpin. Ketika diundang dalam sebuah acara, datangnya terlambat dan pulang cepat-cepat dengan alasan masih banyak acara yang harus dihadiri, dan sebagainya.

Kejadian tersebut berbeda dengan sikap yang senantiasa dilakukan Yesus, Gembala Agung kita. Setiap kali ada orang yang datang meminta kepada Yesus, segera Dia menanggapinya. Yesus bukanlah orang yang ”jual mahal”, menunda-nunda bantuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya adalah orang penting. Sikap-Nya yang tanggap akan kebutuhan itu menjadi saluran keselamatan bagi orang yang memintanya. Ketika ada seorang yang menjamah jubah-Nya, Dia tidak merasa terganggu dan marah, tetapi justru sebaliknya meneguhkan dengan kata-kata-Nya yang menyejukkan hati. Anak kepala rumah ibadat pun menerima keselamatan berkat kehadiran Yesus. Teladan Yesus ini merupakan pengajaran bagi kita supaya bermurah hati dan rendah hati dalam pelayanan.

Doa
Tuhan, kerendahan hati-Mu dalam pelayanan membangkitkan kehidupan dan semangat bagi orang-orang yang Kaulayani. Semoga aku pun mempunyai kerendahan hati dan kemurahan hati dalam melayani sesama. Amin.

sumber:Ziarah batin 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar