Selasa, 07 Februari 2012

Rabu, 8 Februari 2012

Rabu, 8 Februari 2012
Pekan Biasa V (H)

St. Yohanes dr Matha; St. Hieronimus Emilianus;
Sta. Yosefina Bakhita

Bacaan I : 1Raj. 10:1–10
Mazmur : 37:5–6.30–31.39-40; R: 30a
Bacaan Injil : Mrk. 7:14–23



Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: ”Kamu se­mua, dengarlah kepada-Ku dan cam­kan­­lah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam se­­seorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” [Barang siapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!]
Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah un­­­­­tuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti per­­um­pamaan itu. Maka jawab-Nya: ”Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahu­kah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak da­pat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu di­­buang di jamban?” Dengan demikian Ia me­nya­­ta­kan semua ma­kanan halal. Kata-Nya lagi: ”Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, se­bab dari da­lam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, per­ca­bulan, pencurian, pem­bu­nuh­an, per­zinah­an, kese­ra­kahan, keja­hat­an, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesom­bongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan mena­jiskan orang.”


Renungan

Di Sumatera Utara banyak dijumpai restoran dengan tulisan mencolok, ”Rumah Makan Halal”. Dengan tulisan tersebut sang pemilik hendak mengatakan bahwa semua makanan di tempatnya adalah halal. Maklumlah, di Sumatera Utara banyak dijual B2 (daging Babi) bahkan B1 (daging Anjing) yang dianggap haram oleh sebagian orang, khususnya umat Muslim.
Aturan halal dan haram ini rupanya sudah lama ada dalam masyarakat Yahudi. Aturan tersebut bahkan dianggap sakral, datang dari Allah sendiri. Karenanya amat ditaati orang Yahudi.

Dalam Injil hari ini, dengan lantang Yesus mencabut nilai-nilai sakral yang sudah lama diyakini orang-orang Yahudi tersebut. Bagi Yesus, segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah baik adanya. Bagi-Nya, makanan tidak membuat manusia berdosa. Dosa adalah sesuatu yang datang dari dalam diri kita, yaitu dari hati dan pikiran kita yang jahat.

Dengan kata-katanya yang keras, Yesus mengajak kita untuk lebih menjaga kebersihan hati dan pikiran daripada jenis makanan yang kita santap. Namun demikian, itu tidak menampik keyakinan bahwa ungkapan lahiriah seseorang, termasuk dalam hal kebersihan badan dan lingkungan sekitar, adalah cerminan sekaligus wujud kebersihan hatinya.

Doa: Bapa, terima kasih Engkau telah mengingatkan aku untuk senantiasa menjaga kebersihan hati dan budiku. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar